
Satu persatu rencana telah teratasi mulai dari gedung, catering, undangan, dan juga sovenir. Memang ada sedikit drama dengan penjual sovenir dimana mereka tidak mengabari sampai hari yang telah kami sepakati. Aku sempat marah-marah karena tidak dihubungi. Memang salahku juga sebenarnya yang tidak menghubungi pihak sovenir terlebih dahulu.
Aku sangat deg-degan menanti hari itu.
Tiga hari menjelang saat yang kutunggu, aku dan Mas Indra mendatangi makam Ayahku. Aku menangis sejadinya disana. Ini adalah kali kedua aku berkunjung dan menangis tiada hentinya. Sebelumnya saat pernikahan agama kami berdua dan saat ini.
IT'S SO HURT! Really.
_________________
Sehari menjelang akad dan resepsi, orangtua Mas Indra alias mertuaku datang ke kota ini bersama dengan beberapa anggota keluarga.
Tibalah saat dimana Mas Indra mengucapkan janji suci dengan lantang dan jelas. Aku sendiri tidak bisa menahan tangis teringat cinta pertamaku. Ayah, saat ini anak gadismu yang super manja telah sah dan resmi menjadi seorang istri.
Melihatku menangis, Mama mertuaku malah bingung dan cemas, ia pikir aku menangis karena terpaksa menikah dengan Mas Indra. Ada-ada saja. Acara resepsi kami berjalan dengan lancar dengan dihadiri keluarga dan sahabat dekat. Beruntungnya Lea tidak berulah di acara resepsi kami. Aku sudah khawatir jika monster kecil itu akan mengacaukan hari besarku. Bocah itu malah terlihat bahagia melihat aku bersanding dengan Papanya yang berarti aku telah resmi secara negara menjadi Ibu tirinya.
Mbak Dewi tidak datang karena memang tidak diundang. Mas Indra sendiri Yan melarangku dan tidak setuju jika Mbak Dewi menghadiri resepsi kami. Aku hanya bisa menurut saja.
Meskipun malam ini bukanlah benar-benar malam pertama untuk kami berdua, tapi tentu saja ini adalah malam yang bersejarah dan apa yang terjadi di kamar, hanya kami berdua dan Tuhan saja yang tahu.
Mama, Papa dan beberapa saudara harus pulang segera. Padahal aku masih ingin bersama dengan mereka untuk beberapa lama lagi. Namun, Papa memang tidak bisa meninggalkan kantornya dalam waktu yang lama. Solusinya, salah satu destinasi bulan madu kami adalah mengunjungi rumah mertua.
Aku merasa bahagia dan lebih berbunga-bunga saat ini, akhirnya kami telah resmi menjadi sepasang suami istri yang tidak hanya sah secara agama, namun juga telah tercatat oleh negara. Sampai pada saat dimana Mbak Dewi mengabari jika dia akan menitipkan Lea untuk beberapa waktu pada kami, sebab Ibunya, atau Nenek Lea sedang pulang ke kota asalnya.
Selain memang benci pada monster kecil itu, aku juga sebenarnya tidak mau jika jadwal bulan madu kami berdua akhirnya harus ditunda hanya karena kehadiran Lea.
Menyebalkan sekali.
"Okay."
Itulah kata yang ku ucap juga saat Mas Indra bilang tidak ada pilihan lain dan bulan madu kami terpaksa ditunda.
_______________________
Malam ini kami bertiga menikmati mie instant kuah karena aku memang tidak masak seperti biasanya.
Semuanya sudah kembali normal.
Aktivitas orang-orang sudah berangsur bangkit, meski pelan, semuanya tetap bersemangat berjuang dari awal.
Karena belum ada kabar dari Rumah Sakit maupun orangtua Lea, aku dan Mas Indra sepakat untuk menyekolahkan Lea di Sekolah yang sama dengan Maya. Monster kecil itu sekarang sudah kelas satu Sekolah Dasar.
Terkadang Lea menginap di rumah Kak Vera pada akhir pekan. Disaat itulah aku dan Mas Indra bisa bebas berduaan tanpa gangguan.
Suatu hari saat aku sedang di rumah sendiri karena Mas Indra pergi ke kantor dan Lea tengah sekolah, ada beberapa panggilan telepon yang tidak sempat kuangkat karena aku sedang masak. Nomor asing, mungkin salah sambung atau panggilang 'spam' yang memang kerap terjadi tidak hanya sekali.
Aku cukup penasaran, setelah mengecek kode panggilannya, ternyata dari Australia. Tidak ku hiraukan karena kupikir itu salah sambung saja.
Lea langsung pulang ke rumah Maya karena akan mengerjakan tugas sekolahnya. Mas Indra juga tidak pulang untuk makan siang karena ada pertemuan dengan salah satu rekan kerja. Aku merasa kesepian sekali. Beruntungnya aku punya kesibukan dengan bisnis pribadiku. Mas Indra memang tidak memberiku ijin bekerja, tapi bukan berarti dia juga melarangku bekerja dari rumah. Maksud Mas Indra adalah jika aku bekerja diluar rumah dan tidak punya banyak waktu untuknya, barulah dia tidak akan mengijinkannya.
Saat aku sedang bersantai sambil menikmati satu mangkok alpukat yang dicampur dengan susu kental manis dan juga es batu, kudengar suara pesan masuk. Suamiku mengirimkan sebuah chat.
[Hun, malam ini masak apa, Sayang?]
[Kamu pengen makan apa, Mas?]
[Apa aja aku suka]
[Haisshh, kamu ini bikin aku bingung aja. Mau yang pedes-pedes atau seger?]
[Surprise me!]
[Jiaahh ... aku masak ayam balado pedas aja yes?]
[Iya, Sayang, anything. Mwahh! I love you!]
[I love you!]
Aku mendapatkan resep baru dari YouTube, balado ayam kampuang atau ayam kampung. Kebetulan kemarin Ibu baru saja memberiku satu ekor daging ayam, jadi aku bisa menggunakannya untuk masak malam ini.
Setelah menikmati makan malam dan membereskan semuanya, meski belum jam sembilan, kami berdua sudah berada di kamar. Aku sudah faham gerak-gerik Mas Indra jika dalam keadaan seperti ini. Ya, Lea sedang menginap di rumah Kak Vera, hanya kami berdua disini.
"No more excuse, Lea nggak di rumah, semua pintu udah aku kunci, jendela ku tutup rapat, kelambu juga. Ohya, ini AC udah aku set ke angka favorit kamu, Hun," ucap Mas Indra setelah meletakkan remot AC di meja dekat TV.
"Umm ..."
"Apa lagi, Sayangku?"
"Kamu pikir cuma kamu, Mas, yang mau?" kataku manja.
"Jadi?"
Tanpa berucap sepatah kata lagi, aku dan Mas Indra memanfaatkan waktu berharga ini hanya untuk kami berdua, mencapai surga dunia.
Seperti biasa, 'Pillow talk' kami tetap membahas banyak hal yang kami alami sepanjang hari. Mas Indra bercanda sebaiknya Lea sering menginap saja di rumah Kak Vera agar tidak ada gangguan saat kami melakukan apapun. Katanya juga kami harus rajin melakukan kegiatan ini agar aku cepat isi. Xixixi.
_______________
Mas Indra mendapat panggilan telepon dari Rumah Sakit yang mengabari bahwa orangtua kandung Lea telah menghubungi pihak Rumah Sakit dan ingin bertemu dengan kami berdua serta Lea. Siang itu aku dan Mas Indra bergegas ke Rumah Sakit namun tanpa Lea karena monster kecilku sedang sekolah.
Pihak Rumah Sakit, orangtua Lea dan kami semua sepakat untuk melakukan tes DNA. Aku menjemput Lea dari Sekolah dan langsung menuju Rumah Sakit. Setelah melakukan tes, terbukti dengan akurat bahwa Lea adalah anak kandung dari Kak Sovie dan Kak John. Kami semua menangis bahagia setelah sekian lama akhirnya anak yang hilang itu dipertemukan dengan orangtua kandungnya.
Orangtua Lea ku ajak menginap di rumah kami. Mereka akan segera mengajak anaknya pulang ke Australia. Aku merasa tidak karuan, seperti tidak siap harus menyaksikan bocah yang telah kami anggap anak sendiri akan segera pergi dari rumah ini.
"Momi, aku boleh bawa mainan ini?" tanya Lea sambil menunjukkan mainan yang pernah ku belikan. Aku hanya mengangguk sambil menangis. Mas Indra menenangkan dan menghiburku untuk tidak menangis lagi.
Aku, Mas Indra, Kak Sovie dan Kak John berbincang di ruang tamu sementara Lea ditemani Maya sedang asyik memilah mainan yang akan dia bawa. Awalnya Lea tidak mau ikut dengan orang tuanya, tapi setelah kami bujuk dan beri pengertian, bocah itu akhirnya mengerti juga.
Kami semua mengantar mereka bertiga ke bandara. Aku benar-benar tidak bisa menahan tangis.
"Momi, don't cry, I love you, Momi," ucap Lea sambil memelukku erat.
"I love you too, Lea ... huhuhu ...."
Kak Sovie meyakinkanku bahwa dia tidak akan membatasi hubunganku dengan Lea dan akan selalu mengijinkan kapanpun monster kecil itu akan ku hubungi melalui telepon atau panggilan video.
Kami juga sebenarnya ingin mengunjungi Mbak Dewi, tapi sejak di tahan, Mbak Dewi tidak pernah mau bertemu dengan kami.
Aku dan Mas Indra memeluk Lea erat sebelum dia harus masuk ke ruang tunggu dan pesawat berangkat.
______________
Meski Lea sudah beberapa hari di Australia, aku terkadang merasa monster kecil itu masih tinggal di rumah ini. Aku kerap memanggil namanya untuk makan bersama atau berlari ke kamarnya di pagi hari, khawatir dia akan terlambat pergi ke Sekolah. Namun yang aku dapati kamar itu telah kosong. Beberapa kali aku menangis, tapi Mas Indra selalu menghibur dan meyakinkanku bahwa semua ini juga terbaik untuk Lea dan kami semua.
Karena Lea, si monster kecilku itu sudah tinggal bersama orangtua kandungnya di Australia, aku dan Mas Indra dengan leluasa kapan saja dapat melakukan sesi bercinta di seluruh bagian rumah. Kami pernah mencoba di sofa, di atas meja, di dapur dan juga di tangga!
Permohonan visa untuk kami berdua telah diterima dan akan segera keluar. Suatu pagi, Mama mertuaku menghubungi Mas Indra dan meminta anaknya itu untuk segera pulang menemui Papanya secepatnya. Mama bilang Papa sakit keras dan ingin bertemu dengan Mas Indra. Saat resepsi pernikahan kami beberapa bulan lalu sebenarnya Papa sedang sakit dan tidak boleh bepergian jauh apalagi menempuh penerbangan hampir 22 jam dalam pesawat, tapi Papa memaksa datang karena ingin menyaksikan pernikahan anaknya dan juga karena Papa belum pernah bertemu denganku.
Karena visa milikku belum juga keluar, aku tidak bisa ikut dengan Mas Indra untuk menjenguk Papa.
Mas Indra akhirnya pergi sendiri karena kondisi Papa yang semakin buruk.
Dua hari setelah Mas Indra sampai di kota asalnya, dia mengabari kalau Papa sudah tiada, padahal malam sebelumnya aku baru saja melakukan video call dengan Papa. Aku masih ingat beliau berterimakasih padaku karena telah mencintai Mas Indra. Kini Papa mertuaku sudah pergi sebelum aku sempat mengunjunginya.
Dua hari berikutnya Mas Indra pulang ke Indonesia bersama Mama yang sekarang juga pindah di kota ini. Aku meminta Mama tinggal bersama kami, tapi beliau bersikukuh untuk tinggal sendiri. Mama memang orang asli sini, beliau tinggal bersama Papa di luar negeri setelah mereka menikah.
__________________
Pagi tadi entah bagaimana aku dan Mas Indra benar-benar menghabiskan waktu luar biasa yang penuh cinta bersama. Aku berkali-kali bilang pada suamiku itu bahwa aku sangat mencintainya dan tidak ingin kehilangan dirinya. Mas Indra pun begitu, dia mengatakan bahwa akulah segala baginya dan akan terus mencintaiku selamanya. Mas Indra malah bercanda jika dia pergi dan tak kembali, aku tidak boleh jatuh cinta atau mencintai pria lain lagi karena dirinya harus menjadi cinta terakhirku.
Aku hanya tertawa dan mencium serta memeluknya erat.
__ADS_1
"Everything is gonna be fine, Hun."
Mas Indra berpamitan karena akan menemui seorang klien baru. Katanya klien baru ini ngotot ingin bertemu dengan Mas Indra meskipun seharusnya Mas Indra tidak biasanya menemui klien karena Jack atau Ferry yang mengurusi ini semua. Namun karena menghormati permintaan khusus itu, akhirnya Mas Indra bersedia datang untuk bertemu dengannya. Sebelum itu, suamiku meminta aku memasakkan makanan favoritnya untuk makan malam nanti.
Aku baru menyadari bahwa bulan ini belum kedatangan tamu sama sekali. Seharusnya sudah dari seminggu lalu aku haid karena aku memang selalu mencatat tanggal masa haidku secara teratur. Akhirnya aku memutuskan untuk melakukan tes 'urine' meski aku ragu.
Setelah beberapa lama menunggu, kulihat hasilnya adalah garis dua!
Ya Tuhan, apakah aku hamil?! aku girang bukan main sambil terus bersyukur. Aku tidak akan memberitahu Mas Indra sekarang. Nanti saja saat dia pulang.
Aku melewatkan 4 kali panggilan telepon dari Mas Indra karena sedang masak di dapur untuk makan malam kami nanti. Empat jam berlalu, handphone Mas Indra tidak bisa kuhubungi, tidak biasanya suamiku begitu. Aku jadi cemas karena pesan chat terakhirnya yang masuk hanya kata 'ilu, Sa".
Kenapa harus disingkat jadi 'ilu' untuk menulis kata 'i love you' seperti biasanya?
Apa mungkin Mas Indra ingin memberiku kejutan?
Ahh, suamiku memang begitu.
*Prraaakkkkk!!
Kudengar ada sesuatu yang jatuh. Aku segera berlari mencari sumber suara itu. Ternyata figura fotoku dengan Mas Indra yang berada di meja jatuh dan pecah, kacanya berserakan di lantai. Mungkin karena ada angin makanya bisa jatuh begini.
Setelah membersihkan semuanya, HP-ku berbunyi, itu pasti Mas Indra! segera kuraih handphone yang berada diatas meja, tanpa melihat siapa penelponnya, aku langsung menduga itu adalah suamiku.
"Halo, Sayangku, cintaku, I miss you, cepet pulang, Hun! ada sesuatu yang mau aku bicarakan!" ucapku dengan suara manja.
"Maaf, ini dengan Ibu Anisa?" jawab suara dari seberang sana.
Karena kaget dan tidak menyangka itu bukan suamiku padahal sudah berkata sayang dan cinta segala, reflek aku melihat siapa penelpon ini. Tidak ada nama, artinya nomor baru, tapi dari mana dia dapat nomorku?
Belum sempat bertanya siapa dirinya dan ada perlu apa, kudengar kabar yang sama sekali tidak pernah kuinginkan.
"Suami Ibu, Bapak Indra Kusuma Wright mengalami kecelakaan. Mobilnya ditemukan telah rusak parah di sebuah tikungan tajam yang mengarah ke jurang."
Aku kaget bukan kepalang! ada apa ini? kepalaku terasa berat dan aku hampir jatuh tapi aku masih bisa tetap sadar. Setelah mendengar lokasi ditemukannya mobil Mas Indra, aku langsung menuju kesana.
Dengan cemas aku membawa mobil pada kecepatan tinggi, aku hanya ingin segera sampai di lokasi. Mama sudah ada disana, dia menangis dan menjerit memanggil nama anaknya. Aku keluar dari mobil dan segera menghampiri Mama yang memelukku erat.
Kata polisi, mereka tidak bisa menemukan dimana Mas Indra. Namun dengan kondisi mobil yang rusak parah serta posisi dan pintu kemudi terbuka, polisi berasumsi bahwa tubuh Mas Indra jatuh ke dalam jurang.
Aku tidak terima dengan apa yang polisi itu katakan. Tidak mungkin Mas Indra jatuh ke dalam sana!
Karena lokasi, kondisi serta keadaan yang telah gelap karena malam hari, tidak memungkinkan untuk melanjutkan pencarian. Akhirnya pencarian dihentikan dan akan dilanjutkan besok pagi.
Aku menjerit dan berteriak pada polisi yang tidak melanjutkan pencarian suamiku. Aku berusaha melepaskan diri dari pelukan Mama dan orang sekitar yang mencegahku menuju ujung jurang itu. Aku menangis sejadinya memanggil nama Mas Indra.
Baru saja aku akan memberitahunya kabar gembira, tapi apa? dia malah melakukan ini padaku? Kenapa? Kenapa ini semua terjadi sekarang? Kenapa?!
Terakhir yang kutahu, kepalaku sangat berat dan dadaku sesak. Airmata ini seakan telah kering, suaraku juga sepertinya sudah habis.
Saat membuka mata, aku sudah ada di kamar, Mama, Ibu, Kak Vera dan beberapa temanku sudah ada disana. Kulihat mereka semua menangis tapi tak ada satupun yang bicara kenapa. Mereka hanya memintaku untuk bersabar dan ikhlas dengan semua yang terjadi.
Apa?! bagaimana aku bisa sabar dengan keadaan seperti ini? Tidak mungkin aku diam saja jika belum bertemu dengan Mas Indra.
Saat akan beranjak dari kasur, kurasakan nyeri dan sakit di perut yang tak tertahankan. Aku meremas perutku dan terus berteriak memanggil suamiku.
Ibu dan Mama memintaku untuk istirahat dulu, aku berontak tapi perutku juga sangat sakit.
Setelah 3 hari pencarian di sekitar jurang, polisi belum juga menemukan Mas Indra. Saat ini kasus kecelakaan Mas Indra diduga bahwa rem mobil blong dan Mas Indra tidak bisa mengendalikan kemudinya sehingga terjadilah kecelakaan itu. Namun aku tidak begitu saja percaya dengan asusmsi konyol itu. Mana mungkin ada kerusakan pada mobil suamiku? Dia sangat memperhatikan mobil kesayangannya dan selalu rutin melakukan servis dan pengecekan.
Selama itu aku juga turut terjun mencari suamiku, aku ingin memberi kabar bahagia untuknya, dia harus segera kembali ke rumah.
"Mas, aku hamil, ini buah cinta kita. Kembalilah, Mas, kamu akan menjadi seorang Ayah yang sesungguhnya, kita akan menjadi orangtua yang baik untuk anak kita!" jeritku dalam hati sambil terus menyusuri jurang yang sepertinya tak bertepi.
Aku kembali merasakan nyeri di perut yang tak tertahankan. Aku diminta untuk tidak melanjutkan pencarian itu. Perutku masih sangat sakit dan kali ini semakin nyeri.
Mama membawaku pulang, sampai rumah aku baru menyadari celanaku seperti terkena darah. Aku buru-buru ke kamar mandi dan merasa heran kenapa aku mengeluarkan darah seperti sedang haid? bukankah terakhir kali aku yes hasilnya positif? Aku juga tidak hanya memakai satu alat tes, aku telah 3 bahkan 4 kali melakukan tes di hari itu yang hasilnya tetap sama, garis dua. Lalu kenapa ada darah seperti ini?
Ibu dan Mama memeluk dan terus menenangkanku yang menangis dan berteriak histeris apalagi polisi mengabari bahwa mereka telah memutuskan untuk menghentikan pencarian Mas Indra, sebab sudah hampir satu minggu mereka tidak menemukan apa-apa.
Selain itu ada laporan baru bahwa Mas Indra terlibat sebagai otak dalam 'money laundering' atau pencucian uang yang sedang diselidiki oleh polisi. Selain bersatus sebagai orang hilang karena kecelakaan, Mas saat ini juga menjadi buronan polisi terkait pencucian uang yang dituduhkan.
Aku semakin tidak karuan. Sebenarnya ada apa ini? kenapa musibah datang bertubi-tubi menghampiri? Aku terus menangisi semuanya. Tak seharipun aku lewatkan untuk tidak mengeluarkan airmata.
Mungkin airmataku juga hampir habis.
_____________________
Tiga tahun berlalu begitu cepatnya, kabar tentang keberadaan Mas Indra juga tidak kunjung aku terima. Kantor Mas Indra sudah disita oleh polisi terkait masalah pencucian uang. Rumah juga hampir disita, namun karena ini adalah atas namaku, jadi mereka tidak bisa berbuat apa-apa.
Dalam hati kadang bertanya, apakah ini alasannya kenapa Mas Indra ngotot membeli rumah ini dan beberapa aset yang kami miliki ditulis atas namaku? Benarkah Mas Indra bersalah dan kabur karena tidak ingin ditangkap polisi?
"Kenapa kamu lakuin ini ke aku, Mas?" Lirihku dalam hati.
Selama tiga tahun ini, aku kerap mendatangi lokasi dimana mobil Mas Indra ditemukan, aku berharap suamiku itu akan muncul dari situ dan menemuiku lalu kami bisa hidup bersama lagi seperti sebelumnya.
Aku sudah seperti orang gila yang menunggu sesuatu tanpa kepastian. Aku sering menangis di pinggir tikungan yang mengarah ke ujung jurang. Berteriak, menjerit dan terus memanggil nama suamiku itu. Orang-orang yang lewat dan melihatku pasti mengira Aku sudah gila. Belum lagi tuduhan yang mengatakan jika selama ini kami memakan uang haram dari hasil penipuan yang Mas Indra lakukan.
Aku benar-benar sudah gila. Di rumah, aku menganggap Mas Indra tetap ada. Setiap pagi, aku selalu membuatkan kopi dan menyiapkan sarapannya. Aku akan berbicara sendiri seolah Mas Indra ada di depanku, aku duduk di kursi dan meminum kopi bersamanya. Tidak, maksudku, dengan bayangan khayalanku tentangnya.
Tidak ada satu bendapun yang kupindahkan dari asalnya semula. Aku tidak ingin jika Mas Indra kembali nanti, ada sesuatu yang berubah, aku tidak mau itu. Ibu memang berulang kali memintaku tinggal bersamanya, tapi selalu kutolak. Bagaimana jika Mas Indra pulang dan mengetahui aku belum memasak untuknya? bagaimana kalau dia kelaparan dan hanya ingin menyantap masakanku?
Oleh sebab itu, selama tiga tahun ini aku hidup dalam kesunyian tanpa orang yang sangat kucintai. Terkadang aku akan tertawa jika teringat kekonyolan dan 'joke' tidak lucu yang Mas Indra lontarkan saat menggodaku.
Sesaat kemudian aku akan menangis mengingat semua yang telah terjadi. Rasa sakit ini, perpisahan tanpa ucapan selamat tinggal?
Tidak! tidak mungkin! Mas Indra pasti masih hidup di luar sana, dia pasti akan kembali meski aku tidak tahu kapan waktnya itu.
Aku teringat Mama pernah bercerita bahwa sebelum Papa meninggal, ada masalah keluarga yang memang tidak dibicarakan kepadaku. Ternyata Mama adalah istri kedua Papa. Papa memutuskan menikahi Mama karena istri pertama Papa tidak kunjung hamil setelah 10 tahun menikah. Mas Indra menjadi satu-satunya anak lelaki dalam keluarga yang akan mewaris seluruh harta peninggalan Papa dan menjadi penerus perusahaan yang telah Papa bangun dari nol.
Hubungan Mama Grace dan Mami Meghan, istri pertama Papa selalu baik-baik saja, bahkan Mas Indra dianggap anak sendiri. Oleh sebab itu, Mas Indra pernah bercerita bahwa sebenarnya dia mempunyai dua Mama. Kakak laki-laki yang dia ceritakan juga sebenarnya adalah saudara sepupu dari pihak Papanya. Meski hidup seatap dengan sang madu, semuanya berjalan tanpa masalah karena pernikah Mama dan Papa malah ide dari sang istri pertama karena menyadari dirinya tidak bisa memberikan keturunan yang akan meneruskan perusahaan Papa.
Namun kebahagiaan keluarga itu mulai sirna ketika Papa terpesona oleh wanita baru yang akhirnya dinikahi Papa tanpa ijin dari kedua istrinya.
Wanita itu telah mempunyai seorang putra dari pernikahan sebelumnya.
Beberapa bulan kemudian Mami Meghan akhirnya meninggal diduga karena bunuh diri. Namun Mama tidak percaya begitu saja, Mama mencurigai, Katrina, istri ketiga Papa telah meracuni istri pertama Papa.
Namun sebaliknya, Mama malah dituduh sebagai tersangka yang meracuni Mami Meghan sehingga Mama diusir dari rumah dan tidak diperbolehkan bertemu dengan Mas Indra lagi yang saat itu masih berusia 10 tahun.
Mas Indra yang sangat merindukan Mama dan diperlakukan tidak baik oleh Ibu tirinya akhirnya kabur dari rumah setelah lulus kuliah dan mencari Mamanya ke Indonesia. Saat Mas Indra terluka di malam yang dingin dan sepi itu, sebenarnya yang datang ke Rumah Sakit adalah Katrina, istri ketiga atau Ibu tiri Mas Indra.
Mama Grace tidak tahu jika Mas Indra selama ini mencarinya, yang ia tahu dari Katrina, Mas Indra bersekolah di luar negeri.
Mas Indra sangat membenci Papanya yang telah membiarkan semua ini terjadi akibat ulahnya. Mas Indra juga menyalahkan sang Papa karena telah memisahkan dirinya dan mengusir Mama. Karena itu, Mas Indra tumbuh menjadi pemuda yang temperamen, kasar serta menentang pada orangtua.
Karena tidak terbukti bersalah dan Papa mulai sakit-sakitan, akhirnya Mama kembali ke rumah itu karena memang antara Papa dan Mama tidak pernah ada perceraian.
Katrina tidak mempunyai anak dengan Papa, dia hanya punya anak dari pernikahan sebelumnya.
Mengetahui Papa akan mewariskan seluruh hartanya pada Mas Indra, Katrina tidak terima dan mengancam akan mencelakai Mama maupun Papa sendiri dan juga Mas Indra. Sebelum meninggal, sebenarnya Papa telah mengguat cerai Katrina, namun wanita itu tidak mau diceraikan.
Saat akhirnya Papa tiada dan seluruh harta warisan dilimpahkan atas nama Mas Indra, Katrina tidak terima dan mengusir Mama dari rumah. Oleh sebab itu, Mama akhirnya pulang ke Indonesia bersama dengan Mas Indra selepas kepergian Papa. Dari situ Mama khawatir dan mencurigai Katrina dan anaknyalah yang telah menjebak dan memfitnah Mas Indra.
Mama dan Mas Indra sebenarnya tidak masalah soal harta, namun jajaran pengacara tetap meminta Mas Indra menggantikan Papanya karena telah tertulis di dalam surat wasiat. Selain itu, ada rasa tidak terima jika harta Papa harus jatuh ke tangan orang yang salah.
Sepulang dari kota asalnya, Mas Indra memang berusaha mendapatkan kembali haknya hingga kejadian kecelakaan itu terjadi. Mama sendiri menduga Katrina dan anaknya adalah dalang dari semua ini.
__________________
"Sasa, Dear, it's more than three years we can't even find where Indra is. Don't you wanna let this go, forget him and start a new life without him haunting you this whole time? (Sasa, Sayang, udah lebih dari tiga tahun dan kita bahkan tidak tahu dimana Indra berada. Tidakkah kamu ingin melepaskan ini semua, melupakannya dan memulai hidup baru tanpa harus dibayangi hadirnya selama ini)?" ucap Mama Grace saat suatu sore aku main ke rumahnya.
__ADS_1
"What do you mean, Ma? (Apa maksudmu, Ma)? aku masih istri sah Mas Indra, bagaimana bisa aku melupakan dia? Selama kita belum menukan jasad Mas Indra, selama itu pula Sasa yakin Mas Indra masih hidup, Ma ..." jawabku mantap yang langsung mendapatkan pelukan dan kecupan di kepala oleh Mama Grace.
"Thankyou darling, Indra is so lucky to have a wife like you, (Terimakasih, Sayang, Indra sangat beruntung punya istri sepertimu)."
Aku kemudian pamit pulang saat Hari semakin sore. Tentu saja aku tidak langsung pulang. Seperti biasa, aku mampir ke tempat dimana mobil Mas Indra ditemukan. Disanalah aku meluapkan segala kerinduan, penyesalan, kekecewaan dan juga kemarahan pada Mas Indra yang tak kunjung kembali juga!
"Why you did this to me, Hun?! Why?! (Kenapa kamu lakuin ini semua ke aku, Sayang?! Kenapa?!)" teriakku di jalanan sepi ini.
Aku yakin Mas Indra masih hidup. Sebagai seorang istri, feelingku kuat dan aku bisa merasakan jika Mas Indra masih akan kembali. Pada hari anniversary pernikahan kami, aku mendapat panggilan telepon dari nomor asing yang tidak kukenali.
Tidak ada suara disana, aku hanya mendengar desiran ombak. Tidak lama, panggilan telepon itu mati dari seberang sana setelah aku mengucapkan kata 'Halo' dan 'kambing' sebagai ungkapan rasa kesalku.
Setelah aku selidiki, ternyata itu adalah nomor ponsel dengan kode negara Australia. Aku kemudian menghubungi Kak Sovie dan Kak John untuk membantuku melacak nomor itu, tapi hasilnya nihil. Kata Kak John, itu memang nomor ponsel Australia namun setelah dilacak, bisa jadi penelpon hanya orang iseng atau salah nomor. Meskipun aku mencurigai itu adalah Mas Indra yang sedang mencoba menghubungiku, tapi disisi lain, mana mungkin Kak Sovie dan Kak John tidak jujur padaku. Mereka tidak punya alasan kuat untuk membohongiku.
Lea sudah besar sekarang, aku beberapa kali mengunjungi monster kecil itu. Namun setiap kali melihatnya, aku tidak bisa menahan tangis karena Lea selalu mengingatkan hari-hari yang aku lalui bersama Mas Indra dan itu sangat menyakitkan. Kenapa Mas Indra begitu tega melakukan ini padaku?
Aku kehilangan Mas Indra dan calon anak kami secara bersamaan. Aku bahkan sempat berpikir untuk bunuh diri atau mati saja!
Jika memang Mas Indra selamat dan masih hidup, kenapa dia tidak kembali padaku?
Tiga tahun bukan waktu yang singkat untukku melalui semua hari yang sungguh berat ini.
Bila Mas Indra tidak selamat, dimana jasadnya? aku ingin menyusul Ayah, calon anak kami dan juga Mas Indra saja daripada harus hidup dalam keadaan tersiksa batin seperti ini. Aku terluka, sangat parah, terlalu parah, bahkan sampai aku sudah tidak bisa merasakan betapa sakitnya lagi karena telah menggerogoti hingga ke tulang.
Aku menangis sejadinya di dalam mobil sambil mendengarkan lagu dari "Chord Overstreet" yang berjudul Hold On.
🎶🎶Loving and fighting
Accusing, denying
I can't imagine a world with you gone
I'd be so lost if you left me alone
Can you hear me screaming "Please don't leave me"
Hold on, I still want you
Come back, I still need you
Let me take your hand, I'll make it right
I swear to love you all my life
Hold on, I still need you
I don't wanna let go
I know I'm not that strong
I just wanna hear you
Saying baby, let's go home
Let's go home
Yeah, I just wanna take you home
Hold on, I still want you
Come back, I still need you🎶🎶
"Mas Indra, dan Cinta itu Kamu! akan selalu kucari senyummu disetiap malam-malam sepiku." ~ Sasa.
(TAMAT)
______________________________
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
*Extra :
Di suatu tempat di Australia.
"Kamu yakin masih belum mau mengatakan yang sebenarnya?"
"Jangan dulu, Kak, dia bukan wanita biasa, jika tahu aku disini, pasti dia akan menyusul dan itu malah akan membahayaan dirinya sendiri."
"Dia semakin kurus dan seperti tidak punya gairah hidup lagi, tapi bertahan menunggu kamu kembali."
"Siapa saja yang sudah tahu tentang keadaan aku, Kak?"
"Hanya Mama kamu. Dia juga sedih melihat menantunya hidup dalam kesedihan dan kesendirian."
"Aku melakukan ini untuk keselamatannya, Kak, aku tidak ingin sesuatu terjadi padanya."
"Kamu menyiksa dia dengan cara seperti ini."
***
"Maafkan aku, Hun, aku harus melakukan ini. I love you, Sa."
END.
*Originally written by* ***Aandzee \>,•
Thankyou for reading! I hope you enjoyed this story and pick up some of the lesson learned after reading all the 35 chapters.
This was my first ever story which I managed to finish writing until the END.
Alhamdulillah.
Sorry for any typo and inappropriate words used by me. This story was inspired by \#realstory but most of the event happened is coming from my crazy, weird and wild fiction imagination. ❤️***
__ADS_1