Monster Kecil

Monster Kecil
Malam yang Dingin dan Sepi


__ADS_3

*Flash Back (2)*


Mbak Dewi adalah salah satu staff dari sebuah perusahaan yang bekerja sama dengan tempat Mas Indra bekerja.


Mbak Dewi telah lebih dulu mengenal Mario dan teman-temannya. Saat Mas Indra akhirnya bekerja di tempat yang sama dengan Mario, Mbak Dewi mengetahui profil Mas Indra, latar belakang dan dari mana asalnya.


Sejak saat itu, Mbak Dewi mulai gencar mendekati Mas Indra meskipun sebenarnya Mas Indra selalu menolak karena dia hanya ingin fokus bekerja dan menunjukkan pada orangtua dan keluarganya bahwa dia bisa hidup mandiri meskipun jauh dari Mamanya.


Dengan tampang serta penampilan yang mendukung, Mas Indra memang dapat dengan mudah mendekati wanita mana saja, namun dia benar-benar belum bisa serius karena tujuannya datang ke kota ini adalah untuk pencarian jati diri dan pembuktian atas kemampuannya.


Sebenarnya malah Mario yang menyukai Mbak Dewi, tapi karena latar belakang Mario yang dari kelurga biasa saja, Mbak Dewi selalu menolaknya. Namun sejak ada Mas Indra, Mbak Dewi jadi lebih sering menghubungi Mario. Tentu saja agar dia bisa mendekati lelaki incarannya.


Lalu tibalah malam itu, dimana Mas Indra dan tim nya merayakan keberhasilan projek yang telah mereka kerjakan hampir 3 bulan ke belakang.


Menganggap Mbak Dewi mulai menyukai nya, Mario mengajak Mbak Dewi ikut serta dalam perayaan malam itu.


Dua minggu kemudian Mbak Dewi mengaku hamil dan meminta Mas Indra bertanggung jawab karena itu adalah anaknya.


Merasa tidak melakukan apapun, Mas Indra menolak untuk bertanggung jawab.


Namun Mbak Dewi memberikan bukti foto-foto dimana Mas Indra dan Mbak Dewi sedang bersama. Meski Mas Indra terus mengelak, Mbak Dewi tetap meminta Mas Indra menikahinya, jika tidak dia akan mengadukan pada keluarga Mas Indra terlebih Mamanya.


Mengetahui hal itu, Mario merasa di khianati oleh Mas Indra. Padahal Mas Indra tahu jika Mario menyukai Mbak Dewi, oleh sebab itu, Mas Indra juga tidak pernah merespon saat Mbak Dewi mendekatinya.


Dan sekarang, tiba-tiba Mbak Dewi datang mengaku mengandung anaknya.


Kesal, marah dan dendam dengan Mas Indra, Mario berjanji akan menghancurkan Mas Indra.


Di mulai dari menggagalkan setiap projek yang mereka kerjakan hingga membuat Mas Indra menjadi kambing hitam atas kerugian perusahaan.


Sementara itu, Mbak Dewi terus mendatangi Mas Indra untuk menikahinya secepatnya.


Jika tidak, Mbak Dewi akan nekat menemui Mamanya Mas Indra.


Terpojok dan tidak ada pilihan lain, akhirnya Mas Indra setuju untuk menikahi Mbak Dewi meski dalam lubuk hatinya, dia yakin tidak pernah menyentuh Mbak Dewi sama sekali.


Namun Mas Indra juga tidak yakin dengan apa yang terjadi karena saat itu dia sedang mabuk berat dan tidak ingat apa saja yang telah dia lakukan selama tidak berada dalam kesadarannya.


Mengetahui Mas Indra akan menikahi Mbak Dewi, Mario pun marah besar.


Dia merencanakan sesuatu untuk memberi pelajaran bagi Mas Indra yang sangat dia benci.


Suatu malam di jalan yang gelap dan dingin, Mas Indra di jebak oleh sekelompok preman dan di hajar habis-habisan disana.


Agar terlihat seperti kasus perampokan, semua barang Mas Indra juga lenyap. Isi dompetnya kosong, hanya tinggal kartu pengenal saja tapi Mas Indra memang bukan warga tetap kota ini.


Tubuh Mas Indra di lempar ke gang yang lebih sempit lagi, cukup dekat dengan pos pembuangan sampah.


Tubuhnya terkapar dan penuh darah, bahkan untuk bergerak saja, Mas Indra tidak bisa. Dia hanya berharap akan ada yang berbaik hati untuk menolongnya atau bahkan menyelamatkan nyawanya.


Seorang gadis dengan jaket besar dan hoodie serta memakai topi layaknya lelaki, berjalan mengendap-endap menyusuri jalan sepi itu.


Entah kenapa dia berani lewat gang sempit yang tidak banyak cahaya lampu.


"Gawat, aku bisa kena marah kalau ketahuan pulang jam segini. Aku harus lewat jalan yang serem ini pula, terus manjat tembok untuk sampai di jendela kamarku. Itupun kalau nggak dikunci oleh Kakakku. Gara-gara si Kipas nggak bangunin aku tadi nih. Haisshh."


*gedebuukk, kablluuuukkkk!!


"Adooohhhh!! apaan sih ini halangin gue jalan!"


Gadis tadi tersandung dan jatuh tepat di samping tubuh Mas Indra yang terbaring tak berdaya, wajah dan tubuhnya penuh luka, darah juga bercucuran dimana-mana. Sontak gadis itu menjerit kaget dan ketakutan.


"Setann ... seetann ... hantuu ... orang matii tolong!!" teriak gadis itu yang terkejut dengan apa yang di lihatnya, gadis itu hendak berlari, tapi kakinya terasa berat untuk melangkah, dia hanya bisa menangis memanggil nama Ibu, Kakak dan juga adiknya.


Saat itu memang tidak ada orang di sekitar area jalan sepi itu karena memang cukup jauh dari hunian warga. Bahkan bisa di bilang, tempat itu jarang di lalui orang. Jalan itu sering di juluki sebagai jalan tikus, dimana sering di jadikam jalan alternatif bagi pejalan kaki yang tidak ingin melewati jalan raya untuk sampai di perumahan sekitar.


"Uhukk, uhuukk, aghhh, to-oo-looonggg ...."


"Hantuu!! jangan sakitin gue plis! gue nggak mau pulang malem lagi gue janji, gue akan jadi anak, adek dan kakak yang baik, pliis jangan makan gue, lu, hantuu, pergi sana!"


Tidak ada suara lainnya, hanya suara seseorang yang tergeletak tak berdaya di samping gadis itu.


Tidak ingin mati di makan hantu, akhirnya gadis itu memberanikan diri untuk lebih mendekati sesuatu yang ada di sampingnya.

__ADS_1


"To-oo-looonggg, a-aa-kuu ..." suara itu terdengar sangat berat dan terputus-putus, menambah suasana menjadi semakin mencekam.


"Kambinggg!! hantu kok bisa ngomong?!" teriak gadis itu setengah menjerit dengan kencang.


Setelah memastikan apa yang ada di hadapannya adalah manusia dan bukan hantu seperti yang ada di pikirannya, gadis itu segera berdiri dan ingin berlari secepatnya.


Dua, tiga, empat, lima langkah telah diambil oleh gadis itu dan dia bisa saja segera lari pulang ke rumah. Namun dia berbalik dan menolong Mas Indra.


"Ngerepotin aja sih nih orang? gue juga ngapain balik lagi kesini? harusnya gue pulang aja tadi. Tapi masa iya gue biarin manusia ini mati. Setidaknya kalau emang orang ini mati, ya jangan di tempat sampah juga kaleee," cerocos gadis itu tanpa basa-basi.


Mas Indra yang setengah sadar tidak bisa berbicara apa-apa, dia sedang sangat kesakitan dan berharap medapat sebuah pertolongan.


Gadis itu punya ide, dengan susah payah, dia mengambil gerobak sampah dan menaruh beberapa potongan kardus bersih di dalamnya Lalu dengan hati-hati mulai mengangkat tubuh Mas Indra yang tidak berdaya.


Saat sedang berusaha mengangkat tubuh berat Mas Indra, tiba-tiba mata Mas Indra terbuka, kaget dan takut, gadis itu menjerit kencang dan berteriak,


"Hantuuuu!!!"


Mas Indra tidak bisa bicara apa-apa tapi matanya menatap gadis itu dengan penuh rasa terimakasih dan sekuat tenaga mencoba untuk berdiri karena gadis itu menunjukkan gerobak sampah yang akan dia gunakan untuk membawanya keluar dari gang sempit ini.


"Kalau lu bisa selamat dan hidup, setidaknya lu jangan lupa bahwa di dunia ini masih ada orang yang peduli dan nggak ngebiarin lu mati disini. Inget juga kalau Tuhan yang kirim gue kesini, kalau nggak, mana mungkin gue lewat sini sendirian. Huufff."


Gadis itu terus saja bicara, namun meskipun sambil mengomel dan terus bicara, gadis itu melepas jaketnya dan memberikannya pada Mas Indra untuk menutupi tubuhnya.


Mas Indra hanya menatap gadis itu, matanya mengeluarkan airmata, mulutnya ingin mengatakan sesuatu tapi tak ada suara yang terdengar darinya.


"Lu mau bilang makasih ke gue? Iya, sama-sama. Iya iya, gue emang cantik dan baik. Xixixi."


Mas Indra menggelengkan kepalanya dan menunjuk sebuah dompet yang terlempar agak jauh. Setelah menaruh tubuh Mas Indra ke dalam gerobak sampah, gadis itu mengambil dompet yang ditunjukkan oleh Mas Indra tadi.


"Kirain lu mau bilang makasih ke gue. Hufftt!"


Mas Indra hanya tersenyum melihat tingkah gadis itu, dalam hatinya, dia berkata, terimakasih tidak akan cukup untuk membalas kebaikan gadis itu.


Sampai di jalan raya, beberapa kali gadis itu menghentikan mobil tapi tidak ada satupun yang mau berhenti.


Mendengar Mas Indra terus kesakitan, gadis itu memutuskan untuk menarik gerobak itu menuju rumah sakit terdekat.


Khawatir Mas Indra tidak bisa selamat, gadis itu mempercepat langkahnya untuk sampai ke rumah sakit.


Gadis itu bilang jika dia menemukan orang yang hampir mati di dekat tempat pembuangan sampah. Para petugas rumah sakit segera memberikan pertolongan kepada Mas Indra dan meminta gadis itu masuk untuk menjelaskan kejadian lengkapnya.


Tidak lupa, gadis itu memberikan dompet yang berisi tanda pengenal Mas Indra kepada resepsionis rumah sakit. Lalu pihak rumah sakit menghubungi keluarga Mas Indra dari informasi yang ada di tanda pengenal tadi.


Gadis itu kemudian menunggu Mas Indra di luar ruang Gawat Darurat.


Beberapa jam kemudian, dokter keluar dan memberitahu gadis itu bahwa kondisi Mas Indra sudah stabil sekarang. Gadis itu di perbolehkan masuk.


Melihat Mas Indra terbaring lemah, gadis itu merasa kasihan. Jaket yang di gunakan untuk menutupi tubuh Mas Indra tadi tergeletak di kursi.


Sebenarnya gadis itu ingin pergi sekarang, tapi anggota keluarga Mas Indra belum ada yang datang. Gadis itu memutuskan untuk menunggu sebentar.


Beberapa waktu kemudian Mario datang dan bertemu dengan gadis itu yang menunggu di samping ranjang Mas Indra. Mario bertanya banyak hal tentang bagaimana gadis itu bisa membawa Mas Indra ke rumah sakit.


Belum sempat menjawab, beberapa orang lagi masuk ke ruang rawat Mas Indra, sepertinya itu keluarga Mas Indra.


Karena terlalu banyak orang, gadis itu akhirnya keluar. Dia baru sadar harus pulang sekarang, jika tidak, Ibu dan kakak perempuan nya pasti akan khawatir. Gadis itu berlari keluar dan ke jalan raya, dia menghentikan seorang ojek untuk mengantarkan nya pulang.


Mbak Dewi juga datang ke rumah sakit, melihat ada jaket dan topi yang terdapat darah, Mbak Dewi membuang kedua barang itu ke tempat sampah.


Setelah menjalani perawatan intensif, Mas Indra pulih dan sehat lagi, Mbak Dewi kembali meminta Mas Indra untuk menikahinya.


Sebenarnya Mas Indra tidak ingin menikahi Mbak Dewi, namun karena desakan dan ancaman yang terus Mbak Dewi lakukan pada Mas Indra, akhirnya mereka menikah juga.


Padahal dalam hati Mas Indra, dia hanya ingin menikahi gadis yang telah menolong nya di malam dingin dan sepi itu.


Setelah menikah, Mas Indra tidak pernah menyentuh Mbak Dewi karena dia memang tidak mencintai Mbak Dewi sama sekali.


Untuk masalah pengobatan, Mas Indra akhirnya pulang ke rumah orangtuanya.


Beberapa bulan kemudian Mbak Dewi mengabari kalau dia sudah melahirkan.


Merasa anak itu bukan dari perbuatannya, Mas Indra dan Mbak Dewi memutuskan berpisah dengan syarat setiap bulannya Mas Indra harus memberi sekian uang untuk sang Bayi.

__ADS_1


Mario yang ketakutan perbuatannya akan ketahuan, kabur ke luar negeri dan tidak pernah kembali lagi ke kota ini.


Mas Indra tidak bisa melupakan pertolongan gadis itu. Beberapa tahun kemudian, Mas Indra memutuskan untuk kembali lagi kesini. Sebenarnya orang tua Mas Indra tidak mengijinkan, khawatir masih ada orang yang akan mencelakai anaknya lagi, tapi Mas Indra memaksa.


Mengetahui Mas Indra disini, Mbak Dewi mendekati Mas Indra lagi dengan alasan supaya Mas Indra juga menghabiskan waktu dengan Lea, anaknya.


Sebenarnya tujuan Mas Indra kembali ke kota ini adalah untuk mencari gadis itu untuk berterimaksih. Dia beberapa kali mengunjungi gang sempit dimana gadis itu menolongnya tapi tanpa hasil, dia tidak pernah bertemu dengan siapapun. Jaket dan topi gadis itu pun telah di buang oleh Mbak Dewi di Rumah Sakit.


Kesal usaha pencariannya tidak kunjung ada hasil, Mas Indra mulai berkenalan dengan banyak wanita dan berharap suatu hari dapat bertemu dengan gadis itu.


Mas Indra juga memutuskan untuk membangun usaha disini dengan beberapa temannya. Sesekali Mas Indra menemui Lea atau mengajaknya jalan-jalan tapi tanpa Mbak Dewi.


Suatu hari, seorang gadis berjalan dengan sangat cepat melewati gang sempit itu, Mas Indra sangat senang melihatnya, berharap itu adalah gadis yang menolongnya dulu.


Mas Indra mengikuti gadis itu ke rumahnya dan mulai mencari tahu siapa dia. Namun ternyata gadis itu bukan orang yang dia cari selama ini.


Hampir satu tahun Mas Indra mencari gadis itu tapi tidak kunjung ketemu. Apalagi Mas Indra tidak benar-benar mengingat wajahnya. Satu-satunya yang tidak bisa dilupakan adalah suara gadis itu.


"Mungkinkah gadis itu telah pindah dari kota ini? atau jangan-jangan dia sudah menikah?" gumam Mas Indra dengan gurat kecewa.


Merasa frustasi karena pencariannya tidak membuahkan hasil meski sudah hampir satu tahun berusaha, Mas Indra memutuskan untuk sementara berhenti mencari gadis itu dulu sebelum dia menemukan 'clue' atau petunjuk tentang gadis yang tidak di ketahui namanya itu.


Suatu hari, Mas Indra akan melakukan pertemuan kerja di sebuah kafe, disana, ada segerombolan wanita yang sedang keluar dari kafe itu.


*Brrruukkkk!!!


seorang wanita menabrak Mas Indra tanpa sengaja, karena berjalan dengan 'pecicilan'. Minuman yang ada di tangannya tumpah ke lantai dan wanita itu mulai mengomel.


"Adooohhhh!! Boba 'milk tea' gue?! Lihat-lihat donk! halangin gue jalan aja, kambing!" teriak gadis itu ketus.


"Cin, elu yang salah, jalan kagak lihat-lihat!" salah satu teman wanita itu mengingatkan jika Mas Indra memang tidak salah.


Gerombolan wanita itu tersenyum pada Mas Indra dan di balas dengan senyum juga kecuali satu yang judes itu, dia hanya peduli dengan minumannya yang telah tumpah.


Tidak terima minumannya tumpah karena menabrak Mas Indra, wanita itu dengan berani minta ganti.


"Eitt, jangan main pergi aja, minuman gue tumpah, lu harus ganti!"


"Udah, Cin, lu yang salah, ayo kita pergi. Jangan bikin malu kita-kita donk!" salah satu teman wanita itu menarik tangannya untuk segera pulang.


"Dasar cewek aneh," batin Mas Indra kesal.


"Tunggu sebentar, sepertinya suara itu tidak asing? Dan, kata-kata seperti 'halangin gue jalan aja', 'kambing', aku pernah mendengarnya, tapi dimana?"


*tang-ting-tung-ting-tang-ting-tung ....


Suara telepon membuyarkan fokus Mas Indra. Teman-temannya akan segera sampai di kafe itu sebentar lagi.


Masih penasaran dengan apa yang baru saja dia alami, Mas Indra akhirnya menuju kasir dan bertanya kepada staff kafe itu tentang siapa gerombolan wanita tadi.


"Oh, mereka itu pelanggan kami, Pak, mereka sering kesini pada akhir pekan," jawab staff itu ramah.


"Mas tahu siapa nama-nama mereka?" tanya Mas Indra penasaran.


"Wah, nggak hafal saya, Pak, yang saya tahu yang paling sering kesini itu Mbak Fani sama Mbak Micin aja."


"Micin? Hahaha, demi apa?" tawa Mas Indra tidak bisa tertahan lagi mendengar mama Micin sebagai nama orang karena yang dia tahu, itu adalah sebuah sebutan untuk salah satu bumbu dapur, semacam penyedap rasa.


"Hehe, namanya Mbak Sasa, Pak, tapi lebih sering di panggil Micin, jadi saya juga ingatnya begitu," jawab staff itu malu-malu.


"Oh okay, makasih ya, Mas."


"Sama-sama, Pak, ini pesanan nya ...."


"Thankyou."


Mas Indra duduk di salah satu kursi untuk menunggu teman-temannya.


Pikirannya tertuju pada dua nama.


"Fani dan Micin? oh bukan, tapi Sasa. Siapa di antara dua nama itu yang mengatakan 'kambing' tadi ya?"


"Hai, bro, udah nunggu lama? minuman kita mana nih?"

__ADS_1


Teman-teman Mas Indra sudah datang, mereka kemudian mulai berdiskusi tentang pekerjaan.


Namun fokus Mas Indra kacau balau karena kejadian barusan, dirinya bimbang antara mau menyerah atau melanjutkan pencarian karena sepertinya sudah ada sebuah titik terang di depan.


__ADS_2