
Seperti kata pepatah yang sangat umum di gunakan,
"Sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga."
"Serapat-rapatnya menyimpan bangkai, pasti baunya akan tercium juga."
Begitupun dengan apa yang di lakukan Mbak Dewi selama ini. Lea yang kami kira sebagai anaknya dan Mas Indra, ternyata adalah bayi yang di ambilnya sejak dia lahir ke dunia.
Seorang Ibu mana yang tidak akan hancur hatinya jika anak yang telah ia nantikan dan di kandung selama sembilan bulan lalu di lahirkan, namun tiba-tiba saja hilang?
Bagaimana jiwa sang Ibu itu tidak goncang dengan kenyataan yang sangat menyakitkan?
Mbak Dewi tanpa perasaan begitu tega mencuri kebahagiaan tidak hanya sang Ibu, namun seluruh keluarga bayi tidak berdosa itu hanya karena keegoisannya semata.
Bagaimana Mbak Dewi bisa punya pikiran sejahat itu untuk mengambil anak orang lain yang telah mereka nantikan?
Cinta memang benar-benar bisa membuat orang menjadi gila, membuat mereka melakukan apa saja untuk satu tujuan, yaitu merasakan cinta. Namun, tidakkah cinta itu begitu suci yang seharusnya tidak di nodai dengan perilaku yang aneh, merugikan atau bahkan menyakitkan bagi makhluk hidup lainnya? Demi mendapatkan cinta Mas Indra, Mbak Dewi melakukan banyak hal yang di luar dugaan. Bahkan menculik bayi orang pun dia lakukan.
Sebegitu gila nya kah sebuah cinta?
Beberapa petugas datang dan mencari siapa yang bernama Dewi, Ibunya Mbak Dewi tidak terima anaknya akan di bawa oleh polisi, sebelum akhirnya Mbak Dewi mengatakan apa yang selama ini dia lakukan.
Agghh ... Mbak Dewi sungguh keterlaluan, bahkan Ibunya sendiri pun dia tipu untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.
Bocah yang selama ini dianggap cucunya, ternyata bukan siapa-siapa dan tidak ada hubungan darah sama sekali dengannya.
Ibunya Mbak Dewi selain marah juga sangat malu padaku, Ibuku, Mas Indra dan kami semua.
Sebelum akhirnya dia pergi meninggalkan Rumah Sakit, Ibunya Mbak Dewi menampar wajah anaknya dan berlalu pergi.
Mbak Dewi di ringkus oleh petugas dan di bawa ke kantor polisi untuk di interogasi terkait penculikan bayi di Rumah Sakit ini yang terjadi beberapa tahun silam.
Dengan semua bukti dan saksi yang meyakinkan, Mbak Dewi di jerat dengan Pasal 83 Jo Pasal 76F Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak dengan ancaman penjara paling lama 15 Tahun.
Karena orang tua kandung Lea tidak ada kabarnya dan tidak dapat dihubungi saat ini, maka pihak Rumah Sakit dan kepolisian memberikan ijin kepadaku dan Mas Indra untuk membawa pulang Lea ke rumah kami.
Selain itu kami juga menandatangi sebuah surat atau pernyataan bahwa kami lah yang saat ini akan merawat Lea, dengan catatan jika orang tua Lea akhirnya memberi kabar, maka kami harus melepaskan Lea bersama orang tuanya.
Awalnya Mas Indra tidak begitu setuju karena walau bagaimanapun, dia cukup kesal karena telah ditipu selama ini, dan dengan melihat wajah Lea saja, mengingatkan akan semua kecerobohan yang Mas Indra lakukan sejak awal. Namun saat ini Lea tidak punya siapa-siapa, jadi aku membujuk Mas Indra untuk tetap membawa Lea pulang ke rumah kami, untuk sementara.
Beberapa waktu berlalu, Lea tampak lebih bahagia tanpa harus selalu menangis untuk di ajak pulang ke rumah Mamanya. Sebentar lagi Lea akan masuk Sekolah Dasar. Aku dan Mas Indra sepakat untuk menyekolahkan Lea di sekolah yang sama dengan Maya agar Lea juga mempunyai sahabat dekat sejak pertama.
Nenek Lea pulang ke kota asalnya dan kami tidak pernah saling kontak lagi. Mbak Dewi sendiri di penjara karena perbuatannya.
Beberapa kali aku dan Mas Indra mencoba untuk menjenguk Mbak Dewi untuk mengetahui kabarnya, tapi setiap kami berkunjung kesana, Mbak Dewi selalu menolak untuk kami temui. Padahal Mbak Dewi tidak punya siapa-siapa disini, jadi kami ingin mengetahui bagaimana keadannya kini.
Aku dan Mas Indra masih sering pergi ke kafe Ceria untuk menikmati 'teriyaki ricebowl' dan juga 'kulit salmon goreng' disana. Tidak lupa, 'boba milk tea' dengan topping 'cream cheese'nya. Kafe itu adalah sebuah tempat bersejarah bagi kami berdua.
Ivan tidak lagi menjadi kasir disana, namun dia sudah menjadi salah satu pemegang saham besar setelah kafe itu di beli oleh Mas Indra beberapa waktu lalu.
Diam-diam, Angel menjalin hubungan asmara dengan Jack. Ku pikir, mereka memang cocok juga.
__ADS_1
Sementara aku, Mas Indra dan Lea hidup bahagia. Kami seperti sebuah keluarga yang sempurna pada umumnya. Setiap hari Sabtu, kami mengunjungi rumah Ibu untuk acara 'Kumpul Keluarga'.
Meskipun aku belum juga hamil, tapi aku tetap menjalani hidup dengan bahagia. Aku percaya, semua itu ada 'waktunya'. Bahkan jodohku, yaitu Mas Indra, kami akhirnya dipertemukan di waktu yang tepat dengan rencana-Nya yang sangat luar biasa.
Saat ini aku dan Mas Indra sedang mengajukan permohonan Visa untuk berlibur ke Eropa dan mengunjungi keluarga besar Mas Indra yang tinggal disana.
Ya, akhirnya kami benar-benar akan berbulan madu di disana!
Kata Mas Indra, saat pulang ke Indonesia nanti, jika aku hamil, jadi anak kami "Made In Eropa".
Hahaha
Ohya, Lea tidak kami ajak yaa, aku akan menitipkan monster kecilku itu pada Kakak tersayang dan juga Kakak tercantikku, Kak Vera.
Kata Mas Indra, ini kan bukan madu, jadi hanya ada 'aku dan kamu', kalau Lea ikut juga, nanti malah ganggu!
Dduudduduuuu.
Sekarang Lea sudah kami anggap sebagai anak sendiri, terlepas dari dia mempunyai keluarga pribadinya, kami akan rela melepaskan dia kapan saja saat orang tua kandungnya akan membawanya ke dalam keluarga aslinya.
Kami membiarkan Lea memilih sendiri jalan hidupnya nanti. Apalagi, dia masih sekecil ini, jalannya masih panjang. Meski begitu, aku selalu memberi pemahaman pada Lea bahwa dia mempunyai tiga Ibu. Ibu kandungnya, Mama Dewi, dan juga aku, Sasa si Momi.
Mas Indra membelikanku jaket hoodie dan topi yang meski tidak sama dengan milikku waktu itu, tapi setidaknya masih agak mirip sedikit.
'Jalan Tikus' dan gang sempit tempat pertemuan pertama kali kami juga mulai di bersihkan dan di tertibkan, pos tempat pembuangan sampah juga di bangun lebih rapi lagi. Meskipun kami bertemu di tempat seperti itu, tapi semua juga dari kehendak Tuhan kan? apa yang bisa kita tolak jika sudah begitu?
Aku tidak sabar lagi untuk berlibur ke Eropa, selain itu Mas Indra juga mengajakku menonton pertandingan bola di stadium Tim idolaku secara langsung.
Itu pasti akan sangat menyenangkan!
Okay, aku mengalah saja, tapi anak kedua kami, aku ingin dia adalah seorang perempuan yang cantik sepertiku, aku akan mengajarinya memasak dan berbagai keahlian yang kumiliki.
Saat mereka lahir, mereka sudah mempunyai seorang Kakak perempuan yang cantik, pintar, baik, yaitu Kakak Lea.
Dan tentu saja, yang paling penting diantara semuanya, Ayahnya adalah Mas Indra dan Ibunya adalah aku, Anisa Sasa.
____________________
Manusia merencakan namun tetap Tuhan lah yang menetapkan.
Aku dan Mas Indra memang sudah berencana bulan madu bahkan kami sudah mengajukan visa dan merencanakan berbagai liburan yang menyenangkan, namun wabah virus telah memasuki Indonesia hingga cukup serius sehingga kami harus membatalkan semua rencana bulan madu maupun liburan kami.
Lea juga di liburkan dari Sekolah yang tidak tahu hingga kapan, sama halnya dengan kantor Mas Indra yang terpaksa harus di tutup sementara dan memberlakukan WFH atau Work From Home (Bekerja dari rumah) yang disarankan oleh Pemerintah.
Lea belajar di rumah dengan berbagai PR yang diberikan oleh gurunya.
Tapi anak itu memang sudah sangat berubah dari awal pertemuan kami.
Bahkan Lea sudah sangat berbeda dari seorang monster kecil yang selalu ku sematkan untuk panggilannya.
Meski begitu, aku masih sesekali memanggilnya dengan sebutan favorit ku.
__ADS_1
Semoga keadaan ini segera membaik, virus itu segera dapat ditemukan vaksinnya dan semua yang positif segera sembuh, sehat kembali dan semuanya kembali berjalan seperti semula.
___________________
Sore itu hujan turun dengan derasnya, Lea sedang tertidur pulas di kamar setelah mengerjakan tugas sekolahnya.
Sementara aku dan Mas Indra berada di kamar kami sambil memandangi derasnya air hujan yang turun membasahi bumi.
Setiap kali hujan turun, Mas Indra selalu mendengus dan teringat akan sikapku dulu yang sangat menyebalkan.
Suamiku itu selalu saja mengungkit kejadian waktu itu, betapa teganya diriku yang membiarkannya kedinginan dibawah guyuran air hujan.
Selain itu, banyak kejadian lainnya yang membuat Mas Indra merasa menjadi seorang 'bucin' (budak cinta) hanya untuk mendapatkan cinta seorang Anisa Sasa.
Aku hanya tertawa geli saat Mas Indra menceritakan kejadian yang bahkan aku sudah tidak ingat lagi.
Aku membuka kelambu jendela menikmati setiap tetes air yang berjatuhan. Mas Indra memelukku dari belakang dan bersama-sama, kami menyaksikan jutaan butir air itu jatuh dari langit.
Mas Indra terus mengomel dan memintaku mengingat ulahku dahulu.
Waktu itu, aku memang melihat Mas Indra berdiri di depan pagar rumah Ibu, itu terjadi sebelum kami akhirnya bertemu di kafe Ceria.
Lebih tepatnya sehari setelah kejadian di Mal saat aku bertemu dengan Randy dan kekaishnya. Tapi aku sama sekali tidak tahu bahwa Mas Indra ingin menemuiku.
Kupikir, dia hanya orang iseng yang mengikutiku.
Kubuka kelambu jendela dari kamarku yang berada di lantai dua. Ya, aku memang melihat Mas Indra melambaikan tangannya, tapi aku benar-benar tidak tahu jika itu ditujukan untukku.
Karena suasana yang mendukung, aku pun menghempaskan badanku ke kasur dan terlelap. Aku sungguh tidak tahu jika Mas Indra masih berdiri disana.
Kak Vera masuk ke kamarku dan menanyakan siapa lelaki yang sedari tadi berdiri di depan pagar.
"Aku nggak tahu siapa dia, Kak, udah sih biarin aja, palingan cuma orang iseng," jawabku sekenanya.
"Kasihan, Sa, lihat deh dia kayaknya nyariin kamu tuh!" kata Kak Vera masih membujukku.
Meskipun Kak Vera memaksa agar aku menemuinya, aku tidak bergerak dan melanjutkan tidurku diiringi suara hujan yang sungguh merdu.
"Sasa! bangun! nggak baik kamu membuat anak orang hujan-hujanan begitu!" teriak Ibu yang langsung membangunkanku.
Ahh, aku bisa saja bersikap masa bodoh pada Kak Vera, tapi kalau sudah berhadapan dengan Ibu, aku tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti apa katanya.
Aku bangkit dan bergegas keluar menemui pria menyebalkan yang mengaku sebagai pacarku di Mal kemarin.
"Ada perlu apa lagi?" tanyaku ketus.
"Aku mau bicara sesuatu sama kamu ..." ucap Mas Indra agak terbata karena dia mulai kedinginan.
"Apaan sih? nggak ada yang perlu kita bicarakan, aku udah bilang makasih kan kemarin karena kamu udah nolongin aku? Yaudah. Plis, pulang sana, aku mau tidur!"
"Ini bukan soal kemarin, a-aa-kuu ...."
__ADS_1
Tanpa mendengarkan apapun lagi, aku masuk ke rumah dan meneruskan tidurku. Aku tidak peduli dengan pria di luar sana.
Bukan urusanku.