
Karena Mas Indra lebih suka masakan yang berbeda dan baru setiap hendak makan, jadi aku pun harus memasak dua kali dalam sehari, siang dan untuk makan malam.
Saat aku sedang menyiapkan bahan masakan, kulihat monster kecil itu sedang mewarnai buku gambar bersama Papanya.
Memang lebih baik kayak gitu aja, mewarnai buku dan menghabiskan lebih banyak waktu berdua daripada main video game atau terlalu banyak nonton TV. Apalagi menonton sinetron ataupun FTV. Sungguh tidak cocok untuk bocah yang duduk di kelas TK seperti Lea.
Dari dapur, kudengar mereka berdua saling tertawa dan bercanda. Akupun ikut senang melihatnya, walaupun memang ada sisi jahatku yang lain yang terus membujukiku untuk terus benci pada monster kecil itu. Namun terkadang aku juga merasa kasihan pada anak tiriku, sebab dari sejak kelahirannya, Mas Indra dan Mbak Dewi pun akhirnya berpisah. Bahkan Mas Indra pernah bercerita padaku kalau selama dalam ikatan pernikahan dan kehamilan Mbak Dewi, Mas Indra tidak pernah tidur sekamar dengan istri pertamanya itu.
Keluarga Mas Indra juga tidak setuju atas pernikahan yang sangat mendadak. Mas Indra mengaku saat itu dirinya seperti di coret dari anggota keluarga dan bahkan Kakak lelaki satu-satunya pun tidak dapat berbuat apa-apa untuk menolong adiknya.
Mas Indra dan Mbak Dewi juga telah membuat kesepakatan tentang berapa jatah uang bulanan untuk Lea yang rutin Mas Indra kirimkan setiap bulannya.
Setelah berpisah dengan Mbak Dewi, Mas Indra meninggalkan Indonesia selama hampir 3 tahun dan baru kembali lagi kesini tidak lama ini.
Hubunganku sendiri dengan keluarga Mas Indra cukup baik, saat resepsi pernikahan kami, keluarga Mas Indra datang karena memang Mas Indra pun sudah baikan dengan orangtua dan keluarganya. Mamanya Mas Indra juga menerimaku dengan penuh cinta. Beliau bilang, aku bisa merubah Mas Indra menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya bermodalkan cinta. Meski hal itu kurasa cukup berlebihan, tapi mungkin itu memang kenyataan.
_______________
"Mas, sebenarnya aku udah lihat gambar itu kemarin di kamar Lea, tapi aku pikir itu bukan gambarku, kamu kan tahu sendiri kalau aku keras dan jahat padanya. Jadi kukira, dia juga benci sama aku, Mas." Kali ini, aku yang memulai sesi bicara malam kami.
"*Itu cuma pikiran negatif kamu aja, Hun ... pas tadi lagi mewarnai, Lea nunjukkin gambar itu ke aku, katanya, ini Momi, Lea sama Papa. Terus aku tanya, itu apa yang ada di baju Momi? dia jawabnya, itu 'baby' di perut Momi. Makanya aku langsung ketawa ngakak bareng Lea juga."
"Haiisshhh ... jadi kalian ngetawain gambar aku gituu?!"
"Enggak sayang ... bukan gitu maksudku ... aku heran aja bisa-bisanya Lea kepikiran ngegambar bayi di perut kamu, orang hamil tapi bayinya kelihatan ... gitu lohh, Hun, yang bikin aku ketawa."
"Emang beneran yah Mas, Lea ngomong kayak gitu? coba besok aku tanya."
"Makanya, Hun, mesti sering-sering buat kita biar cepet jadi ...."
"Hillliihhh ... kamu iniiii* ...."
____________
• Hari ke 12
"Mas ... wake up Mas ... we're late Mas !!" teriakku pada Mas Indra yang tumben sekali dia tidak bisa bangun pagi dan tidak lari pagi?
"Jam berapa, Hun?" jawab mas Indra dengan mata masih terpejam.
"Udah 07:15 Mas!!" balasku panik dan langsung lari ke kamar Lea.
"*Lea, bangun, nak .. kesiangan kita ... ayo cepet langsung mandi ...."
"Aku mau makan roti coklat dulu."
"Makan nanti gakpapa ya? di mobil aja kalau pas berangkat, sekarang mandi dulu karna udah telat ... okay?"
"Tapi ... aku mau makan roti dulu ...."
"Yaudah, tapi janji makannya harus cepet biar nggak telat sampai sekolah, okay?"
"Okay*."
Setelah makan dan mandi lalu berganti pakaian, aku langsung memakaikan kaos kaki dan sepatu Lea. Membawa tas nya, sisir, jepit rambut dan beberapa kunciran ke mobil, aku akan mengikat rambutnya di mobil saja.
Dimobil, aku tidak berhenti menyalahkan Mas Indra karena dialah penyebab kekacauan pagi ini. Jika Mas Indra bangun seperti biasanya, meski aku telat bangun pun, setelah pulang lari pagi dia bisa membangunkanku.
"*Ini salah kamu juga, Hun ... kenapa kamu peluk aku erat banget coba? Aku mau bangun juga susah ... kamu bilang.. 'lima menit lagi, Hun ...' gitu terus sampai aku juga merem lagi."
__ADS_1
"Emang aku bilang gitu, Mas?"
"Iya ahh ... masa kamu mimpi?"
"Hihihi, Momi mimpi." Lea ikut-ikutan dalam percakapan kami.
"Enggak, Lea ... Papa tuu yang nggak bangun-bangun jadi kita telat ke sekolahnya... artinya Papa yang salah yaa ..."
"Momi tu yang salah, bukan Papa*." Mas Indra tidak mau kalah.
"*Papa sama Momi kalau berantem kata Miss aku, nanti dihukum."
"Emang Miss kamu bilang apa, Lea*?" tanyaku penasaran.
"Kata Miss Rahel, kalau berantem nanti dihukum." Lea menjawab dengan polos.
"*Enggak kok ... Papa sama Momi nggak berantem ... cuman ribut dikit aja, iya kan, Paa?"
"Iya ... Papa nggak berantem sama Momi kok, Momi aja yang nakal ...."
"Haiisshh, Mas!! Papa tu yang nakal, bukan Momi* ..." belaku dari serangan Mas Indra.
"Iya Papa nakal, hihihi." Bocah itu ternyata ada di pihakku kali ini. Dua lawan satu pasti kami yang menang. Hahaha.
Beruntungnya jalan tidak terlalu ramai sehingga kami tidak sampai terjebak macet dan bisa mengantarkan Lea sebelum bel masuk sekolah berbunyi.
Aku dan Mas Indra pulang dan menyantap sarapan yang tadi tidak sempat kami nikmati gara-gara drama bangun telat segala pagi tadi.
"*Mas, kapan Ibunya Mbak Dewi balik ke kota ini lagi? kalau udah disini berarti Lea kesini nya Sabtu atau Minggu aja yah, kayak dulu?"
"Kemungkinan sih minggu ini yaa, Hun, tapi aku nggak tahu juga kapan tepatnya."
"Ohya, Sayang, sebenarnya Miss Rahel tanya lagi soal buku, jadi karena Mbak Dewi belum konfirmasi mau beli lagi apa nggak nya dan Lea butuh buku itu, jadi aku beli aja di sekolah, Mas ...."
"Haishh, nggak banyak kok Mas, 2 buku aja sama satu folder PR."
"Hun, aku mesti ke kantor hari ini yaa, ada 'meeting' (pertemuan) dadakan nih ...."
"Yayyy ... jadi siang ini aku nggak perlu masak buat kamu kan, Mas?"
"Iya, tapi malam masak yaa?"
"Aciap Pleciden*!!"
__________________
Saat menunggu Lea keluar dari kelas, aku merasa ada seseorang yang memperhatikanku. Aku menganggukkan kepala dan tersenyum pada wanita setengah baya itu.
"Neneknya Lea belum kembali ke sini ya?" tanya wanita itu langsung padaku tentang Nenek Lea yang sedang pulang ke kotanya.
"Belum, Tante," jawabku pelan.
"*Iya, tante biasanya nunggu cucu sama Neneknya Lea disini."
"Oh iyakah, Tante?"
"Iya, kamu Tantenya Lea, ya*?"
Aku cukup bingung untuk menjawab pertanyaan ini, disatu sisi aku ingin jujur saja siapa diriku, tapi bukankah tante ini cuhubut (sahabat) Ibunya Mbak Dewi?
__ADS_1
Bisa saja Neneknya Lea telah menceritakan tentang diriku.
Beruntung anak-anak juga telah keluar dari kelas, jadi aku bisa menghindari pertanyaan itu.
"Momi ...." Lea memanggilku dengan ceria dan langsung memelukku mesra. Kubalas juga pelukannya.
Tante tadi memperhatikanku dengan curiga, mungkin dia tidak mengira bahwa aku adalah Ibu tiri Lea.
"*Kamu Ibu tirinya Lea, ya?" tanya Tante Yuli penasaran.
"Mmm ... Iya tante ...."
"Ohh ... iya iyaa ..."
"Kami pulang dulu yah tante ... 'say goodbye to your friend and oma' (bilang sampai jumpa pada teman kamu dan oma*)," pintaku pada Lea.
"*Bye Kalila, bye Oma ..."
"Bye, Lea*."
Setelah makan siang, aku meminta monster kecil itu untuk tidur atau istirahat maupun berguling-guling saja di kasur supaya tidak capek. Aku juga merasa sangat lelah, jadi aku juga hanya bersantai bersama Lea di kamarnya.
*tiinngggg ....
Satu pesan masuk dari sabahatku, si kipas alias Fani.
[*Ciinn ... hari Kamis ponakan gue dateng. Gimana, jadi berenang tuh bocah-bocah?]
[Boleh, Fan, semenjak monster itu jahatin Maya, gue emang nggak ngajak Maya kesini lagi biar nggak berantem terus. Tapi gue lihat kasihan juga dah anak ini kagak ada temennya.]
[Yaudah, jadi fix yee Kamis ajak mereka berenang?]
[Iyyaa, kipasss* ....]
Benar juga selama 12 hari disini, Lea memang hanya bermain bersamaku dan Mas Indra saja. Memang beberapa kali di sore hari aku pernah mengajak anak itu jalan-jalan dan main di sekitar taman, tapi tidak banyak anak yang bermain disana. Mungkin anak-anak seusia Lea sekarang sudah beralih bermain dengan gadget mereka dibandingkan bermain tanah dan pasir.
Aku pun tidak mengajak Maya main ke rumah karena aku tidak mau monster itu menyakiti ponakanku lagi.
Kamis nanti karena ada keponakan Fani, aku akan mengajak Maya ikut serta untuk berenang di area taman bermain dan kolam renang yang terletak tidak terlalu jauh dari rumah.
"Momi ... aku mau pipis ..." suara itu terdengar agak berbeda. Kata 'Momi' yang diucapkan oleh Lea membuatku, sedikit ... tersentuh?? Ahh ... entahlah ... yang jelas aku sudah mulai terbiasa dan tidak lagi risih dengan panggilan itu. Sejak pertama, Mas Indra memang mengenalkanku sebagai "Momi" pada Lea, meski waktu itu aku masih belum yakin akan menjalani hidup bersama Mas Indra yang adalah seorang duda.
"*Yaudah ke toilet gih ... pipis sana, jangan lupa cebok, terus di siram yah ...."
"Aku takut ...."
"Takut sama apa? terang gitu."
"Takut ada hantu."
"Siapa bilang ada hantu?"
"Mama aku ...."
"Emang Mama kamu bilang apa*?" tanyaku penasaran.
"Nanti ada hantu," jawab Lea.
"*Nggak ahh ... gak ada hantu di rumah Momi."
__ADS_1
"Tapi anterin ...."
"Haiishh, iya iyaa*."