
Diperjalanan pulang setelah mengantar Lea ke sekolah, aku meminta Mas Indra untuk menghentikan mobil dan keluar untuk makan bubur ayam di pinggir jalan.
"Pak, dua porsi yah makan sini," pintaku pada Bapak penjual bubur ayam.
"Baik, Kak. Pakai semuanya? kerupuk, daun bawang, kacang dan lainnya?" tanya Bapak penjual menawarkan.
"*Iya, Pak, aku mau sate telur puyuhnya juga yah 2 tusuk."
"Siap, Kak. Silakan duduk dulu*."
Aku dan Mas Indra duduk di kursi plastik yang memang sudah disediakan oleh Bapak tukang bubur ayam ini. Tadi pagi aku memang tidak membuatkan sarapan untuk Mas Indra, hanya kopi saja karena aku sudah lama tidak makan bubur ayam, jadi aku sekalian mengajak Mas Indra makan bersama.
Aku dan Mas Indra menikmati bubur ayam yang kami pesan, aku memang makannya banyak, dua tusuk sate telur puyuh berisi tiga biji per tusuknya secepat kilat ku lahap.
"Loh, bapak sarapan disini?" sapa Dimas, salah satu staff di kantor Mas Indra.
"Hei, Dimas, makan bareng sini," balas Mas Indra ramah.
"Pagi, Bu," sapa Dimas padaku.
"Pagi, sini duduk, udah pesan?" jawabku sambil bertanya
"*Sudah, Bu."
"Nggak bareng sama Rehan, Dim*?" tanya Mas Indra menanyakan Rehan, teman satu kantor Dimas yang biasanya selalu bersama.
"*Oh ... enggak, Pak, tadi saya duluan kesini."
"Yaudah kalau gitu, bungkus aja buat Rehan. Sayang, pesenin bungkus satu buat Rehan."
"Iya, Mas*."
Lokasi kantor Mas Indra memang tidak terlalu jauh dari tempat tinggal kami. Di jalanan sekitar sini juga ramai dengan para pedagang makanan seperti ketoprak, aneka gorengan, kopi, soto ayam, mie ayam bakso, nasi bebek, bubur ayam, nasi uduk dan lainnya.
Setelah memesan dan membayar pada Bapak tukang bubur, kami pun pulang.
"Kami pulang dulu ya, Dim," kata Mas Indra berpamitan.
"Iya, Pak, makasih sarapannya," jawab Dimas berterimakasih.
"*Sama-sama."
"Bye, Dim."
"Makasih ya, Bu."
"Iya sama-sama yah*."
Sampai rumah, aku membereskan pakaian kotor dan memasukkannya ke dalam mesin cuci sementara Mas Indra sedang mengangkat jemuran. Menyetrika baju menjadi tugasku karena Mas Indra tidak mau. Jadi sebagai gantinya, dia yang membersihkan kamar mandi hari ini.
Aku juga menyiapkan baju berenang Lea dan Maya lengkap dengan handuk, baju ganti, sampo, kondisioner dan sabun 3 in 1 yang biasa kubawa jika mengajak mereka berenang.
Praktis, satu botol bisa untuk tiga kegunaan.
Tidak lupa, aku juga menyiapkan berbagai makanan dan camilan untuk anak-anak karena seringkali, saat berenang mereka akan merasa lapar.
Jika tidak pun, sebagai jaga-jaga saja jikalau salah satu dari mereka lapar.
"*Mas ... Aku nggak masak yah buat siang ini. Mau langsung jemput Maya setelah jemput Lea dari sekolah."
"Tapi malam masak kan, Sayang?"
"Kalau sempet yahh."
"Okay*."
Setelah selesai mengerjakan pekerjaan rumah, Mas Indra bilang dia akan pergi ke kantor karena ada hal yang harus diselesaikan.
Mungkin orang mengira jika Mas Indra biasa bangun siang dan menjalani kehidupan yang serba dilayani karena dia adalah seorang pimpinan di perusahaannya sendiri.
Namun kenyataannya malah sebaliknya. Mas Indra biasa bangun pagi sekali bahkan lebih awal dariku, mengerjakan ibadah lalu berolahraga lari pagi.
Mas Indra juga merupakan orang yang sangat disiplin. Dia menghargai waktu yang di punya untuk melakukan hal-hal yang tidak sia-sia.
__ADS_1
Terkadang Mas Indra juga bermain 'game online' di komputernya, tapi tidak berlebihan.
Meskipun pasti dirinya capek bekerja seharian di kantor, tapi Mas Indra tetap rela dan dengan senang hati mengerjakan pekerjaan rumah yang memang telah kami sepakati dari awal memutuskan untuk hidup bersama.
Kenapa tidak menyewa jasa kebersihan atau seorang Asisten Rumah Tangga untuk membersihkan dan mengurusi rumah?
Karena sebelumnya kami memang selalu melakukan pekerjaan rumah ini bersama. Jadi ketika kami masih mampu untuk mengatasi semuanya saat ini, kami masih akan mengerjakannya semuanya sendiri.
Mungkin nanti jika waktunya tiba, aku hamil dan melahirkan, baru kami akan menyewa jasa itu.
____________
Di sekolah, aku bertemu lagi dengan Neneknya Kalila yang juga adalah sahabat atau 'teman nunggu' bersama Ibunya mbak Dewi alias Neneknya Lea.
"Siang, Oma," sapaku padanya.
"*Siang, jemputnya sama supir?"
"Oh, enggak, Oma. Aku nyetir sendiri."
"Neneknya Lea kapan kembali kesini?"
"Kalau tidak salah, dalam minggu ini, Oma."
"Oma lihat, Lea sepertinya sayang banget sama kamu, ya?"
"Iyakah, Oma?"
"Iya lho ... setiap kali pulang sekolah dan melihat kamu, dia pasti girang dan bahagia sekali Oma perhatikan."
"Dia memang begitu, Oma, saat dijemput oleh Papanya pun, selalu berlari dan memeluk Papanya juga."
"Iya tapi jika sama Neneknya, malah cemberut. Makanya Oma jadi heran kenapa sama kamu malah nempel begitu. Sebab Neneknya bercerita, Lea nggak suka sama kamu. Kamu juga nggak sayang sama anak dari suamimu."
"Oh yaa, Oma?"
"Jangan begitu ya, Nak, kasihan anak itu. Mungkin dia senang kalau dijemput sama Mama atau Papanya. Oma nggak pernah melihat Mamanya Lea menjemput dia disini. Mamanya Kalila setiap hari juga menjemput, tapi dia di mobil, setelah anak-anak keluar, baru dia menunggu Oma dan Kalila di depan pagar."
"Iya, Oma, terima kasih yah atas nasehatnya. Kebetulan Lea memang sedang tinggal bersama kami, jadi Sasa yang jemput*."
Sekolah ini tidak terlalu besar, dan seperti sekolah TK swasta pada umumnya, satu kelas hanya berisi sekitar 10 sampai 12 murid saja dengan beberapa kelas seperti kelas Apel, Anggur, Jeruk, Stroberi, Alpukat dan beberapa kelas lagi untuk TK A atau TK kecil.
"Momi!" Lea memangilku yang berdiri menunggunya disebelah Omanya Kalila. Aku melambaikan tanganku padanya, bocah itu terlihat sangat ceria. Hmm ... Benarkah Mbak Dewi memang tidak pernah menjemput anaknya di sekolah? Jangankan menjemput ke sekolah, buku Lea tidak dikembalikan selama 2 minggu saja Mbak Dewi tidak peduli. Biarlah, yang penting sudah ku belikan yang baru dan Lea dapat belajar lagi.
Kami berpamitan pada Oma dan Kalila lalu masuk ke mobil dan akan langsung menjemput Maya di rumah Kak Vera.
"Are you happy to meet Maya today? (Apakah kamu senang akan bertemu dengan Maya hari ini)?" tanyaku pada bocah itu saat kami telah siap untuk berangkat.
"Yes, Momi. I like to play with Maya. (Iya, momi aku senang, aku suka main sama Maya)," jawab Lea dengan semangat.
"*But remember not to be naughty anymore, okay? otherwise, you will? (Tapi ingat nggak boleh nakal lagi, okay? Jika nakal lagi, maka kamu akan)?"
"Go home. (Pulang)."
"You're not going home right? You will be a good girl right? (Kamu nggak mau pulang kan? Kamu akan jadi anak yang baik kan)?"
"Yes, Momi*."
Sesampainya di rumah Kak Vera, kami disambut dengan makan siang yang telah Kak Vera persiapkan. Kami semua makan bersama dan istirahat sebentar. Setelah aku selesai mencuci piring dan juga membereskan meja, kami bertiga pamit pulang ke rumahku dan akan menjemput Dinda serta Fani untuk menuju taman bermain air sore ini.
"Lea, salim dulu sama Tante Vera, peluk sama cium juga yaa," pintaku pada anak tiriku.
"*Lea pulang dulu Tante Vera ...."
"Iya, Sayang, Lea hati-hati yaa, Maya juga nggak boleh nakal lho, jangan rebutan mainan. Kalau Maya nakal dan nggak nurut sama Tante Sasa, nanti Mama jemput Maya biar nggak main lagi*," ancam Kak Vera pada anaknya.
"Maya nggak mau nakal, Ma," jawaab Maya patuh.
"Yaudah Kak, kami pulang dulu yah."
Aku pun salim, memeluk dan mencium Kakak perempuanku itu. Memang sudah dibiasakan oleh Ibu sejak kecil, kami harus saling menyayangi dan menghormati satu sama lain dimanapun berada.
______________
__ADS_1
*tut ... tutt ... tutt ....
Aku mencoba menelpon Fani untuk memastikan dia telah bersiap untuk berangkat. Sahabatku satu itu kadang suka tidak tepat waktu. Janjian jam 3 sore artinya jam 3 itu harus sudah ada di lokasi. Tapi seringnya dia malah masih di jalan atau sedang mandi. Sama juga seperti aku sih, hehehe. Tipikal kebiasaan beberapa orang Indonesia banget.
"Halo, iya, Cin," jawab Fani di seberang sana.
"*Udah siap belum lu?"
"Udah dari tadi, cepetan lu jemput gue."
"Tumben, biasanya lu paling telat."
"Ada anak-anak, kita harus contohin mereka yang bener, biar mereka kagak ngikutin kebiasaan kita yang gak tepat waktu, hahaha."
"Eh, bener juga lu, Kipas. Gue udah mau sampai nih, kalian tunggu depan, yee."
"Siap beb*."
Lea dan Maya belum pernah bertemu dengan Dinda sebelumnya. Dinda sudah kelas 1 SD, jadi diantara mereka bertiga, usia Lea yang paling muda. Aku meminta Maya dan Lea memanggil Dinda dengan sebutan 'Kak Dinda'.
Kami langsung menuju ke area bermain air. Setelah membayar biaya masuk dan berganti pakaian renang, anak-anak sangat senang dan segera berlari menceburkan diri mereka ke dalam kolam untuk berenang serta bermain perosotan. Aku dan Fani menunggu mereka dengan duduk di kursi yang dekat dengan kolam.
Aku sangat penasaran pada gosip apa yang akan Fani ceritakan tentang Nadia, salah satu teman kelas kami di kampus yang telah lama tidak berjumpa. Obrolan kami terus berubah dari waktu ke waktu, dulu kami sering membahas cowok ganteng dan masa pacaran, kini setelah menikah, tidak hanya membahas soal kehidupan kami masing-masing, tapi juga membahas kehidupan orang lain alias bergosip serta berghibah ria.
"Fani, cepetan ceritain ke gue yang semalem itu," pintaku pada Fani yang baru saja duduk.
"*Oh, si Nadia?"
"Yo'i, kenape tuh dia?"
"Jangan kaget lu ...."
"Yee, si Kipas, belum juga lu cerita."
"Nadia habis di labrak sama istri sah dari pacarnya. Apesnya, dia juga lagi hamil sekarang*," cerocos Fani langsung kepada intinya.
"*Apa?! emang Nadia pacaran sama laki orang? hamil berapa bulan? gila tuh anak ya?"
"Ya gitu deh, Nadia kan cerita sama Angel, terus sama si Angel di bongkar lah di grup WA. Elu sih, Sa, jarang baca info dari grup makanya lu 'kudet' sama ghibahan terbaru."
"Gue sibuk, wkwkwk, lagian gila aja chat sampe ratusan gitu. Gue manjatnya capek. Terus kalau malam gue mau baca chat grup, Mas Indra nggak bolehin gue main HP mulu."
"Kalian sibuk bikin calon bayi mulu yang ada."
"Hahaha kayak elu enggak aja, huu ... Kipas."
"Eh lu udah cek bulan ini?"
"Udah, belum garis dua, hiks."
"Sama gue juga, Sa. Sampai dua kali gue tes pakai dua merek tespack berbeda, hasilnya tetep sama. Kenapa ya kita yang udah pengen punya tapi belum di kasih sama Tuhan, sedangkan mereka-mereka yang tidak menginginkan malah cepet dapet."
"Gakpapa, Fan, belum 'waktunya' aja buat kita. Kalau saatnya tiba, akan cepet kok. Percaya aja."
"Sedih gue, Cin,"
"Jangan gitu ahh, kalau mau sedih, gue juga sama. Tapi gimana lagi wong belum 'waktunya'."
"Momi ...."
"Tante* ..." suara anak-anak memanggil kami dan mereka mengajak kami untuk bermain air bersama.
Hmm ... apa salahnya bersenang-senang dengan bergabung bersama anak-anak dan bermain air bersama?
Aku dan Fani lalu mengiyakan ajakan mereka. Kami bermain air, berenang, bermain perosotan dan berbagai permainan air lainnya dengan bahagia.
"*Kita mesti sering-sering ikut main sama anak-anak, Fan, biar nggak stress. Hahaha."
"Iya, ya, Cin, gue kangen jadi anak kecil, dulu kita sering ngumpet-ngumpet kalau main, sampai elu di marahin Kak Vera karena baju lu basah semua. Hahaha."
"Iya, wkwkwk, gue dihukum besoknya kagak di kasih uang jajan, terus pinjem duit elu*."
Kami berlima asyik bermain air sepanjang sore dan baru berhenti saat hari sudah mulai gelap dan area permainan akan segera ditutup. Kami benar-benar menikmati hari ini.
__ADS_1
Lea, Maya, Dinda, Fani dan aku bermain dengan ceria. Bila belum akan di tutup, sepertinya kami masih akan bermain air lagi.
Meski capek, tapi kami sangat senang dan menikmati setiap detik di tempat ini.