
Seperti hari Minggu biasanya, kali ini kami membereskan dan membersihkan rumah lagi.
Jika mendapat giliran tugas menyetrika, Mas Indra memang selalu minta di ganti dengan membersihkan kamar mandi maupun mengepel lantai saja. Sebab pernah suatu hari, Mas Indra menyetrika bajunya sendiri hingga terbakar karena mengatur suhu hingga yang paling panas. Sejak saat itu, akulah yang selalu kebagian urusan menghaluskan baju dan Mas Indra yang menjemur serta mengangkat baju-baju yang telah kering maupun menggantikan tugasku yang lainnya.
Malam ini akan ada teman Mas Indra, artinya akan ada tamu. Aku harus merapikan semuanya. Sementara Mas Indra membereskan ruang depan, aku ke kamar Lea untuk membersihkan kamarnya.
Meskipun aku telah mengajari monster itu untuk merapikan kamarnya sendiri dengan mengembalikan atau memasukkan mainan dan barang lainnya ke tempat yang telah ku sediakan, kamar ini tetap saja selalu berantakan.
Aku memang belum masuk ke kamar ini sejak Jum'at malam setelah Lea di jemput Mamanya dan kemarin seharian aku tidak di rumah.
"Dasar bocah," batinku kesal.
Aku mulai merapikan ranjang yang berdipan gambar "Frozen". Lea suka sekali dengan film dari Disney itu. Dia sering memintaku untuk mengepang rambutnya agar mirip seperti 'Ana', salah satu karakter dalam film. Maya sendiri yang menjadi sang Kakak yaitu 'Elsa'. Lemari baju juga bergambar 'Frozen', bahkan dinding kamar ini juga di lapisi 'wallpaper' bergambar 'Frozen'.
Mainan yang bercecer di lantai ku masukkan ke box dan keranjang masing-masing. Aku ingin semua bersih dan rapi saat Lea datang kesini besok pagi. Hal ini juga ku lakukan agar Lea terbiasa dengan suasana rapi dan terbangun kebiasaan untuk mengembalikan mainan ke tempatnya.
Meskipun aku membebaskan Lea bermain sesukanya dan membiarkan dia memberantaki apapun, tapi tetap saja aku harus mengajarinya bagaimana cara merapikan barang yang dia gunakan.
Kulihat tumpukan kertas dan buku mewarnai serta spidol dan pensil warna di meja belajar Lea. Aku rapikan semuanya, ku taruh kembali ke tempat masing-masing agar Lea mudah untuk mencari dan menggunakannya lagi.
"Hah, gambar apa itu?" gumamku saat melihat selembar kertas dengan gambar.
Segera kuraih kertas yang kulihat seperti gambar orang ala ala anak seusianya.
Dalam gambar itu ada beberapa figur orang. Dua orang dewasa dan satu anak kecil di tengah yang sedang bergandengan tangan. Aku bisa menilai itu adalah dua orang dewasa dan satu anak kecil dari ukuran tinggi dan panjang kaki dari masing-masing gambar.
"Tunggu ... apa lagi ini?" ku lihat gambar figur orang dewasa yang terlihat memakai rok dan berada di sisi kiri. Anehnya, di bagian perut figur gambar wanita itu, ada gambar figur manusia lagi, tapi dengan ukuran yang sangat kecil dan ada di dalam lingkaran.
"Oh Tuhan ... apakah monster kecil itu sedang berusaha menggambar wanita hamil?"
Seketika aku tertawa melihat gambar yang belum di warnai itu.
Ku amati gambar yang ada di dalam kertas itu, Lea menggambar wajah 'tersenyum' yang berarti dalam gambar itu, orang-orang yang bergandengan tangan ini tengah berbahagia.
"Apakah Lea menggambar aku yang sedang hamil lalu bergandengan tangan dengannya serta Mas Indra di sisi kanan Lea?" sejenak aku tersenyum melihat gambar itu. Tapi kemudian pikiran liarku muncul.
"*Jangan-jangan Lea menggambar Mbak Dewi dan bukan aku?"
"Apakah Lea ingin Mas Indra kembali pada Mamanya dan bergandengan tangan seperti apa yang dia gambar ini*?"
Haiisshhh ... pikiranku tidak karuan.
Aku harus menanyakan gambar ini pada Lea besok.
"Awas aja anak itu kalau sampai menggambar mbak Dewi kembali lagi dengan Mas Indra," batinku kesal.
Aku juga sih kenapa terlalu jahat pada Mas Indra selama ini. Dia selalu mengalah dengan semua sikap kekanak-kanakan dan manjaku. Meskipun aku yang salah, Mas Indra selalu berusaha untuk membuatku tidak marah.
__ADS_1
Bagaimana kalau ternyata mas Indra sebenarnya tidak tahan pada semua sikapku selama ini ya?
Apakah Mas Indra akan kembali pada Mbak Dewi demi Lea dan meninggalkanku yang selama ini merepotkan serta jahat padanya?
Apa Mas Indra tidak benar-benar mencintaiku dengan tulus? apa dia hanya kasihan padaku?
Tapi bukankah Mas Indra juga pernah bilang padaku bahwa dia tidak pernah mencintai Mbak Dewi dan curiga kalau dirinya di jebak hingga menikahi Mbak Dewi dan bertanggung jawab atas Lea?"
Ahhh ... pikiranku melayang ke berbagai arah hanya karena gambar dalam secarik kertas ini.
Ingin rasanya ku sobek dan ku buang saja gambar ini.
"Bbbbaaaaahhhhhhhhhh!!!!!" Mas Indra mengagetkanku dari belakang.
"Masssssss!!! kaget tauuu!!" teriakku pada Mas Indra yang cengengesan karena berhasil mengagetkanku.
"*Kamu ngapain sih cemberut gitu? Jelek tauu, yyeekkk ...."
"Jelek juga kamu tetep cintaa ... hwahahahaha ...."
"Iya, yaa ... Hun, kamu tu udah bawel, galak, judes, jutek, dan masih banyak lagi yang lainnya, tapi aku tetep suka ...."
"Masa?"
"Beneran ...."
"Iyyaa, Hun ... pengen banget aku congkel gigi gingsul kamu tuu ...."
"Enak ajjaa ... aku potong tu punya kamu."
"Apanya, Sayang?"
"Kuping kamu."
"Beneran tadi mau ngomong kuping?"
"Iyaa ... emang apa?"
"Kok kuping sih, Hun?"
"Yaa biar kamu nggak denger ocehan aku terus, Hun ..
"Padahal aku udah mikir yang lain, Sayang ...."
"Maafin aku ya, Mas ... aku udah jahat sama kamu selama ini. Aku terlalu bawel dan suka ngatur kamu ini itu. Aku minta maaf belum bisa jadi istri yang baik buat kamu. Maafin aku yang sering bikin kamu kesel dan pusing gara-gara sikap aku, Mas ...."
"Kok tiba-tiba kamu mellow gini, Sayang? aku nggak pernah mempermasalahkan apapun tentang kamu kok. Aku tahu semua ocehan dan kebawelan kamu itu untuk kebaikan aku juga. Kamu nggak perlu minta maaf karena kamu memang nggak salah. Justru aku yang berterimakasih banget sama kamu, Hun ... sejak mengenal kamu, hidup aku berubah total. Aku jadi tahu gimana caranya bersusah payah dapetin kamu, ngejar-ngejar kamu yang judes dan jutek sama aku padahal aku bisa dengan mudah ngajak cewek mana aja buat jalan. Tapi kamu? bahkan aku udah hujan-hujanan depan rumah kamu aja kamu nggak mau nemuin aku, kamu malah enak-enakan tidur. Adik kamu yang akhirnya keluar dan ngasih aku payung dan atas perintah Ibu, aku masuk ke rumah. Ibu kamu juga membuatkan aku makanan dan Kak Vera juga menyambutku dengan hangat. Aku benar-benar ngerasain ketenangan, Hun ... Makanya aku bersungguh-sungguh buat dapetin kamu, sekeras apapun kamu menolakku. Waktu itu kamu juga lagi benci banget kan sama cowok karena mantan kamu yang selingkuh itu ...."
__ADS_1
"Waktu itu kan emang lagi hujan, Mas ... jadi nyaman banget buat selimutan dan tidur pas hujan deras. Xixixi."
"Aku juga nggak bakal bisa lupain semua yang udah kamu korbanin buat aku, Hun. Saat usahaku hancur dan bahkan bangkrut hingga aku tak punya apa-apa dan temen-temenku pun menjauhi aku. Kupikir, kamu sama aja dengan yang lainnya, kamu akan pergi juga ninggalin aku yang nggak punya apa-apa dan lagi terjatuh ke titik terendahku. Tapi ternyata kamu beda, Hun ... kamu tetep ada disisiku, ngedukung aku, kasih semangat bahkan kamu menguras semua tabungan kamu buat modal usahaku dan untuk biaya hidup aku waktu itu. Kamu nggak ada duanya dan aku bersyukur banget bisa di persatukan sama kamu, aku ngerasa beruntung bisa sama-sama kamu sekarang .. 'Thankyou', Sa ...."
"Hadeehh .. malah kamu yang jadi mellow gini Mas ... ckckckkckk."
"Jiaahh ... kamu yang mulai duluan tadi ...."
"Enggak ...."
"Iyaa ...."
"Enggakk ahh, Mas ...."
"Iyaa kok ...."
"Udah, udah nggak selesai sampai sore ni nanti kita kayak gini ... hahhaha."
"Kamu sihh."
"Kok aku sih Mas? Ehya, masak apa yaa nanti buat Ferry?"
"Masak apa aja, Sayang, yang penting nggak bikin kamu repot banget yaa* ...."
____________
Ferry kesini tanpa pacarnya, padahal aku sudah masak untuk empat porsi.
Aku juga jadi merasa sendiri karena Mas Indra mengobrol dengan temannya itu sedangkan aku tidak ada lawan bicara.
Jadi setelah makan malam, aku pamit untuk menonton TV di kamar sementara Mas Indra dan Ferry asyik membahas banyak hal di ruang depan.
Di kamar aku juga tidak bisa tidur karena biasanya aku akan terlelap setelah Mas Indra memeluk dan menciumku dulu. Hahaha.
"Mas Indra lama banget ... aku udah ngantuk," batinku.
"Sayang ... kamu belum tidur?" mas Indra masuk ke kamar dan melihatku masih terjaga.
"Kan kamu belum 'kiss' (cium) aku .. xixixi."
"Yaudah sini ... Sayangku ... cintakuu ... mwahh. Tidur dulu nggak papa yaa ... Ferry masih disini, Hun ..."
"Iya Mas ... nggak papa ... good night ... I love you."
"Good night ... I love you ...."
Setelah mendapatkan ciuman dan pelukan selamat malam, aku baru bisa tidur dengan nyaman.
__ADS_1
Mas Indra kembali ke luar dan melanjutkan perbincangannya dengan Ferry.