
"Bang, dua yah, bungkus."
"Mau pakai ketan hitam apa nggak, Neng?"
"Iya, Bang, mau. Satu bungkus berapa yah?"
"Biasa Neng, goceng."
"Yaudah empat bungkus aja tapi yang dua pisahin ya bang santannya."
"Siap, Neng."
Aku membeli lebih untuk Lea, siapa tahu nanti dia suka.
Sesampainya di rumah, Mas Indra langsung ganti baju dan bersiap untuk berangkat ke kantor. Aku menikmati bubur kacang ijo bercampur ketan hitam yang lezat sebelum melakukan tugas negara :
'membereskan rumah.'
"Aku pergi dulu ya, Hun, mwah ... ohya, siang ini nggak usah masak, aku mau beli sesuatu di mal, nanti kita sekalian 'lunch' (makan siang) disana aja sama Lea," kata Mas Indra sambil bergegas meninggalkan rumah.
"Terus, nanti aku jemput Lea dulu atau gimana?"
"Kita berdua jemput Lea, habis itu langsung ke mal."
"Mau beli apa si, Mas?"
"Barang buat projek di kantor. Tapi masak yaa, Hun, buat malam?"
"Okay deh, jadi nanti kamu pulang dulu kan?"
"Iya, Sayangku, aku berangkat ya, I love you."
"I love you."
Yes! siang ini tidak perlu masak.
Entahlah, aku senang sekali setiap kali Mas Indra bilang tidak usah masak. Tentu saja karena aku tidak perlu mengotori dapur dan aku bisa melakukan hal lainnya.
Setelah membereskan kamarku, aku masuk ke kamar Lea. Aku memang tidak pernah melarang anak itu bermain apa saja asalkan setelahnya harus di kembalikan pada tempatnya. Aku juga mempersiapkan box yang ada tutupnya untuk tempat menaruh mainan, jadi jika dia selesai bermain, kamar juga tidak akan terlalu berantakan.
Di meja belajarnya, ku lihat lagi kertas yang bergambar figur kami bertiga dan juga figur 'baby boy' yang Lea gambar pada figur diriku.
Ahh, apakah Lea ingin punya seorang adik dari perutku? Aku tersenyum membayangkan hal itu.
Saat anak kandungku lahir nanti, dia langsung punya seorang kakak perempuan yang cantik.
Beruntung sekali kamu, anakku.
Pekerjaan rumah sudah ku selesaikan semua. Iya memang tidak banyak apalagi aku dan Mas Indra juga sering mengerjakan pekerjaan rumah berdua dan tidak perlu setiap harinya semua di bereskan, asal dapur, kamar tidur dan juga lantai selalu bersih. Rumah ini juga tidak terlalu besar karena memang kami menyukai model minimalis. Tidak terlalu banyak juga furnitur dan perabotan, barang-barang yang jarang di pakai aku simpan rapi di gudang.
Aku bergegas mandi dan merapikan diri, sebentar lagi Mas Indra akan menjemputku dan kami akan ke sekolah Lea.
*tang-ting-tung-ting-tang-ting-tung ....
HP ku berbunyi, ku lihat di layar, Mas Indra melakukan panggilan video.
"Iya mas?"
"Udah rapi, Hun?"
"Alis sebelah kiri nih belum lurus."
"Aku udah OTW (on the way/di jalan) yaa."
"Iya, zheyeng."
"I love you!"
"I love you, mwahh!"
Aku dan Mas Indra menunggu Lea di ruang tunggu orangtua. Kulihat ada Kak Dewi, Mamanya Afif yang sedang menunggu putranya. Aku melemparkan senyum padanya dan di balas dengan senyuman cantiknya.
Aku juga melihat ada Oma Yuli, Neneknya Kalila, teman Lea tapi tidak berada di satu kelas yang sama.
Anak-anak keluar dari kelas mereka dengan ceria. Lea kegirangan melihatku dan juga Mas Indra menjemputnya.
"Momi! Papa!"
Lea berlari memeluk kami berdua. Aku melihat Miss Rahel dan bertanya tentang aktivitas Lea di sekolah pagi ini, katanya Lea tidak mengeluh sakit sama sekali bahkan dia sangat aktif hari ini.
Syukurlah, monster kecil itu tidak benar-benar sakit. Mungkin memang karena telat makan saja? Maka dari itu, aku harus selalu memberinya makan tepat waktu agar tidak terulang kejadian seperti semalam.
Di mobil, aku mengganti seragam Lea dengan baju yang telah ku bawa tadi. Siang ini kami akan pergi ke mal untuk menemani Mas Indra membeli barang keperluan projeknya sekaligus makan siang disana.
"Momi, aku tadi dapat stiker!"
"Really (Benarkah)? coba Momi lihat?"
"Aku pinter kan, Momi? aku jadi 'good girl' (anak baik) jadi Miss aku kasih aku stiker yang bayak sekali, Momi!" celoteh Lea sambil menunjukkan stiker yang dia dapat dari gurunya.
"Aduduuduu, anak pinter, anak baik, anak cantik, Momi boleh minta stiker nya?"
__ADS_1
"Buat momi semuamuanya, tapi Papa juga, hihihi."
"Terima kasih, Lea!" aku dan Mas Indra hampir berbarengan mengucapkan terima kasih pada bocah itu.
"You're welcome (Sama-sama)."
"Tadi Lea sakit apa nggak perutnya?"
"Enggak."
"Beneran?"
"Iya, Momi."
Setelah memarkirkan mobil, kami langsung menuju restoran sushi yang waktu itu aku kunjungi bersama Mas Indra.
Kami mendapat meja yang berdekatan dengan 'sushi bar'. Aku membiarkan bocah itu mengambil sushi yang dia suka.
Lea memilih 'Blue Lychee Mocktai' untuk minumnya. Sepertinya dia hanya suka dengan warnanya saja dari gambar yang dilihat dari buku menu. Mas Indra memesan 'Fruity Aplenty', dan aku, sama dengan beberapa waktu lalu, aku pesan 'Mango Vanilla' kesukaan ku.
Aku juga memesan 'Fried Salmon Skin' atau kulit salmon goreng kriuk yang membuatku mengingat anak itu dan meminta Mas Indra mengajak Lea makan disini bersama kami. Seperti biasa, Mas Indra pasti memesan salad dan 'Ikura Shoyuzuke' atau telur ikan, 'salmon sashimi' dan Aku memilih 'spicy crispy roll'. Kulihat Lea melahap 'tamago maki', 'kappa maki', dan juga 'unakyu maki'. Sepertinya monster kecil ini suka makan sushi!
"Lea suka sushi yah? cobain ini deh, kriuk-kriuk," tawarku menyodorkan kulit salmon goreng padanya.
"Thankyou, aku suka ini juga, Momi, nyam~nyamm."
"Cobain ini juga, Sayang," Mas Indra memberikan telur ikan ke piring Lea dan anak itu menyantapnya dengan lahap.
Lea terlihat 'happy' hari ini. Dibandingkan beberapa waktu lalu saat dia masih menyebalkan, kali ini dia sungguh telah jauh berbeda. Makan pun tidak perlu dengan ngambek dan tangisan lagi.
Setelah selesai menyantap makan siang dan membayar ke kasir, kami kemudian mengikuti Mas Indra untuk membeli barang-barang yang ia butuhkan untuk projek kantornya, sementara aku dan Lea sibuk memilih bermacam-macam buku mewarnai dan alat tulis serta spidol.
Jika aku perhatikan, monster kecil itu suka menggambar, jadi aku perlu menyediakan apa yang dia butuhkan untuk menyalurkan hobinya.
Meskipun gambarnya hanya sekedar gambar biasa ala anak seusianya, biarlah dia sibuk dengan imajinasi dan gambar yang dia buat. Daripada menonton TV atau bermain game online, aku lebih suka anak itu mewarnai atau bermain dengan mainannya meski aku juga tidak melarang Lea menonton televisi maupun bermain game. Aku hanya 'membatasi' durasinya.
Jika dibandingkan satu bulanan lalu, Lea pasti akan merengek dan menangis minta di belikan mainan saat kami melewati toko mainan di pusat perbelanjaan ini.
Saat menunggu Mas Indra selesai membeli barang-barangnya, tangan Lea menarik tanganku dan memberi isyarat supaya aku mendekatkan wajahku ke wajahnya lalu tangan mungilnya didekatkan ke arah telingaku, kemudian Lea berbisik pelan :
"Momi, can I have a toy? (Momi, bolehkah aku beli mainan)?"
"Go ask your Papa (Sana bilang papa kamu)," balasku berbisik juga.
"One only, Momi help me to tell Papa, please (Satu aja, Momi tolong aku bilang sama Papa)."
Ahhh, baru saja diomongin kalau sekarang dia tidak lagi meminta banyak mainan, tapi dasar anak-anak, melihat mainan yang di pajang di etalase toko membuatnya sontak tergoda dan ingin memilikinya. Aku jadi tidak tega karena Lea juga sudah meminta baik-baik padaku seperti itu.
Aku menuruti kemauannya, membiarkan dia memilih mainan yang dia suka dan aku meminta Mas Indra untuk membayarnya.
Mas Indra telah selesai dengan semua keperluannya, dan kami langsung pulang.
Dalam perjalanan pulang, tidak lupa kami memutar lagu seperti biasanya.
Sepertinya selera musik Lea juga telah mengikuti kami, monster kecil itu ikut-ikutan bernyanyi meski dengan suara cempreng kami semua.
🎶Jet plane headed up to the sky (to the sky)
Spread wings in the clouds, getting high (woo, woo)
We ain't hit a rave in a while (in a what?)
So take me back to London
Bass high, middle night, ceilin' low (ceilin' low)
Sweat brow drippin' down, when in Rome (when in Rome)
No town does it quite like my home (they don't)
So take me back to London🎶
Sampai di rumah, hari sudah cukup sore, aku meminta anak itu untuk beristirahat sebentar sebelum aku akan memandikannya dan membuatkan makanan untuk makan malamnya.
Aku membereskan belanjaan kami tadi dan Lea tidak sabar untuk membuka mainan barunya. Setelah meminta ijin padaku untuk membuka mainan itu, ku biarkan Lea bermain di ruang tamu dan aku pergi ke dapur untuk mengecek bahan masakan.
"Hun, masak apa ya? bingung aku lohh ..." ucapku sambil membuka kulkas mencari bahan yang mungkin dapat aku masak untuk malam ini.
Mas Indra memelukku dari belakang dan bilang :
"Kamu masak apa aja aku suka kok, aku habisin kok ...."
"Yaudah malam ini aku masak ayam kecap pedas buat kita, nanti Lea aku pisahin yang nggak ada cabenya."
"Iya, Sayang, kamu udah lama juga kan nggak masak itu? cabenya yang banyak yaa ...."
"Oke, nanti kamu yang cuci wajan dan semua alat masakku yah, Mas?"
"Kok jadi aku, Hun? kabur ahh ..." mas Indra melepaskan pelukannya begitu saja dan langsung berlari dari dapur.
"Massss Indraaaa!!" teriak ku sambil memanggil namanya.
__ADS_1
Saat ini daging ayam yang akan ku masak masih beku, jadi ku keluarkan dulu dari freezer dan merendamnya dalam baskom berisi air agar cepat meleleh. Sementara menunggu, aku akan memandikan Lea dulu.
Anak itu sedang bermain mainan yang baru dibeli dengan Papanya, saat aku mengajaknya mandi, dia agak menolak, lalu Mas Indra meminta Lea untuk mandi dulu dan meneruskan bermain lagi nanti.
Monster kecil itu menurut, bagus!
Setelah mandi dan wangi, kubiarkan Lea bermain lagi. Aku juga membersihkan diri dan mandi sebelum mulai memasak untuk makan malam kami.
Ayam yang ku rendam tadi juga sudah mulai lunak. Aku memotong satu ekor ayam itu menjadi 12 bagian lalu melumurinya dengan garam dan air perasan jeruk nipis lalu ku sisihkan sementara aku menyiapkan bahan lainnya. Tidak lupa, aku juga masak nasi terlebih dahulu agar matangnya bareng. Pernah waktu itu, aku lupa masak nasi, jadi saat masakan sudah matang, nasinya belum ada! padahal kami sudah lapar sekali.
Untung Mas Indra mau bersabar menunggunya meski perut kami beberapa kali berbunyi. Selain ayam kecap, aku juga akan menumis sayur sawi putih.
Berikut adalah resep dan cara membuat Ayam Kecap Pedaas ala Master Chef Sasa :
_______________
Bahan - bahan :
• 1 ekor ayam (potong jadi 12 bagian, lumuri dengan garam dan perasaan jeruk nipis, diamkan sekitar 20 menit)
• 2 barang daun bawang (iris serong tipis)
Bumbu Tumis :
- 4 siung bawang putih (geprek dan cacah halus)
- 1 butir bawang bombay ukuran kecil (iris tipis)
- 6 cabe merah keriting (iris serong)
- 10 cabe rawit merah (iris tipis)
- Minyak goreng secukupnya
Pelengkap :
~ Garam
~ Gula pasir
~ Penyedap rasa (royco)
~ Merica bubuk
~ Kecap manis
~ Air 100ml
Cara Membuat :
*1. Goreng ayam yang telah dilumuri garam dan jeruk nipis tadi hingga matang (jangan terlalu kering)
Bisa gunakan minyak sisa menggoreng ayam tadi secukupnya untuk menumis bumbu. Masukkan bawang bombay dan bawang putih, tumis hingga layu, masukkan irisan cabe dan bumbu pelengkap.
Tambahkan air, aduk rata dan masukkan ayam yang telah di goreng. Aduk rata, biarkan bumbu meresap.
Setelah bumbu meresap, masukkan irisan daun bawang, aduk rata, matikan api dan siap untuk disajikan*.
*jika membuat versi yang tidak pedas atau memisahkan untuk anak, masukkan cabe terakhir sebelum irisan daun bawang.
________________
Aku meminta Mas Indra membantuku mengambil nasi dan air minum untuk kami bertiga sementara Lea sudah duduk manis menunggu aku dan Mas Indra untuk makan bersama.
Semenjak disini, aku memang mengajari Lea untuk makan sendiri meskipun kadang aku juga menyuapinya. Kata Mbak Dewi, Lea susah makan dan lama untuk menghabiskan sepiring nasi. Tapi kenyataannya selama disini, anak itu bisa makan dengan cepat tidak seperti apa yang Mbak Dewi katakan. Aku juga mengajari monster itu untuk berdo'a sebelum makan serta ku beri contoh bagaimana menggunakan sendok dan garpu yang benar.
Sekarang setiap kali hendak makan, jika Aku memintanya untuk berdo'a dulu, Lea pasti akan langsung berdo'a dengan suara yang agak keras hingga aku dan Mas Indra mendengarnya.
Anak kecil adalah peniru yang baik!
Mereka akan mencontoh apa yang dilihat dan mereka alami di sekitarnya. Jika kita sebagai orangtua saling berkasih sayang, menghormati sesama, tidak berkata kasar, menjaga tangan untuk tidak mudah memukul, berani bilang 'maaf' jika berbuat salah, selalu bilang 'terimakasih' atas apa yang orang beri maupun apa yang diterima dan tidak ragu untuk berkata 'tolong' saat butuh bantuan, anak juga akan terbiasa dengan hal seperti itu kedepannya.
Sebaliknya, jika anak melihat hal-hal yang kurang baik dari orang tua maupun orang disekitarnya, mereka akan dengan cepat menirunya. Jadi sangat penting untuk para orang tua mengajari segala hal kebaikan dan juga norma-norma yang berlaku atau diberlakukan dalam keluarga.
"Ayo semuanya berdoa dulu," pintaku pada Mas Indra dan juga Lea.
Setelah berdoa, kami menyantap makan malam ini dengan lahap.
Lea ku bantu memotong ayam agar dia lebih mudah untuk menyuapkan makanan ke mulutnya. Mas Indra juga terlihat sangat menikmati masakanku.
Ahh, dia memang akan selalu memakan apa saja masakanku, apapun itu. Hahaha.
Setelah selesai menyantap makanan kami, aku membereskan meja makan dan dapur sementara Mas Indra dan Lea sedang duduk di ruang depan, sepertinya mereka sedang mewarnai buku gambar yang siang ini kami beli.
Saat-saat seperti itu selalu kugunakan sebaik mungkin untuk membereskan dapur.
Inilah yang dinamakan bekerja sama.
__ADS_1
Mas Indra bermain dengan Lea dan aku mengerjakan hal lainnya.
Sejak awal kami berdua memang selalu bekerja sama agar tidak ada salah satu pihak yang merasa lebih terbebani atau merasa capek sendiri.