Monster Kecil

Monster Kecil
Bawa ke Polisi


__ADS_3

Dua bulan berlalu setelah kepulangan Mas Indra dari Bali. Nenek Lea juga sudah kembali lagi ke kota ini sejak dua bulan yang lalu.


Awalnya Mas Indra memang mau membawa Lea tinggal bersama kami saja, tapi Mbak Dewi tidak mengijinkan.


Hak asuk memang jatuh ke tangan Mbak Dewi saat mereka berdua berpisah, jadi kami tidak bisa menahan Lea begitu saja. Apalagi usia Lea yang masih anak-anak dan masih butuh seorang ibu, membuat kami sepakat untuk berbagi hari.


Jadi dalam satu minggu, Lea akan menginap di dua rumah berbeda. Minggu malam Lea akan pulang ke rumah Mbak Dewi hingga Rabu malam aku menjemputnya. Jadi Lea akan bersamaku dan Mas Indra pada Kamis, Jum'at, Sabtu dan Minggu. Malamnya, aku akan mengantarkan Lea pulang lagi ke rumah Mamanya.


Pembagian hari seperti ini adalah ideku, aku ingin hari Jum'at saat Lea menerima PR nya, dia akan mengerjakan di rumahku bersama Mas Indra dan aku juga.


Lea, Mbak Dewi dan Neneknya tinggal di sebuah rumah yang di sewa oleh Mas Indra. Selama ini, biaya air, listrik dan pembayaran lainnya adalah tanggung jawab Mas Indra. Tapi bulan lalu Mas Indra memang tidak membayar apa-apa dan uang yang biasa Mas Indra berikan setiap dua minggu sekali juga tidak di kirimkan yang membuat Mbak Dewi menangis di depanku.


Tapi walau bagaimanapun, sebagai sesama wanita, aku tetap tidak tega, jadi aku meminta Mas Indra untuk kembali memberikan uang mingguan itu meski tidak sama nominalnya seperti sebelumnya karena kini dalam satu minggu, ada hari-hari dimana Lea juga akan tinggal di rumahku.


Hari Minggu ini kami mengajak Lea jalan-jalan bersama Maya juga.


Lea dan Maya sudah lama tidak bertemu, mereka juga pasti saling merindu.


Kami menjemput Maya dan pergi ke area bermain anak-anak.


Di salah satu mal dekat rumah kami, telah di buka sebuah tempat bermain 'indoor' (dalam ruangan) yang cukup luas. Anak-anak bisa bebas bermain sepuasnya namun harus ada orang tua atau orang yang menjaga mereka.


Karena aku dan Mas Indra juga tidak ada rencana lain, maka kami ikut bermain bersama Maya dan Lea.


Setelah puas bermain dan menyantap makan malam kami, ternyata Mas Indra ada pertemuan mendadak dengan beberapa rekan kerjanya. Jadi sekarang hanya ada kami bertiga.


Aku mengantarkan Maya terlebih dahulu ke rumah Ibu. Kak Rey dan Kak Vera juga sedang berada di rumah Ibu soalnya.


Tidak seperti sebelumnya, aku memang jarang bahkan tidak pernah membawa Lea ke rumah Ibu karena monster kecil itu dahulu adalah anak yang sangat nakal dan tidak bisa diatur.


Namun sekarang Lea sudah benar-benar berubah.


Kini saat mendengar kata 'salim', Lea dengan cepat akan mengulurkan tangannya dan salim kepada mereka yang lebih tua, entah itu Ibuku, Kak Vera, Kak Rey, dan juga Dafa, adik bungsuku.


Terkadang juga ada tante ku atau sepupu-sepupuku yang sedang berada di rumah Ibu.


Kurang lebih selama tiga bulan ini tinggal bersama aku dan Mas Indra, sekarang Lea telah berubah menjadi anak yang cantik, baik dan tentu saja selalu membuat kangen saat dia sedang berada di rumah Mamanya.


Miss Rahel juga bilang padaku dan Mas Indra saat kami mengambil rapot semester Lea, bahwa di bandingkan dengan semester sebelumnya, saat ini Lea sudah benar-benar berubah dan lebih ceria. Lea lebih fokus dalam belajar dan apapun yang di lakukan Lea saat ini sangat berbanding terbalik ke arah yang lebih baik, tidak seperti sebelumnya. Anak itu juga pelan-pelan sudah dapat membaca dan menulis lebih rapi lagi.


Mas Indra berulang kali memuji dan berterimakasih kepadaku karena berhasil membuat Lea lebih baik lagi dan berubah ke arah yang jauh berbeda dari sebelumnya. Namun aku juga selalu memuji Mas Indra karena berkat dorongan dan bantuannya jugalah kami berdua dapat berhasil membuat Lea berubah seperti sekarang ini.


Kami menyebutnya sebagai kerja sama satu tim dan keberhasilan bersama, bukan hanya aku saja, tapi kami berdua.


"Udah telat belum, Sa, bulan ini?" tanya Tanteku dengan senyum penuh kasih sayang.


"Belum nih, tante," jawabku agak malu.


"Yaudah nggak apa-apa, tante do'akan semoga bulan ini jadi bulan terakhir kamu haid, yaa sayang ...."


"Aamiin, makasihh banyak tante Lisa." Aku memeluk tanteku itu. Dia sebenarnya adalah adik tiri Ibu. Tapi dia sama sekali tidak pernah menganggap bahwa Ibuku adalah kakak tirinya karena dari kecil, Ibuku lah yang juga turut merawat tante Lisa dan tante serta om ku yang lainnya.


Jadi kehadiran Lea di keluarga kami juga di terima dengan sangat baik tanpa membawa embel-embel seorang anak tiri.


Di keluarga kami juga tidak ada yang berbasa-basi atau bertanya hingga menyakiti hati, seperti misalnya pertanyaan "Kapan punya anak?"


Kami lebih memilih mengganti pertanyaan basa-basi yang menyakiti hati itu dengan sebuah do'a. Karena itu akan jauh lebih di terima.


Pertanyaan-pertanyaan seperti "Kapan punya anak?" "Kapan lulus?" "Kapan nikah?" "Kapan punya rumah sendiri?" " Kapan kerja?" dan pertanyaan "Kapan" lainnya yang dapat menimbulkan sakit hati semestinya harus di hapuskan agar pertemuan maupun perkumpulan keluarga tidak berakhir saling sakit hati, namun saling mendo'akan kebaikan.

__ADS_1


Jam 8 malam aku dan Lea pamit untuk pulang. Setelah ini aku akan mengantarkan Lea ke rumahnya.


Aku mengirim pesan pada Mbak Dewi bahwa aku sedang dalam perjalanan menuju rumahnya.


Kulihat Lea tertidur dengan pulas di kursi penumpang di sebelahku. Anak ini pasti kecapean bermain seharian.


Ku usap rambut dan kepalanya lalu ku cium anak it berulang kali.


"Good night, I love you, my monster (Selamat tidur, Aku sayang kamu, monsterku)."


*ting ....


Mbak Dewi membalas pesanku, dia bilang dia sedang berada di luar kota dan akan kembali 2 hari lagi, tapi dia sudah menelpon Ibunya untuk menungguku dan Lea di depan rumah.


Aku menghela nafas panjang.


Di luar kota? 2 hari lagi baru pulang? ngapain? bukankah seharusnya ini waktu untuk Lea menghabiskan waktu dengan namanya? kenapa malah dia di luar kota?


Dasar aneh.


Sesampainya di depan rumah, ternyata Ibunya Mbak Dewi belum keluar dan menungguku di depan rumah, aku membunyikan klakson dan ku lihat wanita itu keluar dari balik pintu.


"Malam, Nek," sapaku sambil menyunggigkan sebuah senyum padanya saat aku akan membuka pintu mobil untuk Lea dan mengangkat tubuh bocah itu yang tertidur.


Aku tidak tega membangunkannya, jadi aku berniat untuk menggendong Lea sampai di kamarnya.


Meskipun bocah itu cukup berat, aku memang beberapa kali sempat membopong tubuh bocah itu masuk ke kamarnya jika dia ketiduran di sofa saat menginap di rumahku.


Tanpa menjawab apa-apa, kulihat raut wajah Nenek Lea masih tidak suka padaku. Tapi aku diam saja.


"Nek, Lea tidur nih, kasihan kalau di bangunin, aku bantu gendong sampai kamarnya yah?" ucapku mencoba ramah.


"Nggak usah," jawab nenek Lea kasar. Padahal aku hanya tidak ingin Lea terbangun.


"Saya bilang nggak usah! biar sama saya saja sini."


"Udah agak berat dia neck, hehehe." Aku masih berikeras untuk menggendong Lea karena aku juga tidak mau tubuh yang sudah cukup sepuh itu harus menggendong Lea sampai ke dalam rumah.


"Kamu, ya ... saya bilangin kamu ya, kamu itu belum punya anak. Tidak ada pengalaman merawat anak sama sekali. Kamu tidak bisa merawat anak apalagi merawat Lea seperti saya merawat nya karena saya sudah lebih berpengalaman dari kamu. Jadi kamu nih ya, saya ingatkan kamu untuk bilang pada Nak Indra supaya membiarkan Lea disini saja dan tidak usah menginap di rumah kalian. Biarkan Lea disini sama saya dan Mama kandungnya. Bukan kamu! kamu bisa apa memangnya? punya anak saja belum, mau sok-sokan jadi Ibu buat cucuku? apa kamu bisa?" cerocos Nenek Lea dengan mata melolot dan jari telunjuknya di arahkan ke wajahku, wanita yang resmi ku panggil nenek lampir itu terus mengomel dan memintaku untuk bilang pada Mas Indra agar Lea tetap tinggal bersama Mbak Dewi saja dan Mas Indra boleh bertemu Lea di hari minggu, seperti dahulu sejak Lea belum pernah tinggal bersamaku.


"Maaf, Nek, tapi Mbak Dewi, aku dan Mas Indra udah sepakat tentang pembagian hari dimana Lea akan tinggal. Jika Nenek mau ada perubahan atau apapun, silakan bicarakan dengan Mbak Dewi dan Mas Indra."


"Kamu ini ya, bener-bener kamu kurang ajar, tidak tahu diri kamu, saya bilangin ya, kamu akan kena azab tidak akan hamil dan punya anak karena telah memisahkan anak dari Ibunya sendiri. Ingat itu!"


Jujur saja kaki ini terasa ngilu dan gemetar mendengar apa yang diucapkan Neneknya Lea barusan. Aku hampir jatuh saat nenek lampir itu merebut Lea dari gendonganku. Tangan Lea melingkari leherku, saat di tarik dengan paksa, bocah itu terbangun tapi langsung di tarik dan di bawa masuk oleh Neneknya yang menyebalkan itu.


Airmata ku jatuh bercucuran, aku tidak menyangka, siang ini aku masih tertawa dan tersenyum lebar saat bermain bersama anak-anak dengan ceria, bahkan baru saja, aku baru saja dari rumah Ibu dan Tante Lisa mendoakanku dengan tulus. Lalu sekarang? disini harga diriku seperti di injak-injak tanpa ampun. Aku merasa seperti jutaan pedang menusuk relung hatiku dan mengirisnya perlahan.


Sakit, ngilu dan perih sekali.


Aku masuk mobil dan langsung menuju arah pulang. Di sepanjang jalan aku tidak berhenti menangis. Kata-kata nenek lampir itu semakin keras dan kencang terdengar dari arah kiri, kanan, depan, belakang, atas dan juga bawah. Aku seperti di kepung oleh ribuan suara menyakitkan itu.


*pom ... pommmm!!


"Heh! mau mati lu? nyetir yang bener! kalau gak bisa nyetir, ngesot aja! keluar lu betina!" terdengar suara dari seorang pria yang keluar dari mobil yang ada di depanku.


Tidak mau kalah, aku pun keluar dari mobil dan berteriak ke arahnya.


"Apa lu kambing!! (*aku memang mengganti nama hewan yang sama-sama berkaki empat menjadi kata umpatan dan sebutan untuk pria tengil itu) lu pikir ini jalan punya nenek moyang lu?!"

__ADS_1


"Lihat, ini lu nyerempet mobil sampai baret. Ayo ganti!"


"Enak aja gue yang suruh ganti! lu ini nggak pinter atau gimana sih?! jelas-jelas elu yang ada di belakang gue terus elu nyalip gue dan nuduh gue nyerempet mobil ini? Mabok lu ya?!"


"Yasudah kita bawa ke polisi saja!"


"Siapa takutt??!! ayo bawa ke polisi!!" teriakku masih dengan amarah yang meluap karena kata-kata nenek lampir tadi, sekarang aku berhadapan dengan manusia tengil yang menuduhku membuat mobilnya terbaret.


Mataku melotot dan mengomel tiada henti pada pria itu sambil mendekatinya bersiap untuk melayangkan pukulan jika kena.


Pria itu menggunakan HP nya untuk memotret nomor polisi mobilku. Tidak mau kalah, aku juga melakukan hal yang sama.


Aku maju ke arah mobil itu, ku lihat ada satu penumpang disana, sepertinya dia sudah tidak muda lagi atau bisa kubilang sudah bapak-bapak, asumsiku, si pria tengil ini adalah supir dari mobil sialan itu.


Dengan penuh emosi dan amarah, aku menggedor kaca pintu mobil penumpang dan meminta orang yang di dalam itu keluar namun di cegah oleh pria tengil tadi dan aku terus menyebut beberapa nama hewan seperti kucing, sapi, bebek, ayam hingga cicak.


Sementara itu jalanan menjadi macet karena keributan kami, banyak yang membunyikan klakson meminta kami untuk cepat jalan, beberapa bahkan ada yang mengambil foto dan video keributan yang kami ciptakan.


"Sialan, bisa-bisa masuk akun Instagram 'Bibir Tumpah' nih aku kalau sampai ada yang membagikan video kejadian ini," batinku kesal.


Tanpa berkata apa-apa, pria tengil itu masuk mobil dan pergi menjauh, aku juga melakukan hal yang sama.


Saat di dalam mobil, aku menyadari tadi aku keluar tanpa alas kaki, aku memang lebih suka melepas sandal/sepatu saat menyetir mobil.


"Siap, sial, sialll!!!" aku menggebrak kemudiku.


Pikiranku benar-benar kacau, aku tidak tahu dari mana aku mendapatkan kekuatan dan keberanian untuk melawan seorang pria tengil yang menuduhku merusak mobilnya itu. Aku seperti bukan diriku, walaupun memang gaya marah dan ngamuk ku tidak jauh berbeda.


Aku hanya sedikit malu harus ribut dengan orang asing di jalan raya dan di saksikan banyak orang.


Tapi jika aku tidak melawan, bisa-bisa aku yang di tindas dan di paksa mengganti kerusakan padahal itu bukan kesalahanku.


Enak saja, berani ngelawan aku? si Sasa Anisa, hah?!


Mas Indra sudah di rumah sejak tadi, mendengar aku memarkir mobil, dia keluar dan menyambutku di depan pintu.


Mas Indra langsung memelukku dan mengajak aku masuk ke dalam kamar tanpa berkata apa-apa.


Ya, saat ini aku memang tidak ingin bicara apapun.


Aku hanya menangis di pelukan Mas Indra. Tangisan sakit hati yang tidak bisa ku ungkapkan saat ini juga.


"Kamu mau aku buatin sesuatu, Hun? coklat panas mau?" tanya mas Indra sambil tetap memelukku.


Aku hanya menggelengkan kepala tanpa tidak mau.


"Yaudah, langsung tidur aja yuk, Sayang?"


Meskipun sebenarnya Mas Indra tidak tahu apa yang baru saja aku alami, tapi dari raut wajahku saja pasti Mas Indra sudah dapat memahami bahwa aku mengalami hari yang cukup berat.


Tiba-tiba entah kenapa aku langsung berdiri, sambil terus menangis aku bilang pada Mas Indra untuk membuatku hamil dan punya anak sendiri.


"Mas, kenapa aku belum hamil Mas? ayo Mas buat aku hamil, Mas, anak aku sendiri, anak kita Mas! bukan anak orang lain, huhuhu. Aku nggak akan cari-cari alasan setiap kali kamu mau 'itu' Mas, kapanpun, kapan saja kamu ingin mas ... ayo lakukan itu sekarang ... huhuhu."


"Kamu kenapa, Hun? Sasa, sadar, Sayang, ini bukan diri kamu. Bangun, Sa!"


"Mas, buat aku hamil Mas!! kasih aku anak Mas! please. .. huhuhu."


Mas Indra tidak berkata apa-apa, dia hanya terus memelukku dengan erat.

__ADS_1


Lelah menangis dan berteriak, aku merasa air mataku hampir habis dan suaraku hilang.


Terakhir yang kuingat, semuanya gelap. Aku tidak melihat Mas Indra lagi.


__ADS_2