
Hari Minggu pagi atau hari kedua tanpa Lea di rumah ini, aku bangun lebih pagi karena ada hal yang harus aku lakukan.
"Mas, ayookk berangkat!" aku mengajak Mas Indra untuk bergegas lari pagi.
"*Tumben kamu semangat banget, Hun?"
"Iya donk ... kita itu harus rajin olahraga, Mas, biar sehat, badan kita juga jadi segar bugar penuh tenaga dan stamina."
"Tapi biasanya kamu males-malesan kalau aku ajak lari pagi apalagi hari Minggu gini. Kata kamu rame lah, ini lah itu lahh ...."
"Ya sekarang kan nggak biasa, Mas ...."
"Yaudah, hayukk berangkat."
"Botol minum nya yang kecil aja Mas, tapi bawa dua yah!"
"Okay*."
Cukup sepi.
Tidak seperti dugaanku.
Kupikir cewek-cewek yang Mas Indra ceritakan kemarin itu akan muncul pagi ini. Tapi dari tadi tak ku lihat mereka, hanya beberapa orang saja yang berolahraga santai di sekitar taman. Tidak ada yang aku khawatirkan, para cewek-cewek yang mungkin akan naksir suamiku.
Hahaha.
Aku masih penasaran dengan para cewek yang Mas Indra lihat itu.
Kalau tahu gini sih mending aku masih di kamar selimutan daripada keringetan.
Apa Mas Indra cuma modus biar aku ikut olahraga juga?
Huuhh ... dasar wedhus... ehh ... mooo~dushhh!!
__________
"Mas, film yang terbaru itu, hari ini tayang di bioskop lohh," aku memulai percakapan saat kami sedang menikmati sarapan bersama.
"*Aku baru mau ngajakin kamu nonton."
"Aku duluan yang bilang, kalo nggak, mungkin kamu lupa."
"Itu artinya kita satu hati, Sayang ... bukan siapa yang duluan yang bilang, yyeekkk!"
"Iya tapi kan tetep aku duluan yang bilang!"
"Iyaa, iyaa kamu duluan yang bilang ... dasar nggak mau ngalah kamu yah? malam ini kita nonton yaa?"
"Pilih yang jam delapanan aja, Hun."
"Iya, mami."
"Aku udah masukin baju kotor ke mesin cuci, 40 menitan lagi selesai, tolong nanti di jemur ya, Sayang, aku mau nyetrika nih*," pintaku pada Mas Indra.
"*Beres, bos!"
"Hari ini jadwal kamu vacuum sofa dan seluruh ruangan juga yah, Mas ...."
"Kan baru dua hari, Hun ... biasanya seminggu dua kali kan vacuum nya?"
"Besok ada Lea, Mas, jangan sampai ada debu, nanti dia bersin-bersin lagi."
"Iya oke, ada lagi?"
"Itu dulu sih buat sekarang*."
Hari Minggu pagi sering kami habiskan untuk beres-beres rumah dengan pembagian tugas yang telah kami sepakati. Jadi kami tidak merasa berat mengerjakan semuanya karena kami lakukan bersama dan saling bekerja sama.
Setelah itu kami mempersiapkan makan siang bersama. Kadang masak atau memesan makanan saja.
_______________
"Cepetan, Hun ..." Mas Indra memanggilku yang masih sibuk memoleskan bedak di pipi.
"Wait! (Tunggu)!"
*poommm ... *poommm ....
Mas Indra membunyikan klakson mobil tanda menyuruhku untuk cepat keluar rumah.
"*Udah di kunci pintunya?"
"Udah, Mas."
"Let's Go*!"
Kami berdua suka musik, setiap di dalam mobil, musik selalu di nyalakan. Bahkan kami sering ikutan bernyanyi mengikuti alunan lagu yang di putar.
Dengan suara pas-pasan lagi cempreng, aku dan Mas Indra dengan PeDe nya ikutan nyanyi.
🎶🎶So baby pull me closer in the backseat of your Rover
That I know you can't afford
Bite that tattoo on your shoulder
Pull the sheets right off the corner
Of the mattress that you stole
From your roommate back in Boulder
__ADS_1
We ain't ever getting older
We ain't ever getting older
We ain't ever getting older🎶🎶
Lagu-lagu terus berputar dan kami juga ikut bernyanyi bersama meski kadang tidak pas liriknya.
🎶🎶Ooh I see you, see you, see you every time
And oh my I, I like your style
You, you make me, make me, make me wanna cry
And now I beg to see you dance just one more time
So I say
Dance for me, dance for me, dance for me, oh, oh, oh
I've never seen anybody do the things you do before
They say move for me, move for me, move for me, ay, ay, ay
And when you're done I'll make you do it all again🎶🎶
Kami berasa seperti menggelar konser sendiri di mobil ini meski dengan suara yang tidak berlebihan alias pas-pasan.
🎶🎶'Cause girls like you
Run around with guys like me
'Til sundown, when I come through
I need a girl like you, yeah yeah
Girls like you
Love fun, yeah me too
What I want when I come through
I need a girl like you, yeah yeah
Yeah yeah yeah
Yeah yeah yeah
I need a girl like you, yeah yeah
Yeah yeah yeah
Yeah yeah yeah
Setelah memarkir mobil, kami memasuki mall dan berjalan ke dalam.
Sebagai info saja, aku dan Mas Indra ini sering sekali bercanda di manapun berada entah di rumah, di jalan, bahkan di tempat umum seperti pusat perbelanjaan seperti ini.
Mas Indra suka mengagetkanku dari belakang lah, mencubit pipiku, bahkan pernah dia sengaja memasang kakinya di depanku sampai aku hampir jatuh. Untung hal itu tidak terjadi. Bisa sangat malu jika sampai aku terjatuh di tengah mall. Tapi akupun demikian, suka mencubit pinggangnya, ngumpet di antara toko atau sengaja ke tempat ramai dan kerumunan orang banyak agar Mas Indra kesulitan mencariku.
Salah sendiri tanganku tidak di gandeng.
Hehehe.
Banyak pasang mata yang menyaksikan tingkah polah kami. Mungkin mereka menganggap kami ini 'weirdo', 'absurd', konyol, 'childish', masa kecil kurang bahagia atau yang lainnya. Namun kami memang seperti Tom & Jerry dan aku sebagai si tikus kecil yang selalu menang melawan Tom (Mas Indra) si kucing.
"Mau sushi, Hun?" tanyaku lirih sambil menggandeng tangan suamiku.
"*Aku juga pengen sushi nih ...."
"Ikut-ikutann aja."
"Yeee emang aku mau sushi ... udah lama kan kita nggak kesini?"
"Iya, kapan terakhir kita kesini ya, Hun?"
"Sebelum resepsi kalau nggak salah."
"Wihh, iyyaa udah lama banget* ...."
____________
"*Untuk berapa orang, Kak?"
"Dua, Mbak."
"Baik, Kak, silahkan ke meja nomor 14."
"Makasiihh*."
Mas Indra memesan beberapa sushi dan salad, aku pesan sashimi dan juga kulit salmon goreng kriuk serta minuman favoritku.
Saat sedang menyantap hidangan, tiba-tiba suara Lea yang minta makan nasi sama telor ceplok terus saja terngiang di kelapaku.
"Mau makan sama telor ceplok!"
"Mau nasi sama telor aja!"
"Aku mau makan sama telor!"
Udah makan apa belom yah itu bocah?
__ADS_1
Hiisshh ... apaan sih?
Kan ada Mbak Dewi yang pasti memberi makanan lezat lagi bergizi untuk anaknya itu.
"*Kenapa, Hun? Kok diem gitu?" tanya Mas Indra menantapku heran.
"Oh, nggak apa, Hun ... udah lama aja aku nggak makan kulit salmon ini, masih enak."
"Kamu mau pesen satu porsi lagi buat 'take away' (bawa pulang)?"
"Nggak perlu, Hun ... enaknya di makan disini pas masih panas gini."
"Yaudah kalo gitu ... cobain salad sama telor ikan ini deh, Hun ...."
"Nggak ahh ...."
"Dikit aja ... aku suapin sini ... aaakkk ...."
"Hun ... kapan-kapan ajak Lea makan sushi disini yukk?"
"Iya, Sayang*."
Setelah selesai menyantap makan malam, mas Indra menyerahkan dompetnya agar aku membayar di kasir sementara dia menungguku di depan restoran.
Muncul keisenganku untuk sembunyi di balik papan hiasan yang ada di dekat restoran.
Satu menit kemudian Mas Indra celingukan mencariku. Aku cekikikan sendiri.
Kulihat Mas Indra masuk ke dalam restoran dan tampak bertanya pada kasir tentang keberadaanku.
Tapi sayang, aku lupa sesuatu.
Handphone ku berdering keras, ahh ... Mas Indra menelponku. Ketahuan deh aku sembunyi. Dengan wajah geram, Mas Indra mencubit kedua pipiku.
"*Jiaahh ... pake main petak umpet segala ... film nya mulai 10 menit lagi loh, Hun."
"Biasanya kan banyak iklan dulu sayang ... kita jadi nggak usah nunggu lama lihat iklan."
"Mau popcorn, Hun?"
"Nggak ahh ... dah kenyang."
"Minum?"
"Boleh, satu aja Hun, buat berdua"
"Oke, Sayangku*."
Setiap kali film akan mulai, selalu ada pesan di layar besar yang berbunyi :
"APAPUN SAMPAH DALAM HIDUP KITA, BUANGLAH PADA TEMPATNYA"
Xixixi, pesan itu tidak hanya mengingatkan kita untuk menjaga kebersihan dan tidak meninggalkan sampah di dalam gedung bioskop, kita juga perlu membuang apapun sampah yang ada di dalam hidup kita pada tempatnya. "That was cool!" (Itu keren sekali!).
Film selesai sekitar 2 jam, kami meninggalkan gedung dan menuju parkiran untuk pulang.
"Tunai atau kartu, Pak?" tanya petugas parkir pada Mas Indra.
"Cash, Mas," jawab Mas Indra lembut.
"*Kembaliannya, Pak?"
"Buat Mas aja, yah!"
"Oh Makasih, Pak, Bu ...."
"Makasih kembali yah*."
Musik kembali di nyalakan di mobil. Tapi kali ini lagu-lagu 'soft' nan syahdu yang di putar. Bener-bener bikin ngantuk. Lokasi mall tidak terlalu jauh dari rumah kami, jadi aku tidak sampai ketiduran.
Setelah berganti pakaian, membersihkan wajah dan gosok gigi, aku menghampiri Mas Indra yang sudah menungguku di ranjang.
"Pillow talk" kami membahas tentang sushi yang tadi kami makan dan juga film yang kami tonton barusan.
"Hun, jadi kan malam ini? Semalam kamu bilang besok, artinya sekarang donk?"
"Emmm ... enggakk ... ehh iyyaa ... xixixixi."
"Yaudah ... yukkk!"
"Eh, Mas, kamu udah kunci pintu kan?"
"Udah."
"Jendela juga udah di tutup semua?"
"Udah ...."
"Korden kamar kita rapet kan sayang?"
"Iyaa ... nggak bakal ada yang ngintiiipp Sayangg ...."
"Mas lampunya nyalain aja yahh ...."
"Iyaa."
"AC nya naikin sampai 26, Mas ... biar nggak dingin banget, aku kan nggak tahan kalau dingin ...."
"Iyyaa bawelll ...."
"It ... uu..." Mas Indra menempelkan jari telunjuk di bibirnya dan menggelengkan kepalanya pertanda aku harus diam. Selanjutnya kami menghabiskan Minggu malam itu dengan penuh cinta.
__ADS_1