Monster Kecil

Monster Kecil
Our Fight


__ADS_3

Monster Kecil itu masih menangis saat aku memaksanya tetap mengerjakan setiap PR yang di berikan Miss Rahel siang tadi.


Tidak akan kubiarkan Mbak Dewi mengerjakan semua PR ini lagi.


"Hiks ... hiks ... aku mau kerjain satu aja, ini, ini, ini nggak mau di kerjain ... hiks ... hiks ...."


Didepan Papanya, bocah tengil itu terus menangis dan dengan berbagai alasan selalu menolak untuk mengerjakan lembaran PR lainnya. Sementara itu Mas Indra terlihat tidak tega menyaksikan anaknya aku paksa mengerjakan semua PR yang ada di meja.


"Okay satu aja, tapi harus selesai, yaa?" Mas Indra menyakinkan Lea bahwa dia hanya akan mengerjakan satu lembar PR saja.


"Iya, Paa," jawab Lea lirih sambil masih terus mengusap airmata yang jatuh.


"Papa, HP nya bunyi tuh, Paa di kamar, Papa ke kamar gih, Lea kerjain PR nya sama aku yah?" aku memberi kode pada Mas Indra agar dia masuk ke kamar dan membiarkan Lea mengerjakan PR bersamaku saja.


Awalnya Mas Indra tidak mau beranjak dan menggelengkan kepalanya tanda dia tidak setuju dengan usulanku, tapi melihat senyumanku yang mengandung banyak ancaman, Mas Indra menurut juga. Mas Indra bukan tipe suami takut istri, hanya saja dia sudah lama mengenalku, jadi dia sudah faham betul dengan gerak-gerikku saat sedang marah. Tidak ingin rumah ini hancur berantakan jika aku, Sasa si Micin sudah marah, Mas Indra akhirnya mengalah.


"*Oh iya, Papa ke kamar dulu ya, Lea, nanti kesini lagi setelah Lea selesai kerjain PR nya, understand (mengerti)?"


"Yes, Paa* ...."


Mas Indra masuk ke kemar dan hanya ada kami berdua sekarang. Aku memegang kunci mobil sebagai senjataku jika Lea tidak mau mengerjakan PR, akan ku gunakan ancaman andalanku itu.


Sebenarnya jika di bilang lambat, tidak juga.


Bocah ini bisa mengerjakan sendiri PR nya, hanya saja, malas dan manja. Pasti karena di rumah selalu Mbak Dewi yang mengerjakannya dan membiarkan monster itu bermain sesukanya.


"Udah selesai ..." Lea menunjukkan satu lembar PR yang telah selesai di kerjakannya.


"Satu lagi yang ini," balasku sambil menyodorkan satu lembar kertas PR lainnya.


"*Gak mau."


"Oh, mau pulang aja yahh?"


"Gak mau pulang. Hiks ... hiks ...."


"Yaudah kerjain satu lembar lagi sekarang!"


"Aku capek ... hiks ... hiks."


"Aku hitung sampai tiga, kalau nggak di kerjain sekarang, pulang aja*!" aku menunjukkan kunci mobil yang sedari tadi aku pegang.


"*Aku mau kerjain yang English aja, yang Mandarin sama Math nanti aja sama Mama ... hiks, hiks ...."


"Yaudah tunggu apa lagi? kerjain sekarang! satu ... dua ... ti...."


"Iyaa ... aku kerjain, hiks ... hiks* ...."


Aku melakukan hal yang sama pada lembaran PR ke tiga, pokoknya jika kulihat bocah itu menolak untuk mengerjakan, aku langsung menghitung dari satu, dua dan tiga lalu berdiri dan mengajaknya pulang. Setiap kali aku berhitung sampai dengan dua, bocah itu segera meraih pensil yang di buang dan di banting ke lantai karena dia marah. Aku biarkan saja, akan aku tunjukkan 'who's the boss here' (siapa bosnya disini).


Pelajaran Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan Matematika ala anak TK tidak usah di tanya, gampang banget dan hanya perlu beberapa menit saja untuk menyelesaikannya.


Tapi Bahasa Mandarin? hmm ... cukup sulit juga ternyata.


Beruntungnya dengan segala kemajuan teknologi yang dapat kita nikmati saat ini, kemudahan juga bisa kita dapatkan.


'Terimakasih Internet!'


Aku menggunakan Google Translate untuk membantu Lea menemukan kata dan huruf yang cocok dalam PR nya, seperti :


草 (Câu) ~ yang berarti "Rumput"


花 (Huā) ~ yaitu "Bunga"


砂 (Shā) ~ artinya "Pasir"


太阳 (Tàiyáng) ~ Matahari


月亮 (Yuèliàng) ~ Bulan


Dan masih banyak lagi kata-kata yang juga aku pelajari dengan menemani monster kecil ini mengerjakan PRnya.


Pada lembar terakhir, Lea mulai malas mengerjakan lagi, dia mencari-cari berbagai alasan untuk berhenti menulis. Tapi setiap kali dia beralasan, mulutku juga mulai menghitung satu, dua dan tiga. Anak itu takut di antar pulang, makanya dia menuruti ucapanku.


Mas Indra belum keluar dari kamar karena aku memintanya tetap di dalam sebelum PR selesai di kerjakan.


Setelah lembaran terakhir selesai, aku memanggil Mas Indra dan membereskan semua alat tulis Lea.


Mas Indra memeluk Lea erat dan mengusap airmata yang telah kering di pipinya. Mungkin dalam hati Mas Indra, dia ingin mengucapkan beribu maaf kepada anaknya karena membiarkan istrinya, si Sasa sang Ibu tiri menyiksa Lea separah ini.


Memang ku lihat wajah mas Indra sepertinya dia sedang marah. Tapi biarkan saja dia marah padaku, aku tidak mau monster kecil itu tertinggal lagi di sekolahnya, bahkan Miss Rahel bilang Lea adalah murid yang paling lambat di kelasnya. Kasihan anak itu jika terus-terusan di biarkan, akan makin tertinggal nanti.


Silahkan bilang aku adalah Ibu tiri yang kejam.


Aku hanya berusaha untuk mendisiplinkan anak ini selama dia di rumahku. Jika dia bersama Mamanya, terserah saja. Bukan urusanku.


Ku dengar suara HP berbunyi dari kamar, siapa ya? apa itu Mbak Dewi, kulihat memang benar sudah jam 9 lebih sekarang.

__ADS_1


"*Halo, iya, Mbak?"


"Sa, aku udah deket ya ... 10 menit lagi sampai."


"Okay."


"Itu siapa*?" tanya Lea penasaran.


"Mama Dewi" jawabku datar.


"Hwaa ... hwaa ... aku nggak mau pulang ... aku mau disini aja. Aku mau kerjain PR. Huhuhuhu ..." monster itu menangis dengan kencang mengetahui Mbak Dewi akan menjemputnya pulang.


"Lea go home first, okay? next Monday morning, come here again (Lea pulang dulu, yah? Senin pagi depan, kesini lagi)," Mas Indra mencoba menenangkan Lea yang menangis semakin kencang.


"Iya Lea pulang dulu yah ... kasihan Mama Dewi udah capek-capek jemput Lea, okay?" akupun mencoba membujuk anak itu agar dia mau pulang.


"*Gak mau ... hiks ... hiks ...."


"Loh, kenapa? Senin depan kan kesini lagi? pulang dulu yaa ... emang Lea nggak kangen sama Mama?"


"Enggak ... hiks, hiks ... aku maunya disini aja."


"No, Lea ... you have to go home now, otherwise you can't come here again next time, (Nggak bisa, Lea, kamu harus pulang dulu sekarang, jika tidak, lain kali kamu nggak boleh datang kesini lagi*)," Mas Indra kembali membujuk Lea agar dia mau pulang dulu sekarang.


"*I want to come here again, (Aku mau kesini lag)"


"So, go home first now, alright? (Jadi sekarang harus pulang dulu, yaa)?"


"Mmm ... okay."


"Good girl ... (Anak pintar*)," Mas Indra mengusap rambut dan memeluk anaknya dengan erat.


*tingg .... Ada pesan masuk dari mbak Dewi :


[Aku udah di depan nih, Sa]


[Iya, Mbak, sebentar, aku keluar yah.]


"Okay ... Lea salim dulu sama Papa, gih ... peluk terus cium Papa yaa, Nak ...."


Anak itu mencium punggung tangan Papanya, memeluk dan mencium pipi Mas Indra dengan erat. Aku pun mengulurkan tanganku, memeluk dan mencium pipinya sebelum mengantarkan Lea kepada Mamanya di depan.


"Oh my baby ..." Mbak Dewi memeluk anaknya.


"*Kenapa Sa? Lea nangis?!"


"Yaudah kita pulang dulu ya, Sa ...."


"Iya, Mbak, bye bye Lea ... see you! (Sampai jumpa, Lea, sampai bertemu lagi)!"


"Bye bye*," jawab Lea pelan.


Mbak Dewi dan Lea masuk ke taksi online dan pergi meninggalkan rumah ini.


Aku merasa sangat capek sekali hari ini, terlebih tadi aku harus marah-marah untuk membuat monster itu mengerjakan PR nya. Kalau di bawa pulang ke rumah Mbak Dewi, pasti tidak di kerjakan lagi.


"Aku mau segera tidur," pikirku dalam hati sambil menutup dan mengunci pintu.


"You're too much, Hun! (Kamu berlebihan, Sayang)!" ucap Mas Indra di depanku saat aku berbalik badan setelah menutup pintu.


Apa-apaan ini? aku di sambut dengan kemarahan Mas Indra? yang benar saja!


"*What do you mean? (Maksud kamu apa)?"


"She's just a kid, and you forced her to do all her homework like there's no tomorrow isn't it? (Dia itu masih anak kecil, dan kamu memaksa dia untuk mengerjakan seluruh PR nya seperti tiada hari esok lagi, bukan begitu)?"


"Oh, you don't like it? (Oh, jadi kamu nggak suka)?"


"It's just too much! (Itu hanya berlebihan)!"


"Oh, okay, i will let her play all day and not study at all then. (Oh, baiklah, aku akan membiarkan dia bermain sepanjang hari dan nggak belajar atau ngerjain PR nya sama sekali)."


"Bukan gitu, Hun ... maksudku, kan bisa di kerjain besok, nggak harus semuanya sekarang. Kamu nggak kasihan apa sama Lea? Aku tahu kamu benci dan nggak suka Lea ada disini, tapi bukan berarti kamu bisa memaksa dia ngerjain semua PR nya, Hun!"


"Apaan sih kamu Mas? Ayo ungkapin aja apa yang mau kamu omongin ... kamu pasti udah nggak tahan banget kan Mas sama aku?"


"Kamu tahu Lea nggak mau ngerjain, tapi tetap aja kamu suruh dia mengerjakan semuanya. Kamu nggak punya perasaan, Sa!"


"Mas, Lea kayak gitu karena kamu dan Mbak Dewi selalu manjain dia! kalian selalu aja nurutin apa yang dia mau. Kalian yang udah bikin Lea jadi manja dan cengeng kayak sekarang, kamu cuma nggak pernah sadar akan hal itu, Mas!"


"Aku cuma mau ngasih apa yang dia mau karena aku tahu aku nggak bisa selalu ada untuk Lea, kamu ngertiin aku kan, Hun?!"


"Kamu yang gak ngertiin aku, Mas! kamu tahu aku gak suka sama anak kamu, aku benci sama anak kamu itu! tapi aku coba buat nerima dia disini, aku perlakukan dia sebaik yang aku bisa, sekarang saat aku mau ngajarin dia untuk disiplin, kamu marah dan nggak terima?! Aku capek Mas! aku capek!"


"Aku ngertiin kamu, I fully understand how you feel .... I just ... I just feel bad that she's crying like that, Hun .... (Aku mengerti sepenuhnya apa yang kamu rasakan .... Aku cuma ... Aku cuma merasa nggak karuan melihat dia menangis sampai kayak gitu, Sayang) ...."


"Udahlah, Mas, aku beneran capek sama semua ini yahh ... mendingan aku tidur aja dan kamu bisa bebas didik anak kamu sesuka kamu, dengan cara kamu. Kasih aja permen terus-terusan ... kasih coklat terus ... lihat tuh sampai giginya ompong semua! Terus ... teruss aja selalu beliin dia mainan mahal yang cuma dia rusakin! beliin apapun yang dia mau asal dia nggak nangis! you're the one who spoil her the most!! (kamulah orang yang membuat dia seperti itu!!)"

__ADS_1


"Why did you bring up those thing, Hun? I told you already that i just wanna try to be a good Dad for her, (Kenapa kamu selalu membawa-bawa hal itu, Sayang? Aku kan udah bilang sama kamu bahwa aku hanya mencoba untuk menjadi seorang Ayah yang baik untuknya) kamu tahu itu kan, Sayang*?"


Aku hanya diam menahan marah, ingin rasanya aku hancurkan seluruh isi rumah ini, tapi sayang juga ... kan beberapa barang dan hiasan di rumah ini aku beli pakai uang jajan dan sisa uang belanja. Sayang banget kalau aku banting dan pecahin hanya karena emosi sesaat saja. Apalagi ini gara-gara Lea, di monster kecil tengil itu!


Penyesalan juga selalu datang di akhir, jadi mendingan aku tidur aja ahh ... males debat.


Aku masuk ke kamar meninggalkan Mas Indra yang masih ada di ruang tamu dan mengunci pintu kamar kami dari dalam.


"Sukuriiinnnn aku kunciin di luar! malam ini tidur aja di sofa!" batinku kesal.


Sambil menahan amarah dan dua tanduk serta kobaran api yang menyala-nyala di atas kepalaku, aku gosok gigi, cuci muka, berganti baju dan bersiap untuk tidur tanpa menghiraukan ketukan pintu Mas Indra di luar sana.


Kudengar suara Mas Indra berulang kali memintaku untuk membuka pintu tapi tidak ku hiraukan.


"Enak saja, udah marah-marah masih mau tidur bareng," gerutuku dalam hati.


Mungkin mas Indra lelah mengetuk pintu tapi tak ku buka.


Sudahlah, mendingan aku tidur saja daripada berantem lagi.


Huuffff ... tapi meski aku sudah berusaha memejamkan mata dan berguling-guling selama lebih dari setengah jam, tetap saja aku tidak bisa tidur.


Tidak kudengar suara ketukan pintu lagi.


"Jangan-jangan Mas Indra sudah tidur duluan? haiisshhh ... nyebelin banget siihh!!"


Beberapa saat kemudian kudengar gagang pintu kamar di putar, dan Mas Indra membuka pintu!


"Pasti pakai kunci cadangan yang ada di lemari depan," batinku lirih.


Aku harus pura-pura tidur agar tidak ketahuan kalau aku nggak bisa tidur tanpa di peluk terlebih dahulu, aku harus pura-pura biasa saja dan tetap 'cool'.


Aku memang tidur membelakangi arah pintu, jadi saat Mas Indra masuk kamar, dia pasti akan mengira aku sudah terlelap tanpa perasaan bersalah. Xixixi.


Kurasakan Mas Indra mendekatiku dan ingin menyentuh pundakku. Aku masih merem dan tetap pura-pura tidur biar nggak ketahuan.


Mas Indra memelukku dari belakang dan berbisik :


"Sayang, kamu nggak takut yaa nanti malaikat mencatat sikap kamu yang kayak gini? tidur dengan pulasnya padahal suami nggak ridha?"


Aduuhhh ... kenapa di saat seperti ini Mas Indra malah memojokkanku sih? Pasti sambil ketawa-ketawi tuh dia bilang kayak gitu. Huufff ...


Mau tidak mau aku harus mengaku kalau aku belum tidur sama sekali sedari tadi.


Sungguh menyebalkan.


"*Apa siihh Mas ... aku ngantukkk!!"


"Iya, aku tahu, aku juga ngantuk kok ... tapi emang kamu mau tidur saat kita masih marahan*?"


Aku berbalik dan menatap wajah teduh yang penuh cinta kasih itu.


"*Mas ... aku minta maaf yah ... aku nggak bermaksud bikin kamu marah, aku cuma berusaha sebisa aku untuk kebaikan Lea kedepannya, aku gak ada niat jahat ke dia Mas, aku sungguh minta maaf ...."


"Iya, Sayang ... sebelum kamu minta maaf pun, aku udah maafin kamu, kamu nggak salah kok, aku yang seharusnya minta maaf sama kamu karena nggak ngertiin kamu. Aku minta maaf ya, Sayang ...."


"Iya, iyaa ... jangan marah-marah lagi ahh Mas ... nyebelin kamu tuu ...."


"Kamu juga nih yaa ... kebiasaan kunciin pintu dari dalam ... aku tadi nyari kunci cadangan nggak ketemu-ketemu lohh. Jahat kamu ... bisa kedinginan aku kalau tidur di sofa."


"Halah ngaku aja kedinginan karena nggak peluk aku ... iya kan??"


"Iya deh ... iyyaa ... tuan putri ... ehya, besok emol yuk ... belanja."


"Pinter banget Mas ngerayunya langsung ajakin aku belanja besok?"


"Kamu mau kan?"


"Mauuuuuu!"


"Yaudah ayo tidur, besok lari pagi lagi yah?"


"Nggak mau ahh ... capekk!"


"Istri nggak nurut suami itu dosa lohh ...."


"Hisshh ... selalu ngancam gitu dehhh ... sebelll."


"Lari pagi kan biar sehat, hirup udara seger ... hahaha."


"Au ahh ... ngantukkkk."


"Yaudah ayo tidur, good night ... I love you so much, Hun ... (selamat malam ... Aku sangat mencintai kamu, Sayang) ... mwahh"


"I love you, Mas*."


_______________

__ADS_1


__ADS_2