Monster Kecil

Monster Kecil
Anak Siapa?


__ADS_3

Mbak Dewi terus saja mengoceh tanpa henti meski sebenarnya aku ingin sekali mengusirnya karena waktu semakin berjalan dan ini cukup merugikan untukku.


"Indra itu bukan tipe yang bertanggung jawab, palingan kalau kamu udah punya anak, dia akan ninggalin kamu kayak aku dan nyari cewek baru lagi. Siklus itu akan terus berjalan, Sa."


"Makanya, Mbak, dari awal uang jatah bulananku selalu ku tabung, lebih dari separuh aset yang di miliki Mas Indra juga atas namaku termasuk rumah ini. Jaga-jaga kan Mbak kalau ada apa-apa, sebenarnya bukan aku yang kasih ide itu, tapi Mas Indra sendiri yang mengusulkan, aku maunya atas nama berdua padahal, tapi Mas Indra nya bilang biar atas namaku aja, hehehe."


Mbak Dewi terdiam, mungkin dia merasa tersindir oleh ucapanku. Ya, memang sih dulu saat masih bersamanya, Mas Indra belum seperti sekarang ini. Jadi aku pun maklum jika saat berpisah dengan Mas Indra, mbak Dewi tetap tidak punya apa-apa.


Mungkinkah awalnya Mbak Dewi tertarik pada ketampanan wajah Mas Indra? atau ada hal lain yang belum aku ketahui kebenarannya?


Semakin dewasa, wanita tidak hanya memandang pria hanya dari penampilan dan cinta semata. Wanita lebih memilih pria yang bertanggung jawab dan mampu menjalankan perannya sebagai pemimpin dalam kehidupan rumah tangga. Terlebih jika dapat menuntun sampai ke surga.


Lea lelah menangis tidak mau pulang sampai dia ketiduran di sofa sambil memeluk tanganku. Kulihat jam di dinding, Ini sudah hampir jam 8 dan acara ulang tahun Tania akan segera di mulai, aku juga tidak bisa datang lebih awal. Akupun belum mengabari teman-teman karena HPku berada di dalam kamar.


Kembali, ingin rasanya aku mengusir Mbak Dewi pergi, tapi itu akan terlihat kurang sopan, meskipun aku sebenarnya memang tidak sopan.


Selama kurang lebih 3 jam, Mbak Dewi telah bercerita banyak hal dan 90% diantaranya adalah tentang ketidakbaikan Mas Indra.


Oh, tapi tentu saja semua itu tidak ku telan mentah-mentah. Membaca suatu berita atau hal yang sedang viral saja misalnya, aku biasa kroscek dulu dan tidak langsung menghakimi, nyinyir maupun berkomentar yang tidak-tidak.


Kenapa sih Mbak Dewi tidak 'to the point' saja jika memang butuh uang?


Kalau Mas Indra tidak mau memberipun, mungkin aku bisa sedikit membantu.


Tapi apa? dia malah menjelekkan Mas Indra di depanku!


Aneh sekali wanita satu ini.


"Taksi online nya susah kalau jam segini ya, Sa? Dari tadi aku nggak dapet-dapet nih," ucap Mbak Dewi sambil menggeser layar handphonenya.


Tentu saja aku tahu itu adalah trik supaya aku mengantarkan mereka berdua.


Tapi bagaimana dengan ulang tahun Tania? mereka pasti sudah menungguku lama.


Namun karena aku pandai membaca kode, maka aku tawarkan untuk mengantar Mbak Dewi dan Lea pulang. Sebelum itu aku mengambil HP di kamar dan mengabari teman-teman atas keterlambatanku.


Bahkan ada 24 panggilan tak terjawab hanya dari Mas Indra. Bisa jadi dia khawatir atau kangen padaku ya? xixixi.


Di mobil, Mbak Dewi banyak diam.


Situasi ini begitu sebenarnya sangat 'awkward' (canggung) tapi aku juga malas meladeni omongan Mbak Dewi jika itu tentang Mas Indra lagi.


Mungkin jika Mbak Dewi membicarakan semua kejelekan Mas Indra saat aku dan dia masih awal kenal, aku akan langsung memblokir kontak Mas Indra dan tidak ingin kenal lagi dengannya.


Tapi sekarang situasinya sudah berbeda.


Aku mengantarkan mbak Dewi sampai rumahnya lalu bergegas pulang dan bersiap untuk menghadiri acara ulang tahun salah satu sahabatku. Kapan lagi kami bisa berkumpul bersama jika tidak dalam acara semacam ini karena masing-masing dari kami pun sudah sibuk dengan urusan pribadi.


Meskipun telat, aku tetap datang ke acara Tania.


Kami semua sepakat walau diantara kami sudah saling menikah dan tidak bisa saling sering untuk kumpul bersama, namun jika ada acara ulang tahun atau semacamnya, kami wajib datang.


Setelah makan dan seperti biasa, foto-foto 'wefie' untuk menghiasi beranda media sosial kami maupun 'insta story', kami saling duduk dan bercerita banyak hal.


Angel mendekatiku, tiba-tiba anak itu memelukku. Aku merasa aneh, karena ini tidak biasa. Angel mulai bercerita bakat 'detective' nya tidak dia sia-siakan begitu saja. Jadi karena tidak ada mantan pacar dari lelaki yang sedang mendekatinya untuk di selidiki, Angel malah menguntit mbak Dewi.


Ya, Angel ini sudah seperti agent rahasia atau CIA saja.


Kata Angel, Mbak Dewi sebenarnya memang sudah tidak bekerja. Awalnya dia bekerja menjadi seorang sekertaris di sebuah kantor, lalu entah di berhentikan kerja atau dia yang 'resign', Mbak Dewi ternyata sudah tidak bekerja lama.


Angel juga sering melihatnya berbelanja berbagai pakaian dan barang-barang mewah bersama teman-temannya, makan di restoran mahal dan beberapa kali mengunjungi klub malam.


Angel merasa kasihan padaku karena aku di rumah merawat bocah itu sedangkan Ibunya malah bersenang-senang di luar sana.


Aku memang marah dan geram, tapi aku juga tidak bisa begitu saja percaya sepenuhnya pada Angel sebelum aku benar-benar mempunyai bukti lain lagi. Namun dari foto-foto dan beberapa bukti yang Angel suguhkan, itu sudah cukup meyakinkan.

__ADS_1


Apalagi buat apa Angel menolongku dengan melakukan semua ini jika dia tidak peduli padaku sebagai seorang sahabat?


Agghhh ... pikiranku bercampur aduk.


Mas Indra pulang malam ini dari Bali, setelah acara Tania selesai, aku akan langsung berangkat ke bandara. Padahal dia landing jam 23:45 tapi tetap memintaku untuk menjemputnya. Udah kangen berat katanya.


Hufftt dasar.


Sambil menunggu Mas Indra, aku membeli pop mie dan beberapa minuman serta camilan. Beruntung ada kursi kosong yang bisa ku duduki sehingga aku dapat menikmati mie kuah panas ini tidak sambil berdiri. Jika mood ku sedang kurang baik, aku memang jadi banyak makan. Tapi setelahnya aku harus berolahraga. Hahaha.


Mas Indra menelponku, katanya dia tidak melihatku di area ruang tunggu. Aku berpura-pura bilang bahwa aku ketiduran dan tidak bisa menjemputnya di bandara.


Sambil cekikikan, aku membalas pesan dari suamiku itu.


Tapi aku heran, Mas Indra tidak membalas lagi.


Apa dia memahami aku yang tidak perlu menjemputnya?


Haisshh, harusnya aku memang lebih baik tidur saja dan tidak usah kesini.


Sepersekian detik kemudian, ada seorang pria yang duduk di kursi sebelahku, dia juga membawa pop mie panas dan minuman.


"Udah kenyang, Mbak?" suara itu terdengar tidak asing lagi. Aku menoleh dan benar saja itu adalah Mas Indra!


"Hun? kamu kok tau aku disini?" tanyaku penasaran.


"Enggak, aku emang laper kok, bukannya kamu bilang tidur di rumah?" jawab Mas Indra heran.


"Jangan bohong ...."


"Enggak, Sayang ...."


"Ngapain tadi tanya-tanya udah kenyang segala?!"


"Abisnya dari belakang kamu mirip Sasa. Hahaha."


Aku mencubit lengan Mas Indra dan dia memelukku erat. Katanya 3 hari tidak bertemu aku sama dengan 72 jam lamanya.


Mas Indra memang selalu bisa untuk membuatku tersipu malu dan membuat pipi ini berubah menjadi pink merona.


Heh? tapi bukannya satu hari itu memang 24 jam? 24 di kali 3 kan benar 72? jadi apa bedanya?


Dasar Mas Indra! tidak ada romantis-romantisnya! Hiks, hiks.


"Udah jangan manyun gitu, nih buat kamu."


Mas Indra menyodorkan sebuah paperpag yang entah berisi apa saat kami baru saja memasuki Mobil dan aku sedang memasang 'seat belt' atau sabuk pengaman.


Di perjalanan pulang, aku sudah tidak sabar lagi untuk bercerita tentang Mbak Dewi tapi aku berusaha tahan. Aku tahu Mas Indra pasti capek, jadi lebih baik besok saja. Aku pura-pura ngantuk dan mencoba memejamkan mata, aku ingin tidur. Namun Mas Indra mulai mengajakku bicara tentang projek selama di Bali dan bertemu dengan siapa saja dia disana dalam satu tim nya. Aku pun tidak jadi mengantuk.


Kudengarkan setiap cerita dari Mas Indra dengan seksama sambil sesekali bilang, "ohya?" "masa si?" dan yang lainnya sebagai ungkapan bahwa aku mendengarkan semua ceritanya.


Aku teringat hadiah dari Mas Indra tadi dan segera membukanya.


"Woa, jam tangan baru? Mas, aku kan masih ada jam yang lama. Kamu ini suka boros kalau beli apa-apa deh!" protesku pada suamiku yang membeli barang sesukanya.


"Itu hadiah, Sayang, nggak baik lho di kasih hadiah malah marah-marah," bela Mas Indra sambil terus tersenyum dan memasang wajah tanpa dosa.


"Iya maksud aku kan ini bukan barang yang lagi aku butuhkan, Mas. Anyway terimakasih banyak yah suamiku, sayangku yang ganteng unyu-unyu kayak penyu."


"Makasih doang, minta jatah yahh?"


"Jiaahh, ternyata ada batu di depan udang ya ini tentang hadiah?"


"Ya nggak gitu juga, Sayang, kita kan nggak ketemu selama beberapa hari, jadi aku kangen banget sama kamu ...."

__ADS_1


"Aku juga ...."


"Eh, Hun, sayang banget kamu nggak ikut, ada banyak temen-temenku yang mau aku kenalin ke kamu padahal ...."


Jelas saja aku jadi bete', jika bukan karena aku mengiyakan untuk merawat Lea, pastilah aku pun ikut bersama Mas Indra.


Haisshh, semua memang salahku.


Seandainya begini dan begini, pastilah aku akan begitu dan begitu.


Tapi, kata 'seandainya' itu tidak baik karena akan membuat mood ku semakin rusak, jadi, seperti sebuah judul lagu dari Bondan, 'Ya sudah lah'.


"Ya suruh mereka kesini mas, tapi aku nggak mau masak ya, beli aja. Hahaha."


"Hun, gimana kalau ternyata Lea bukan anakku?" tiba-tiba Mas Indra melontarkan sebuah pertanyaan yang membuatku sangat kaget dan tidak percaya. Apa aku salah dengar? apakah aku dalam mimpi sekarang?


"Hah? maksudnya apa, Mas? kalau Lea bukan anak kamu, terus dia anak siapa?"


"Umm, 'I have no idea' (Aku pun nggak tahu), Hun," jawab Mas Indra datar.


"Terus kenapa kamu bilang begitu?"


"Salah satu anggota tim projek yang aku kerjakan, Mario, sempet tanya-tanya tentang kehidupan ku sekarang, dia juga nanyain kamu karena dia lihat kamu di foto-foto Instagram yang aku unggah aja. Tapi katanya kalian pernah ketemua atau Mario pernah lihat kamu, Hun. Padahal Mario udah nggak tingal di Indonesia cukup lama. Nah yang bikin aku merasa gak karuan tuh Mario bilang 'apa aku yakin Lea benar-benar anakku?' aku aja nggak kepikiran sampai ke arah situ, Hun."


"Aku masih nggak ngerti, Mas?"


"Nanti aja ya aku ceritanya. Maafin aku, Sayang, harusnya aku nggak cerita ini sekarang. Aku kangen banget sama kamu. Nggak bisa tidur aku selama tiga malam nggak ada kamu di sisiku."


"Hilih, aku aja bisa tidur dengan pulas. Hahaha."


"Hah? serius? Kamu bisa tidur tanpa aku, hun? Demi apa?"


"Demikian. Xixixi."


Sampai di rumah, kami membersihkan diri dan langsung istirahat.


Aku masih penasaran dengan apa yang baru saja Mas Indra katakan tentang Lea.


Jika bukan anak Mas Indra, lalu anak siapa dia sebenarnya?


Ragu-ragu aku mendekatinya untuk bertanya tentang Lea. Tapi parahnya, Mas Indra salah tangkap. Dia mengira gerakan ini adalah ucapan terimakasih ku untuk hadiah jam tangan tadi.


Ckckckck


Kami berdua tidak langsung tidur setelah 'itu', aku yang masih penasaran, memberanikan diri bertanya tentang Mario dan kenapa dia berbicara tentang Lea juga karena Mario sempat berkata bahwa aku dan dia pernah bertemu. Aku saja tidak tahu siapa itu Mario. Palingan dia hanya melihatku di foto Instagram saja sehingga seolah sudah pernah berjumpa.


Melihatku yang sangat penasaran dan memasang wajah terimut yang kubisa, Mas Indra pun akhirnya tidak tega dan dia mulai bercerita.


*Flash Back 6 Tahun Lalu*


Seperti banyak orang pada umumnya, setelah lulus kuliah, mereka akan mencari pekerjaan dan mulai hidup mandiri dan lepas dari orang tua. Beberapa ada yang pergi jauh bahkan hingga ke luar kota, bisa di bilang 'merantau'. Dan itu sama halnya dengan Mas Indra, meskipun dia bisa saja langsung bekerja di perusahaan orang tuanya, namun Mas Indra memilih untuk menempuh sendiri jalannya.


Sebagai anak kesayangan Mamanya, sebenarnya Mas Indra tidak di perbolehkan pergi, tapi dia ngotot akan hidup mandiri.


Sampailah dia di kota ini. Sebuah kota metropolitan dengan suasana dan aura kebebasan yang mungkin tidak asing dengan tempat asalnya atau bisa jadi, terasa baru untuk seseorang seperti Mas Indra.


Atau mungkin juga, dia ingin bisa bebas dan jauh dari pengawasan orang tua.


Mas Indra bekerja sesuai bidangnya, saat itu Mario telah lebih dulu bekerja di sana.


Sendiri dan tidak punya siapa-siapa di kota ini, Mas Indra mulai berteman dengan Mario serta teman-teman kantor lainnya.


Lingkungan dan teman sepergaulan benar-benar dapat mempengaruhi seseorang untuk berubah total, atau setidaknya, karena berbaur dengan mereka, seseorang juga akan terpengaruh atau mengikuti gaya, kebiasaan dan kegiatan yang dilakukan teman di sekitarnya.


Bebas dan hidup jauh dari orangtua membuat Mas Indra sering melakukan hal atau tindakan ceroboh. Bersama Mario dan teman-teman lainnya, Mas Indra sering pergi ke klub malam setelah mengerjakan suatu projek atau jika suntuk dan lelah setelah mengerjakan pekerjaan kantornya.

__ADS_1


Dari sanalah awal mula pertemuan Mbak Dewi dengan Mas Indra.


__ADS_2