
Hujan tidak berhenti sampai malam menjelang, Lea juga belum bangun. Mungkin monster kecilku akan terlelap sampai besok pagi karena sebelum tidur dia juga sudah makan. Selain itu, Lea juga sudah tertular kebiasaan 'ngebo'ku, tidur tanpa kenal waktu.
Pelukan Mas Indra semakin erat, seperti tidak ingin aku lepas dari dekapannya.
"Hun, yukk ... mendukung banget nih suasananya ..." bisik Mas Indra di telinga kiriku.
Paham dengan apa yang dia inginkan, aku memutar badan dan menatap wajahnya sangat dekat, ku lingkaran kedua tanganku di leher suamiku.
Seperti biasa, Mas Indra sudah sangat 'mupeng', sehingga membuatku tidak tega.
Kakiku sedikit menjinjit lalu ku kecup pipinya.
Seperti mendapat lampu hijau tanda persetujuanku, dia jadi tidak sabar lagi untuk sesi selanjutnya dan melupakan segala suasana. Mas Indra membawaku ke atas ranjang dan menyerang leherku bertubi-tubi, sampai pada saat dimana kami mendengar sebuah suara ....
"Momi, Papa!" panggil Lea dari balik pintu yang memang lupa tidak kami kunci tadi.
Aku dan Mas Indra reflek berhenti dari apa yang sedang kami lakukan, dan tawa kami pun pecah seketika. Bukan tawa malu karena bocah itu memergoki kami, namun lebih ke si penggagnggu datang di waktu yang sangat tepat.
Pelukan dan ciuman antara aku dan Mas Indra bukanlah suatu hal yang aneh di depan Lea, karena sejak dulu pun aku selalu bermanja mesra dengan suamiku di depannya.
Lagipula pelukan dan ciuman adalah tanda kasih sayang dalam sebuah pernikahan.
Aku dan Mas Indra juga melakukan hal yang sama pada Lea yang telah kami anggap sebagai anak sendiri, pelukan dan ciuman selalu Lea dapatkan dari kami berdua.
Tingkah 'absurd' serta sering bercanda ala aku dan Mas Indra juga tidak membuat Lea heran jika kami berdua sering kejar-kejaran, lari-lari keliling rumah, bahkan bermain petak umpet dan segala hal konyol serta kekanak-kanakan lainnya yang seringkali kami lakukan bersama.
Bahkan di suatu waktu, malahan Lea yang terlihat lebih dewasa dari kami berdua.
Hahaha.
"Iya, Sayang? udah bangun?" jawabku sambil merapikan rambut yang berantakan dan acak-acakan.
"Momi, aku mau makan ...."
"Lea mau makan apa? Momi belum masak, makan biskuit dulu yah?"
"Momi, aku mau makan keripik kentang ini dulu, boleh?"
Lea menunjukkan bungkusan keripik kentang rasa rumput laut kepadaku yang aku setujui untuk dinikmatinya.
"Thankyou, Momi!"
Bocah itu berlari ke ruang tamu dan memakan keripik kentangnya sambil menonton televisi.
Wajah Mas Indra terlihat sedikit kecewa, lalu kami saling menatap dan tertawa bersama.
"Kamu sih, Hun, gak kunci pintunya tadi, wkwkwk," ucapku lagi-lagi menyalahkan Mas Indra.
"Jiiaahh ... biasa kamu juga bilangnya 'nanti malem aja, Sayang, kalau Lea udah tidur', terus malamnya kamu merem duluan. Ini tumben aja kamu nggak banyak alesan, Hun?" protes Mas Indra yang merasa kena 'prank'.
"Yaudah, Mas, makanya bener aku, kan? malam aja biar aman sentosa tanpa gangguan dari Lea. Hahaha."
"Tuh kan, mulai lagi ... ayo deh sekarang aja, kentang banget sih, Hun ...."
"Umm ... emmm ...."
Belum selesai aku menjawab apa-apa, Lea masuk kembali ke kamar kami untuk meminta ijin padaku apakah dia diperbolehkan untuk makan satu bungkus keripik kentang lagi. Sesaat kemudian bocah itu memanggilku katanya dia melihat ada semut, ada cicak dan itu cukup mengganggu kami.
Mas Indra terlihat agak kesal kali ini dan mendengus pasrah.
"Nggak percaya kan? makanya nanti malem aja, Sayang ... mmwaahh!" ucapku sambil beranjak dari ranjang.
Malam ini aku akan masak mie instan kuah saja karena hujan tadi membuatku lupa untuk menurunkan daging dari freezer. Jika nekat masak sesuatu, akan lebih memakan banyak waktu. Lea dan suamiku pasti akan kelaparan sampai masakan matang nanti.
Ahh, makan mie kuah saat hujan mengingatkanku pada hari dimana Mas Indra kehujanan waktu itu.
__________________
Setelah menyuruh lelaki yang kehujanan di depan pagar rumah Ibu untuk pulang, aku naik lagi ke kamarku dan mengunci pintu berharap tidak ada yang mengganggu tidur soreku.
Meski telah berguling-guling dan mencoba memejamkan mata, entah kenapa aku tidak bisa tidur lagi.
Sejenak aku teringat apakah lelaki yang mengaku sebagai pacarku di depan Randy kemarin itu benar-benar sudah pergi atau masih tetap disana.
Segera ku buka kelambu jendela kamar, dan yah, dia sudah tidak ada disana.
Berarti memang sudah tidak ada kepentingan lagi dan dia memang telah pergi.
Haisshh.
Setelah lebih dari setengah jam tidak bisa tidur, aku malah merasa sangat lapar, apalagi samar ku cium bau yang sangat wangi dari dapur.
Wangi khas mie instan kuah dengan cabai, telur serta sayuran yang pastinya sangat lezat dinikmati pada suasana hujan begini.
Aku segera keluar dari kamar dan berlari menuruni anak tangga untuk mengejar aroma wangi makanan yang sangat ku inginkan.
__ADS_1
"Hooiii ... kamu ngapain disini?!" teriakku pada lelaki di depan pagar tadi.
Kupikir dia telah pergi, tapi nyatanya?
Laki-laki itu malah sedang menikmati mie kuah yang begitu wangi bersama Dafa.
"Aku lagi makan ..." jawabnya enteng tanpa merasa berdosa.
Haisshh ... aku mendengus kesal dan memanggil Ibu yang sedang berada di kamar menemani Kak Vera dan Maya, keponakanku yang sedang tidur.
Kak Vera memang sering menghabiskan waktu di rumah Ibu saat Kak Rey bekerja, jadi meski Kak Vera sudah punya rumah sendiri, dia dan Maya masih kerap berada di rumah ini pada siang hingga sore hari.
"Ibu, kenapa laki-laki itu dibiarin masuk sih? kalau dia ternyata penjahat gimana?" protesku pada Ibu.
"Penjahatnya itu kamu!" ucap Kak Vera malah menyudutkanku.
"Kok aku sih, Kak?"
"Kamu ini bagaimana sih, Sa, teman kamu kehujanan gitu bukannya di suruh masuk malahan dibiarin. Nggak baik begitu, Nak ..." jawab Ibu membela Kak Vera.
"Dia bukan teman Sasa, Bu, Sasa nggak kenal sama dia, haisshh ...."
"Nggak kenal gundulmu, dia bilang kemarin abis pergi sama kamu terus ketemu Randy. Emang kamu masih ketemuan sama Randy, Sa?" tanya Kak Vera yang membuatku semakin geram pada lelaki yang akhirnya ku panggil Mas Indra itu.
"Hah?! emang dia ngomong apa, Kak? awas aja kalau macem-macem!!" teriakku kesal.
Saat aku masuk kamar tadi, ternyata Ibu menyuruh Dafa, adikku, untuk memberikan payung dan meminta Mas Indra masuk ke dalam rumah karena hujan semakin lebat.
Melihat orang asing yang basah kuyup dan kedinginan, Ibu tidak tega dan membiarkan Mas Indra berteduh serta memintanya berganti pakaian milik Kak Rey yang memang ada beberapa disini.
Saat itu Dafa sedang masak mie, jadi Kak Vera juga membuatkan satu porsi untuk Mas Indra.
Entah kenapa aku merasa kesal melihat Mas Indra cukup akrab dengan Dafa, bahkan mereka seperti sudah saling mengenal lama.
Dafa memang mudah bergaul, di Sekolahnya juga dia adalah salah satu anggota Pramuka dan beberapa kegiatan lain sehingga mudah baginya untuk membahas apa saja, terlebih mereka kan sesama pria meski jika ku perhatikan, sepertinya usia laki-laki aneh yang bernama Indra itu sepantaran dengan Kak Rey mungkin?
Entahlah aku tidak peduli. Saat ini yang kubutuhkan adalah makanan dan aku harus memasaknya sendiri.
Mas Indra dan Dafa masih terlihat akrab berbincang setelah selesai makan. Satu hal yang kuinginkan adalah agar dia cepat pergi dari sini.
Aku semakin kesal padanya jika ingat kejadian kemarin di depan Randy.
Ahh, apakah aku benar-benar belum bisa melupakan Randy?
Hujan belum juga reda, seakan mengiringi kesedihanku jika teringat dengan kisah cinta yang telah aku bina selama lebih dari dua tahun dengan Randy namun pada akhirnya kami gagal menikah karena mantanku itu telah berulang kali selingkuh di belakangku.
Aku tidak bisa memaafkan perbuatannya meskipun aku masih cinta. Akhirnya kami harus berpisah juga. Mana mungkin aku bisa hidup dengan orang seperti Randy yang main belakang sebanyak lima kali.
"Apa gunanya selama ini aku setia tapi ternyata malah di khianati sesakit ini? Huhhh," sesalku dalam hati.
Kumasukkan beberapa buah cabai ke dalam mie kuah yang sedang aku masak. Jika sedang kesal atau marah, aku memang jadi kalap dalam makan, makan adalah hal yang menyenangkan dan dapat mengalihkan fokusku dari energi negatif yang ada di sekitarku termasuk kehadiran tamu tak di undang itu.
Setelah selesai makan dan membersihkan dapur, ku lihat Ibu dan Kak Vera keluar dari kamar bersama Maya yang baru bangun tidur.
Mas Indra akhirnya pamit pulang kepada Ibu dan Kak Vera tanpa melihatku.
"Haisshh, bukankah tadi dia mau bicara sesuatu padaku? tapi kenapa sekarang malah nyuekin aku padahal dia adalah tamu! Huffffttt, dasar lelaki!" batinku kesal.
Dafa mengantar sampai pagar depan lalu masuk ke kamarya untuk mengerjakan PR dan tugas dari Sekolah.
Kak Rey datang untuk menjemput Kak Vera dan Maya.
Aku yang sedang bersantai di sofa sambil mendengarkan musik dan menjelajah media sosial tiba-tiba dijewer oleh Ibu.
Katanya lain kali aku harus berlaku sopan pada tamu.
Hadehh, bukankah tamu itu yang malah tidak sopan padaku?
Sebenarnya siapa yang anak Ibu?
Walau bagaimanapun, aku tetap tidak bisa melawan Ibu kecuali jika memang Ibu benar-benar bersalah.
Ayah sudah tiada sejak lama, jadi Ibu adalah satu-satunya panutan kami yang selalu kami patuhi.
Di rumah ini, aku tinggal bertiga dengan Ibu dan Dafa setelah Kak Vera menikah dan pindah rumah.
Selama ini Ibu lah yang membiayai kehidupan kami dengan usaha berjualan masakan lauk pauk sehari-hari.
Itulah sebabnya aku juga bisa masak berbagai masakan yang enak karena mungkin ada keturunan dari Ibu.
Xixixi.
Ibu akan menerima banyak orderan masakan setiap harinya yang diantar ke rumah para pemesan.
Ayah dan Ibu punya sebuah restoran, namun setelah Ayah tiada, Ibu tidak lagi pergi kesana karena selalu teringat dengan semua kenangan bersama suami tercintanya, sebab mereka menghabiskan banyak waktu berdua di restoran itu.
__ADS_1
Ohya, dahulu Ayah dan Ibu sering bercanda dan menggodaku jika nama Anisa dan panggilan Sasa untukku adalah memang benar terinspirasi dari sebuah merk penyedap rasa yang mereka gunakan untuk pelengkap masakan.
Makanya tidak hanya di keluargaku, teman-temanku sejak dulu selalu memanggilku dengan sebutan 'Sasa si Micin'.
Saat ini Om dan Tante atau adik-adik dari pihak Ibu yang menjalankan bisnis itu dan setiap bulannya Ibu akan mendapatkan 'income' atau pemasukan rutin dari restoran.
Ibu masih menerima orderan masakan rumahan karena memasak memang hobi Ibu. Selain itu Kak Vera juga membantu Ibu setiap hari makanya dia sering dirumah ini.
Melihat keharmonisan dan keromantisan pernikahan Ayah dan Ibu, membuatku menjadi sosok yang juga setia, tapi aku malah dipertemukan dengan Randy si cowok tukang selingkuh itu.
Terkadang aku merasa semua ini tidak adil.
Bagaimana aku bisa menemukan sosok lelaki seperti cinta pertamaku, yaitu Ayah yang sangat mencintai dan menyayangi Ibu sepenuh hati hingga mereka akhirnya dipisahkan oleh Tuhan.
Aku sering berpikir apa lebih baik aku menyendiri saja daripada bertemu dengan lelaki semacam Randy lagi dan malah selalu membuatku patah hati.
Dengan menjadi sendiri, aku juga bisa terus menjaga Ibu dan Dafa.
_____________________
Keesokan harinya di Kantin kampus, aku di kagetkan dengan kehadiran Mas Indra yang tidak hanya mengikutiku sampai ke rumah, dia juga mendatangi tempatku kuliah.
"Agghhh, apa maunya sih terhadapku?" batinku kesal.
Tapi aku sedikit heran saat teman-temanku heboh melihat lelaki menyebalkan itu mencariku hingga kesini.
Entah apa yang di lihat dari Mas Indra sampai-sampai mereka malah terlihat suka padanya.
Terlebih Maria, yang saat pertama kali di kafe Ceria itu, dia yang membujukku untuk segera pergi.
Padahal aku sendiri sangat kesal melihatnya disini. Huufft.
"Ciye, Sasa Micin di cariin sampai kampus, 'so sweet' banget gak sih guys cowok itu? pasangan idaman banget!" ucap Maria memuji Mas Indra saat kami berada di kantin.
"Hadehh, apa dahh, gue kagak kenal sama tu cowok yah, jangan ngarang deh lu, Maria Ozawa!" balasku kesal.
"Eh bukannya itu cowok yang waktu itu nabrak elu pas kita keluar dari kafe Ceria, yah, Cin?" tanya Fani mengingatkan.
"Ah iya bener, jangan-jangan dia kesini nyariin elu buat bahas kesalahan elu yang nggak sopan udah minta ganti ke dia, Micin?! gawat nih, gimana dong?" kata Maria cemas. Anak itu memang tipe yang 'parno'an. Hal kecil selalu di besar-besarkan.
"Kemarin dia juga kerumah gue, tau, huufftt kesel banget, maunya apa coba?"
"Hah, beneran dia ke rumah lu segala, Sa?" tanya Fani penasaran.
"Mungkin emang mau ada yang mau diomongin kali, Sa?" timpal Maria.
Aku lalu menceritakan kejadian di Mal saat Mas Indra juga mengaku sebagai pacarku di depan Randy dan menolongku yang terpojok waktu itu. Tapi sebenarnya apa kepentingan dia selanjutnya, aku kan sudah berterimakasih saat masih Mal itu, apalagi yang dia inginkan sekarang?
Fani dan Maria membujukku untuk menemui Mas Indra yang masih menungguku, tapi aku sungguh malas sekali. Apalagi aku malu lah pada teman-teman yang lain, sampai di samperin ke kampus begini. Bisa-bisa orang akan mengira jika aku punya hutang pinjaman online dan dia adalah rentenir atau petugas yang sedang menagih hutang.
Agghh, sungguh menyebalkan!
"Ada perlu apa sampai nyamperin kesini segala?" tanyaku ketus pada Mas Indra.
"Aku mau ngomong sesuatu, tadi aku ke rumah, tapi kata Ibu, kamu lagi kuliah, jadi aku kesini aja biar nggak nunggu lama ...."
"Iya, emang mau bicara apa sih? kalau soal di Mal kemarin atau kejadian di Kafe itu, kenapa harus datang kesini?"
"Sebenarnya aku mau bahas banyak hal sama kamu, jadi, emm ... bisakah kita ketemu berdua di suatu tempat dan membicarakan ini semua?"
"Yaudah sih tinggal ngomong aja sekarang, apa masalahnya?" jawabku datar.
"Malam itu beberapa tahun yang lalu ... 'hahhhaaacyyyiiii.... haacchhyyiii' ... umm, sorry ...."
"Kamu nggak apa-apa?"
"Nggak sih, kayaknya aku agak demam aja karena kehujanan kemarin, 'haahhacchhhyyyiii' ...."
"Kalau lagi sakit ngapain keluyuran kesini? pulang aja sana," usirku pada Mas Indra yang terlihat tidak sehat dari raut wajahnya. Dia juga berkali-kali bersin, sepertinya selain demam dia jug terkena flu.
Disaat bersamaan, aku juga mendapat telpon dari Maria jika dosen kami sudah datang. Jadi aku harus segera masuk kelas, jika tidak, aku bisa mendapat masalah besar karena kali ini adalah jadwal mengajar dosen kami yang terkenal galak. Apalagi aku adalah salah satu mahasiswi nya yang bandel dengan memegang rekor selalu telat masuk kelas dan juga terakhir mengumpulkan tugas.
Aku meminta orang yang bahkan belum berkenalan secara resmi itu untuk pulang dan tidak mencariku di kampus ini lagi.
Benar saja, besoknya dan hari-hari selanjutnya, dia tidak lagi mencariku di kampus maupun datang ke rumah lagi.
"Agghh! dasar lelaki!" gerutuku dalam hati.
Namun sejenak aku berpikir jangan-jangan dia sakit akibat kehujanan hari itu.
Aku juga tidak bisa menghubunginya karena tidak punya nomornya.
Ahh, sudahlah masih banyak hal lain yang harus aku selesaikan daripada memikirkan cowok aneh yang nggak jelas itu. Aku juga harus mengumpulkan tugas kuliahku dan persiapan membuat skripsi.
Lagipula, saat ini aku sedang benci dengan yang namanya laki-laki, terlebih jika mengingat semua ulah Randy!
__ADS_1