
Setelah puas berenang dan bermain air, akhirnya kami berlima mandi dan berganti pakaian lalu pergi mencari tempat makan.
"Anak-anak mau makan apa?" tanyaku pada ketiga bocah cantik itu.
"Makan ayam goreng, Tante!" jawab Dinda pertama diikuti oleh persetujuan dua bocah lainnya.
"*Okay, ayo semuanya masuk mobil duduk yang rapi yaa, kita pergi makan ayam goreng!"
"Yaayy, Horee* ...!" jawab mereka bertiga kompak.
"*Fan, nggak apa-apa kan lu makan ayam goreng bareng anak-anak tu?"
"Iyee Cin, gue ngikut aja."
"Pinteeerr* ...."
_____________
*tang-ting-tung-ting-tang-ting-tung ....
HP ku berbunyi, itu pasti Mas Indra, aku sedang menyedir mobil, jadi ku kugunakan 'loud speaker' (pengeras suara) dan meletakkan handphoneku di sisi kiriku.
"*Iya, Mas ...."
"Where are you, Hun? (Kamu lagi dimana, Sayang)?"
"Ini baru kelar main airnya, baru keluar parkiran, Mas, aku nggak masak, yaa ... mau ajak anak-anak makan ayam goreng, terus aku langsung anterin Maya pulang."
"Loh, kamu nggak masak, Hun?"
"Enggak ... maaf ya, Sayang. Kamu dimana Mas?"
"Dirumah, nunggu kamu pulang buat masakin makanan untuk aku, Sayangku ...."
"Yaudah, Mas kesini aja gabung sama kita makan bersama, iya kan, anak-anak?!"
"Iyaaa* ...!!" jawab anak-anak berbarengan.
"*Emang dimana, Hun?"
"Tempat biasa, Mas ...."
"Aku masih lagi ngerjain kerjaanku nih, bungkus aja satu yah, Hun."
"Enak makan sini, tau, Mas!"
"Bungkus aja deh, ya, ya, yaa ... mmwwah."
"Iya deh, bye ... I love you."
"I love you*."
Kami sampai di tempat makan ayam goreng kriuk yang disukai banyak orang. Setelah memesan apa yang kami inginkan, kami duduk dan sambil menunggu makanan di hidangkan.
Tiga bocah itu sedang asyik bermain bersama Karnataka mendapat mainan dari paket makanan yang mereka pilih.
"Jadi udah fix yee, Cin, Lea pulang besok dan nggak nginep di rumah lu lagi?" tanya Fani.
"*Harusnya sih gitu yah, Fan. Kan emang udah 3 minggu sama gue. Ehya, sejak monster kecil itu tinggal di rumah, gue jadi agak sayang sama dia ... wkwkwk."
"Ya bagus lah, Cin, laki lu juga pasti bakal tambah sayang ama elu kalau tahu elu nya juga sayang ama anaknya. Bakal di beliin apa ya kali ini? hahahaha."
"Hisshh ... ada-ada aja elu, Kipass*!"
Makanan telah datang, kami menyantapnya dengan lahap. Memang benar, berenang dan main air itu bikin lapar. Camilan yang tadi ku bawa pun sudah ludes kami makan. Dan kini kami merasa lapar lagi sehingga ketika makanan datang, kami tidak sabar untuk menikmatinya. Aku juga memesan satu porsi untuk Mas Indra. Kasihan dia, selalu menunggu aku masak. Bukannya tidak mau masak untuknya, aku hanya tidak mau dia menunggu terlalu lama hingga makanan matang. Bisa-bisa dia sampai kelaparan tak karuan. Orang lapar juga kadang jadi uring-uringan, maka dari itu mending aku beli dulu saja makanannya. Jika Mas Indra masih lapar, aku bisa masak sesuatu nanti.
Setelah mengantar Fani dan Dinda, aku pulang ke rumah dulu membawakan makanan untuk suamiku. Meskipun awalnya aku mau langsung mengantar Maya, tapi aku tidak tega pada Mas Indra yang menungguku lama. Dia juga bisa tahan lapar jika menungguku masak. Pernah suatu hari saat aku sedang menghadiri acara ulang tahun temanku, Mas Indra memintaku masak tapi tidak ku lihat pesannya karena aku sedang berkumpul dengan teman-temanku. Dan ternyata, dari siang dia tidak makan hanya karena menunggu masakanku! Aku pikir, kenapa harus menungguku, kenapa tidak pesan makanan aja dulu? Haisshh ... Mas Indra emang orangnya begitu.
"Hai, Sayang, mwah ..." sapaku pada Mas Indra saat masuk rumah dan langsung menghambur ke sisinya.
"Lama banget perginya, kangen ..." Mas Indra memelukku dengan manja di saksikan kedua bocah dibawah umur itu.
Namun mereka sudah tahu bahwa kami adalah sepasang suami istri yang saling mencintai, jadi berpelukan begini adalah hal wajar dan merupakan sebuah bentuk kasih sayang.
Salim, peluk dan cium tidak pernah kami lupakan setiap kami baru bertemu atau akan pergi. Kami pun melakukan semua itu di depan anak-anak agar mereka juga mencontoh kami khususnya untuk kebiasaan 'salim'.
"*Mas, sini di makan dulu, nanti keburu dingin gak enak tahu ...."
"Suapin ...."
"Haisshh ... aku mau anter Maya pulang, Mas."
"Nangung nih, Sayang, belum selesai kerjaan aku."
"Manjaaa* ...!"
Aku kemudian mencuci tangan dan menyiapkan makanan untuk Mas Indra dan mulai menyuapinya. Sebelum itu, aku memberitahu anak-anak untuk bermain dahulu sementara aku memberi makan suamiku.
"*Anak-anak boleh main atau nonton kartun dulu sebentar yah, Momi mau suapin papa dulu ya, Lea. Tante mau suapin Om dulu ya, Maya. Nggak boleh berantem yah, 'sharing' (berbagi) yah?!"
__ADS_1
"Okay, Tante, Sasa."
"Okay, Momi, Sasa*."
Kedua bocah itu masuk ke kamar mereka untuk bermain.
"Main yuk, main bareng yuk, tapi nggak boleh rebutan, nanti kita berubah jadi patung," ucap Maya pada Lea.
"Iya kata Momi kalau kita nakal, nanti jadi patung. Aku nggak mau nakal. Hihihi," jawab Lea diiringi tawa khasnya.
"Iya aku juga nggak mau nakal." Maya menimpali.
Sayup kudengar mereka berdua berbicara satu sama lain di kamar sementara aku menyuapi Mas Indra karena kedua tangannya sibuk mengetik di 'keyboard' laptopnya.
"*Mas, tadi seru deh main airnya, kapan-kapan sama kamu yah ...."
"Okay, Sayang."
"Ini kamu laper apa doyan ya Mas? pinterrr, cepet habisnya, mwahh!"
"Dua-duanya, aku laper banget dari sore nggak makan, Hun ...."
"Kebiasaan, salah sendiri!"
"Aku kan maunya kamu yang masak, Sayang. Kenapa kalau kamu yang masak selalu enak, karena udah ada Micinnya. Hahaha."
"Oooiittt!! Mas!"
"Yyeekk!"
"Awas, yaa!"
"Yyeekk ... nggak kena*!"
Aku dan Lea mengantar Maya pulang. Aku sudah meminta Lea untuk di rumah saja agar dia tidak capek, tapi bocah itu ingin ikut serta
mengantar Maya. Dan benar saja, di perjalanan, kedua bocah itu terlelap. Aku tidak masuk ke rumah Kak Vera karena akan langsung pulang. Kak Rey, Ayah Maya menggendong anaknya masuk. Aku segera berpamitan pada mereka berdua dan pulang.
*tut ... tut ... tut ....
Aku mencoba menelpon Mas Indra untuk menyiapkan kamar Lea, menutup jendela, korden dan juga menyalakan AC agar saat sampai di rumah, Lea bisa langsung tidur dengan nyaman. Aku juga meminta Mas Indra keluar untuk menggendong anaknya yang tertidur di kursi penumpang belakang.
Monster kecil itu tidur dengan pulas. Pasti dia kelelahan.
Mas Indra membopong Lea masuk ke kamarnya. Ku ulurkan selimut untuk tubuhnya dan mematikan lampu agar Lea dapat tidur dengan nyaman.
Hampir jam sembilan tapi Mas Indra belum juga beranjak dari kursi dan laptop di depannya. Pasti dia lupa waktu jika sudah fokus bekerja. Tapi dia harus berhenti sekarang karena ini waktunya istirahat.
"Iya, Sayang, bentar lagi nih, 5 menit lagi yah?"
"Kamu lama ...."
"Beneran ini sedikit lagi, Sayang."
"Yaudah aku ke kamar dulu yah, mwah!"
"Iya, Hun*."
Benar saja, sekitar lima menit kemudian Mas Indra sudah masuk ke kamar dan sekarang dia ada disisiku, memelukku dengan mesra.
"*Tadi seru loh Mas main airnya. Lain kali kamu ikut juga yaa?"
"Iya, cintaa. Ohya, Sayang, aku udah ada jadwal pastinya nih buat kita ke Bali. Jum'at malam kita berangkat, nginap 2 malam terus terbang kesini lagi Minggu malam. Kamu mau nginap di hotel atau villa?"
"Hotel aja, Mas, kalau villa tuh enakan pas rame-rame, misalnya kita ajak anak-anak juga."
"Yaudah besok kita cari ya, hotel apa yang kamu mau? Eiitt ... kamu udah merem, Hun? kamu dengerin aku nggak tadi?"
"Iyaa dengerin ... zzz."
"Parah nih, terlalu awal aku peluk kamu nih makanya udah cepet aja merem duluan."
"Ngantuk banget, Mas, zzz."
"Iya, Sayang ... good night. I love you."
"Love you, zzz* ...."
____________
• Hari ke 15
Aku tidak menyangka aku bisa sampai pada hari ini. Hari terakhir? aku bersyukur dapat melalui semuanya meski dengan berbagai drama dan mungkin, aku telah menyakiti hati bocah kecil itu. Maafkan Momi, Lea.
Seperti biasa, hari Jum'at Lea akan mendapatkan PR dari sekolahnya. Tanpa mata melotot seperti mau copot dan deraian airmata, kini Lea mau mengerjakan semua PR nya sendiri. Aku dan Mas Indra memang duduk disampingnya tapi tidak mengerjakan tugas Lea. Terkadang jika dia lupa, aku sesekali membuka Google Translate untuk membuatnya mengingat huruf apa yang akan dia tulis. Aku juga tidak perlu lagi berteriak maupun mengancam akan mengantarkannya pulang, karena monster kecil itu sudah benar-benar berubah dibandingkan saat pertama dia datang. Mas Indra juga tampak bahagia, sangat kontras dengan hari Jum'at sebelumnya dimana aku membuat anaknya menangis untuk mengerjakan semua PR nya.
"Ahh ... apakah aku terlalu keras dan kejam pada anak tiriku, si monster kecil itu?" batinku dalam hati.
*ting ....
__ADS_1
Tanda pesan masuk di HP membuyarkan lamunanku. Kulihat itu Mbak Dewi.
[*Sa, anterin Lea ke rumah ya, aku nggak bisa jemput.]
[Jam berapa, Mbak?]
[Jam 9.]
[Okay*.]
___________
"*Momi, I finished all my homework! (Momi, aku udah selesai mengerjakan semua PR ku)!"
"Really? (Beneran)?"
"Yes, Momi, see ... I do it by myself! (Iya, Momi, lihat, aku ngerjain semuanya sendiri)! Aku pinter kan, Momi? aku nggak nakal kan, Momi?"
"Iyyaa ... Lea anak cantik, anak pinter, enggak nakal. Nih, Momi kasih hadiah. Hari ini Lea boleh makan permen, tapi cuma satu aja. Okay?"
"Haaa? aku boleh makan permen? asyikk ... Thankyou, Momi, i love you*." Bocah itu memelukku erat, aku hampir tidak bisa bergerak.
"I love you too, sweety. Bilang thankyou ke Papa juga, ini permen nya papa yang beli." Aku membalas pelukan monster kecil itu dan memintanya untuk berterimakasih dan memeluk Papanya juga. Aku melihat wajah-wajah bahagia itu. Mungkin, kebencianku pada anak tiriku juga perlahan mulai terkikis dengan melihat senyum dan tawanya yang begitu ceria.
"*Makasih Papa udah beliin Lea permen, hihihi. I love you, Papa."
"I love you too, Lea*."
Aku membiarkan anak itu menikmati hadiah
permen nya sambil menonton tv bersama Mas Indra karena dia telah menyelesaikan PRnya hari ini, sementara aku membereskan barang-barang yang akan ku bawakan ke rumah Mbak Dewi.
Ahh ... malam ini aku tidak akan menidurkan bocah itu, mungkin aku akan rindu dengan malam-malam yang pernah kami lalui itu.
*tang-ting-tung-ting-tang-ting-tung ....
HPku kembali berbunyi, tapi itu suara panggilan telepon.
"*Halo, Mbak?"
"Anterin sekarang aja, Sa, cepetan!"
"Bukannya tadi bilang jam 9?"
"Nggak, anterin sekarang aja! cepetan ya*!"
Belum sempat kujawab 'iya', telpon itu sudah dimatikan. "Huhhh ... gak sopan!" jeritku dalam hati.
"Itu siapa, Momi?" tanya Lea penasaran.
"Siapa, Hun?" Mas Indra juga bertanya hampir berbarengan dengan Lea
"*Mbak Dewi, Mas."
"Tadi Mama Dewi, sayang."
"Kenapa Mama aku telfon momi? hiks* ...." Anak itu mulai menangis takut diantar pulang karena dia tahu Mamanya hanya menelfon saat akan menjemputnya pulang saja. Jadi setiap kali mengetahui Mamanya menelfonku, artinya dia harus pulang.
"*Eemm ... malam ini Lea pulang dulu ke rumah Mama Dewi, yah?"
"Aku nggak mau pulang ... hiks ... hiks ... Momi, aku nggak mau nakal lagi, aku mau kerjain PR aku. Aku mau siram kalau pipis, aku nggak nakal sama Maya, aku sharing, aku nggak rebutan ... Momi, aku nggak mau pulang ... Papa, aku mau sama Momi aja ... aku suka disini ... aku nggak mau pulang, hiks ... hiks* ..." monster itu menangis kencang, aku dan Mas Indra sebenarnya tidak tega, tapi kami juga tidak bisa menahan dia disini.
"Lea sayang, anak cantik, anak pinter, dengerin Momi, malam ini pulang dulu ke rumah Mama Dewi, lain kali main lagi kesini, nginap lagi disini, sama Maya, sama kakak Dinda juga ... okay? Lea anak pinter kan? Mau nurut yaa sama Momi sama Papa?" aku membujuk anak itu sambil memeluknya lembut, meskipun masih menangis, kulihat dia sudah mulai mau untuk pulang.
Aku mengantarkan Lea sampai di depan rumahnya, disana Mbak Dewi sudah menungguku.
"Sa, aku mau bicara," kata Mbak Dewi menahanku langsung pergi.
"*Ada apa Mbak?"
"Jadi gini, Ibuku belum datang kesini minggu ini, aku, aku mau nitip Lea seminggu lagi di rumah kamu. Kalo kamu nggak suka ya nggak apa-apa."
"Aku bicara dulu sama Mas Indra ya, Mbak?"
"Dia pasti mau-mau aja kok, Lea kan anaknya."
"Bukan gitu, Mbak ... maksudku, aku mau bicarain dulu sama Mas Indra sebelum aku bilang 'iya atau tidak' sekarang."
"Kamu pasti nggak suka kan aku repotin? yaudah aku resign aja dari kerjaanku kalau emang kamu nggak suka aku nitip Lea seminggu lagi."
"Please dehh Mbak, aku nggak ngomong kayak gitu ya, aku bilang 'aku mau bicara dulu sama Mas Indra'. That's all (Itu aja). Bye, Lea! good night, see you next time. (Selamat tidur, Lea! sampai berjumpa lagi). Aku pulang ya Mbak*." Aku bergegas masuk ke mobil tanpa menghiraukan apa yang ingin Mbak Dewi sampaikan.
"Bye, Momi." Suara mungil itu masih kudengar sebelum aku menutup kaca mobil dan berlalu pergi untuk pulang.
Diperjalanan, aku masih tidak mengerti dengan sikap Mbak Dewi itu.
"Mau nitip Lea seminggu lagi?" Aku dan Mas Indra kan mau ke Bali. Diawal juga bilangnya cuma 3 minggu, ini kenapa mau nambah lagi?!
Aargghh ... wanita itu benar-benar telah berhasil merusak 'mood'ku!
__ADS_1
Aku meminggirkan mobil sejenak. Aku tidak mau menyetir dalam keadaan banyak pikiran. Mendingan aku makan. Xixixi.
"Pak, tahu goreng biasa yaa ... cabenya banyakin," pintaku pada Bapak penjual tahu goreng kriuk di pinggir jalan.