
"Bangun, Sayang ..." bisik Mas Indra lirih.
"Aaa ... masih ngantuk ..." jawabku manja.
"Yaudah, tidur lagi aja ...."
"Mas!!!"
"Ada apa?"
"Haisshh ...."
Entah kenapa pagi ini aku sangat menginginkan hal itu.
Ku tarik lengan Mas Indra dan membuatnya terbaring lagi, lalu memulai aksi jahilku.
"Aku mau lari pagi, Sayang ...."
"Olahraga disini aja ..." godaku sambil menatap suamiku dengan manja.
Mas Indra tidak mau kalah, dia malah sengaja membuatku geram dan seolah jual mahal padahal mau juga.
Hahaha.
Akhirnya kami berdua berolahraga pagi disini lalu mandi dan menikmati sarapan bersama.
Sudah genap 3 bulan sejak pernikahan secara agama kami, rencananya 2 bulan lagi kami akan melangsungkan resepsi. Orangtua Mas Indra juga akan datang kesini.
Ahh, aku tidak sabar untuk bertemu dengan Mama mertuaku. Selama ini kami hanya berbicara lewat telepon dan pesan singkat saja karena beliau tidak tinggal di Indonesia.
Menjelang acara resepsi, aku dan Mas Indra malah jadi sangat sering bertengkar hanya karena masalah sepele. Kami seringkali meributkan hal-hal kecil seperti gedung, gaun dan lain sebagainya.
Sebenarnya aku tidak mau terlalu merayakan resepsi pernikahan kami secara mewah, tapi Mas Indra yang menginginkannya.
Kata orang, mungkin ini ujian pernikahan. Tapi aku dan Mas Indra kan sebenarnya sudah menjadi suami istri, hanya belum tercatat di catatan sipil saja.
Kami berdua sering tidak sepakat dalam banyak hal. Semua itu juga cukup mempengaruhi emosi kami berdua terlebih setiap akhir pekan, Lea datang ke tempat tinggal kami untuk main, yang membuat aku semakin kesal.
Kebencianku pada monster kecil itu semakin hari semakin menjadi. Aku sungguh tidak tahan lagi dengan sikap manja, cengeng, ngambekan dan semua ulah menyebalkannya!
Bahkan saat ada bocah itu di apartemen kami, aku selalu mencari alasan untuk pergi belanja atau yang lainnya.
Aku juga masih kuliah, jadi sering mencari alasan untuk pergi keluar meski terkadang aku bohong hanya untuk tidak bertemu dengan anak tiriku itu.
Mas Indra sudah mengetahui gerak-gerikku, jadi seringkali dia menghubungi Maria atau Fani jika memang aku harus keluar saat akhir pekan.
Namun tentu saja kedua sahabatku itu ada di pihakku.
Huh, kedatangan monster kecil itu selalu saja sukses merusak suasana hatiku.
Aku dan Mas Indra jadi sering bertengkar karenanya.
Tidak hanya itu, Mas Indra juga berteman dengan Roni. Aku tidak suka padanya walau mereka telah berteman lama sejak pertama kali Mas Indra datang ke kota ini.
Pernah suatu hari Roni menuduhku sebagai racun dan pengaruh buruk kepada Mas Indra.
Roni bahkan menuduhku melakukan 'black magic' atau ilmu hitam untuk mendapatkan Mas Indra.
Sayangnya suamiku jarang membelaku jika menyangkut sahabatnya itu. Alasannya tentu saja karena mereka sudah berteman lama dan saling memahami satu sama lain.
Sejak mengenalku, Mas Indra memang telah banyak berubah. Dia tahu betul aku tidak suka dengan asap rokok karena pernah terbatuk hebat disebabkan asap rokok yang terhirup.
Pelan-pelan dia mulai mengurangi porsi merokoknya dari satu bungkus perhari menjadi tiga perempat, setengah, seperempat hingga tidak sama sekali.
Meski kadang saat bertemu dengan rekan kerja, Mas Indra masih merokok sesekali.
Dia juga memulai hidup sehat dengan rajin berolahraga seperti rutin lari pagi, bermain futsal bersama teman-temannya, makan makanan sehat dan tidak lagi mengkonsumsi alkohol seperti beberapa tahun lalu saat sebelum akhirnya bersamaku.
__ADS_1
Aku tidak tahu Mas Indra berubah karena ingin menarik perhatianku. Aku hanya pernah bilang padanya untuk menjaga kesehatan.
Waktu itu, aku sempat becanda begini :
"Kamu harus jaga kesehatan, jangan telat makan, nanti kamu sakit. Kalau kamu sakit, lalu siapa yang aku sakitin?"
Mendengar candaanku itu, mungkin baginya terdengar romantis. Padahal aku hanya asal bicara saja.
Ohya, Mas Indra sempat menulis sebuah surat untukku dengan bahasa Indonesia yang sangat baku.
Isinya kurang lebih begini :
***
"Cintamu telah mengajari Saya banyak hal. Seperti hal-hal baik datang kepada mereka yang menunggu. Cintamu juga telah menunjukkan kepada Saya kebahagiaan yang nyata dalam hidup Saya. Saya tidak pernah merasakan kegembiraan seperti saat Saya menghabiskan waktu bersama Anda. Setiap hal yang Saya lalui bersama Anda adalah kegembiraan yang nyata. Tidak heran, Saya percaya Anda diciptakan untuk Saya. Aku bersumpah akan mencintaimu selama Aku hidup.
Saya menyesal telah menjatuhkan Anda. Aku minta maaf karena membuatmu sedih. Saya ingin memperlakukan Anda seperti seorang ratu dan menikmati waktu yang kita miliki.
Saya berjanji akan berusaha lebih bijaksana dan belajar dari kesalahan Saya. Saya harap Anda bisa memaafkan Saya. Aku sangat mencintaimu.
Tulisan tanganku sangat buruk!
***
Waktu itu bukannya terharu, aku malah tertawa geli membaca isi surat dari Mas Indra.
Kata-kata dan kalimat yang ada di dalam surat itu ku yakin dia menerjemahkannya ke Bahasa Indonesia, sebab tulisan itu terkesan sangat baku. Kupikir dimana letak romantisnya?
Mas Indra menulis surat itu sebagai permintaan maaf setelah melakukan sebuah kesalahan.
Aku tidak tahu dapat ide dari mana dia sampai repot menulis surat seperti itu segala.
Walau bagaimanapun, aku juga tersentuh membaca surat tulus itu darinya.
Tanpa sepengetahuan Mas Indra, aku masih menyimpan surat itu dan sesekali ku baca saat kami habis bertengkar.
Aku juga belajar banyak hal bahwa pada dasarnya, pria jatuh cinta dan wanita belajar mencintai.
Dengan Randy, mungkin akulah yang jatuh cinta padanya, aku yang lebih mencintai Randy dan mungkin akulah yang mengejarnya?
Saat bersama Mas Indra, awalnya aku tidak suka padanya namun pada akhirnya akupun mulai jatuh cinta pada sosoknya.
Di mata Roni, akulah penyebab semua perubahan drastis Mas Indra. Setiap kali Roni mengajak suamiku untuk pergi ke klub malam maupun pergi ke suatu tempat yang tidak ku setujui, Mas Indra akhirnya tidak pergi sehingga Roni jadi membenciku dan menganggap aku telah mencuci otak serta meracuni pikiran suamiku.
Argh, ingin rasanya aku benar-benar menggunakan ilmu hitam untuk menyingkirkan Roni. Namun buat apa aku melakukan itu semua? toh yang mengejarku selama ini juga adalah Mas Indra.
Aku memang telah jatuh cinta dan benar-benar mencintainya, tapi tidak menutup kemungkinan jika kami berpisah, ya aku tidak apa-apa.
Cinta datang dan pergi pada semua orang. Aku bahkan telah merasakan beberapa kali sakit dan patah hati. Dengan Randy memang yang paling menyakitkan dari beberapa mantanku yang lainnya. Makanya aku tidak ingin menyerahkan hatiku sepenuhnya meski kepada Mas Indra. Aku hanya tidak ingin terluka lagi.
Tidak akan ada orang yang mengerti pedihnya patah hati jika mereka belum pernah merasakan sendiri.
Jadi, jika aku ternyata memang tidak berjodoh dengan Mas Indra, apa mau dikata?
Meski tahu aku tidak suka dengan Roni, tapi setiap kali kami bertengkar maupun ada selisih paham, Mas Indra akan pergi menemui Roni, karena Roni adalah sahabat yang dipercaya oleh Mas Indra.
Seringkali setelah pulang dari tempat Roni, Mas Indra jadi sedikit berubah.
Dia tidak sadar bahwa Roni lah yang meracuni otaknya karena kebencian Roni padaku.
Sudah tahu begitu, Mas Indra tetap saja selalu datang pada Roni. Tentu saja untuk mendapatkan pembelaan dari sahabatnya.
Seperti pasangan lain di luar sana, hal kecil dan biasa selalu saja bisa menjadi petaka jika kami saling egois dan tidak mau kalah.
Apalagi aku cukup cengeng dalam menghadapi beberapa hal.
Tugas kuliahku juga sedikit terganggu dengan banyak persoalan yang terjadi.
__ADS_1
Persiapan resepsi kami juga sangat menguras pikiran serta tenaga.
____________
Dalam masa persiapan resepsi pernikahan kami, ternyata Mamanya Mas Indra mengabari bahwa dirinya akan berkunjung dulu kesini selama beberapa hari. Beliau ingin mengenal gadis yang membuat anak kesayangannya takluk lebih dekat.
Hari itu bertepatan juga dengan bisnis Mas Indra yang sedang redup namun dirahasiakan dari Mamanya.
Aku dan Mas Indra sepakat untuk tidak menceritakan kepada siapa-siapa.
Sekitar satu minggu berkunjung kemari, Mamanya Mas Indra pun kembali dan akan datang lagi saat resepsi pernikahan kami yang di undur pada waktu yang belum diketahui.
Selama Mamanya Mas Indra disini, Lea pun datang ke tempat tinggal kami. Meski pada awalnya tidak setuju dengan pernikahan Mas Indra dengan Mbak Dewi, namun sebagai seorang perempuan, Ibu dan juga Nenek, apalagi melihat Lea yang sudah tumbuh besar, Mamanya Mas Indra mulai menerima kehadiran Lea.
Sayangnya, anak itu sungguh sangat nakal sekali!
Mamanya Mas Indra bahkan sampai menangis dengan sikap Lea padanya.
Walau bagaimanapun, Mamanya Mas Indra jadi merasa bersalah pada Lea karena sebagai seorang Nenek, ia tidak berada di samping Lea selama ini.
Setelah kepulangan Mama, bisnis Mas Indra semakin jatuh dan terpuruk. Kami benar-benar berada di posisi yang tidak menyenangkan. Aku dan Mas Indra harus pindah ke apartemen yang selama ini kami tinggali. Belum lagi Mbak Dewi yang selalu meminta uang bulanan jatah Lea rutin di penuhi.
Meski baru akan memulai skripsi, aku memutuskan cuti dari kuliah.
Salah satu kejelekan Mas Indra adalah dia orang yang boros dan selalu menghabiskan uangnya untuk hal-hal yang kadang tidak masuk akal.
Bahkan saat kondisi terpuruk kami saja, Mas Indra sama sekali tidak punya tabungan!
Aku yang pernah magang saat kuliah dan bekerja paruh waktu sebelum akhirnya bertemu dengan Mas Indra serta kerap membantu Ibu dan mendapatkan uang darinya, kugunakan semua tabunganku untuk biaya hidup kami berdua.
Dari sebuah apartemen mewah yang kami tempati sebelumnya, kini aku dan Mas Indra menyewa sebuah kontrakan yang setidaknya dapat menjadi tempat berteduh kami berdua.
Sebenarnya Ibu telah menawarkan untuk tinggal bersamanya saja, tapi Mas Indra menolak karena sebagai suami, dialah yang harus bertanggung jawab atasku.
Kami melewati masa sulit dan berada di titik nol. Bahkan kami tidak punya uang sama sekali. Mas Indra sebenarnya mempersilahkanku jika aku ingin meninggalkannya sekarang. Teman-teman Mas Indra juga tidak ada yang membantu. Dia juga malu jika harus meminta bantuan Mamanya, meski jika mau, Mas Indra hanya perlu menelpon Mamanya dan pasti beliau akan menolong dan membantu Mas Indra.
Semua itu tidak dia lakukan karena ingin berjuang sendiri dan membuktikan kepada Papanya bahwa Mas Indra bisa hidup tanpa bantuan darinya.
Hubungan Mas Indra dengan Papanya memang kurang baik, keputusan Mas Indra untuk kembali ke kota ini dan mencariku juga sangat di tentang oleh keluarga terutama Papanya.
Jadi, jatuhnya bisnis Mas Indra juga dicurigai ulah Papanya sendiri meski tidak ada bukti.
Mas Indra memang tidak terlalu terbuka untuk menceritakan tentang keluarga besarnya dan akupun tidak pernah memaksa Mas Indra supaya bercerita.
Randy datang lagi padaku menawarkan segala kemewahan serta kenyamanan dan memintaku kembali padanya.
Randy baru sadar bahwa aku lebih baik dari para selingkuhannya.
Tanpa berpikir panjang, aku lebih memilih untuk tetap bersama Mas Indra.
Dalam kondisi seperti ini, tentu saja adalah hal bodoh jika aku meninggalkan Mas Indra.
Bagaimana bisa aku meninggalkan suamiku yang sedang terjatuh dan pergi bersama seorang pria yang telah membuatku patah hati berulang kali?
Aku putuskan untuk bersama-sama berjuang dengan Mas Indra. Semua tabungan yang tersisa di gunakan untuk modal usahanya. Aku juga meminjam uang Ibu tanpa sepengetahuan Mas Indra.
Sekarang aku lebih sering ke rumah Ibu untuk membantunya memasak dan pesanan makanan untuk mendapatkan uang.
Sementara Mas Indra membangun kembali bisnisnya dari awal, kami berdua jadi semakin erat, aku melepaskan ego dan juga sifat manjaku.
Aku harus membantu Mas Indra bangkit lagi. Bukan hanya untuknya, tapi masa depan kami berdua.
Dengan berada dalam kondisi ekonomi yang sedang jatuh begini, kami akhirnya menyadari bahwa semuanya tidak abadi. Bahkan teman-teman Mas Indra juga menjauh.
Aku tidak menceritakan hal ini pada Fani maupun Maria. Aku hanya tidak ingin menyebalkan masalah kelurga.
Aku mengadukan semuanya kepada Tuhan, Ibu dan juga Kak Vera.
__ADS_1
Ternyata dalam kondisi seperti saat ini, aku malah semakin jatuh cinta pada Mas Indra.