Monster Kecil

Monster Kecil
Baju Lea


__ADS_3

"Mas, tahu nggak tadi aku bicara sama Miss Rahel, gurunya si Lea," aku mengawali 'pillow talk' kami.


"*Ohya? Bicara tentang apa, Hun?"


"Tentang Lea donk, Mas ... masa tentang rumah tangga kita ... hahahaha*." Aku tak bisa menahan tawaku, sebenarnya memang tidak ada yang lucu, tapi entah kenapa, suamiku adalah orang yang sangat lucu dalam dalam segala hal. Itu menurutku.


"*Iyaa ... iyaa, itu maksudku, Sasa miciinn ... cubit niihh ...."


"Kamu sukanya cubit-cubit ... kan sakit, peluk ajjaa, Hun, xixixi."


"Yaudah sini peluk sini ...."


"Mas, emang Lea udah nggak ada guru les nya yah?"


"Iya, waktu itu Dewi bilang guru les nya Lea nggak bisa ngajarin Lea dengan bener, makanya berhenti les."


"Ooh gitu ...."


"Ada apa, Hun?"


"Itu Mas ... emm ... maaf yah ... aku gak enak mau ngomongnya ...."


"Nggak enak kenapa Sayang? kamu maunya dienakin?"


"Haiisshhh ... apa dahh, Mas, lagi ngomong serius jugaa ... aku gigit nihh ...."


"Kamu juga suka gigit-gigit kayak tikus ... atau kayak drakula, itu gigi kamu tu, udah siap mau gigit ...."


"Gigit benaran ini loh yah*!" ancamku setengah bercanda.


"Yaudah, iya, tinggal ngomong aja, Hun ...."


"Miss Rahel bilang sama aku kalau Lea paling lambat di kelasnya, Mas, temen-temen satu kelas Lea itu udah pada bisa baca tulis ala anak seusianya lah yaa .... Nah, Miss Rahel nyaranin buat ikutin Lea les di sekolah atau les di rumah biar bisa mengejar apa yang tertinggal ...."


"Iya, waktu itu emang ada guru les, Dewi bilang lagi cari lagi belum dapat guru barunya."


"Lea juga belum balikin buku dari dua minggu lalu loh, Mas, aku ditanyain melulu padahal aku kan nggak tahu apa-apa soal buku itu.


Kata Miss Rahel, semua temennya ada buku itu di sekolah, cuma Lea aja yang belum balikin."


"Coba kamu tanya Dewi, Hun."


"Aku nggak enak, Mas, mau tanya ...."


"Yaudah besok aku yang nanyain deh yah."


Sesi 'pillow talk' kami masih berlanjut membahas tentang Lea, tentang sekolah, dan berbagai hal tentang Lea selama beberapa hari dia tinggal disini. Mas Indra berulang kali minta maaf padaku dan memintaku untuk lebih bersabar dengan Lea, dan dengan keadaan saat ini sambil menunggu Nenek Lea kembali lagi dari kota asalnya.


___________


• Hari ke 7


Seperti biasa, Mas Indra menikmati kopinya dan aku menguncir rambut Lea. Sambil memakaikan kaos kaki dan sepatunya, aku iseng bertanya pada bocah itu.


"Lea nggak ngerjain PR yah minggu lalu?"


"Aku ngerjain," jawab Lea lirih.


"Yang bener?"


"Nggak bener ... hehehe." Monster itu nyengir sambil menunjukkan barisan gigi atasnya yang gupis bahkan terlihat semua giginya hilang dan ompong karena terlalu banyak makan permen.


"*Kenapa nggak ngerjain?"


"Aku capek ...."


"Capek ngapain?"


"Aku main."


"Haisshh ... main mulu ... Jum'at ini kalau ada PR lagi, kerjain sama aku dulu disini yah? kalau nggak mau ngerjain PR sendiri, nanti Miss Rahel marah loh ... kamu mau Miss Rahel marah?"


"Nggak mau ...."


"Yaudah kalau gitu harus di kerjain sendiri, okay?"


"Okay."


"Terus siapa yang ngerjain PR Lea kemarin?"


"Mama aku."


"Masa?"


"Iya beneran soalnya aku capek."


"Minggu ini di kerjain sama aku dan Papa aja yah ... biar Papa Indra yang ajarin Lea, Okay?"

__ADS_1


"Okay*."


Ternyata memang benar Mbak Dewi yang mengerjakan PR Lea. Pantas saja Miss Rahel bilang untuk membiarkan Lea mengerjakan PR nya sendiri.


"*Apakah hanya minggu lalu Lea tidak mengerjakan PR ataukah setiap minggunya?"


"Apa Mbak Dewi tahu kalau Lea adalah murid paling lambat di kelas*?"


Berbagai pertanyaan muncul di benakku tentang bagaimana kepedulian Mbak Dewi tentang sekolah Lea. Bahkan Miss Rahel malah bicara padaku mengenai masalah Lea.


Haiisshh ... apa peduliku sih?? Lea kan cuma di titipin sebentar disini, kalau Neneknya sudah datang, aku juga tidak perlu lagi repot-repot menjemputnya ke sekolah maupun pusing mikirin mau masak apa buat monster satu itu. Lagipula, dengan adanya bocah itu di rumahku, semuanya jadi berubah. Aku makin capek mengerjakan banyak hal.


"Udah siap? ayo berangkat ..." ajak Mas Indra yang sekaligus membuyarkan pikiran yang sedang berkecamuk dalam otakku.


"Let's go!" jawab Lea ceria.


"Lea nanti jangan lupa salim sama Papa sebelum turun dari mobil, okay?" aku mengingatkan bocah itu saat kami dalam perjalanan.


"Okay," jawabnya pelan.


____________


Setelah Lea masuk sekolah, aku meminta Mas Indra mengantarkanku ke pasar terdekat untuk berbelanja sayuran karna persediaan bahan makanan kami sudah hampir habis dan aku belum sempat belanja lagi. Aku juga sudah membawa uang karena memang dari pagi aku berencana untuk mampir ke pasar dan belanja.


Sesampainya di pasar, aku membeli apa yang aku butuhkan, dari buah-buahan, sayur mayur, tempe tahu, daging, seafood dan lainnya. Aku memang suka belanja di pasar karena selain suasana pasar yang unik, aku juga kadang jahil menawar barang yang ingin kubeli, meski pada akhirnya aku tetap membayar dengan harga yang telah di tetapkan. Untuk bahan makanan atau barang lain yang tidak bisa ku dapatkan di pasar seperti 'double cream', 'mozarella cheese', dan lainnya, biasanya aku membeli di supermarket bersama Mas Indra. Aku juga sudah menjadi pelanggan banyak kios di pasar ini, jadi untuk beli sayuran maupun buah-buahan yang 'fresh' atau segar, aku langsung menuju kios langgananku.


Dipasar ini juga banyak yang berjualan aneka kue seperti kue pukis, kue lapis, donat, dan berbagai jajanan pasar lainnya.


Aku membeli dua bungkus kue pukis rasa coklat dan keju untuk Lea. Kali aja anak itu mau, jadi pulang sekolah biar makan kue dulu.


Setelah selesai berbelanja kebutuhan dapur, aku bergegas pulang. Tapi sebelum itu aku melewati toko baju, aku teringat kemarin pagi Mbak Dewi tidak membawakan baju ganti lain buat si monster. Aku masuk ke toko dan menanyakan baju untuk anak TK. Pegawai toko memperlihatkan berbagai baju anak-anak yang mungkin mau aku beli. Karena Mbak Dewi hanya membawakan 5 pasang baju saja, akhirnya aku membeli 4 setel piyama anak. Dua untuk Lea dan dua lagi untuk Maya jika ponakanku kapan-kapan menginap di rumah.


"Biar tidak pada rebutan," pikirku.


Baju tidur bergambar Hello Kitty dan kartun LOL ku pilih untuk mereka berdua. Aku juga membeli beberapa celana pendek rumahan dan pakaian dalam baru untuk Lea. Biarlah, pokoknya selama di rumahku, aku tidak mau anak itu kehabisan baju maupun pakaian dalam.


Karena Mas Indra harus segera ke kantor, dia tidak menungguku belanja. Jadi aku memesan taksi online dan segera pulang.


Semua bahan makanan yang akan aku masak siang ini sudah kusiapkan, aku pergi mandi dan bersiap untuk menjemput monster kecil itu ke sekolahnya.


Semua hal benar-benar sudah berubah.


Sebelumnya, di jam seperti ini aku sedang menikmati masa santaiku sambil menunggu Mas Indra pulang dari kantor dan makan siang bersama.


Tapi kali ini, aku mesti pergi menjemput anak itu.


____________


Ahh ... bosan sekali menunggu di mobil. Kuputuskan untuk duduk di ruang tunggu wali murid.


Banyak para Ibu-ibu dan juga para suster pengasuh anak-anak yang sedang menunggu sekolah bubar. Aku merasa sangat asing berada diantara kerumunan banyak orang itu.


Kulihat ada satu bangku kosong, aku kemudian duduk disitu. Disebelahku, ada seorang wanita yang juga sedang menunggu anaknya.


Aku tersenyum dan menganggukkan kepalaku sebagai ucapan "Hai".


Wanita itu membalas senyumanku.


"Jemput siapa, Dek?" tanyanya memulai percakapan.


"Ini jemput Lea, Kak, kelas Apel," jawabku agak malu.


"*Oh Lea, Azalea kan? Anakku, Afif, satu kelas dengan Lea"


"Iya kah, Kak?"


"Iya ... Kamu tantenya Lea yah? Biasanya yang jemput Lea kan Neneknya*." Pertanyaan wanita itu agak sulit aku jawab, haruskah aku jujur, bilang siapa diriku?


"Emm ... aku 'step mom', Kak .... Mami sambung nya Lea, Neneknya lagi pulang ke kotanya, jadi beberapa hari ini, aku yang jemput sekolah ... hehehe." Sumpah, aku deg degan sekali saat mengaku sebagai ibu tiri dari monster kecil itu.


"*Ibu sambung? Kirain tantenya ... aku juga nggak tahu sih yang mana Mamanya Lea, jarang jemput juga. Tiap hari aku lihat sama Neneknya. Kenalin, aku Dewi ...."


"Mungkin Mamanya Lea sibuk, jadi yang jemput Neneknya terus. Aku Anisa, Kak ... biasa dipanggil Sasa. Ohya, Mama Lea juga namanya Dewi ... hehe."


"Wah sama yah ... tapi aku Dewi Mamanya Afif, Sa* ...."


Beberapa saat kemudian anak-anak keluar dari kelas. Lea melihatku dan tampak sangat senang sekali. Dia berlari dan langsung memelukku. Aku mengucapkan "sampai jumpa" pada Kak Dewi dan langsung pulang.


Di mobil, aku memberikan kue pukis pada Lea yang ku beli di pasar tadi. Bocah itu tampak gembira, aku memintanya mengucapkan "Terimakasih" setiap kali seseorang memberinya sesuatu.


Dengan polos, anak itu bilang "Thankyou", lalu melahap kue pukis rasa coklat dan keju.


Di rumah, aku, Mas Indra dan Lea menikmati makan siang kami. Mas Indra pergi lagi ke kantor karena masih ada yang harus di selesaikan.


Kulihat, Lea sedang bermain di kamar.


"Aman ... aku bisa nyetrika baju sekarang," batinku.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, aku mendengar suara barang pecah dari kamar Lea.


"Tompraaanngggggg!"


"What happened here?! (Apa yang terjadi disini)?!" tanyaku penasaran.


Di lantai kamar, berserakan pecahan lampu meja yang memang kami taruh sebagai lampu redup saat Lea tidur, agar jika dia terbangun tengah malam, masih ada penerang di kamarnya.


"Aku, aku ... aku tadi main terus itu jatuh," jawab Lea ketakutan sambil menunjuk pecahan lampu yang berserakan di depannya.


"Hati-hati donk mainnya ... ini pecahan lampu kalau sampai kena kamu, bisa berdarah tauu!! Kalau terus pecahin barang dan nggak hati-hati mainnya, udah ahh pulang aja sana!" aku mengomel sambil membereskan lantai yang berantakan.


"Aku nggak mau pulang, aku mau disini aja ... hiks, hikss ..." bocah itu mulai menangis.


Apa? nggak mau pulang? mau disini aja?


Kenapa bocah itu masih tetap mau disini sedangkan aku baru saja marah-marah?


"Jangan nangis kalau nggak mau pulang. Mainnya juga hati-hati yaa ... kalau sampai pecahin barang lagi, aku anterin pulang nih ..." ancamku sambil mengambil kunci mobil.


"Aku mau hati-hati," jawab Lea lirih.


"Yaudah, sana main lagi, hati-hati, okay?"


"Okay."


Aku tidak mendengar suara pecahan barang maupun berisik lagi dari kamar bocah itu selama aku menyetrika baju.


Sejenak aku khawatir jangan-jangan monster itu kabur dari rumah? Tapi mana mungkin? pintunya kan aku kunci? apa jangan-jangan anak itu ....??


Aku segera lari ke kamarnya, kulihat dia sedang duduk di kursi depan meja belajar dan mewarnai buku gambarnya.


"Oh ... syukurlah ... kirain tu bocah loncat dari jendela, terus kabur ... ckckckck."


_____________


Setelah makan malam selesai dan Lea bermain dengan ayahnya, sekitar jam 20:30 aku mengajak anak itu gosok gigi dan pergi tidur. Awalnya dia tidak menurut, tapi ayahnya juga membujuk Lea untuk segera tidur karena besok dia harus sekolah.


Dikamar, seperti biasa, Lea memeluk tangan kananku dengan kedua tangannya.


Dengan malas, aku ulurkan tangan kiriku untuk memeluk badan mungilnya. Aku pura-pura tidur agar dia juga segera terlelap.


"*Good night, Lea ... sweet dream."


"Good night*."


Aku merasakan hembusan nafas anak itu, sepertinya dia kecapean, kurang dari 10 menit, dia sudah tidur dengan pulas.


Pelan-pelan ku lepaskan tanganku yang dipeluk Lea. Karena sudah jam 9 malam, aku dan Mas Indra yang sedari tadi menungguku di ruang depan masuk ke kamar untuk tidur.


"Mas, aku mau minta maaf," ku awali 'pillow talk' kami dengan permintaan maaf.


"*Minta maaf buat apa, Hun?"


"Aku tadi marahin Lea, Mas ... aku nggak bermaksud kayak gitu, cuman aku terbawa suasana aja ... maafin aku yah, Mas ...."


"Emang Lea berbuat apa sampai kamu marah?"


"Dia jatuhin lampu meja yang ada di kamar sampai pecah berceceran bohlam nya .. aku takut nanti kena tangan atau kakinya, makanya aku langsung marah ... maaf banget ya, Mas ... aku nggak bisa tahan emosi aku tadi."


"Iya, nggak papa, Sayang ... lain kali tahan emosinya yaa ... kalau marah-marah terus nanti cepet tua lohh ... bilangin aja buat hati-hati mainnya."


"Udah, Mas ...."


"Yaudah kalau gitu, nakal lagi nggak dia setelah itu?"


"Nggak sih ... eh, Mas ... masa Lea bilang dia nggak mau pulang, dia mau disini aja, gitu ... pas aku bilang, 'kalo nakal pulang aja deh' ...."


"Lea bilang begitu?"


"Iya ... ciyus, Mas ...."


"Mungkin dia betah disini."


"Yeee ... emang dari dulu keles, Mas ... nggak Lea nggak Maya, pada betah disini. Padahal aku galak kan, Hun?"


"Iya, kamu galak banget kayak macan!"


"Haisshhh ... apa dahh .... Ohya, selama disini aku juga belum pernah denger Lea nanyain Mamanya atau minta pulang loh, Mas .... Bahkan minggu lalu saat Mbak Dewi mau video call, Lea nggak mau ngomong sama Mamanya. Mukanya malah dia tutup pakai dua tangan dan dia lari pas aku kasih HP ku ke Lea."


"Dia kan emang nggak suka video call, Hun ... kamu tahu aku pun jarang video call dia yaa karena dia nggak pernah mau."


"Ya ... maksud aku, kok beda aja gitu Mas .. kayak aneh deh... Maya aja meskipun betah juga disini tapi masih tetep nanyain Mamanya dan minta telpon."


"Itu artinya Lea nyaman sama kamu, Sayang ... dia seneng tinggal disini*," Mas Indra mengelus-elus rambutku dan berkali-kali menciumi kening dan juga kepalaku hingga kami terlelap.


______________

__ADS_1


'Maafin aku udah marahin kamu, Lea'. Batinku lirih.


______________


__ADS_2