Monster Kecil

Monster Kecil
Batal ke Bali?


__ADS_3

*ting ....


Suara pesan masuk dari Mas Indra muncul di layar HPku.


[Kok lama, Hun?]


[Aku mampir beli tahu goreng, Mas. Kamu mau?]


[Nggak ah, aku udah kenyang.]


[Okay, jangan minta tahu aku nanti, ya!]


[Iya, iya aku nggak minta, cepetan pulang yaa, nyai.]


[Inggih, ndoro.]


[I love you!]


[I love you!]


Meskipun sudah bilang tidak akan minta tahu kriuk itu, biasanya Mas Indra malah yang habis banyak. Jadi aku memang selalu membeli lebih, tentu saja karena aku memang suka makan.


Pikiranku masih penuh dengan ucapan Mbak Dewi tadi.


"Ingin nitip Lea lagi?"


Tapi bagaimana dengan rencana ke Bali?


Memang sih hanya 'meeting' (pertemuan) kerja yang dipindahkan dari Singapura, tapi aku ingin sekali ikut. Aku kan butuh piknik juga setelah 15 hari ini sibuk mengurusi Lea.


"Neng, ini tahunya," suara bapak tukang tahu membangunkan lamunanku.


"Okay, Pak, Makasih ... tumben sendirian? Ibu nggak nemenin?" tanyaku penasaran, karena biasanya Bapak ini selalu berjualan bersama istrinya.


"Lagi ada cucu nginap di rumah, Neng. Saya juga sebentar lagi mau pulang ini ngabisin sedikit lagi," jawab Bapak tukang tahu dengan senyum khasnya.


"Oh, yaudah aku beli aja semua, Pak, pisah jadi dua bungkus yah ...."


"Banyak amat, Neng? beneran?"


"Iya biarin, masih dikit juga, buat Pak Satpam di depan nanti, sama Bapak biar cepet pulang."


"Makasih ya Neng, ya."


"Iyupz, sama-sama yah, Pak."


Aku memberikan dua bungkus tahu kriuk ke dua pos satpam yang berbeda. Orang-orang di lingkungan rumah sini baik dan ramah meski kami jarang bertemu. Aku betah tinggal disini. Sebagai salah satu penghuni yang baru pindah, saat ada acara makan-makan oleh RT/RW setempat di malam 17 Agustus pun aku dan Mas Indra di undang untuk bergabung.


Ketika ada kegiatan bersih-bersih komplek, aku juga turut serta bergabung bersama mereka. Aku berkenalan dengan para penghuni rumah di komplek ini waktu itu. Kami beberapa kali juga bertemu jika aku membeli makanan yang lewat di depan rumah.


Rata-rata para penghuni komplek ini adalah mereka yang sudah pensiun. Di hari libur atau akhir pekan, kerap ramai para keluarga dan anak-anak serta cucu berkunjung ke rumah yang persih berada di sebelahku.


Seorang Oma yang tinggal dengan putrinya.


Beberapa kali Oma Rini memberikan makanan untukku.


____________________


"Bbbaaahhhhhhh!!!"


"Whaaaaaa!!!" aku menjerit kencang dan hampir reflek melempar bungkusan tahu yang ada di tanganku saat Mas Indra mengagetkanku dari balik pintu.


"Nggak lucu tau mas!!" protesku kesal.


"Iya, iya maaf, mwah ... jangan marah, nanti cantiknya luntur."


"Halahh, halahh ...."


"Kok wangi banget, mau donk, Hun, tahuya, satu aja," pinta Mas Indra dengan wajah memelas.


"Gak boleh, tadi katanya 'nggak mau minta' udah kenyang," ejekku padanya.


"Tadi kan belum ada wanginya."


"Gak boleh juga, beli sendiri sana, tapi udah pulang si Bapaknya. Hahaha."


"Kamu jahad."


"Biarin! salah sendiri!"


"Minta satu aja, kamu kan ada banyak gitu, jangan pelit," rayu Mas Indra masih mencoba.


"Tetep nggak boleh!"


"Eh, Hun, susu UHT habis ya?"


"Masih kok, di kulkas, Mas ...."

__ADS_1


"Coba kamu cek deh, tadi pas aku bikin kopi, tinggal sedikit."


"Masa sih, perasaan masih banyak deh ..." aku menaruh bungkusan tahu tadi di meja dan melangkah ke dapur untuk mengecek apakah benar susu habis. Aku membuka kulkas dan menemukan kotak susu 1 liter itu masih cukup berat, mungkin masih terisi setengahnya.


"Ini masih banyak susunya, dusta kamu Mas!" teriakku dari ruang dapur.


"Hun, sini Sayang ... kamu nggak mau makan nih tahunya? enak lho masih panas gini."


"Masss!!! kamu tipu aku yaa bilang susu habis?!"


"Abisnya kamu pelit, yyeekkk!"


"Haisshhh ... mau saus sambal gak, Mas?"


"Mau donk, cinta!"


"Hilih ...."


Meskipun telah menyantap makan malam, kami memang senang makan, jadi malam-malam pun tetap bebas makan.


Setelah membereskan semuanya, kami bergegas untuk membersihkan diri, menggosok gigi, berganti pakaian dan bersiap untuk beristirahat.


Kali ini, aku yang mengawali sesi 'pillow talk' kami.


"Mas, jadi tadi tuh Mbak Dewi sempet bicara sama aku ...."


"Soal apa, Sayang?"


"Eemm ... kamu udah tahu belum kalau Neneknya Lea belum akan datang minggu ini?"


"Enggak, aku nggak tahu, bukannya harusnya minggu ini?"


"Itu dia, kata Mbak Dewi, minggu depan lagi baru datang. Bukannya waktu itu bilang dua minggu yah, Mas? terus berubah lagi jadi 3 minggu kan? Nah ini kenapa jadi masih minggu depan lagi? kenapa dari awal nggak bilang mau sebulan gitu lho biar nggak berubah-berubah gini," protesku kesal.


"Terus?"


"Menurut kamu gimana Mas kalau Lea disini Senin depan?"


"Kita kan mau ke Bali, Sayang ...."


"Emang kamu udah 'booking' (pesan) tiket sama hotelnya?"


"Belum sih, Hun ...."


"Baiknya gimana ya, Mas? Mbak Dewi bilang katanya dia mau 'resign' dari kerjaan."


"Biarin aja," jawab Mas Indra enteng.


"Kita juga nggak tahu kan dia kerja beneran apa nggak?"


"Kasihan lah, Mas, kalau sampai resign gara-gara nunggu Nenek Lea datang seminggu lagi. Apa cariin jasa buat jaga anak selama seminggu ini dulu Mas?"


"Dari dulu Dewi nggak mau, Hun, katanya dia bisa semuanya sendiri."


"Tapi kasihan Mbak Dewi, Mas, masa dia harus segala 'resign'?"


"Aku nggak bisa batalin acara ke Bali itu, Sayang ...."


"Yaudah, Mas, aku di rumah aja, Lea biar sama aku yah?"


"Jangan ahh, kamu juga kan pasti capek tiga mingguan ini repot terus?"


"Nggak apa-apa, Mas, lagian kamu kan juga kesana buat kerjaan, jadi fokus aja di urusan itu. Lagian aku juga udah pernah ke Bali."


"Terus kamu batal ke Bali sama aku?"


"Nggak papa ya, Mas ... lain kali kita ke Bali ajak Lea juga ...."


"Yaudah kalau kamu maunya begitu. Aku urusin kerjaan aja terus langsung pulang entar."


"Okay, besok aku kasih tahu Mbak Dewi deh ...."


"Maaf ya, Sayang ...."


"Lah, maaf kenapa?"


"Aku ngerepotin kamu terus ...."


"Haisshh ... enggak ahh, aku nggak ngerasa direpotin deh ...."


"I love you, Hun ...."


"I love you, Mas."


Dan kami pun terlelap.


Paginya, Mas Indra membangunkanku untuk ikut lari pagi, tapi aku merasa sangat lelah sekali. Jadi aku meneruskan untuk tidur lagi. Mas Indra sengaja mematikan AC dan membuka korden jendela kamar kami agar aku benar-benar bangun.

__ADS_1


Jemariku menjelajah internet untuk mencari menu sarapan untuk sang suami. Lalu ada notifikasi pesan masuk dari Mbak Dewi menanyakan tentang apakah dia bisa nitip Lea lagi.


[Aku udah bilang Mas Indra, dia oke aja sih, Mbak.]


[Kan udah kubilang, Indra pasti mau aja, kalau sampai dia bilang enggak, mungkin itu kamu yang ngomong.]


Huhh, ingin rasanya aku berteriak di depan wajahnya jika aku mengorbankan liburanku ke Bali untuk dirinya! Aku turut bersyukur juga jika Mbak Dewi akhirnya bekerja, mungkin bisa saja dia menemukan jodoh di tempat kerja.


Mas Indra juga sebenarnya telah beberapa kali memberi Mbak Dewi modal untuk memulai usaha atau bagaimana, tapi setiap kali selalu gagal dan entah uang itu larinya kemana. Akhirnya Mas Indra tidak lagi memberi modal pada mantan istrinnya itu.


[To be honest (sejujurnya) ya, Mbak ... aku dan Mas Indra ada rencana ke Bali berdua, tapi karena Neneknya Lea belum datang, jadi yah, nggak papa deh aku di rumah. Daripada Mbak Dewi juga resign? Dapat kerjaan kan juga nggak gampang, Mbak.]


[Yaudah, hari Minggu sore jemput Lea kesini yaa!]


[Ya, Mbak.]


Sumpah, jika tidak memikirkan sisi 'tidak enak', aku sebenarnya malas sekali untuk membalas pesan dari Mbak Dewi. Aku bahkan ingin sekali memblokir nomornya!


_____________


Sekitar jam 3 sore aku dan Mas Indra berangkat ke rumah Ibu. Seperti biasa, hari Sabtu adalah acara "Kumpul Keluarga" meski hanya perkumpulan kami-kami saja. Disana sudah ada Kak Rey, Kak Vera dan juga Maya. Adik bungsuku, Dafa, juga sudah ada di rumah setelah pulang dari ekskul sekolahnya.


Biasanya kami makan dan mengobrol banyak hal saat sedang bersama begini. Ibu, aku dan Kak Vera membahas banyak hal tentang urusan wanita sedangkan para pria entah mengobrol tentang apa. Mas Indra juga sangat dekat dengan adikku, apalagi gara-gara drama hujan dan payung di waktu itu. Jadi sampai kini, Mas Indra masih merasa berhutang kepada adikku. Hahaha.


Aku dan Mas Indra berpamitan pulang pada jam 8 malam. Sebenarnya aku ingin menginap, tapi karena Mas Indra mengajakku pulang, jadi aku menurut saja. Ibu juga tidak pernah memaksaku untuk menginap meski beliau juga kangen berat. Namun jika Mas Indra tidak memberi izin atau suamiku itu sudah mengajak pulang, artinya aku juga harus segera beranjak pulang.


Jarak rumah Ibu memang tidak terlalu jauh, sesekali saat siang dan jika Mas Indra sedang ke kantor, aku pergi ke rumah Ibu atas izin dari dia. Tapi aku juga tidak bisa lama-lama karena harus masak untuk makan siang kami.


Sesampainya di rumah, kami membersihkan diri dan bersiap untuk tidur.


Tapi aku merasakan ada yang berbeda.


Sepertinya ada sesuatu yang serius yang ingin dibicarakan oleh Mas Indra. Makanya tadi dia ingin pulang lebih cepat. Kata orang, 'feeling' atau perasaan seorang istri itu kuat, jadi aku juga bisa merasakan jika ada hal penting yang akan Mas Indra sampaikan.


Hmm ... aku sangat penasaran, kira-kira apa yang akan Mas Indra ungkapkan? Aku jadi deg-degan. Jantungku berdetak kencang, apa aku gemetar? kurasa tidak. Aku merasa kamar ini lebih dingin dari biasanya, apa AC nya di angka 18? Kenapa sedingin ini? Aku mulai mengingat-ingat apakah aku berbuat salah? Kurasa tidak juga. Lalu apa?


Aku memasang wajah dan senyum termanisku saat Mas Indra keluar dari kamar mandi dan mendekatiku.


"*Sayang ...."


"Iya, Mas?"


"Kamu kok tegang gitu?"


"Ahh, enggak* ..." jawabku malu-malu.


"*Hun ...."


"Iya, Sayang?"


"Lea kan nggak disini, yukkk malam ini*?"


Ppppffftttt!! aku tertawa terpingkal di dalam hati. Awalnya, kupikir apa yang akan Mas Indra bicarakan padaku? ternyata dia mau 'itu',


"*Mas ...."


"Iyyaa, Hun ...."


"Aku lagi 'tanggal merah' hari ini ...."


"Hah??!! Beneran?" Mas Indra setengah tidak percaya.


"Iya, Mas, dan ini hari pertama, adededeee ... agak kram ni ...."


"Kamu nggak apa-apa, Hun? mau aku ambilin air hangat?"


"Iyaa, mau ...."


"Tunggu sebentar yaa* ...."


Aku menganggukkan kepala tanda setuju. Maafkan istrimu yang lebay ini ya, Mas!


Ckckckck.


"*Ini di minum dulu, masih sakit nggak? mau aku pijitin?"


"Enggak kok*," jawabku pelan.


"*Yaudah, tidur aja yaa, biar kram nya ilang ...."


"Iya Mas, makasih, I love you."


"I love you, Hun*."


____________________________


*Nah, impas sekarang Mas!

__ADS_1


Kemarin kamu ngerjain aku buat ngecek susu di kulkas kan?


Xixixi ... tapi kalau 'tanggal merah' emang bener kok, Mas ... mwah!


__ADS_2