
"Rasa syukur membuatku merasa beruntung. Aku merasa beruntung masih diberi kehidupan." • Dedy Susanto.
Meskipun jika gadis itu tidak menolongnya, jika Tuhan berkehendak, pasti akan ada yang menolong Mas Indra malam itu.
Setelah lebih dari satu tahun mencari, akhirnya dia dipertemukan kembali dengan gadis yang telah menolongnya beberapa tahun yang lalu.
Meskipun awalnya Mas Indra ingin mengucapkan terimakasih secara personal kepada yang telah menolongnya, namun niat itu berubah menjadi sesuatu yang lebih ketika Mas Indra mulai mencari tahu lebih banyak tentang kehidupan gadis yang bernama Sasa itu.
Ya, gadis yang menolong mas Indra malam itu adalah aku, Anisa Sasa.
Beberapa bulan lalu aku baru saja berpisah dengan Randy, mantan kekasihku selama dua tahun. Saat ini aku sedang dalam suasana patah hati dan gagal move on yang cukup parah. Pasalnya, sebelum berpisah, kami sudah merencanakan pernikahan setelah aku lulus kuliah.
Pihak keluargaku maupun orang tua Randy juga sudah saling mengenal. Namun di belakang, ternyata Randy berselingkuh dengan 5 wanita berbeda.
Hal ini tentu saja membuatku menjadi geram dan benci dengan keadaan ini. Bahkan nampaknya akan sulit bagiku untuk menerima pria baru dalam hidupku. Mungkin sampai ada yang benar-benar bisa ku percaya, atau dia yang dikirimkan langsung dari Tuhan untukku.
Aku sangat percaya banyak hal terjadi atas izin-Nya.
Di suatu malam saat orang lain tengah tertidur dengan hangatnya selimut yang menutupi tubuh mereka, aku masih terjaga dan memohon sesuatu kepada Penciptaku.
"Tuhan, jika Randy memang tidak baik untukku, jauhkanlah kami. Jodohkanlah aku dengan pria terbaik dari sisi-Mu."
*ting ....
Sebuah notifikasi masuk ke ponselku malam itu.
[Hi, are you happy?' (Hai, apakah kamu bahagia)?]
[Siapa nih?] balasku singkat.
Aneh, biasanya orang akan mengirimkan chat pertama dengan pertanyaan semacam, "apa kabar?" "lagi ngapain?" "udah makan belum?" atau, "selamat malam" misalnya. Tapi ini? nanyain apakah aku bahagia?
'Gue lagi sedih woi, masih belum sukses muv on gue!'
[Aku Indra, kita sempet ketemu sebelumnya.]
[Dimana? ehh, dapat nomorku dari siapa?]
[Aku nggak berniat buruk kok, Sasa. Besok jam 1 siang, aku tunggu kamu di kafe Ceria, yaa. Kamu harus datang, aku udah pesan meja buat kita.]
Makin aneh, kenapa dia bisa tahu namaku dan tanpa persetujuan ku dulu, dia sudah menentukan tempat untuk kami bertemu?
Siapa orang ini? aku tidak merasa pernah bertemu dengan orang semacam ini.
Pesan terakhir itu tidak ku balas. Jangan-jangan itu ulah Randy karena sebelumnya aku tidak sengaja melihatnya dengan pacar barunya.
Agghh, kambing! kenapa semua ini jadi kacau, bagaimana aku bisa cepet move on kalau begini?
Besoknya, aku datang ke kafe Ceria jam setengah satu.
Aku ingin tahu siapa yang bernama Indra itu tanpa aku harus menemuinya. Hahaha.
Aku menghampiri Ivan, kasir di kafe itu yang telah cukup lama mengenalku.
Karena kami saling mengenal, aku bisa dengan mudah mencari info siapa yang bernama Indra yang mengaku sudah memesan meja untuk kami berdua.
"Ganteng, tolongin gue, pliss ..." rayuku Ada Ivan agar dia mau membantuku.
"Gimana, Mbak?"
"Lu tahu nggak kalau ada yang pesan meja buat jam 1 nanti?"
"Atas mama siapa, Mbak?"
"Em, Indra."
"Gue cek dulu ya, Mbak bentar."
"Cepetan ...."
"Jam 1 atas nama Indra, meja nomor 18. Dua 'boba milk tea', '2 teriyaki ricebowl', dua 'kulit salmon goreng'."
"Lah, itu kan makanan yang terakhir gue pesen pas sama Dafa. Kambing! siapa sih nih orang?"
Kulihat ekspresi wajah Ivan berubah, sepertinya ada sesuatu.
Penasaran, aku langsung menginterogasinya.
Aku mulai bertanya tentang siapa Indra itu dan bagaimana dia bisa pesan menu yang sama persis seperti makanan kesukaanku.
Meskipun ragu, akhirnya Ivan mengaku kalau yang memberi nomor ponselku pada pria yang bernama Indra juga adalah dirinya. Ide menu yang telah dipesan pun, Ivan yang memberitahu.
Ivan bilang dia kasihan melihat Mas Indra yang setiap hari seperti sedang menunggu seseorang.
Lalu suatu hari Mas Indra akhirnya melepaskan ego nya dan tidak malu untuk bertanya tentang seseorang yang bernama Sasa. Ivan yang berpikir Sasa yang di cari Mas Indra itu adalah aku, akhirnya mau memberikan nomor ponselku pada Mas Indra karena dia mengaku sudah lebih dari satu tahun ini mencariku.
Aku tidak begitu saja percaya dengan apa yang di ceritakan oleh Ivan. Aku harus cari tahu sendiri yang sebenarnya.
"Aku nggak nyangka kamu beneran datang meski nggak kasih aku jawaban semalem ...."
__ADS_1
Suara di sampingku itu mengagetkanku. Aku menoleh dan benar saja, pria yang berdiri di sampingku itu adalah orang aneh di Mal beberapa waktu lalu yang mengaku sebagai pacarku saat Randy mengira aku membuntutinya.
Kami akhirnya menyantap makan siang bersama dan Mas Indra menceritakan semuanya termasuk usahanya dalam mencariku lebih dari satu tahun ini.
Ku bilang padanya bahwa itu hanya kebetulan saja aku lewat jalan itu dan menolongnya.
Bukan aku pun, jika memang dia bisa selamat, pasti akan ada orang yang lewat.
Sejak saat itu, kami memang jadi sedikit dekat. Mas Indra juga mengaku jatuh cinta padaku.
Masih kesal pada Randy, aku jadi tidak mudah percaya pada pria yang mendekatiku termasuk Mas Indra.
Lagipula kami baru saling mengenal, aku jga tidak tahu siapa dia sebenarnya dan apa motifnya mendekatiku jika niatnya hanya ingin mengucapkan terimakasih semata?
Namun usaha Mas Indra untuk mendapatkan ku tidak berhenti begitu saja, bahkan aku pernah membiarkan nya menungguku di luar rumah saat hujan deras, sedangkan aku malah tidur dengan pulas.
Ketulusannya membuatku luluh juga. Mas Indra juga menceritakan tentang Lea yang tentu saja membuatku dilema.
Sebenarnya Mas Indra akan langsung menikahiku waktu itu, namun karena ada beberapa kendala dan juga pihak keluargaku yang tidak ingin membiarkan aku berpacaran tanpa ikatan yang sah, akhirnya kami menikah dahulu secara agama.
Saat masa awal perkenalan kami, Mas Indra juga mulai mempertemukanku dengan Lea dan kami kerap mengajak Lea menghabiskan waktu bersama di akhir pekan.
Saat pertama bertemu dengan Lea, aku sudah bisa merasakan ada sesuatu yang tidak biasa, hingga saat kami bermain bersama dan dia menginjak perut dan menertawakan kesakitanku, akhirnya aku mulai memanggil nya sebagai 'Monster Kecil'.
Aku sangat membenci anak itu. Tidak hanya karena dia bukan anakku, bocah 5 tahun itu juga sangat menyebalkan!
Aku juga beberapa kali bertemu dengan mantan istri Mas Indra, Mbak Dewi.
Dia tampak biasa saja saat melihatku. Tapi Ibunya, atau Nenek Lea dengan jelas menunjukkan bahwa dia begitu membenciku.
Beberapa kali saat aku menjemput ataupun mengantarkan Lea pulang setelah jadwal jalan-jalan di akhir pekan, Ibu Mbak Dewi pernah marah-marah dan memakiku tanpa ku tahu apa salahku.
Meskipun Mas Indra tidak merasa menyentuh Mbak Dewi sama sekali, tapi bukti foto-foto saat mereka berdua dan pengaruh alkohol yang tidak bisa di ingat oleh Mas Indra, membuatnya besedia bertanggung jawab terhadap Lea.
Sebenarnya aku tidak begitu suka dengan keadaan ini apalagi walau sudah berstatus mantan istri, Mbak Dewi seringkali membuat ulah yang kerap membuatku jengah.
Mbak Dewi selalu saja meminta uang pada suamiku, katanya untuk kebutuhan Lea.
Aku tentu kesal sekali karena itu seolah Mbak Dewi masih sebagai status istri.
Kemudian suatu saat usaha Mas Indra sedang mengalami penurunan dan berangsur jatuh, bisa di bilang, kami berada di titik nol kehidupan. Tidak ingin merepotkan dan membuat Ibu sedih, aku dan Mas Indra berjuang bersama. Mas Indra juga tidak ingin merepotkan keluarganya apalagi keputusan kembali ke kota ini sangat di tentang oleh keluarga besarnya termasuk sang Mama.
Jika mau, aku bisa saja meninggalkan Mas Indra saat itu yang sedang tidak punya apa-apa dan tidak punya siapa-siapa.
Lagipula pernikahan kami juga belum terikat secara negara, jadi sangat mudah untukku jika akan meninggalkannya begitu saja. Teman-teman dan sahabat terdekatnya juga tidak bisa membantu Mas Indra dari keterpurukan itu. Tapi aku pikir itulah saatnya dimana berjuang dari nol adalah hal yang tidak main-main.
Pelan-pelan, Mas Indra juga memulai kembali bisnisnya dan merombak semuanya.
Sedikit demi sedikit, bisnisnya mulai bangkit lagi dan berada dalam kondisi dan situasi yang berbeda dari sebelumnya.
Sampai akhirnya kami meresmikan pernikahan yang juga dihadiri oleh keluarga besar Mas Indra.
Baik keluargaku maupun keluarga Mas Indra, mereka tidak ada yang tahu persoalan keuangan kami yang pernah jatuh di titik terendah itu karena kami memang tidak pernah bercerita yang sebenarnya.
Kami tidak ingin membuat mereka khawatir.
Terlebih Mas Indra tidak ingin membuat Ibuku cemas dan meragukan kemampuan menantunya untuk menjagaku dan juga membahagiakanku seperti yang telah dilakukan Ibu selama lebih dari 24 tahun usiaku.
Setelah lulus kuliah, aku memang akhirnya menikah, tapi bukan dengan Randy.
Sebagai pasangan baru, kami berencana untuk bulan madu ke Eropa dan mengunjungi keluarga Mas Indra disana sampai pada hari dimana Mbak Dewi menitipkan Lea pada kami karena Ibunya pulang ke kota asalnya.
Tentu saja aku tidak setuju dengan semua itu. Tapi tidak ada pilihan lain. Bulan madu kami akhirnya terus di tunda.
___________________
"Mas, aku dimana?" tanyaku pada suamiku karena ruangan ini terasa sangat asing bagiku.
"Kamu udah bangun, Sayang? kamu di Rumah Sakit, semalam kamu pingsan setelah antar Lea pulang. Udah jangan banyak gerak dulu yaa, aku mau panggil dokter ..." jawab Mas Indra dengan wajah cemas.
Kepalaku terasa sangat berat, yang kuingat, semalam Ibunya Mbak Dewi bicara dengan kata-kata yang begitu menyakiti hatiku lalu di jalan aku bertemu dengan pria tengil yang menuduhku menabrak mobilnya.
Aku juga ingat saat sampai di rumah, aku hanya bisa menangis di depan Mas Indra dan memintanya untuk menghamiliku.
Aku tidak tahu apakah aku mampu bercerita pada suamiku tentang bagaimana mantan mertuanya memperlakukanku malam itu.
Kata dokter, aku baik-baik saja, hanya kecapean dan telat makan. Aku di sarankan untuk lebih memperhatikan kesehatan dan menjaga pola makan. Aku juga tidak boleh terlalu stress atau banyak pikiran karena hal itu akan mempengaruhi kesehatan.
Ibu dan Kak Vera memarahiku karena sering telat makan. Mereka juga memintaku untuk tidak terlalu memikirkan hal-hal yang tidak penting.
Ahhh, ingin rasanya aku menceritakan kejadian malam itu, tapi aku tidak ingin dua bidadariku itu sedih jika mengetahui aku di rendahkan dengan kejamnya.
Aku tidak mau mereka tahu.
Aku sudah merasa sehat, karena memang aku tidak sakit, tapi dokter belum mengizinkanku pulang. Meski aku bosan hanya tiduran, tapi Mas Indra memintaku untuk mendengarkan apa kata dokter.
Mas Indra terlihat sangat khawatir, tapi dia menyembunyikan di balik senyum manisnya.
Pulang dari rumah sakit, Mas Indra memintaku untuk istirahat penuh, dia menyewa jasa kebersihan rumah dan memasak makanan untukku. Aku tidak diperbolehkan melakukan apa-apa. Dia bilang aku hanya boleh istirahat dan segera sehat. Meski aku meyakinkannya bahwa aku tidak apa-apa, Mas Indra tetap tidak mengizinkanku ke dapur untuk membantunya.
__ADS_1
Mas Indra membuatkanku sarapan, memasak nasi goreng, sup, dan masakan lainnya.
Katanya, dia memasak dengan cinta.
Dan memang benar, masakannya terasa beda.
Sayur tumis daging sedikit keasinan, ayam gorengnya agak gosong, sup bayam cukup manis. Tapi semuanya ku makan dan ku habiskan, itulah masakan yang di masak dengan cinta dan aku yang memakannya pun dengan penuh cinta.
Tidak ingin bertemu dengan Ibunya Mbak Dewi lagi, aku meminta Mbak Dewi untuk mengantar Lea kesini, tapi Mbak Dewi tidak mau.
Mas Indra juga tidak mau menjemput Lea karena tidak ingin bertemu dengan mantan istrinya.
Aku kesal dengan semua ini. Kenapa malah aku yang jadi repot begini?
Aku mengajak Mas Indra menjemput Lea bersama, setidaknya jika nenek lampir itu macam-macam padaku, aku punya Mas Indra yang akan membelaku.
Sampai saat ini, aku tidak menceritakan kejadian malam itu pada Mas Indra karena aku tidak ingin membuat masalah baru.
Aku tidak mau Mas Indra marah-marah pada Neneknya Lea maupun Mbak Dewi atas kejadian malam itu.
Biarlah aku saja yang mengerahuinya.
Tiga hari berlalu dengan cepatnya, Lea semakin membuatku menyayanginya karena sekarang dia tidak nakal lagi dan bahkan lebih sopan.
Siang itu, Mbak Dewi mengabari kalau akan menjemput Lea ke rumahku.
Tidak seperti biasanya, Mbak Dewi selalu memintaku mengantar dan menjemput Lea.
Aku meminta Lea mengemasi barang yang mungkin akan dia bawa pulang. Tapi bocah itu malah menangis tidak mau pulang.
Aku dan Mas Indra mencoba membujuknya tapi Lea malah menangis semakin kencang.
*ting-tung ....
Mbak Dewi sudah di depan rumah tapi Lea masih saja menangis.
"Aku nggak mau pulang! aku mau sama Papa sama Momi aja! huhuhu," tangis Lea pecah dan semakin kencang.
"Oh my baby, kita kan mau berenang, mau main sama Mama, ya?" ucap Mbak Dewi membujuk Lea untuk pulang bersamanya.
"Gak mau! gak mau pulang! aku mau disini sama Momi aja!"
"Kamu ajarin Lea buat benci sama aku sampai kaya gini, Sa?!"
"Enggak, Mbak, aku nggak pernah ajarin Lea kayak gitu ...." jawabku membela diri.
"Halah, ngaku aja, Sa, kamu itu udah dapat Indra dan sekarang mau ambil Lea juga dari aku kan?"
"Ada apa si ribut-ribut? Dewi, jaga ucapan kamu ya, Sasa nggak sedikit pun seperti yang kamu tuduhkan." Mas Indra mendengar teriakan Mbak Dewi dan keluar untuk membelaku.
"Tapi, Ndra, kenyataan emang gitu, di rumah aja Lea sering salah manggil aku dengan sebutan 'Momi'. Dia pasti sengaja, Ndra!"
"Cukup, Wi, seharusnya kamu sadar diri kenapa Lea lebih memilih tinggal disini sama Sasa daripada ikut kamu."
"Kamu nyalahin aku juga, Ndra? Pinter kamu ya, Sa, hebat ... terus aja pengaruhi semua orang biar benci sama aku!"
Aku diam saja dan menjauhi mereka bersama Lea saat Mbak Dewi terus bicara. Entah kenapa dia menuduhku begitu padahal sebelumnya dia bilang bahwa perpisahannya dengan Mas Indra bukan salahku. Lagipula aku juga tidak pernah merebut Mas Indra darinya.
"Nonsense, you better stop talking and go!' (Nggak masuk akal, lebih baik kamu diam dan pergi!)"
Baru kali ini aku lihat Mas Indra sampai mengusir Mbak Dewi begitu. Mungkin Mas Indra juga sudah tidak tahan lagi dengan ulah Mbak Dewi itu.
"Ayo Lea kita pulang sekarang!"
"Gak mau! huhuhu, aku mau sama Momi aja! huhuhu ...."
Bocah itu menggenggam tanganku erat. Mbak Dewi menarik tangan Lea mengajaknya pulang. Lea melepaskan tarikan itu dengan kuat lalu berlari ke jalan.
*Bruuaaakkkkkkkk!!! Seeeeerrrrrrrtttttt!!!
Tubuh Lea terlempar ke pinggir jalan, seorang anak muda yang mengendarai motor dengan kecepatan tinggi menabrak monster kecilku dan kabur melarikan diri.
Aku berteriak memanggil namanya dan berlari menghampiri Lea.
Darah segar keluar dari kepala bagian belakang bocah itu. Mas Indra panik dan reflek menggendong Lea menuju mobil.
"Sasa! ini semua salah kamu! kalau sampai ada apa-apa sama Lea kamu harus bertanggung jawab! aku gak bisa maafin kamu, Sa!"
"Shut up!' (Diam)! Dewi!! satu kata lagi kamu ucapkan, keluar dari mobil ini!!" ancam Mas Indra pada Mbak Dewi yang terus menyalahkanku atas semua kejadian ini.
Sampai di rumah sakit, Lea langsung di bawa ke ruang operasi. Mas Indra terus menenangkanku yang menangis di pelukannya. Seorang suster keluar dan bertanya pada kami, siapa orangtua Lea.
Mbak Dewi dan Mas Indra langsung berdiri, suster mengajak mereka berdua ke suatu ruangan dan meninggalkanku sendirian di ruang tunggu. Mbak Dewi menatapku sinis. Dalam hatinya mungkin berkata, 'kamu bukan siapa-siapa, Sa! kamu bahkan tidak dibutuhkan oleh Lea!'
Beberapa saat kemudian mereka berdua kembali lagi ke ruang tunggu bersama suster tadi, wajah Mas Indra terlihat sangat marah, sebelum aku sempat bertanya kenapa, suster lebih dulu bertanya apa golongan darahku dan mengajakku masuk ke sebuah ruangan.
Lea membutuhkan darah tambahan sebab terlalu banyak pendarahan yang dia alami karena kecelakaan tadi. Namun golongan darah Mas Indra dan Mbak Dewi tidak ada yang cocok dengan Lea.
Aku tidak bisa berpikir apa-apa saat ini, satu-satunya yang aku inginkan adalah keselamatan Lea. Itu yang lebih penting sekarang.
__ADS_1