
Selesai sidang skripsi yang menegangkan, Randy menungguku di luar dengan membawa bunga dan boneka lalu menyambut kelulusanku.
Jiaahh, tapi semua itu hanya ada di khayalanku saja. Aku semakin kesal setiap kali mengingat semua rencana indah kami yang harusnya terealisasi namun nyatanya telah musnah.
Emosiku makin naik jika menyangkut semua tentang Randy.
Ahh, mantanku itu, walau bagaimanapun aku juga pernah mencintainya, dan mungkin saat ini belum seluruhnya sirna meski mulutku selalu bilang sebaliknya.
Malam ini aku tidak bisa tidur, aku benar-benar terganggu dengan semua pikiran ini, kenyataan bahwa aku belum sukses move on dari laki-laki yang membuatku patah hati itu juga terus mengusikku.
Aku memang masih beberapa kali menangis jika mengingat apa yang terjadi. Bukan menangisi Randy, tapi kenapa aku sulit sekali merelakan. Benar-benar butuh waktu yang tidak sebentar.
Entah kenapa aku sangat sedih dan seperti mengosongkan semua pikiran, aku memanjatkan sebuah permintaan yang kusebut sebagai do'a agar bisa melangkah maju kedepannya. Aku tidak ingin diusik dengan sesuatu yang malah merugikan diriku lagi.
Beruntung aku bisa tahu belangnya Randy saat ini, ternyata itu lebih baik daripada jika kami benar-benar menikah dan ketahuan nanti.
Mungkin Randy bukanlah jodohku.
"Tuhan, jika Randy memang tidak baik untukku, jauhkanlah kami. Jodohkanlah aku dengan pria terbaik dari sisi-Mu."
Aku tenggelam dalam permintaan itu, sungguh-sungguh memintanya dengan sepenuh hati.
*ting ....
Sebuah notifikasi masuk ke ponselku.
[Hi, are you happy? (Hai, apakah kamu bahagia)?]
[Siapa nih?] balasku singkat.
Dalam hatiku langsung mengumpat, sialan, bagaimana aku bahagia saat ini dengan segala hal yang masih meliputi kandasnya kisah cintaku dengan Randy!
[Aku Indra, kita sempet ketemu sebelumnya.]
[Dimana? ehh, dapat nomorku dari siapa?]
[Aku nggak berniat buruk kok, Sasa. Besok jam 1 siang, aku tunggu kamu di Kafe Ceria, yaa. Kamu harus datang, aku udah pesan meja buat kita.]
Aku sedikit curiga jika yang mengirim pesan ini adalah Randy, tapi apa benar?
Ahh, kenapa pikiranku selalu tertuju pada si tukang selingkuh itu?!
Aku tidak membalas pesan terakhir yang masuk tadi sebab aku sudah terlelap tanpa ku sadari.
"Anisa ... bangun, Nak! gimana mau mulai bangun rumah tangga kalau bangun pagi aja susah?" kata Ibu yang mengomel membangunkanku di pagi buta.
"Iya, Bu, lima menit lagi ... Zzz."
"Bangun sekarang! lima menit, lima menit, jadi 50 menit kalau kamu," ucap Ibu sambil menarik selimut yang menutupi tubuhku.
"Ahh, Ibu ... dua menit lagi ..." tawarku sambil berguling-guling tidak mau bangun.
Ibu mengancam akan membawa air satu gelas untuk di cipratkan ke wajahku jika aku tidak benar-benar bangun.
Haisshh, aku mengalah saja.
Dengan malas aku beranjak bangun dan membantu Ibu di dapur.
Jika akhir pekan maupun aku sedang tidak ada kelas, biasanya aku memang membantu Ibu masak dan segala hal tentang pesanan masakan.
Ahh, ya, aku teringat chat semalam, jam 1 siang di Kafe Ceria.
Setelah membantu Ibu, aku bergegas mandi dan bersiap ke Kafe itu untuk menyelidiki siapa sebenarnya orang yang mengaku Indra itu. Aku akan datang lebih awal, sebelum jam yang di janjikan.
Sesampainya di Kafe Ceria, aku langsung menuju kasir. Kulihat Ivan yang sedang bertugas disana. Aku langsung meminta bantuannya untuk mengecek siapa yang telah memesan meja jam satu nanti. Ada sesuatu yang berbeda di wajah Ivan saat aku mengomel tentang persamaan menu yang dipesan dengan makanan terakhir yang ku makan bersama Dafa.
Ku cercar Ivan dengan berbagai pertanyaan mengenai bagaimana ini terjadi. Kemudian Ivan mengaku jika dirinya lah yang telah memberikan nomor teleponku kepada orang yang mengaku bernama Indra.
'Speak of the Devil', lelaki yang mengirimiku pesan semalam sudah ada di sebelahku.
Katanya dia yakin aku akan datang meski pesan terakhirnya tidak ku balas.
Kulihat senyum kemenangan yang mempesona di bibirnya.
__ADS_1
Ughh, manis sekali!
Heh, tunggu, semua orang punya ciri khas dalam senyumannya, senyumanku juga tidak kalah manisnya apalagi barisan gigi dan ekstra gingsul yang jadi salah satu nilai plus.
Jika aku perhatikan, sepertinya usia lelaki asing itu berada diatasku, jadi saat dia mengenalkan diri secara resmi, sejak itulah aku mulai memanggilnya dengan sebutan Mas Indra, meski awalnya dia menolak di panggil 'Mas', namun justru karena dia tidak mau dipanggil dengan sebutan Mas itu, aku malah jadi sengaja selalu memanggilnya Mas Indra. Hahaha.
Pertama, Mas Indra bercerita bahwa 3 hari setelah menemuiku di kampus itu, dia jatuh sakit karena demam dan flu setelah kehujanan di depan pagar rumah Ibu.
Lalu Mas Indra ke Kafe ini dan meminta bantuan Ivan serta mendapatkan nomor ponselku.
Kata Mas Indra, dia tidak percaya jika butuh satu tahun lebih hanya untuk mencariku.
Aku tidak mengerti apa maksudnya sampai dia akhirnya berceri tentang malam kejadian di gang beberapa tahun yang lalu.
"Kamu kemana, Sa, setelah berhasil membawaku ke Rumah Sakit itu?" tanya Mas Indra penasaran.
"Pulang ..." jawabku sekenanya.
"Aku minta maaf, bahkan sampai sekarang aku sama sskali belum berterimakasih sama kamu atas pertolongan kamu waktu itu, jika nggak ada kamu, mungkin kita nggak akan berada disini sekarang ...."
"Haisshh, biasa aja kali, kalau bukan aku pun, akan ada orang lain yang nolongin kamu."
"Maaf, Sa, saat itu aku nggak bisa langsung nyari kamu untuk sekedar bilang 'thankyou', karena untuk masalah pengobatan, Mama membawaku pulang dan aku tidak kesini lagi sampai beberapa waktu."
"Iya, yaudah nggak apa-apa sih, sekarang kan udah disini dan akhirnya ...."
"Dan butuh waktu satu tahun buat akhirnya nemuin kamu."
"Hahaha ...."
"Kok malah ketawa?" tanya Mas Indra heran.
"Lagian ngapain juga repot-repot nyariin aku segala? semua itu juga udah berlaku lama, kan, aku aja udah lupa."
"Aku nggak bisa semudah itu lupa, Sasa. Ohya, gimana kabar Dafa dan Ibu? Kak Vera juga?"
"Semuanya baik ...."
Kami berdua akhirnya saling bercerita banyak hal, meskipun ini adalah pertama kalinya kami duduk bersama dan saling bercerita, namun kami sudah seperti teman lama.
Mas Indra menawarkan diri untuk mengantarku pulang, tapi aku perlu pergi ke supermarket untuk membeli beberapa titipan Ibu, jadi kami berpisah di Kafe itu.
Sejak pertemuan kami di Kafe Ceria, aku dan Mas Indra beberapa kali bertemu lagi disana serta percakapan singkat melalui chat.
Meskipun aku belum begitu percaya lagi dengan yang namanya laki-laki sebab ulah si Randy, namun kulihat Mas Indra sedikit berbeda, dia cukup dewasa, mungkin karena memang usianya juga yang turut mempengaruhi.
Usia kami terpaut 5 tahun, sama sepertiku dan Kak Vera. Aku lahir saat Kak Vera berusia lima tahun waktu itu.
Satu bulan sejak pertemuan kami dan tepat di hari ulang tahunku, Mas Indra mengatakan bahwa dia jatuh cinta padaku dan berharap dapat menjalin hubungan yang lebih serius.
Saat itu Mas Indra juga mulai bercerita tentang dirinya termasuk Lea yang tentu saja membuatku sangat dilema.
Pada awalnya aku pikir Mas Indra ini adalah seorang Ayah dan suami yang sedang berniat untuk mencari wanita baru, hingga dia bercerita semuanya tentang Mbak Dewi juga.
Mengetahui Mas Indra adalah seorang duda yang mempunyai satu anak dari Mbak Dewi, entah kenapa aku jadi kesal sendiri.
Beberapa hari aku tidak menghiraukan panggilan telepon maupun pesan-pesannya yang masuk ke HPku.
Aku merasa sangat dilema. Kenapa aku harus berada di posisi ini, namun disisi lain aku juga sudah mulai bisa menerima kehadiran Mas Indra dan sedikit melupakan tentang Randy.
Aku bingung dan akhirnya bercerita pada Fani dan Maria. Dua sahabatku itu menyerahkan semua keputusan di tanganku, namun mereka juga mendukung aku tetap bersama Mas Indra karena walau bagaimanapun, Lea telah ada bahkan sebelum aku dan Mas Indra bersama.
Diantara Fani dan Maria, Maria lah yang paling bersemangat mendukungku tetap melanjutkan hubungan dengan Mas Indra.
Dan ternyata kuketahui jika Mas Indra beberapa kali bercerita dan meminta bantuan Maria untuk menggali informasi maupun bertanya tentang diriku.
Akhirnya aku menerima cinta Mas Indra.
Untuk lebih menarik perhatianku, dia membeli rice cooker, panci dan beberapa peralatan masak, katanya dia akan membuatkan makanan untukku di apartment nya.
Aku setuju datang kesana untuk makan malam dengan mengajak serta Fani dan Maria.
Dasar lelaki, ku lihat perabotan di tempat tinggalnya memang sedikit sekali. Bahkan hanya ada 3 piring makan dan beberapa sendok plastik. Selama ini Mas Indra memang tidak pernah masak karena selalu membeli makanan dari luar. Dia tinggal seorang diri.
__ADS_1
Makan malam yang katanya dia akan memasak sesuatu untukku pun, pada akhirnya akulah yang menjadi koki.
Fani dan Maria tertawa geli melihat aku dan Mas Indra berada di dapur untuk mencoba membuat makanan.
Mereka berdua bercanda bahwa kami sudah terlihat cocok sebagai sepasang suami istri.
Mas Indra memberikan satu kunci dan kartu akses apartmentnya padaku jika sewaktu-waktu aku akan berkunjung kesana.
Beberapa kali aku memang kesana tapi tidak pernah seorang diri. Aku mengajak Fani atau Maria bersamaku dan terkadang mengajak serta mereka berdua.
Tak ingin terjadi sesuatu yang tidak diinginkan apalagi terulang seperti sebelumnya dengan Randy, Ibu yang telah mengetahui hubunganku dengan Mas Indra menyarankanku agar segera menikah saja.
Mas Indra juga bersedia untuk menikahiku secepatnya, namun aku tidak bisa memutuskan semuanya secepat itu terlebih lagi aku benar-benar masih belum sepenuhnya lupa tentang Randy dan rencana pernikahan kami yang tidak terealisasi.
Baik Ibu maupun Mas Indra mempersilahkanku dan memberi waktu untuk memikirkan semuanya serta menyerahkan semua keputusan ditanganku.
Aku juga sedang mulai mengerjakan skripsi yang artinya aku harus lebih fokus dengan kuliahku.
Pesan Ibu adalah supaya aku selalu menjaga diri dari hal-hal tidak diinginkan yang mungkin saja terjadi.
Mas Indra mulai mengenalkanku pada Lea.
Sepertinya aku akan mudah menerima anak itu apalagi usianya hampir sama dengan Maya, keponakanku, anaknya Kak Vera.
Namun semuanya buyar seketika saat aku pertama kali berjumpa dengannya.
Anak itu sungguh sangat jauh dari ekspektasiku. Kupikir karena Mas Indra adalah Ayahnya, bocah itu juga akan sama lembut dan lucu seperti Ayahnya, tapi semua malah terjadi sebaliknya.
Sebagai 'calon ibunya', aku berusaha bersikap manis kepada Lea. Aku mengajaknya bermain dengan permainan yang biasa dimainkan oleh anak seusianya. Aku juga kerap melakukan ini dengan Dafa dan Maya.
Di dalam kamar Mas Indra, aku menggulungkan badanku ke selimut tipis dan berguling-guling ke arahnya, aku bilang aku adalah monster yang akan memakan tubuhnya.
Entah karena ketakutan atau apa, Lea tiba-tiba menendang dan menginjak perut ku dengan kerasnya.
"Aarrggghhhhhh!" teriakku saat kaki bocah itu berada diatas perutku.
Rasanya sakit sekali, aku bahkan sampai menangis.
Mas Indra yang sedari tadi berada di ruang depan, masuk ke kamar dan mengecek keadaan, melihatku menangis, Mas Indra mengira itu adalah bagian dari permainan padahal aku benar-benar kesakitan.
Meskipun Lea adalah seorang anak kecil, aku tidak bisa memaafkan dia begitu saja. Terlebih anak itu malah tertawa saat melihatku menangis kesakitan.
"Sialan! dasar Monster Kecil!" batinku kesal.
Tidak hanya itu, tingkah Lea juga selalu berhasil membuatku marah.
Sedikit-sedikit ngambek, nangis, serta 'tantrum' yang membuatku sangat muak padanya.
Hufftt, bagaimana aku bisa menjadi seorang Ibu untuk anak semacam itu?
Hal ini tidak hanya terjadi sekali dua kali, tapi setiap saat Lea datang ke apartemen Mas Indra atau saat kami mengajaknya jalan-jalan di akhir pekan, Lea selalu menunjukkan sikapnya yang menyebalkan!
Aku sungguh tidak tahan dengan semua kelakuan monster kecil itu. Tapi Mas Indra selalu membelanya dan memintaku untuk lebih bersabar dengan Lea.
Beberapa kali aku juga mengajak Maya ikut serta pergi bersama kami agar setidaknya Lea punya teman dan tidak menyebalkan seperti ini.
Karena satu dan lain hal, aku dan Mas Indra belum dapat segera melangsungkan pernikahan secara resmi, apalagi Mas Indra bukan warga tetap kota ini, jadi dia memerlukan banyak dokumen dan beberapa keperluan lain dari kota asalnya dengan proses yang cukup rumit, aku juga sedang mengerjakan skripsi. Namun karena kami sering pergi bersama dan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, akhirnya aku dan Mas Indra menikah secara agama sambil mempersiapkan semua yang dibutuhkan untuk meresmikan pernikahan kami nantinya.
Meski sudah sah secara agama, namun aku tidak langsung tinggal bersama Mas Indra.
Aku masih sering berada di rumah Ibu.
Hubunganku dengan Mas Indra juga tidak selalu baik-baik saja terlebih jika menyangkut Lea.
Alih-alih membelaku dan mengizinkanku aku berlama-lama berada dirumahnya, Ibu malah memintaku berbakti dan mengurus pria yang saat ini telah menjadi suamiku. Begitupun Kak Vera, mereka berdua memintaku menjadi seorang istri yang berbakti pada suaminya.
Akhirnya aku pun pindah ke apartemen Mas Indra dan tinggal berdua bersamanya.
Setiap malam, kami melakukan sesi 'pillow talk', atau percakapan bantal, dimana kami akan membahas banyak hal tentang apa saja.
Meskipun dilakukan diatas kasur, dan berbaring dengan bantal, kami tidak hanya membahas soal seputaran ranjang walau memang biasanya 'pillow talk' terjadi setelah kami melakukan aktifitas suami istri.
Sambil masih bercumbu dan berpeluk mesra setelah mencapai surga dunia, aku dan Mas Indra membahas banyak hal bahkan hingga hal konyol tentang posisi favorit atau gaya apa yang akan kami praktekkan untuk sesi bercinta selanjutnya.
__ADS_1
Kami berdua sepakat bahwa komunikasi merupakan salah satu hal penting yang harus ada dalam sebuah hubungan. Selain kejujuran dan rasa saling percaya, komunikasi yang baik juga akan menghindarkan kami dari rasa saling curiga. Komunikasi juga berguna untuk membangun koneksi kami berdua.
Aku dan Mas Indra juga saling terbuka untuk masalah apapun sehingga Mas Indra juga tahu jika sebenarnya aku tidak menyukai anaknya.