
___________
• Hari ke 6
Senin pagi, chat WA dari Mbak Dewi masuk ke HP ku, isinya :
[*Aku udah otw ya, Sa, ini udah mau sampai.]
[Iya, Mbak*.] Balasku singkat.
[Sasa, aku udah di depan rumah.] Notif chat dari Mbak Dewi muncul lagi.
Aku bergegas keluar rumah, tapi sebelum itu tentu saja aku sudah rapi dan membuat diriku tampak cantik. Aku tidak mau bertemu dengan mbak Dewi dalam keadaan masih ileran dan awut-awutan meski saat itu masih kurang dari jam 7 pagi.
Aku membuka pintu perlahan dan mengucapkan "Hallo" pada Lea, si monster kecil itu.
Persis seperti dugaanku, dia tidak ada ekspresi, hanya diam saja dan memandangi sekitar.
"Nggak jelass ..." gumamku.
"Ini PR Lea." Mbak Dewi menyerahkan kertas PR dari sekolah kepadaku karena hari ini, PR harus di kumpulkan lagi di sekolah.
"Mbak Dewi bawa baju rumah tambahan buat Lea?" aku menanyakan baju untuk Lea yang ku pinta Jum'at lalu.
"Nggak ada, Sa, bajunya emang itu-itu aja, emang nggak cukup ya?" Mbak Dewi terlihat tidak suka aku menagih baju, jadi aku segera mengalihkan topik saja.
"*Oh cukup kok, Mbak, kirain hari ini Mbak Dewi bawa lagi. Lea udah sarapan belum?"
"Lea belum sarapan, nanti kasih makan ya*!"
Sialan, Mbak Dewi memerintahku seenaknya. Dia pikir aku siapa? hatiku sudah mulai panas waktu itu, tapi aku tepis. Dalam hati berkata, sabar, Sa ... sabar ... nanti benaran kasih racun aja anaknya atau nggak usah kasih makan sekalian biar tau rasa!
"Ok Mbak," jawabku singkat.
"Lea, ayo masuk, nanti telat kan mau sekolah." Setengah mengusir Mbak Dewi, aku mengajak Lea masuk.
"Yaudah aku pulang." Mbak Dewi berpamitan.
Sebelum itu, aku menyuruh Lea untuk mencium dan memeluk mamanya.
Hah, seriously? peluk cium saja mesti aku ingetin? bukankah harusnya udah reflek saling peluk cium yah sebelum berpisah? apalagi Ibu dan anak ini akan bertemu lagi 5 hari ke depan lohh ... Aku sama Mas Indra saja dikit-dikit peluk, dikit-dikit cium. Jangankan mau pisah beberapa hari, berapa jam atau menit saja kami sudah saling kangen.
Lagi-lagi aku tepis pikiran ini. Apa peduliku?
Lea masih memakai piyamanya beserta iler dan muka yang terlihat belum terkena air. Pasti tadi bangun tidur langsung kesini.
"Nggak cuci muka dulu kek!" gerutuku di dalam hati.
"Lea mau makan apa?" tanyaku pada bocah itu.
"Roti coklat kayak kemarin," jawabnya polos.
Aku bergegas membuatkan roti coklat untuknya, dua lembar roti tawar dengan selai coklat di taburi ceres warna-warni yang aku potong kecil-kecil menjadi 8 bagian.
__ADS_1
Sejak hari Senin lalu, aku memang memberi menu sarapan roti coklat ini padanya. Lea juga nampak tidak pernah bosan dan selalu minta di buatkan roti coklat.
Jadi setiap pagi dia makan itu-itu terus sebelum mandi, berganti pakaian dan pergi ke sekolah.
Mas Indra sendiri sedang lari pagi, dua hari kemarin aku juga ikut serta gara-gara Mas Indra bilang dia melihat banyak cewek-cewek yang lari pagi, meski sepertinya hanya modus saja ... Huffhh ....
Dia memang rajin olahraga sekarang sejak memutuskan untuk berhenti merokok dan memulai hidup sehat.
Lea makan roti coklat sementara aku menyiapkan kopi dan sarapan untuk Mas Indra. Biasanya sehabis olahraga, Mas Indra mandi lalu sarapan bersamaku dan berangkat ke kantor.
Kali ini karena ada Lea dan si monster itu belum mandi, setelah menghabiskan gigitan terakhir roti coklatnya, aku buru-buru menyuruhnya menggosok gigi dan memandikannya.
Mas Indra sarapan sendiri karena aku sibuk menguncir rambut anaknya sambil sesekali aku minta disuapi roti ke mulutku karena dua tangan ini sedang menyisir rambut Lea.
"Yuk berangkat," ajak Mas Indra setelah aku selesai memakaikan sepatu di kaki si monster.
"Let's go! (Ayo!)" aku dan Lea kompak menjawab.
Sekolah Lea tidak terlalu jauh dari tempat tinggal kami, Mas Indra juga tidak perlu terburu-buru ke kantor, jadi kami berdua usahakan untuk mengantar Lea ke sekolah setiap hari.
Bangunan sekolah Lea sudah terlihat dari jalan, aku menyuruh Lea untuk salim, peluk dan mencium papanya meski dia malu-malu dan terlihat enggan, tapi mata ibu tiri ala aku langsung beraksi, aku melotot ke arahnya yang berarti "do it now!" atau "salim sekarang!"
"Hun, salim," aku memberi kode lirikan mata kepada suamiku untuk mengulurkan tangannya agar Lea lebih mudah untuk mencium tangan papanya itu.
Dengan ragu Lea meraih dan mencium punggung tangan itu, serta mencium dan memeluk papanya.
Mas Indra menunggu di mobil, aku membantu Lea keluar dari mobil dan segera mengulurkan tanganku tanda dia harus salim juga padaku.
Aku mencium dan memeluknya sebelum aku menyerahkan Lea dan kertas PR pada guru di depan.
"*Jika aku bilang salim, ulurkan tangan kamu Mas biar Lea juga reflek salim!"
"Iya Sayang, maaf yaa ... tadi aku lupa, beneran," Mas Indra menyunggingkan senyum manisnya dan mengelus kepalaku yang berhasil meng-cancel* bau-bau marahku, hehehe.
Aku memang langsung luluh kalau Mas Indra sudah mengeluarkan jurus andalannya yang mampu buatku tak berdaya.
Diperjalanan pulang, aku kembali bingung mau masak apa buat Lea. Minggu lalu dari pertama datang Lea hanya mau makan sama nasi dan telor ceplok saja. Itu terus nggak mau yang lain. Katanya, di rumah Mbak Dewi, sama Neneknya Lea selalu makan nasi dan telor ceplok setiap hari, jadi itu sudah jadi makanan favoritnya. Aku sempat membelikannya ayam goreng, menawarinya burger, pizza dan juga bakso, tapi tetap saja yang dia minta nasi sama telor ceplok lagi dan lagi.
"Apa nggak bosan makan telor ceplok terus setiap hari?" batinku.
"Jadi kamu masak apa siang ini, Hun?" Mas Indra membuyarkan fokusku.
"Apa ya, Mas ... aku bingung mau masak buat Lea, dia maunya telor ceplok mulu," jawabku.
"Ohh, jadi sekarang Lea yang utama nih, kamu lebih mikirin masak apa buat Lea dibandingkan buat aku, suamimu?" Mas Indra menggodaku dengan kalimatnya sambil mencubit pipiku, karena memang benar juga, sejak si monster itu tinggal bersama kami, aku jadi mikirin masakan buat Lea duluan.
"Kamu mah gampang ... aku masak apa aja pasti kamu makan kan? kamu habisin kan? yakann? yyeekk!" aku mengejek Mas Indra dan mencubit pinggangnya.
"Stop it, (hentikan itu), aku lagi nyetir, Hun," Mas Indra mencoba menghindar dari serangan cubitanku.
"*Nggakkkk ... cubit lagii nihh cubitt teruusss."
"Sakit, Hun ... awas yaa nanti aku bales ...."
__ADS_1
"Ngak kenaa ... yyeekk*!"
_____________
Di rumah, aku mengecek isi kulkas, kira-kira masakan apa yang bisa ku buat untuk Lea?
"Masak sup ayam aja deh buat semuanya," pikirku dalam hati.
Lea harus makan sayuran dan daging. Nggak boleh tiap hari telor terus meskipun ku akui, telor ceplok adalah masakan tergampang.
Kapanpun Lea lapar, aku bisa masak telor ceplok itu. Aku hanya perlu banyak persediaan telor dan selalu punya nasi putih.
Seperti minggu lalu, malam-malam sebelum tidur bocah itu menangis minta makan nasi sama telor. Ckckckckck.
Mas Indra sudah berangkat ke kantor, aku pun mulai menyiapkan bahan-bahan untuk menu makan siang ini. Akan aku masak setelah menjemput Lea dari sekolah sementara aku membereskan rumah, nyuci dan sebagainya.
______________
Di sekolah, Miss Rahel, guru di kelas Lea memanggilku, beliau bertanya tentang buku yang belum di kumpulkan oleh Lea sejak 2 minggu lalu. Meskipun ragu, aku mencoba berkata jujur siapa diriku dan tentang kenapa aku yang antar-jemput sekolah Lea akhir-akhir ini.
Miss Rahel faham bahwa buku yang di tanyakan itu tidak bersamaku, jadi beliau akan menelpon Mbak Dewi nanti.
Miss Rahel juga memberitahuku jika Lea merupakan murid yang paling lambat di kelas, teman-temannya sudah dapat membaca dan menulis dengan rapi ala-ala anak TK, namun Lea masih kesulitan, terangnya.
Jiwa julidku langsung menggelora ... dalam hatiku berkecamuk banyak pertanyaan seperti :
"Ada apa dengan bocah ini? si monster kecil yang ku benci?"
Sejenak, aku membandingkan Lea dengan Maya, anaknya Kakak ku, seumuran Lea, keponakanku sudah bisa baca tulis.
Tidak hanya itu, Miss Rahel juga bilang untuk tidak mengerjakan PR Lea, biarkan Lea sendiri yang mengerjakan PR nya.
Ahh ... apa lagi ini? aku tidak tahu apa-apa tentang PR. Miss Rahel juga menyarankan agar Lea ikut les di sekolah maupun les biasa di rumah agar dia bisa 'catch up' atau mengejar ketertinggalannya di sekolah.
Otakku di penuhi berbagai tanda tanya tentang anak ini setelah ku dengar apa yang di sampaikan Miss Rahel padaku. Saat itu aku langsung geram pada mbak Dewi. Bukankah Lea punya guru les pribadi? lalu kenapa Miss Rahel sampai bicara begini?
_______________
Aku mengadukan semuanya pada Mas Indra saat kami hendak tidur. Memang sudah kebiasaan kami sejak awal menikah, sebelum tidur kami selalu ada sesi 'cuddle' dan juga 'pillow talk' yang membahas banyak hal tentang kami berdua, keluarga dan apa saja akan kami bahas sebelum tidur.
Dan seminggu ini, pillow talk kami di penuhi bahasan tentang Lea. Tentang sifat manja, cengeng, tukang ngambek, bohong, tidak sopan, kurang ajar, suka mukul dan berbagai kenakalan lainnya.
Mas Indra beberapa kali meminta maaf padaku karena harus repot mengasuh Lea sekarang saat nenek Lea, Ibu dari Mbak Dewi sedang pulang ke kota asalnya. Suamiku ini juga sebenarnya sangat mengerti jika aku tidak suka dan cenderung benci pada anaknya, tapi tidak dia ungkapkan. Mas Indra juga mengakui ini semua kesalahannya yang terlalu memanjakan Lea, selalu menuruti dan membeli apapun mainan yang Lea pinta sehingga Lea terbentuk menjadi anak yang tidak sabaran dan apa yang dia mau, harus segera ada.
_____________
Oh ... sekarang tidak lagi ....
This is my house, follow my rule!
Ini rumah ku! kalau lagi tinggal disini, harus ikuti semua aturanku.
_____________
__ADS_1
Aku dan Mas Indra telah sepakat untuk mendisiplinkan Lea, merubah nya menjadi lebih sopan dan lebih baik lagi lah intinya. Karena meskipun aku benci dan tidak suka pada monster kecil itu, tapi dia kan anaknya Mas Indra yang berarti dia juga anakku.
Heh ...? apakah aku, Anisa si ibu tiri sudah mulai dapat membuka hati dan menerima monster kecil bernama Lea dalam hidupku?