
Bagi sebagian orang, hujan itu menyenangkan karena ia memberi suatu kebahagiaan, terlebih lagi untuk diriku.
Saat kecil dan hujan turun, aku akan keluar rumah dan bermain di bawah guyuran hujan dengan ceria, meski Ibu akan memarahiku. Setiap tetesnya selalu membuatku ingin kembali ke masa itu.
Lain halnya dengan Lea. Hujan untuknya bukanlah bahagia seperti yang ku rasa, bahkan hujan membawanya kembali pada trauma yang mungkin akan sulit ia buang begitu saja.
Dan untuk Mas Indra? hujan juga mempunyai cerita sendiri versi dirinya. Lalu untuk orang lain di luaran sana? hujan bisa juga membawa hal yang kurang mengenakkan seperti banjir misalnya?
Hujan memang selalu membawa berbagai cerita dalam kehidupan setiap manusia.
Lea, si bocah kecil itu untuk pertama kalinya akhirnya mau bercerita kepadaku tentang bagaimana seseorang yang dia panggil Nenek, ternyata sering melakukan tindakan yang tidak seharusnya.
Cubitan hingga pukulan selalu Lea terima dari Neneknya itu jika dia melakukan sebuah kesalahan. Tidak hanya mengalami kekerasan fisik, Nenek Lea juga sering membentak dan memarahi anak itu.
Suatu hari, Lea membuat Neneknya begitu marah sehingga meski diluar tengah hujan lebat, Neneknya dengan begitu tega sengaja mengunci pintu dari dalam dan membiarkan bocah itu kedinginan dibawah guyuran air hujan.
Mbak Dewi tidak selalu di rumah, dia sering sekali meninggalkan Lea bersama Ibunya bahkan sampai berhari-hari. Jika melihat beranda media sosial nya, tentu saja dia bersenang-senang diluar sana.
Aku tidak tahu bagaimana rasanya menjadi seorang Ibu karena aku belum pernah hamil dan melahirkan, apalagi yang berjuang tanpa pasangan disisinya.
Namun disini Mbak Dewi seharusnya berbeda.
Tidak bekerja pun, kebutuhan sehari-hari aku percaya masih dapat terpenuhi dari uang yang diberikan oleh Mas Indra.
Saat akan menerima Lea di rumah ini untuk pertama kali, aku dipenuhi perasaan yang tidak biasa, bagaimana aku bisa merawat bocah itu sedangkan aku sangat membencinya dan aku sama sekali belum punya pengalaman mengasuh anak?
Namun apa kata Mbak Dewi? dia bilang :
"Lea juga anak pertama ku, aku nggak punya pengalaman mengasuh anak."
What? Seriously?! Kupikir setelah seorang wanita melahirkan dan menjadi Ibu, naluri keibuannya juga akan datang dengan sendirinya, apalagi Mbak Dewi tidak benar-benar sendiri, ada Ibu di sampingnya.
Selama lima tahun ini, apa saja yang terjadi?
Tentu saja aku bisa dengan mudah membandingkan Mbak Dewi dengan Kak Vera, meski aku tahu Kak Vera punya Kak Rey, seorang suami yang selalu disampingnya.
Ahh, semoga keluargaku dan seluruh sahabatku serta semua orang di luaran sana dapat mempertahankan keutuhan rumah tangga mereka dan tidak pernah terpisahkan apalagi disebabkan oleh orang ketiga.
Karena anak akan selalu menjadi korban utama.
_______________
"Momi? Momi, aku takut," jerit Lea masih sambil menutup kedua telinga dengan tangannya.
"Takut kenapa? Lea takut hujan? kan ada Momi disini," ucapku mencoba menghibur Lea agar dia tidak ketakutan lagi.
"Momi aku mau sama Momi sama Papa aja, huhuhu." Lea mulai menangis lagi kali ini.
"Iya, Lea lagi sama Momi kan ini?"
"Momi, Nenek aku nakal, Momi, huhuhu."
"Nakal kenapa?"
Lea bercerita banyak hal, dari cubitan yang kerap kali ia dapatkan hingga pernah di kurung di kamar mandi yang membuatnya takut ke toilet sendiri karena Mbak Dewi maupun Neneknya sering menakuti Lea tentang hantu di kamar mandi.
Selama disini, Lea memang sudah dua kali ngompol karena di malam hari ketika dia kebelet pipis, monster kecil itu tidak berani pergi ke toilet sendiri.
Alasannya tentu saja karena takut hantu.
Tidak hanya itu, awalnya dia juga tidak mau tidur sendiri dan ingin selalu tidur bersamaku serta Mas Indra di kamar kami, karena dia takut hantu.
Ketakutan Lea untuk pergi ke toilet sendiri tidak bisa ku biarkan, jika dari kecil di takuti dengan hal semacam itu, bisa-bisa dia akan sering ngompol dan akan merepotkanku!
__ADS_1
Tentu saja aku tidak mau selalu mencuci sprei bekas ompolnya.
Maka dari itu, selama disini aku selalu meyakinkan Lea bahwa di toilet tidak ada hantu dan yang seharusnya kita takuti adalah Tuhan, bukan hantu. Kita harus punya rasa takut kepada Tuhan, kita harus percaya Tuhan melihat apa yang kita lakukan, jadi jika kita takut kepada Tuhan, kita akan berpikir ulang untuk melakukan sesuatu yang di larang karena kita percaya, bahwa Tuhan selalu melihat apa saja yang kita lakukan.
Ohya, hujan juga beberapa kali menjadi saksi atau pengiring pertengkaranku dengan Mas Indra. Setelah aku mengantarkan Maya pada hari dimana Lea memukul keponakanku itu, aku malas sekali untuk pulang dan ingin menginap saja di rumah Ibu.
Alih-alih di bela dan di biarkan menginap hingga Mas Indra yang meminta maaf dan menjemputku, Ibu dan Kak Vera malah tidak ada di pihakku. Mereka malah seperti selalu saja membela Mas Indra dan kesalahan Ada pada diriku.
Menyebalkan sekali.
Bahkan mereka berdua malah menasehatiku banyak hal, memintaku lebih sabar untuk menghadapi si monster kecil itu.
Ibuku melihat Lea seperti dirinya sendiri, dimana dahulu kedua orang tua Ibu, atau Kakek dan Nenekku berpisah, yang akhirnya membuat Ibu ikut dengan Ayahnya bersama istri baru Kakekku.
Saat itu tidak ada pilihan lain, kata Ibu, sang Ibu tiri tidak terlalu baik dan tidak terlalu jahat, karena Nenek juga sudah menikah lagi dan sibuk dengan hidup baru masing-masing, Ibuku perlu tempat tinggal dan makan, jadi meski harus ikut dengan Ibu tiri dan merawat adik-adik tiri serta membantu mengerjakan pekerjaan rumah, Ibuku tetap tinggal bersama Ayah dan Ibu tirinya selama bertahun-tahun hingga Ibu akhirnya menikah dengan Ayahku.
Ibuku menganggap Ibu tirinya seperti Ibu kandung sendiri dan juga sebaliknya.
Maka dari itu, Ibu selalu berpesan padaku untuk berbuat baik pada Lea, menerima anak itu dalam hidupku, walau bagaimanapun Lea telah ada bahkan sejak sebelum aku bertemu Mas Indra. Jadi Lea tidak salah, aku saja yang membencinya karena keegoisanku semata.
Citra seorang Ibu tiri yang jahat, kejam dan hanya mencintai sang ayah saja harus di hapuskan karena tidak semua Ibu tiri begitu adanya meskipun memang ada segelintir yang memang jahat seperti di sinetron TV atau film Disney.
Sepulang dari rumah Ibu waktu itu, malamnya aku dan Mas Indra masih meributkan beberapa hal.
Setelah aku membuat Lea menangis karena PR pun, kami beradu mulut lagi, dan saat itu memang hujan sedang turun meski tidak begitu deras.
Dalam sebuah hubungan, pertengkaran kadang malah menjadi jalan untuk menemukan titik temu dari suatu masalah. Meskipun bukan berarti harus bertengkar dulu supaya bisa mendapatkan solusi dari suatu persoalan.
Apalagi jika kedua belah pihak saling egois dan keras kepala, bukan solusi yang di dapat, malah masalah baru yang bisa lahir.
Malam itu bukanlah sebuah 'pillow talk', melainkan 'pillow fight', karena kami sedang dalam emosi dan ego masing-masing. Bukan bicara dengan saling bermanja mesra.
Dari pertengkaran kami malam itu, Mas Indra memutuskan untuk tidak memberi uang kepada Mbak Dewi selama 2 minggu saat Lea disini. Kami juga mulai menyadari banyak hal tentang penyalahgunaan uang yang seharusnya menjadi hak Lea.
Bagus lah, enak saja Mbak Dewi menitipkan anaknya disini tapi tetap mendapatkan uang yang sama ketika Lea bersamanya.
"Lea bobok di kamar Momi aja yuk, Papa kan lagi nggak di rumah, Momi kalau bobok sendiri sering susah bangun, besok Lea sekolah bisa telat kita."
"Okay, Momi."
Monster kecil itu cepat sekali terlelap, sedangkan aku tidak bisa tidur. Apa karena belum mendapatkan pelukan nyata dari Mas Indra? meski kami sudah melakukan video call, tapi rasanya tetap ada yang kurang.
Kuraih HP ku yang ada di atas meja TV, biasanya aku sudah mematikan HP saat hendak tidur, tapi malam ini aku sungguh sangat sulit untuk memejamkan mata.
Sebenarnya aku ngantuk, tapi tidak bisa tidur.
*tinggg ....
Satu pesan masuk dari Angel, si cewek ter 'update' yang ada di lingkaran pertemananku dan informasi yang dia bawa selalu akurat.
[Lagi ngapain lu, Micin?]
[Abis nidurin bocah, tapi malah gak bisa tidur nih gue.]
[Yahh Micin, Micin, elu capek-capek ngurusin anak orang, emaknya maah lagi seneng-seneng. Hahaha.]
[Maksud lu apa, Angel 'tak bersayap'?]
[Liat deh nih ...]
Angel mengirimiku foto dimana ku lihat Mbak Dewi sedang berada di sebuah klub malam dengan beberapa laki-laki dan juga teman perempuannya. Pakaian Mbak Dewi sangat minim, ya memang itu gaya dan style nya selama ini sih.
[Dapet foto ini dari mana lu?]
__ADS_1
[Gue lihat di 'Instagram story'nya temen gue yang salah satunya ada di foto itu. Gue sebenernya kagak mau kasih tahu ke elu, Cin, cuman gue sebagai temen lu, nggak mau aja lah lu repot-repot ngurusin anak orang, eh malah emaknya begitu kelakuannya.]
[Hu'um, thanks banget yah, 'finally' (akhirnya) lu jadi 'Angel with the wings' (malaikat bersayap) hahaha.]
[Ah bisa aja lu, merk Micin!]
[Okay gue mulai ngantuk ni, lu juga buruan tidur biar cepet ketemu sama jodoh lu. Jangan jadi detektif mulu, masa semua cowok yang deketin lu, elu kepoin semua mantannya. Hadeh.]
[Yakan gue kagak mau ditipu dan nyesel di belakang, hahaha. Okay met tidur, Sa!]
[Iya, lu juga yah.]
Kuamati foto yang dikirim Angel tadi, tentu saja aku merasa marah. Harusnya sekarang aku sedang bersama Mas Indra di Bali, tapi apa? aku malah tidak bisa tidur dan harus mengantar monster kecil ini ke sekolah besok pagi.
Tadi siang Mbak Dewi mengirimiku pesan yang mengatakan akan menjemput Lea hari Sabtu pagi.
Heh! enak saja! dipikir lu siapa? nitipin anak dan elu enak-enakan 'have fun' (bersenang-senang) di luar sana?! No way!
Aku memang belum membalas pesan Mbak Dewi tadi, lalu segera ku balas dengan bilang kalau besok dia harus sudah menjemput Lea karena aku akan pergi bersama teman-temanku untuk merayakan ulang tahun Tania.
_____________
[Sa, malam ini aku mau pergi, jadi plis ya nitip Lea satu malam lagi?]
[Nitip lagi? Nggak bisa Mbak, 'sorry' (maaf), aku juga mau pergi. Lagian ini udah hari Jum'at. Mbak Dewi bilang sendiri kan waktu itu mau nitip sampai Jum'at, yaudah Mbak Dewi juga tolong ngertiin aku. Kalau Mbak Dewi nggak bisa jemput, aku anterin sore ini ke rumah jam 4.]
[Jangan, Sa, jangan anterin kesini, aku aja yang jemput Lea ke rumah kamu sore ini.]
[Okay, Mbak, aku tunggu sampai jam 4 ya.]
Sudah jam 4 lewat tapi Mbak Dewi belum juga datang. Meskipun ulang tahun Tania di jadwalkan jam 8 malam, tapi aku dan teman-teman akan mempersiapkan kejutan, jadi aku harus datang lebih awal.
Tapi kenapa Mbak Dewi belum kesini?
Ahh, menyebalkan sekali.
Satu jam kemudian Mbak Dewi akhirnya sampai disini, seperti biasa, aku hanya berbasa-basi menyuruh Mbak Dewi masuk ke rumah, tapi sialnya, kali ini Mbak Dewi mau masuk?!
Lea menangis dan tidak mau di ajak pulang, dia memelukku erat. Aku persilahkan Mbak Dewi untuk duduk sementara aku membujuk Lea supaya dia mau pulang sore ini.
Dengan masih terisak, Lea terus memelukku dan bilang tidak mau pulang.
Lalu tiba-tiba Mbak Dewi menangis dan mulai bicara yang intinya dia memintaku untuk membujuk Mas Indra supaya memberi uang mingguan kepadanya lagi seperti biasa. Mbak Dewi tidak tahu kenapa Mas Indra berhenti mengirim uang padahal Mbak Dewi butuh uang itu secepatnya.
Aku bilang kepada Mbak Dewi untuk membicarakan masalah ini langsung dengan Mas Indra, tapi kata Mbak Dewi, Mas Indra tidak pernah membalas maupun mengangkat telepon darinya. Mbak Dewi berharap aku bisa membantunya agar uang itu bisa segera Mbak Dewi dapatkan.
Aku yang mengetahui tentang penghentian kiriman uang itu tentu saja tidak mau membantunya.
Bagaimana bisa sesuatu yang telah aku dan Mas Indra sepakati bersama tapi aku juga yang akan mengubahnya? Tidak semudah itu, Maribel!
Mbak Dewi terus menangis dan bercerita banyak hal sambil membicarakan tentang kejelekan Mas Indra sebelum bersamaku. Dari Mas Indra yang seorang playboy, punya banyak teman wanita, keluarga dan Mamanya Mas Indra dan banyak hal yang mungkin saja bisa membuatku goyah jika aku tidak benar-benar mencintai Mas Indra dan percaya padanya.
Lucunya, Mbak Dewi juga bercerita bahwa Mas Indra sangat mencintai Mbak Dewi dulu dan berasumsi bahwa mungkin saja saat ini perasaan itu masih sama.
Aku hanya tersenyum meladeni setiap perkataannya. Aku berharap Mbak Dewi segera sadar diri dan pulang karena aku harus pergi ke acara ulang tahun Tania.
Namun dia semakin menjadi. Menceritakan banyak tentang hal-hal negatif yang Mas Indra pernah lakukan.
Tapi bukankah itu adalah masa lalu dan sekarang kami tengah menjalani masa sekarang yang artinya tidak lagi berada di masa itu?
Huh, mau mu apa sih, Mbak Dewi?
Bagaimana bisa dia menjelekkan suamiku didepanku seperti ini? maksudnya apa coba? supaya aku membenci Mas Indra dan meninggalkannya?
__ADS_1
'Dream on'! (Mimpi)!