Monster Kecil

Monster Kecil
Saatnya Belanja!


__ADS_3

Pagi ini aku memang capek sekali dan juga malas untuk lari pagi. Jadi aku hanya berguling-guling di kasur sementara Mas Indra berolahraga.


Bahkan saat Mas Indra pulang pun, aku belum beranjak juga.


"Kamu nggak bangun dari tadi?" tanya Mas Indra sepulangnya dari lari pagi.


"Enggak ..." jawabku singkat


"*Yukk mandi?"


"Duluan ajja sana ... kamu bau keringat ishh .."


"Lah kamu, bau iler ...."


"Mandiii sanaaa ...."


"Ayo mandi bareng biar irit air ...."


"Malah tambah boros tau Mas, yyeekk!"


"Ahh masa? coba yukk?"


"Nggakkk ... aku mau bikin sarapan ... bye* ..." aku berlari keluar kamar dan menuju dapur.


Hari ini kami berencana untuk berbelanja.


Yaayyy!!


Dua minggu kebelakang kami cukup sibuk dengan banyak hal dan juga karena ada Lea sehingga persediaan barang-barang dan kebutuhan rumah sudah semakin menipis.


Aku juga perlu membeli susu kotak dan juga berbagai camilan kecil untuk bekal Lea ke sekolah. Disekolahnya memang di sediakan 'snack time' atau waktu makan yang berganti menu tiap harinya.


"Cepetan mandi gih, Hun ... kita berangkat pagian aja biar nggak terlalu rame," teriak Mas Indra dari ruang depan.


"*Iya Sayang ... aku mandinya cepet kok ...."


"Cepet mandinya, dandannya yang lama."


"Eiittt ... aku denger lohh Mas kamu ngomong apa*!" teriakku dari dalam kamar mandi.


"*Nggak ... emang aku ngomong apa tadi?"


"Awas nii ... ku bawain air sabun nii!"


"Enggakk Sayang .. kamu salah denger tu, yeekkkk*!"


_____________


Seperti biasa, di dalam mobil kami mendengarkan berbagai musik dan bernyanyi bersama meski dengan suara ala ala Sasa dan Mas Indra yang biasa-biasa saja.


🎶🎶Tell me how's it feel sittin' up there


Feeling so high but too far away to hold me


You know I'm the one who put you up there


Name in the sky


Does it ever get lonely?


Thinking you could live without me


Thinking you could live without me


Baby, I'm the one who put you up there


I don't know why (yeah, I don't know why)


Thinking you could live without me


Live without me


Baby, I'm the one who put you up there


I don't know why, yeah

__ADS_1


You don't have to say just what you did


I already know (I know)


I had to go and find out from them


So tell me how's it feel (oh-woah)🎶🎶


"Sayang ... pengen makan apa?" tanya Mas Indra saat kami telah memasuki area mall.


"Kalau kamu mau makan apa?" jawabku balik bertanya.


"Yee ... ditanya malah balik nanya," protes Mas Indra sambil mencubit kedua pipiku.


"Adoohhh ... sakit, Mas, kok cubit-cubit pipi aku? rasain niii ..." tidak mau kalah, aku juga mencubit pinggang Mas Indra sampai dia kesakitan.


"*Udah, Hun ... tu di lihatin orang tuu ... KDM nihh kamu."


"Apa pula itu KDM*?" tanyaku penasaran.


"Kekerasan Dalam Mol, wkwkwk," jawab Mas Indra sambil cekikikan.


"*Haiisshhh .. ngarang aja kamu Mas ...."


"Emang iyaa. Hun, 'Duck King' aja yukk?"


"Boleh ...."


"Lantai berapa ya? lupa aku."


"Lantai 3, zheyenk* ...."


Kami memasuki lift dan menuju lantai tiga untuk makan siang terlebih dahulu sebelum mulai berbelanja.


"Hun, ingat gak waktu itu kita pernah ajak Lea makan disini kan? yang dia marah-marah gak jelas, ngambek, nangis dan nggak mau makan itu lohh ..." cerocosku saat kami selesai memesan makanan.


"*Oh ... iya aku ingat. Aku pesen satu ekor bebek dan akhirnya kita 'take away' (bawa pulang) terus kamu gado malem-malem kan?"


"Hu'um ... Lea udah di pesenin sup malah dia cuma makan kacang panjang goreng tepung doang*."


___________


Diantara deretan berbagai toko, mataku tertuju pada salah satu toko pakaian anak.


"*Mas, beli baju buat Lea yuk ...."


"Kenapa nggak besok-besok aja pas sama dia, Sayang?"


"Gakpapa sekarang aja, Hun ... kamu lupa yahh, waktu itu pas kita ajak dia buat pilih baju malah nangis, ngambek ... mending kita beliin langsung aja, yang penting kan kita tahu ukuran baju nya, kalau untuk warna dan model, ikutin yang lagi trend sekarang aja, Hun ...."


"Kamu yakin Lea bakal suka sama pilihan kita?"


"Aku lihat dia suka-suka aja kok, Mas. Baju piyama yang aku beli di pasar aja itu yah, pas aku tunjukkin ke dia, Lea 'happy' (bahagia) banget tau ... dia peluk aku terus bilang 'Thankyou' berkali-kali. Jadi daripada ajak dia dan malah nangis, beliin aja gak usah diajak anaknya, Hun ...."


"Baiklah, tuan putri."


"Beliin buat Maya juga yaa mas biar nggak rebutan?"


"Iya, Sayang*."


Kami membeli beberapa potong baju untuk Lea dan Maya. Semenjak saat aku minta Mbak Dewi membawakan baju lagi tapi tak dia bawakan, aku tidak pernah membahas soal baju lagi. Mendingan aku saja yang beli sendiri. Lagipula aku tinggal minta uang saja pada Mas Indra.


"*Kamu beli baju buat kamu juga, Sayang ...."


"Aku belinya tar aja kalau sama Fani, Mas. Kalau sama kamu, aku kasihan nanti kamu nungguin aku pilih-pilih sampai lama, kasih duit aja Mas yang banyak. Hahaha."


"Kamu tuu yaa ..."


"Mas, habis belanja nanti kita langsung kerumah Ibu, kan?"


"Iya, Hun*."


Kami juga membeli tas, sepatu dan juga kaus kaki dan pakaian dalam tambahan untuk Lea karena Mbak Dewi benar-benar hanya membawakan baju sangat sedikit untuk anaknya itu. Aku heran, untuk apa saja uang jatah bulanan Lea di gunakan? Dengan nominal segitu, seharusnya lebih dari cukup untuk membiayai satu anak berusia 5 tahun.


"*Mas, ini kamu yang dorong trolly nya ...."

__ADS_1


"Oh ... kamu mau masuk ke trolly nya gitu?"


"Haiisshh ... enggak lah, Mas ... kamu yang dorong trolly nya tuh biar kelihatan 'so sweet' (manis/romantis) gitu lho ... kamu nggak membiarkan aku yang mendorong trolly penuh barang belanjaan kita nanti. Hahahahha."


"Jiaahh ... kebiasaan* ...."


Kami membeli berbagai barang untuk kebutuhan kami selama dua minggu sampai satu bulan ke depan seperti sabun mandi dan sampo, pasta gigi, sabun cuci, detergent, pewangi ruangan dan alat kebersihan lainnya serta bahan-bahan makanan seperti beras, minyak, keju, susu, roti, camilan dan lain sebagainya.


Aku juga suka mengumpulkan poin atau stempel yang nantinya bisa di tukar dengan piring, mangkok maupun alat masak lainnya yang sedang diadakan oleh supermarket ini.


Beberapa waktu lalu, aku menukarkan 45 stempel dan di tukar dengan sebuah wadah tempat makanan yang bisa di tebus dengan harga yang lebih murah. Dibandingkan jika tanpa stempel, harga wadah makanan itu akan lebih mahal. Dengan menjadi member dan poin yang kudapatkan dari berbelanja juga bisa di tukar sebagai potongan harga. Jadi aku bisa berbelanja banyak dengan banyak potongan harga 'spesial' (istimewa). Selain itu, biasanya aku juga membeli lebih banyak barang-barang yang sedang diskon sebagai stok di rumah. Jadi kami berbelanja banyak tapi tetap bisa hemat. Xixixi.


"*Kamu tuh ya, Mas, mesti bersyukur punya istri kayak aku yang rajin kumpulin stempel dan poin, jadi bisa dapat banyak potongan harga, wkwkwk ...."


"Kamu juga harus bersyukur punya suami yang ganteng kayak aku dan mau mau aja ikut kamu belanja terus dorong trolly yang berisi barang-barang gini. Kamu juga sering minta aku buat ambilin pembalut buat kamu, sampai aku sering di lihatin sama SPG cantik itu."


"Heh ...!! kamu genit yaa, Mas?!"


"Enggak, Sayang ... kamu yang paling cantik, beneran."


"Awas kalo bohong ...."


"Mana berani aku bohong sama kamu, Hun ...."


"Eh, Mas ... aku kok kayak istri yang kejam banget gak sih? hahahaha."


"Iyaa ... kamu kan emang istri yang kejam dan tegaaa."


"Yaudah, Mas, tolong kamu antri dulu di kasir itu yah, aku mau beli buah buat Ibu. Kamu mau anggur nggak?"


"Boleh, yang 'seedless' (tanpa biji) ya, Hun ...."


"Okay, Sayangkuu*."


Setelah sesi belanja selesai, kami menuju rumah Ibuku. Aku dan Mas Indra memang sudah sepakat untuk mengunjungi rumah Ibu minimal seminggu sekali misalnya di hari Sabtu seperti sekarang ini. Kak Vera dan suaminya serta Maya juga mengunjungi Ibu di hari Sabtu. Kak Vera, Kakakku lebih sering ke rumah Ibu karena jarak rumah mereka juga cukup dekat.


Nah, untuk hari Sabtu memang di jadwalkan sebagai acara "Kumpul Keluarga" yang konsisten kami lakukan selama ini.


Biasanya Ibu akan masak makanan yang enak, Kak Vera dan aku juga membawa makanan atau buah. Kami memilih hari Sabtu karena adik bungsuku, Dafa, juga libur sekolah, jadi kami semua bisa berkumpul bersama.


Orangtua dan keluarga Mas Indra tidak tinggal di Indonesia.


Bisa dikatakan Mas Indra hidup di kota ini sebatang kara. Jadi, Mas Indra sangat betah dan senang berada di tengah-tengah keluarga ku. Dia juga sangat akrab dengan adik bungsuku yang laki-laki.


Aku dan Mas Indra juga sering menginap di rumah Ibu. Kami biasanya tidur di kamar lama ku yang memang dibiarkan sebagai kamar kami jika menginap disini.


Karena hari semakin malam, aku dan Mas Indra berpamitan untuk pulang. Sebenarnya aku ingin menginap, tapi di mobil kami memiliki banyak barang belanjaan yang perlu di bereskan. Jadi kami memutuskan untuk pulang.


______________


Setelah sampai rumah dan membereskan semua belanjaan kami, aku dan Mas Indra bergegas masuk ke kamar untuk tidur.


Benar-benar hari yang melelahkan.


"Besok rencana mau kemana, Mas?" tanyaku mengawali sesi 'pillow talk' kami.


"*Sayang, boleh nggak aku undang Ferry untuk datang kesini? sama pacarnya Ferry juga, jadi nanti aku ngobrol sama Ferry, kamu juga ada temen ngobrol sama pacar Ferry, gimana?"


"Ohh ... boleh ...."


"Kamu masak yah, Sayang?"


"Ahh, nggak mau ... capekk .. pesen aja sih, Hun?"


"Kurang sopan donk, masa makanannya beli, istri aku kan 'Master Chef Sasa' yang masakannya terenak 'di rumah ini' ...."


"Hilih ... ngerayu doang ...."


"Beneran, aku nggak bohong."


"Yaudah besok deh yah ... tapi mau masak apa, Hun?"


"Besok aja, Hun ... sekarang tidur dulu yukk?"


"Okay deh ... I love you, Mas."

__ADS_1


"I love you, Sayang, mwahh*."


__ADS_2