Monster Kecil

Monster Kecil
Hujan


__ADS_3

Mas Indra sudah berangkat ke Bali sore tadi, kini aku hanya di rumah berdua dengan Lea.


Ahh, baru beberapa jam berpisah saja aku sudah merindukan suamiku. Padahal jika kami bersama, seringkali hal kecil dan sepele saja selalu kami ributkan.


Namun dalam keadaan seperti ini, aku sungguh merindukan suamiku.


Dan seperti pasangan suami istri pada umumnya di luaran sana, memang banyak cek-cok tidak penting yang sering kami permasalahkan, terutama akhir-akhir ini masalah atau hal yang sering kami ributkan adalah tentang Mbak Dewi dan Lea. Urusan monster kecil itu selalu sukses membuatku emosi dan merusak 'mood'ku setiap kali kami membahasnya. Aku benar-benar muak dengan semua ini.


Seperti pada Jum'at malam di minggu kedua yang lalu saat aku membuat Lea menangis karena aku memaksanya mengerjakan seluruh PR, pertengkaran kami berdua tidak selesai hanya dengan permintaan maaf begitu saja.


Nyatanya, malam itu kami beradu mulut dan menghabiskan sepanjang malam penuh emosi, bahkan aku sudah mengemasi baju-baju ku ke dalam koper dan bersiap untuk pulang ke rumah Ibu tapi Mas Indra berhasil membujuk dan mencegahku pergi.


Mas Indra tidak terima anaknya ku buat menangis hanya karena masalah PR semata. Di malam itu, aku juga mengungkapkan kekesalan dan juga keberatanku atas kehadiran Lea di rumah ini.


Apalagi Mas Indra berniat untuk mempertahankan Lea disini dan tinggal bersama kami meskipun jika Neneknya telah datang lagi nanti, yang tentu saja membuatku murka!


Enak saja mau mengajak Lea tinggal disini sementara Mbak Dewi akan dengan bebasnya berfoya-foya dan menikmati kehidupannya, sementara aku harus mengurus anak yang bukan lahir dari rahimku? Ada-ada saja!


Emosiku juga meluap saat kami membahas uang yang rutin Mas Indra kirimkan pada Mbak Dewi dua minggu sekali. Sebenarnya aku tidak ada masalah dengan uang, toh aku juga mendapatkan jatah sendiri. Tapi yang tidak kuterima adalah, untuk apa uang sebanyak itu digunakan oleh Mbak Dewi selama ini?


Memenuhi gaya 'hedonisme' dan kehidupan 'kelas atas' bersama teman-teman sosialitanya?


Mengingat Lea hanya makan nasi dan telor ceplok setiap harinya, baju-baju yang dibawakan kesini dan keadaan bocah itu setiap kali kami membawanya untuk pergi jalan-jalan di akhir pekan. Belum lagi masalah di sekolah yang selalu Miss Rahel ceritakan.


Aku juga menemukan fakta baru tentang penyalahgunaan uang yang seharusnya untuk les tambahan Lea.


Biaya les per jam Lea adalah 150 ribu per lima hari dalam seminggu. Artinya dalam satu bulan total biaya les adalah tiga juta rupiah, namun Mbak Dewi meminta empat juta tiap bulannya untuk les saja. Jelas kan dia memakan satu juta uang Lea itu?


Okay, aku memang tidak mempermasalahkan tentang uang dan nominalnya, tapi melihat Lea yang belum bisa menulis dan membaca serta info dari Miss Rahel yang mengatakan Lea adalah murid yang paling lambat di kelas, membuatku bertanya-tanya apa benar Lea mendapatkan Les tambahan dan mempunyai guru pribadi? apa itu hanya akal-akalan Mbak Dewi saja untuk mendapatkan uang lebih dari sang mantan suami?


Aku bertambah kesal setiap kali melihat lini masa media sosial Mbak Dewi dengan postingan dan foto-foto penuh dengan gaya 'hedon'nya.


Well, itu memang bukan urusanku tapi melihat sikap dan kelakuan Lea selama ini yang begitu nakal dan tak punya sopan santun terlebih suka memukul, aku jadi bertanya-tanya apakah Mbak Dewi benar-benar merawat dan mendidik Lea dengan baik?


Aku memang beberapa kali 'stalking' dan mengintip profil media sosial Mbak Dewi, tapi tentu saja aku menggunakan akun 'klonengan' alias akun palsu dan bukan akun pribadiku.


Gila saja jika aku memakai akun utamaku, bisa-bisa ketahuan kalau aku 'kepo' dengan hidupnya. Wkwkwk.


Beberapa kali aku mengintai profil media sosial Mbak Dewi juga bertujuan untuk mencari tahu dengan siapa saat ini dia berkencan?


Aku sangat berharap Mbak Dewi segera dipertemukan dengan jodohnya dan hidup bahagia bersama pasangannya agar Ibunya mbak Dewi juga tidak terus membenciku dan menuduhku sebagai penghancur kebahagiaan anaknya.

__ADS_1


Sebenarnya aku sangat penasaran dan curiga dengan pola asuh Ibunya Mbak Dewi itu. Jika kulihat, dia sudah agak 'sepuh' yang seharusnya, menurutku dia tidak di bebani dengan mengurus dan merawat Lea. Selain mengaku dapat mengurus Lea sendiri, kata Mas Indra, Mbak Dewi juga tidak percaya pada orang lain untuk merawat anaknya, misalnya 'baby sitter' atau perawat anak. Jadi dari awal memang Ibunya Mbak Dewi lah yang mengurus Lea selama ini.


Jika ku perhatikan, saat Lea marah dan ngambek, matanya akan melotot seperti mau copot persis seperti Neneknya saat memakiku dulu. Lea juga tidak segan memukul dan membanting pintu saat 'mood'nya berubah. Bocah itu sering sekali menunjukkan sikap 'moody' atau perubahan sikap yang sangat kontras dari menit ke menit.


Terkadang, tiba-tiba Lea akan senyum-senyum sendiri lalu tertawa terbahak-bahak tanpa sebab.


Dulu aku sering takut saat anak itu tiba-tiba tertawa padahal sebelumnya dia menangis atau ngambek.


Aku bahkan pernah khawatir jika Lea mengidap sebuah kelainan atau penyakit mental maupun hal lainnya.


Tapi tentu saja, aku tidak menceritakan pada Mas Indra.


Apa jangan-jangan Nenek Lea memperlakukan cucunya dengan seenaknya? apa Ibunya Mbak Dewi itu pernah memukul Lea atau melakukan kekerasan fisik terhadap bocah itu?


Aku tidak bisa juga menuduh tanpa bukti. Tapi bagaimana aku bisa tahu apa yang terjadi selama ini?


Memang Lea pernah mengaku jika Neneknya itu 'galak'. Kubilang, 'Momi kan juga galak?' tapi bocah itu menjawab, "tapi aku suka sama Momi."


Pffttt ... bagaimana caranya aku bisa tahu Ibunya Mbak Dewi mengasuh Lea setiap hari ya? Aku saja tidak pernah masuk ke rumah itu.


____________


Ahh, Mas Indra juga belum membalas chatku, apa dia belum 'landing' (mendarat)? atau mungkin baru sampai di hotel dan beristirahat?


Diluar, langit terlihat mendung dan gelap. Apakah mau hujan?


Hwaa ... di saat hujan dan dingin begitu harusnya akan lebih syahdu jika mas Indra Ada di sampingku.


*Jeduuweeerrrr ... jeduuweeerrrr, glodakkk!! bressssss!!


Suara petir terdengar sangat nyaring diluar lalu sesaat kemudian jutaan butiran air itu jatuh ke bumi, sangat deras.


Aku suka hujan, karena di saat hujan, rahmat Tuhan pun turun ke bumi dan membasahi tanah yang gersang.


Tapi hujan deras bagi Mas Indra malah selalu mengingatkannya pada sikapku dulu yang tidak peduli padanya.


Aku yang malah enak-enakan tidur sementara dirinya kebasahan di luar pagar rumah Ibu.


Aku mendekati jendela kamar dan memandang keluar. Aku sangat menyukai hujan, bahkan dengan kegilaanku, aku mulai menghitung setiap tetesnya. Biasanya dari belakang, Mas Indra akan memelukku dan kami berdua sama-sama larut dalam kegilaan ini, 'menghitung tetes air hujan'.


"Hufff ... aku kangen banget sama kamu, Mas, 'right here, right now' (disini, sekarang)." Batinku lirih.

__ADS_1


"Hwaaaaa, hwaaa!!"


*Dubrraaaakkkk!!


Sepertinya kudengar suara Lea di luar, apa dia takut dengan petir dan suara hujan deras? lalu suara apa lagi itu? apakah suara pintu dibanting? siapa yang melakukannya?


Aku segera lari keluar dan tidak kutemukan Lea di ruang depan. Dimana anak itu? Kulihat pintu kamarnya tertutup, apa dia di dalam? apa tadi Lea yang membanting pintu?


"Lea, kamu dimana, Nak?!" tanyaku sambil membuka pintu kamar itu dan ku dapati monster kecilku sedang menangis di sudut ruangan sambil menutup telinga dengan kedua tangannya.


Aku menghampiri Lea dan berniat mengajaknya ke kamarku. Tapi, tiba-tiba anak itu berteriak dan matanya melotot besar sekali. Mata yang terakhir kali ku lihat di hari kelima minggu pertama.


Ada apa dengan anak ini?


Lea terus menangis dan menjerit, kedua tangan mungil itu masih menutupi dua telinganya.


Apa Lea takut hujan?


Aku terus mendekat ingin mengajaknya berdiri, lalu,


"Bbbuuukkkkk!!"


"Ouucchhh!!" aku reflek teriak saat tangan monster kecil itu memukul tangan yang ku ulurkan. Ada apa ini??!!


"Lea?! kok kamu mukul Momi?"


"Hwaaa ... hwaa ... 'go away!' (pergi)!"


"Lea? ini Momi, Nak ..." aku tetap terus mendekat dan mendekap tubuh anak itu, kurasakan nafasnya begitu cepat diiringi airmata yang terus mengalir dan suaranya yang semakin serak.


Kupeluk tubuh Lea meski dia menolak dan berontak, tapi tentu saja aku lebih kuat dan bisa menguasai tubuh anak TK itu.


"I hate you! go away! (Aku benci kamu! pergi)!"


"Lea, sadar, Nak, kamu kenapa?!"


"No!! go away! (Tidak!! pergi)!"


Aku tidak tahu apa yang terjadi tadi. Iya, aku memang salah meninggalkan Lea bermain sendirian di depan dan menikmati guyuran hujan, tapi bukankah Lea tadi baik-baik saja? kenapa tiba-tiba dia berteriak dan menyuruhku pergi bahkan mengatakan benci padaku? apa benar Lea sebenarnya membenciku karena aku terlalu keras padanya?


"Momi? Momi, aku takut momi, hiks ... hiks ...."

__ADS_1


__ADS_2