Monster Kecil

Monster Kecil
Lea Menangis


__ADS_3

Hari ke delapan dan ke sembilan Lea disini, semua berjalan seperti biasa. Aktivitas pagi kami tetap sama, Mas Indra lari pagi, aku memberi Lea makan, memandikannya, memakaikan baju seragam sekolah dan menguncir rambutnya dan bersama Mas Indra, kami mengantarkan monster itu ke sekolah.


Aku punya senjata baru agar Lea mau menurut dengan mengancam akan mengantarkannya pulang, aku pun sedikit lega karena jika dia mulai rese', aku akan segera mengambil kunci mobil dan berkata :


"*Pulang aja yukk!"


"Aku gak mau pulang."


"Yaudah kalau mau disini, jangan bandel, Okay*?"


Mas Indra juga beberapa kali menggunakan 'kata-kata senjata' yang sama setiap kali Lea menolak untuk berhenti bermain atau enggan pergi tidur.


Jadi aku dan Mas Indra kompak bilang akan mengantar Lea pulang jika dia mulai nakal.


Karena takut di antarkan pulang, anak itu ku lihat sedikit demi sedikit mulai agak berubah dari sejak awal kami bertemu dan sebelum tinggal disini beberapa hari ini.


Tapi aku yakin ancaman itu tidak akan bertahan selamanya. Untuk saat ini memang masih bisa berhasil, namun bagaimana untuk minggu depan?


Ohya ... bukankah Jum'at minggu ke tiga Lea terakhir tinggal disini? Aku tidak sabar lagi melalui 5 hari yang melelahkan minggu depan.


____________


• Hari ke 10


Haisshhh ... Aku terjebak macet karena melewati rute yang tidak biasanya, kupikir dengan lewat jalan ini, akan lebih cepat sampai di sekolah Lea karena aku juga sudah agak telat saat meninggalkan rumah untuk menjemputnya siang ini.


Sepuluh hari disini, monster itu sudah ngompol dua kali. Untungnya aku memasang 'bed protection' yang melapisi kasurnya, jadi ompolnya tidak sampai menembus kasur. Aku hanya perlu mencuci sprei dan pelindung kasur yang terbuat dari kain itu serta menjemur bantal dan gulingnya. Tapi tetap saja pekerjaanku jadi bertambah, yang mengakibatkan aku telat menjemputnya ke sekolah.


"Ngerepotin banget sihh!! salah rute, macet lagi!!" jeritku sambil menumpahkan kekesalanku melihat deretan mobil di depanku yang tidak bergerak sama sekali.


"Seharusnya aku tadi pakai motor aja biar bisa bebas meliuk-liuk dari kemacetan menyebalkan ini," sesalku dalam hati.


"Tapi, Sa, nanti bocah itu kepanasan karena di jam segini, matahari sedang sangat terik. Belum lagi monster satu itu suka ngantuk saat pulang sekolah. Bisa jatuh dari motor nanti! kalau bawa mobil, setidaknya dia bisa tidur dengan nyaman di kursi penumpang sebelahmu. Macet juga sudah menjadi ikon kota ini, kayak kamu orang yang baru merasakan macet sekali saja. Sabarlah sebentar." Sisi hatiku yang lain membisikiku agar tetap tenang dan sabar menghadapi kemacetan siang ini.


Sampai di sekolah, ku lihat gerbang depan sudah di tutup dan hanya di buka sedikit untuk celah masuk satu orang.


"Oh Tuhan ... ini kan hari Jum'at, tidak ada les tambahan di sekolah! semua anak pasti sudah pulang ... dimana Lea?!" Aku merasa bersalah sekali telah membuat Lea menungguku terlalu lama.


"Pak, aku mau jemput Lea, kelas Apel," sapaku pada bapak Satpam yang sedang berjaga di pos nya.


"Silahkan, Bu, anaknya masih di dalam sama gurunya," jawab pak Satpam ramah.


"Makasih, Pak ...."


Aku bergegas masuk dan mendapati Lea sedang duduk bersama gurunya untuk menungguku menjemput.


"*Halo, Miss Rahel ... mohon maaf yah ... tadi macet di jalan ...."


"Iya nggak apa-apa, Mom ... tapi lain kali datang lebih awal ya."


"Baik, Miss."

__ADS_1


"Ini PR Lea, mohon untuk membiarkannya mengerjakan sendiri, hanya dampingi saja, jangan di kerjakan oleh orangtua."


"Untuk PR minggu lalu, Lea mengerjakan di rumah Mamanya, Miss ... aku nggak tahu kalau bukan Lea yang ngerjain."


"Iya, Mom ... lain kali biar anaknya saja yang mengerjakan."


"Okay, Miss ... Ohya, memang PR hanya di bagikan setiap hari Jum'at saja yah? tidak di berikan setiap hari, gitu Miss?"


"Iya, hanya setiap hari Jum'at saja."


"Baiklah ... Terimakasih, Miss Rahel, kami pamit ya."


"Say goodbye to Miss Rahel*," aku menyuruh Lea berpamitan pada gurunya.


"*Bye bye, Miss Rahel .... (Sampai jumpa, Miss Rahel) ...."


"Bye, Lea, see you next Monday. (Sampai jumpa hari Senin depan, Lea)."


"See you*," jawab Lea lirih sambil menggandeng tanganku dan kami meninggalkan Sekolah.


_____________


Beberapa hari ini aku tidak lagi bertanya pada Lea "mau makan apa?" karena pasti jawabannya tak lain dan tak bukan adalah 'nasi sama telor ceplok'.


Aku memang tetap memberi apa yang dia minta, tapi aku juga memasak sup dan daging untuknya. Jika dia menolak untuk makan, aku pakai saja senjataku. Saat sesi makan, aku memang menaruh kunci mobil di meja makan agar jika monster itu mulai tidak mau menelan makanan yang ku suapkan ke mulutnya maupun dia berlama-lama menelan, akan aku ambil kunci itu dan pura-pua mengajaknya pulang. Hehehe, selama ini memang selalu berhasil ancaman itu.


___________


Ohya, sejak hari ke 6 Lea disini, aku juga telah membuat "Time Table" atau jadwal dan kegiatan apa saja yang harus Lea taati selama berada di rumah ini. Misalnya :


• Jam 14:00 - Istirahat


• Jam 16:00 - Belajar dan Bermain


• Jam 18:30 - Makan Malam


• Jam 19:30 - Waktu Bebas*


• Jam 20:30 - Tidur


Waktu Bebas* atau 'free time' disini artinya adalah, Lea bisa bermain dengan Papanya atau menonton kartun dengan didampingi aku dan Mas Indra. Aku tidak mau anak itu benar-benar berubah jadi monster mengerikan saat dia beranjak dewasa karena tontonan yang tidak pas untuk bocah seusianya.


Pernah suatu hari saat aku bertanya apa kartun favoritnya, Lea bercerita, bahwa dia selalu menonton sinetron di TV yang berjudul "Cinta Suci" bersama Neneknya.


"Ya Tuhan, aku saja yang seumur ini malah jarang dan bahkan tidak pernah menonton sinetron di TV Indonesia," gumamku heran.


Bukannya tidak menghargai karya buatan negeri sendiri, tapi sinetron macam itu memang bukan seleraku ... xixixi.


Dan ternyata, bocah itu malah menjadi salah satu penonton setia sinetron.


"Gawat, jangan-jangan anak itu sudah terdoktrin dan menilai bahwa semua Ibu tiri itu kejam dan jahat seperti yang sering di tayangkan oleh berbagai sinetron di televisi. Jangan-jangan Lea akan membenciku karena aku adalah Ibu tiri yang bengis, galak, jahat lagi kejam." Pikiranku berlari kemana-mana membayangkan sinetron apa saja yang telah di tonton monster kecil itu?

__ADS_1


Sejenak aku teringat kelakuan nakalnya, Lea memang suka marah-marah, ngambek nggak jelas, mecahin barang-barang di rumah dan bahkan sering memukul dan pernah menendang Maya.


Apakah semua itu karena pengaruh televisi dan tontonan yang selama ini dia saksikan bersama Neneknya di rumah saat Lea ditinggal berdua saja dengan Neneknya sedangkan Mbak Dewi asyik jalan-jalan dan ber'hedon' ria bersama teman-teman sosialitanya?


"Udahlah, Sasa Miciiinn ... apa pedulimu sih? toh tinggal lima hari lagi Lea tinggal dirumah ini, setelah itu, bebas deh! Tak ada lagi antar jemput maupun ompol yang harus di bersihkan." Kutepis pikiran julidku.


____________


Hari ini Mas Indra hanya ke kantor saat pagi, jadi setelah makan siang dan istirahat, aku memintanya membantu Lea untuk menyicil mengerjakan PR nya tadi. Mbak Dewi juga akan menjemput Lea jam 9 malam, jadi masih ada banyak waktu untuk mengerjakan semua PR dari sekolah.


Heran juga dengan sekolah TK yang katanya bertaraf 'internasional' ini, memberi begitu banyak PR untuk bocah yang baru saja akan berusia 6 tahun. PR nya juga ada 4 macam, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Mandarin dan juga Matematika. Aku malah kasihan dengan anak yang masih begitu kecil tapi sudah di bebani dengan begitu banyak PR.


Tapi disisi lain, bukankah hal itu juga baik untuk membuat sang anak belajar bertanggung jawab sejak dini? Mereka bahkan harus mengerjakan PR saat hari Sabtu dan Minggu yang seharusnya menjadi hari libur sekolah. Dan pasti setiap sekolah telah mempunyai standar mereka sendiri.


Atau bisa jadi, menyekolahkan anak di sekolah tertentu hanya sebagai ajang gengsi dan pamer orangtua saja agar mereka bisa berbangga dapat menyekolahkan anak mereka di sekolah ternama dengan biaya per tahunnya yang cukup mencengangkan? Entahlah ....


"PR Lea harus di kerjakan disini dan biarkan dia sendiri yang ngerjain yah, Mas ... kamu ajarin aja kalau dia nggak bisa," bisikku pada Mas Indra.


"Iya, Sayang."


Monster itu tidak mau mengerjakan PR nya dengan berbagai alasan. Dia juga mengaku bahwa Mamanya akan membiarkan dia bermain dan tidak mengerjakan PR jika Lea tidak mau.


Tapi Lea lupa bahwa ini rumahku.


'My house, my rule!' Rumahku, peraturanku!


Tidak hanya pada Lea, Maya pun jika disini harus patuh pada aturan yang aku buat di rumah ini, misalnya, sehabis pipis harus di siram, nggak boleh buang sampah sembarang, setelah selesai bermain, mainan perlu di kembalikan ke tempatnya masing-masing, yang meskipun mereka sering memberantaki semua mainan dan membuatku membereskan semuanya saat mereka sedang tidak di rumahku.


Anak-anak sangat betah berada di rumahku meski aku adalah seorang Sasa Micin yang galak kayak singa, begitu kata Mas Indra. Tapi mereka tetap senang dan betah berada disini meski aku banyak membuat peraturan.


Hmm ... mungkin karena aku membebaskan mereka bermain dan bahkan aku membiarkan mereka membuat seisi rumahku berantakan bagai kapal pecah, mencoret-coret dinding kamar mereka dengan spidol dan krayon meski sudah aku belikan 'whiteboard' atau papan tulis untuk mereka bermain jadi guru dan murid.


Aku juga menyediakan berbagai mainan, buku gambar dan buku mewarnai serta perlengkapan mewarnai, buku-buku bacaan, buku cerita dan buku-buku belajar untuk anak TK. Pesanku, untuk tidak merusak ataupun menghilangkan barang yang ada dan harus saling 'share' atau berbagi satu sama lain, jika ku lihat Maya dan Lea saling rebutan barang, biasanya aku ambil dan ku sita barang itu sampai mereka saling minta maaf, baikan dan berjanji tidak akan rebutan lagi.


______________


"Lea kalau nggak mau ngerjain PR sekarang, ayo pulang ajja!!" ancamku pada monster kecil itu.


"*Nggak mau pulang, hiks ... hiks ...."


"Jangan nangis, kerjain sekarang!!"


"Aku, aku ... capek ... hiks ... hiks ...."


"Udahlah, pulang aja dehh ... Papa ... anterin Lea pulang aja yukk, Pa* ...." Aku kembali mengancamnya.


"Nggak mau pulang, aku mau disini ... hiks, hiks ..." monster itu menangis semakin kencang. Kulihat sepertinya Mas Indra tidak tega melihat anaknya menangis karena tidak mau mengerjakan PR.


"Ayo kerjain satu lembar dulu yaa ... kalau nggak mau kerjain, Papa antar pulang ..." Mas Indra sangat berat mengatakan itu, tapi Mas Indra juga tidak mau melihat aku mengamuk jika dia membela anaknya.


"Aku mau kerjain yang ini, yang ini sama yang ini nanti aja ... huhuhuhuhu ..." airmata bocah itu mengalir membasahi pipinya, aku hanya memberinya tisu agar dia mengusap airmata dan ingusnya tanpa peduli monster itu menangis sesenggukan di depan Papanya.

__ADS_1


Benar kan, aku adalah Ibu tiri yang tidak punya perasaan, bengis, jahat dan kejam seperti yang sering di tampilkan dalam sinetron di televisi?


_______________


__ADS_2