
Hari Minggu pagi ini aku merasa sangat bersalah pada Mas Indra. Aku takut dosa!
Tapi aku memang tidak berbohong tentang 'tamu' yang datang rutin setiap bulan itu.
Sebenarnya Mas Indra sih biasa saja dan terlihat seolah semua baik-baik saja.
Tapi aku tidak bisa lupa jika ku ingat raut wajah Mas Indra tadi malam yang sudah 'mupeng' itu. Xixixi.
Aku memutar otak dan berpikir bagaimana aku tetap bisa menjalankan tugas dan kewajibanku meski sedang ada tamu.
Aku berguling-guling di kasur memikirkan rencanaku selama Mas Indra tengah berolahraga.
Untuk menebus dosaku semalam, aku membuatkan sarapan yang lezat untuk suamiku tercinta.
Dengan senyum yang ku pasang semanis mungkin, aku menemaninya menyantap sarapan.
"Kamu kenapa, Hun? kok kayaknya beda pagi ini," tanya Mas Indra penasaran.
"Beda gimana, Mas? aku makin cantik yah?" jawabku asal saja.
"*Beda aja pokoknya. Hmm ... apa kamu mau kasih aku 'surprise' (kejutan), Hun?"
"Surprise apaan?"
"Ya kali aja semalem kamu itu capek aja, terus kamu undur sampai pagi ini deh .... Kamu kan yang sering 'ngajakin' pas pagi-pagi ..." twing ... Mas Indra mengedipkan mata kirinya menggodaku.
"*Massss ...! aku tuh beneran lagi dapet dari kemarin, kamu nggak tahu ya aku minta pembalutnya Kak Vera kemarin di rumah Ibu, karena aku nggak bawa?"
"Ohya? aku nggak tahu, zheyeng ...."
"Yaudah cepetan habisin sarapannya, kalau kamu mau bukti lain, abis ini bantuin aku ganti sprei yah, Mas, aku nggak pake yang ukuran panjang semalem, jadi tembus ke sprei kan itu ...."
"Hah?? Iya, iyaa sebentar, aku habisin kopinya dulu."
"Okay nanti bantuin aku benaran, aku lepasin sarung bantalnya dulu yah ...."
"Iya, Sayang* ...."
Beberapa menit kemudian, Mas Indra menyusulku ke kamar untuk mengganti sprei.
Jika dikerjakan bersama, meskipun hanya mengganti sprei, artinya jadi akan cepat selesai.
"Mas, tutup pintunya ..." pintaku pada Mas Indra.
"*Kenapa?"
"Udah, tutup aja!"
"Hmm ....??"
"Sini, Mas, duduk disini ...."
"Katanya mau ganti sprei malah duduk?"
"Kamu diem dulu, Mas, nurut sama aku ...."
"Whaatt?? (Apa)??"
"Kamu kan tahu aku sukanya 'pagi-pagi' gini* ..." bisikku di telinga Mas Indra.
Tentu saja kalimat ini hanya kami berdua dan Tuhan saja yang tahu.
________________
"Mas, nanti kamu yang jemput Lea yah?" pintaku pada Mas Indra saat kami berdua menjemur sprei di tempat penjemuran baju.
"*Kamu aja Sayang ...."
"Kenapa sih, Mas, kamu nggak pernah mau jemput Lea?"
"Aku males aja kalau mesti ketemu Dewi*," jawab Mas Indra datar.
"*Yeee ... aku juga keles, Mas ...."
"Kamu aja yang jemput ya, Hun ... plis, cintaku, Sayangku, bidadariku ...."
"Iya, iyaa*," balasku mengalah.
"*Nah iya, sore ini aku juga kan mau futsal, Hun ...."
"Jam berapa, Mas?"
"Biasa, jam 5 mainnya."
"Yakan bisa jemput Lea dulu ...."
"Nggak apa-apa kan kalau kamu aja yang jemput Lea?"
"Iya dehh ... iya, cintaa ...."
"Ohya, Sayang, abis futsal aku undang temen-temen buat 'dinner' (makan malam) disini yah, mau bahas projek minggu depan itu loh ...."
"Siapa aja, Mas?"
"Ferry, Dino sama Jack. Kamu masak ya, Hun?"
"Mau masak apa, Mas?"
"Surprise us! (Beri kami kejutan)!"
"Bingung aku, Mas ...."
"Yaudah masak itu aja, yang kamu masakin buat aku waktu itu, tambahin cabai yah, Hun?"
"Waktu itu kapan, Sayang? aku lupa?"
"Itu loh yang kamu dapat resep dari yutub katanya?"
"Chicken Kiev?"
__ADS_1
"Nah iya itu, sama 'french fries', yah , Hun?"
"Okay, tapi bahan-bahannya mesti beli nih, minta duuiittt ...."
"Iya, mau berapa?"
"Banyak ...."
"Iya, okay, nanti aku transfer yah?"
"Okay, Sayang*!"
Mbak Dewi tidak memberitahuku jam berapa Lea harus di jemput. Siang ini aku akan belanja dulu untuk keperluan masak nanti malam, lalu menjemput Lea dan masak untuk makan malam kami semua.
"*Mas, siang ini aku masak mie goreng aja ya, biar praktis. Abis ini kan aku mau pergi belanja ...."
"Iya, Sayangku, anything (apa saja*)."
Aku mengambil dua bungkus mie instant goreng. Tidak seperti kebanyakan orang yang akan memasak mie instant sesuai anjuran dari dalam kemasan, biasanya aku menambahi beberapa sayuran di dalam mie goreng itu.
______________
Berikut adalah bahan-bahan mie Sedaaap goreng ala Master Chef Sasa :
Bahan :
• Dua bungkus mie Sedaap goreng
• Dua butir telur
• Bakso/Sosis
• Daun bawang
• Sawi hijau
• Tauge
Bumbu Tumis :
• Tomat
• Cabe merah keriting
• Cabe rawit
• Bawang merah
• Bawang putih
• Saus sambal
• Minyak goreng
*Semua bahan secukupnya dan sesuai selera.
*1. Bersihkan lalu potong-potong bahan sayuran dan bumbu tumis
Siapkan panci untuk merebus mie (setengah matang, lalu tiriskan)
Sementara mie direbus, siapkan wajan dan masukkan minyak goreng, tumis bawang merah dan bawang putih hingga layu, masukkan dua butir telur dan bakso serta sosis sampai matang.
Masukkan tomat dan potongan cabe, aduk hingga merata, masukkan mie yang telah di rebus tadi. Aduk hingga tercampur semuanya. Masukkan bumbu dari dalam kemasan mie instan, tambahkan saus sambal dan kecap manis bila suka
Terakhir, masukkan sayur sawi, tauge dan juga daun bawang. Aduk rata. Setelah sayur layu, angkat dan sajikan*.
_______________
"*Mas, sini bantuin, kamu ambil minumnya yah ..." teriakku pada Mas Indra dari ruang dapur.
"Iya, Hun*!"
Setelah menyantap makan siang kami, aku bergegas berganti baju dan akan pergi belanja. Kali ini Mas Indra yang kebagian mencuci piring kami tadi.
Saat sedang memilih baju, kudengar ada suara pesan masuk di HPku.
Ternyata Mbak Dewi.
Dia memintaku untuk menjemput Lea jam 3.
Aku hanya membalas dengan mengirimkan kata "Okay."
"Sekarang aja udah jam 2, artinya satu jam lagi aku harus menjemput monster kecil itu. Aku tidak mungkin belanja terlebih dahulu, waktunya tidak akan cukup. Lebih baik aku menjemput Lea lalu membawanya berbelanja bersamaku," gumamku dalam hati.
_________________
"*Mas, nanti aku bawa Lea belanja yah, ini mbak Dewi minta aku jemput Lea jam 3 soalnya ...."
"Yaudah, Hun, kalau gitu. Tapi apa kamu nggak repot belanja bawa Lea?"
"Nggak apa-apa, Mas, kalau aku belanja dulu, waktunya malah jadi nggak keburu."
"Okay deh, ini uangnya aku taruh di meja, Hun, nggak jadi aku transfer ...."
"Makasih, Mas!"
"Iya, Sayang*."
Kulihat Mbak Dewi sudah menungguku di depan rumah. Aku meminta Lea untuk mencium dan memeluk Mamanya. Tidak lupa aku juga meminta anak itu untuk 'salim' pada Mbak Dewi. Namun, Mbak Dewi menolak dan bilang :
"Apa sih, Sa, pakai salim segala. Tos aja, Lea."
Aku hanya mengajari anak tiriku untuk bersikap sopan, tapi Ibunya sendiri malah menolak untuk salim? Yasudah terserah. Pokoknya kalau sedang bersamaku, Lea harus mengikuti semua aturanku.
Diperjalanan menuju tempat belanja, aku bertanya pada bocah itu, apa saja makanan yang sudah dia makan sejak pagi tadi. Dengan polos, Lea menjawab :
__ADS_1
"Aku belum makan ...."
Aku hampir saja mengerem mendadak mendengar jawaban bocah itu.
Ini sudah jam 3 dan dia belum makan?
Aku saja sudah dua kali makan terhitung dengan sarapan pagi dan makan mie goreng tadi.
"*Pagi udah makan roti kan?"
"Belum ...."
"Terus udah makan apa aja?!"
"Aku belum makan, Momi ...."
"Emang Mama Dewi nggak masak buat Lea?"
"Mama aku nggak masak*," jawab Lea lirih.
"*Yaudah nanti kita makan yaa, Momi mau belanja dulu, nanti kita cari makan disana okay?"
"Okay*."
Sesampainya di tempat belanja, aku menawari berbagai makanan yang mungkin Lea suka, tapi tak sekalipun Lea bilang 'iya'.
Dia malah minta nasi sama telor ceplok di rumah nanti.
Sebenarnya aku khawatir anak itu kelaparan, tapi dia tidak mau makan.
Akhirnya kami berbelanja dulu sebentar. Aku mengambil trolly belanjaan yang berbahan plastik namun dapat di tarik atau dorong. Lea merengek memintaku untuk menyerahkan trolly itu. Dia yang akan membawanya, dan aku mengambil apa yang kubutuhkan lalu menaruhnya di trolly yang Lea bawa dengan tangan mungilnya.
Kulihat anak itu berhenti diantara jajaran rak permen. Aku menghampirinya.
"Momi, can I have a candy? (Momi, bolehkah aku beli permen)? Lea memasang wajah memelas yang tentu saja membuatku tidak tega.
"Alright, only one (Okay, satu aja)," jawabku menegaskan.
"*Thankyou, Momi ... I love you!"
"You're welcome, I love you too!"
"Can I eat it now? (Bolehkah aku makan sekarang)?"
"No, please eat it at home (Jangan makan sekarang nanti aja di rumah) yah."
"Emm, okayy* ...."
Setelah selesai membeli apa yang aku butuhkan, kami langsung pulang.
Kulihat Mas Indra mengirimiku pesan, memberi tahuku bahwa dia sudah berangkat untuk bermain futsal.
Di rumah, aku langsung masak nasi dan menyiapkan makanan untuk Lea. Sudah jam 5 lebih dan anak itu belum makan sejak pagi. Setelah nasi matang, aku langsung menyuapi makan untuk monster kecilku. Dia makan dengan lahap, sepertinya dia sangat kelaparan. Aku merasa bersalah sekali baru memberinya makan sore ini.
Kubiarkan anak itu bermain sementara aku menyiapkan makanan untuk malam ini.
Mas Indra juga mengabari jika dia dan teman-temannya akan segera sampai rumah.
"Halo, hai ..." sapa teman-teman Mas Indra padaku dan juga Lea.
"Wah, ada tamu nih ... silakan masuk, gaes ..." ucapku menyambut kedatangan mereka.
"Gimana kabarnya, Sa?" tanya Jack mengawali.
"Biasa, kabar cantiikkk ..." jawabku bercanda.
"Hah, elu Sa, kebiasaan," timpal Doni.
"Emang makin cantik aja kok, lu, Sa ... paling cantik diantara kami tentunya, hahaha ..." ucap Ferry membelaku diiringi canda tawa Mas Indra dan kami semua.
"Lea, Nak, salim sama Om ..." aku meminta anak tiriku salim pada teman-teman Mas Indra yang memang sudah seperti keluarga kami sendiri.
Kami semua makan malam bersama kecuali Lea karena dia sudah makan terlebih dahulu tadi.
Setelah selesai makan malam dengan semua pujian, candaan dan ucapan terimakasih atas masakanku yang di lontarkan oleh teman-teman Mas Indra dan dia sendiri, aku membereskan meja dan juga dapur sebelum aku mengajak Lea untuk tidur.
Tidak perlu waktu yang lama untuk membuat bocah itu tertidur pulas. Pelan-pelan, kulepaskan pelukan eratnya dan ku selimuti tubuh bocah itu sebelum ku cium dan keluar dengan pelan agar Lea tidak terbangun.
Mas Indra dan teman-temannya sedang membicarakan projek yang akan mereka garap selanjutnya. Aku memotong buah-buahan dan menyiapkan beberapa camilan untuk mereka lalu aku pamit untuk ke kamar.
"Bentar ya, guys ..." Mas Indra berdiri dari kursi dan membuntutiku walau aku masih disini.
"Sasa mah takut tidur sendirian, persis kayak istri gue, hahaha." Doni menyamakanku dengan Elis, istrinya yang memang manja juga pada suaminya, sepertiku. Xixixi.
"Putri apalagi, dia kalau tidur pasti semua lampu nyala ..." timpal Ferry, membicarakan pacarnya.
"Eh, kalian jangan ngomongin pasangan, kasihan tuh si Jack yang masih sendirian, wkwkwk." Mas Indra ikut-ikutan, aku hanya tersenyum melihat sikap mereka ini.
"Parah kalian, nggak ngertiin gue banget," protes Jack yang terlihat kesal karena teman-temannya sudah punya gandengan, dia masih jomblo saja.
"Makanya, Jack nggak usah sok jadi 'badboy' lu, biar segera dapat pasangan yang bener-bener cinta sama elu." Ferry terlihat bijak menasehati temannya itu.
"Gue maunya cewek kayak Sasa, tapi nggak segalak dia juga, hahaha," canda Jack tentang kriteria wanita idamannya sebelum Mas Indra menuntunku masuk ke kamar.
"Nggak usah ikut-ikutn gue dah, lu, Jack kalau belum siap punya istri galak, hahaha," timpal Mas Indra diiringi tawa ketiga temannya.
Aku dan Mas Indra kemudian meninggalkan mereka di ruang depan. Aku harus tidur agar besok tidak telat bangun untuk mengantar Lea ke sekolahnya.
"Aku tidur dulu ya, Mas," bisikku manja.
"*Iya, Sayang, maaf yah aku masih 'briefing' dulu sama mereka, kamu nggak apa-apa kan?"
"Nggak apa-apa, Hun ...."
"Yaudah, kamu tidur dulu yaa, good night, I love you, mwahh ...."
"I love you*."
Mas Indra memeluk dan menciumku sebelum meninggalkan kamar lagi untuk melanjutkan pembahasan projek bersama teman-temannya. Aku yang sudah mendapat cium dan pelukan dari suamiku, langsung terlelap dalam hangatnya selimut. Meski sedikit terasa beda karena hangatnya selimut tidak seperti pelukan Mas Indra.
__ADS_1