
Menyadari dengan telah mengalami hari-hari dimana tidak mempunyai uang sama sekali, setelah akhirnya pelan-pelan bisnis Mas Indra mulai bangkit lagi dan ekonomi kami semakin membaik, bisa dibilang kini aku lebih perhatian soal uang.
Aku jadi mulai menginvestasikan uangku di 'Reksa Dana', membeli saham kecil-kecilan dan rutin membeli emas atau perhiasan setiap bulan. Aku tidak ingin apa yang pernah terjadi terulang kembali, jadi mulai saat ini aku harus lebih memperhatikan kemana uang itu pergi.
Kami berdua juga mulai mencari rumah tinggal, aku ingin lokasi rumah itu tidak terlalu jauh dari rumah Ibu maupun kantor agar setiap hari Mas Indra bisa pulang untuk makan siang.
Beruntungnya, ada pasangan yang berniat menjual rumahnya tanpa perantara. Mereka berkata akan menggunakan uang itu untuk pensiun mereka di kampung halaman.
Rumah itu memang di bangun untuk kaum muda dengan desain minimalis namun tetap elegant dan modern. Setelah menimbang semuanya, akhirnya kami membeli rumah itu dan pindah dari kontrakan sebelumnya.
"Mas, kita jangan pernah pindah dari rumah ini, yah? berapa kali aja kita udah pindah kan?"
"Iya, zheyenk, aku juga nggak mau pindah-pindah sebenarnya, cuma kan emang keadaan yang memaksa kita akhirnya pindah kesana-kemari."
Mas Indra juga mencicil hutangnya padaku, yang sebenarnya itu adalah uang pinjaman dari Ibu.
Mas Indra juga memberiku hadiah mobil baru meski aku tidak memintanya.
Aku juga kembali kuliah lagi dan mulai mengerjakan skripsi. Dengan ini, aku kerap beralasan pada Mas Indra untuk tidak menjemput Lea di akhir pekan karena aku sedang fokus mengerjakan tugas dari kampus. Aku tidak mau terganggu dengan kehadiran monster kecil itu.
Rencana akad dan resepsi kami juga semakin dekat. Aku dan Mas Indra memang mengerjakan semuanya berdua meski keluarga dan sahabat sudah menyarankan untuk menggunakan jasa WO atau"Wedding Organizer", namun kami melakukan beberapa hal sendiri seperti pemilihan gedung, gaun yang akan kupakai, catering, undangan, souvenir dan lainnya.
Dalam suasana mempersiapkan hari besar kami sekaligus aku yang tengah mengerjakan skripsi, banyak sekali percikan-percikan pertengkaran yang sangat sering terjadi. Entah itu masalah sepele atau hal besar, kami jadi sering sekali bertengkar.
Terlebih Mbak Dewi seperti selalu saja hadir dalam hidup kami, meski alasannya adalah tentang Lea, tapi aku merasa sangat terganggu.
Aku merasa muak dan benci karena seakan-akan Mbak Dewi masih jadi tanggung jawab Mas Indra dan itu tentu saja sangat membuatku kesal.
Parahnya, Mas Indra tidak mau mengakui kekeliruannya, seringkali saat kami sedang ribut atau punya masalah, Mas Indra akan pergi menemui Roni. Padahal dia tau sendiri kalau aku tidak suka pada temannya itu.
Roni adalah salah satu teman lama Mas Indra saat dia baru saja datang ke kota ini beberapa tahun silam.
Roni juga merupakan teman Mbak Dewi, jadi aku semakin kesal saja dengan semua keadaan ini. Pernah suatu hari saat kami bertengkar, Mas Indra pamit pergi bersama Roni hingga tengah malam.
Aku menghubungi Jack dan Ferry untuk mencari keberadaan suamiku itu.
Jack dan Ferry membawa pulang Mas Indra dengan kondisi mabuk yang tentu saja hal itu membuatku murka!
__ADS_1
Ocehan, omelan dan teriakanku membuat Jack dan Ferry merasa merinding tapi mereka masih ingin membela temannya.
"Sabar, Sa, Indra emang payah kalau minum, dia nggak bisa kontrol makanya sampai mabuk begitu," ucap Ferry membela temannya.
"Iye, Sasa, apalagi laki lu kan udeh lama kaga minum lagi, jadi sekalinya coba, mabok lah dia."
Sama seperti Ferry, Jack juga membela Mas Indra. Karena geram, aku meminta keduanya pulang saja dan berterimakasih karena membantu membawa pulang suamiku yang sedang mabuk itu.
Sebelum pulang, Ferry memintaku supaya tidak marah-marah lagi. Dia memintaku untuk tidak terlalu keras pada Mas Indra.
Jack yang juga mengetahui usaha Mas Indra sejak awal mencariku pun bilang jika Mas Indra sangat mencintaiku, jadi Mas Indra akan sangat terluka bila tidak mempercayai ketulusannya.
Di dalam kamar, aku marah besar pada Mas Indra karena dia telah melanggar kesepakatan kami untuk tidak minum alkohol atau datang ke klub malam lagi. Aku merasa kecewa pada suamiku padahal persiapan hari besar kami sudah semakin dekat.
Setengah sadar, Mas Indra mulai meracau, beberapa kali dia minta maaf padaku namun mengungkapkan kekesalannya padaku juga tentang sikapku yang belum dewasa, cemburu tanpa alasan, tidak sepenuhnya percaya padanya dan lain sebagainya.
"Kalau kamu begitu nggak tahannya sama aku, kenapa kita masih bersama, Mas?"
"Sa, Sasa, I love you, Hun, I said I love you! do not ever leave me alone! I needed you more than you can imagine! (Sa, Sasa, Aku mencintai kamu, Sayang, Aku bilang Aku cinta kamu! Jangan pernah tinggalin aku! Aku membutuhkan kamu lebih dari yang bisa kamu bayangkan)!"
"Who said?! I love you with all my heart, don't you see that, Sasa?! you're the one who never understand me, you with your own ego! (Siapa bilang aku manfaatin kamu? Aku cinta kamu dengan segenap hatiku, tidakkah kamu lihat itu, Sasa?! kamu yang nggak pernah mengerti aku, kamu dengan semua ego kamu itu)!"
"Since you're not happy living with me, then no point we're still together! I'm leaving! (Karena kamu nggak bahagia hidup sama aku, jadi apa gunanya kita masih hidup bersama! Aku persi saja)!"
"No, Sasa please, no! never ever leave this room without my permission! you're my wife, listen to your husband! (Nggak, Sasa aku mohon, jangan! Jangan pernah keluar dari kamar ini tanpa ijin dari Aku! kamu itu istri aku, dengerin suami kamu)!"
Aku tidak lagi menggubris perkataan Mas Indra, toh dia juga sedang mabuk dan setengah sadar dengan apa yang dia ucapkan. Lebih baik aku pergi saja dari rumah ini. Kalau memang masih berhubungan dengan Mbak Dewi kenapa harus bersamaku?
Meski Mas Indra juga telah berkali-kali bilang padaku bahwa tidak ada apa-apa dengannya dan mantan istrinya, tapi aku tetap tidak terima, terlebih dia malah pergi dengan Roni bukannya menyelesaikan masalah kami.
Saat akan keluar dari kamar, Mas Indra mengejarku dan menyudutkan ku tembok.
Masih kucium aroma yang tidak kusuka dari mulut dan bajunya.
Tidak hanya minum, dia pasti merokok banyak juga.
"Jangan pergi, Hun, I need you!" seru Mas Indra masih menggenggam tanganku erat.
__ADS_1
Sekuat aku mencoba melepaskan diri, Mas Indra malah semakin menjadi.
Dia membawaku ke ranjang dan memulai aksinya.
Karena kalah tenaga dan aku pun mulai terbawa suasana, pada akhirnya yang kami tahu selanjutnya adalah, kami berdua sebenarnya saling membutuhkan satu sama lain dan tidak ingin kehilangan.
Pada dasarnya manusia memiliki ego nya masing-masing yang tidak ingin dikalahkan, jika saja mereka mau sedikit saja mengalah dan tidak egois, banyak sekali hal yang bisa terselesaikan tanpa keributan dan pertengkaran.
Dalam kondisi saling tenang dan tidak mengedepankan ego lagi, akhirnya kami berdua saling mengakui kesalahan dan akan berubah serta tidak mengulang kesalahan yang sama.
Ku akui, mungkin memang aku belum cukup dewasa dalam menghadapi segala kerumitan rumah tangga atau kehidupan sebagai manusia pada umumnya. Tapi Mas Indra juga tidak kalah menyebalkannya. Hanya karena di kota ini dia telah lama mengenal Roni, bukan berarti semua masalah kami harus diceritakan pada temannya itu.
Di tengah suasana yang menyebalkan ini, kedatangan Lea malah menambah kekesalanku saja. Bukannya mengerti perasaan dan kondisiku, Mas Indra malah memintaku membuatkan makanan untuk Lea dan bermain bersamanya.
Sungguh menyebalkan sekali.
Mungkin kebencinku pada bocah itu tidak berdasar dan aku berlebihan sampai memanggilnya monster kecil segala, tapi sungguh hanya dengan melihatnya saja, 'mood'ku menjadi rusak.
Aku sangat fokus dengan tugas kuliah dan skripsi yang sedang ku kerjakan. Meski disambi dengan memikirkan persiapan hari besar kami, namun akhirnya aku selesai melakukan sidang.
Mas Indra menungguku di luar dengan membawa bunga dan boneka. Persis seperti khayalanku saat masih dengan Randy dahulu.
Sidangku berjalan lancar dan aku telah lulus sekarang. Ibu dan Kak Vera juga datang terasuk teman-temanku yang lain seperti Maria, Fani, Angel dan beberapa yang lainnya.
Mas Indra mengajak kami semua untuk makan di luar, namun Ibu dan Kak Vera tidak bisa ikut serta.
Sekarang aku telah resmi tidak berstatus sebagai mahasiswi lagi.
Aku telah lulus! Setelah selesai kuliah, aku memang akhirnya akan menikah, tapi bukan dengan Randy.
Aku dan Mas Indra kembali fokus pada persiapan resepsi pernikahan kami, dokumen yang dibutuhkan juga telah kami ajukan.
Akhir-akhir ini baru kami ketahui bahwa alasan keterlambatan atau tertundanya beberapa dokumen yang dibutuhkan adalah karena ulah Mbak Dewi. Entah kenapa dia melakukan semua itu.
Mas Indra juga bukan warga asli sini, jadi memang semuanya cukup rumit sejak awal, ditambah karena Mbak Dewi berulah.
Aku tidak tahu kenapa Mbak Dewi senekad itu, padahal dia pernah bilang sendiri bahwa perpisahannya dengan Mas Indra bukanlah salahku, tapi kenapa dia begitu mencampuri hubungan kami?
__ADS_1