
Setelah puas mengatakan hal yang sejak dulu di pendam nya, ale kembali melenggang masuk menuju kamar nya di lantai dua tanpa menjawab pertanyaan dad zack sebelum nya...
Ale sudah berada di dalam kamar namun bukan nya langsung membersihkan diri, gadis itu malah berjalan menuju balkon.
Air mata nya kembali pecah kala mengingat kejadian puluhan tahun silam. Bahkan setelah beberapa tahun berlalu luka itu tetap sama. Luka yang tak kunjung mengering, luka menganga yang terus berdarah darah hingga kini dari dalam hati seorang anak yang harus kehilangan salah satu orang tua nya dengan cara yang sangat amat tragis.
Ale kembali tertunduk, tidak kuat jika terus mengingat pembicaraan yang tidak sengaja dia dengar hingga membuatnya memiliki niat untuk terus membalas dendam pada ibu tiri nya.
Flashback On..
Malam satu bulan setelah nyonya sofi resmi menjadi ibu tirinya..
Malam itu terasa begitu mencekam bahkan bagi ale yang seorang anak pemberani. Meskipun terlahir sebagai anak perempuan, namun ale tidak memiliki ketakutan pada apapun, tapi malam ini suara petir yang menggelegar di tambah derasnya hujan di iringi dengan sapuan angin yang begitu kencang mampu membuat ale merasa ketakutan untuk pertama kali nya.
Dengan tergesa dan tubuh yang gemetar, anak perempuan berusia enam tahun lebih itu pun berlari dari lantai dua kamar nya menuju lantai satu, berharap ada seseorang yang bisa menenangkan nya untuk beberapa menit saja, seseorang yang di maksud ale tentu saja sang daddy. Apalagi ini sudah pukul setengah satu malam, tidak mungkin ale bisa kembali terlelap dengan perasaan ketakutan seperti ini.
"Dad...??" panggil ale saat sudah di lantai satu dan tepat di depan kamar daddy dan ibu tirinya. Ale sengaja tidak mengetuk pintu, dia tidak ingin ikut membangunkan ibu tirinya,
"Dad...???"
"Non evelyn..." ale menoleh ke belakang saat suara yang begitu familiar terdengar memanggil nama nya
"Non, tuan sedang tidak di rumah. Beliau titip pesan beberapa hari ini tidak bisa pulang karena ada perjalanan bisnis ke luar negeri..." sambung si bibi sang asisten rumah tangga..
Ale berwajah muram mendengar informasi dari bi rahmi...
"Ada apa, non..?? Apa non memerlukan sesuatu ??"
Ale menggeleng cepat saat melihat wajah bi rahmi yang sepertinya sangat lelah, ale yakin pasti bi rahmi terbangun karena mendengar suara nya yang tadi memanggil dad zack.
"Ya sudah, bi rahmi lanjut istirahat saja. Aku mau ambil minum.." Ale berjalan menuju dapur dan mengambil segelas air putih, semoga setelah meminumnya ale bisa merasa sedikit lebih tenang
Setelah itu, ale pun kembali ke lantai dua, ketakutan nya sudah memudar seiring dengan berhentinya gemuruh dan mereda nya hujan yang turun tadi,
Terlihat dari anak tangga tempat ale berdiri saat ini, kamar adik tirinya yang terbuka sedikit hingga cahaya kamar terpantul mendominasi koridor yang lampunya memang sudah di matikan. Karena kamar ale berada tidak jauh dari tangga yang menghubungkan lantai satu dan dua, jadi saat ale turun tadi dia sama sekali tidak menoleh kebelakang dimana kamar vanya berada.
__ADS_1
Sayup sayup terdengar seseorang tengah bicara, ale berjalan perlahan mengikuti suara itu.
"Kenapa kau susah sekali di hubungi ?? Kemana saja selama ini, hah ??"
Ale melebarkan telinga nya, ale tau siapa pemilik suara itu, tentu saja ibu tirinya..
Awalnya ale tidak tertarik mendengar kelanjutan percakapan itu, namun ada satu kalimat yang membuat bocah itu menghentikan langkah menuju ke kamar nya..
"Aku tidak mau di salahkan atas kecelakaan yang terjadi pada dahlia!! Kalau ada apa apa kau yang harus bertanggung jawab, IRHAM!!"
Deg.
Ale mematung di tempat, kedua netra nya mulai berembun, perlahan saat kesadaran nya mulai kembali bocah itu pun kembali melangkah namun kali ini berdiri tepat di balik pintu,
"Iya, aku memang yang menyuruhmu merusak mesin mobil nya, tapi aku tidak meminta mu membuat dia mati!! Aku hanya ingin dia cacat dan tidak bisa lagi melayani zack!! Kenapa kau malah membuat mobilnya terbakar sampai hangus!! Dasar bodoh!! Pokoknya aku tidak mau sampai terlibat jika pihak berwenang menyelidiki kasus ini lebih lanjut!!"
Mata ale membulat sempurna, tubuhnya kembali bergetar hebat, air mata nya luruh membasahi kedua netra gadis kecil itu.
Pada saat yang sama, pintu kamar vanya tiba tiba terbuka lebar, tanpa pikir panjang ale langsung bersembunyi di balik tembok yang jadi penyekat kamar itu dengan ruangan tengah di lantai dua,
Suara obrolan di telepon itu tidak terlalu keras namun isi pembicaraan nya sukses menghentak jantung alexandra. Sungguh sulit di percaya apa yang gadis itu dengar barusan. Bahkan tidak pernah terbersit bahwa nyonya sofi adalah dalang dari meninggalnya sang mommy.
Apa yang ale dengar tadi bukan perkara main main. Ini soal pembunuhan berencana yang di lakukan oleh ibu tiri nya sendiri.
Ingin tidak percaya namun telinga nya sendiri yang mendengar langsung. Mana mungkin bisa dengan mudah di ingkari.
Ale terus bersembunyi, dan kala mendengar pintu kamar vanya kembali tertutup dan terdengar juga langkah kaki seseorang menuruni anak tangga, akhirnya ale keluar dari persembunyian nya dan segera berlari ke kamar nya.
Ale menangis sejadi jadi nya, sejak saat itu ale benar benar sangat membenci nyonya sofi dan berjanji pada diri nya akan membalas semua yang telah wanita itu lakukan hingga ke akarnya.
Jangan tanyakan kenapa ale kecil tidak memberitahu pada daddy zack soal ini, karena ale saat itu masih sangat shock dan trauma, bocah itu memilih bungkam bahkan setelah itu ale hanya bicara seperlunya saja. Jika di tanya oleh dad zack maka dia akan menjawab dengan anggukan atau gelengan kepala, beberapa tahun hingga dia di kirim ke luar negeri ale menjadi anak yang pendiam jika di rumah.
Flashback Off..
Setelah puas mencurahkan kesedihan nya pada gelap nya malam, ale segera masuk ke dalam kamar mandi nya untuk membersihkan diri.
__ADS_1
Satu jam lebih ale berada di dalam sana, berendam dengan air hangat mampu membuat tubuh nya kembali rileks dan sedikit melupakan beban pikiran yang dia derita selama ini.
Selepas mandi dan memakai piyama tidur, ale langsung naik ke atas kasur berukuran king milik nya,
Biasanya ale enggan untuk mengecek ponsel sebelum tidur, namun kali ini ale penasaran apakah leo menghubungi nya atau tidak..
Ale tersenyum kala melihat ada 10 panggilan tak terjawab dan 12 pesan masuk. Dari nomor ponsel yang tidak ada di kontak nya..
"Kamu sudah sampai di rumah atau belum ??"
"Kamu dimana ??"
"Sayang....??"
"Alexandra. Kenapa tidak memberi kabar ??"
"Ini sudah lebih dari satu jam sejak kamu meninggalkan apartemen ku, sebenarnya kamu dimana ?? Aku khawatir.."
"Angkat telepon nya!!"
Dan masih banyak lagi pesan yang leo kirim melalui apk whatsapp pada alexandra..
Ale terus tersenyum membaca pesan leo berulang ulang, ada perasaan hangat yang menjalar ke dasar hati nya,
"Ternyata seperti ini rasanya menjadi berharga!!"
🌼
🌼
__ADS_1