Montir Cantik Milik Tuan Leo

Montir Cantik Milik Tuan Leo
Bab 55


__ADS_3

Sesampainya di rumah, ale pun langsung masuk seperti biasa...


"Non, eve.. Tumben sudah pulang ??" tanya si bibi saat ale sudah berada di dapur untuk mengambil minuman...


"Iya, bi. Pekerjaan ku sudah selesai.." sahut ale sambil sesekali meneguk air mineral kemasan kecil yang memang tersedia banyak di rumah nya.


"Bibi habis belanja ??" tanya ale saat melihat wanita berusia lebih dari setengah abad itu begitu cekatan mengeluarkan sayur mayur, ikan segar dan daging dagingan dari dalam kantong belanjaan nya..


"Iya, non. Bibi baru pulang dari supermarket.."


"Ko sore, bi ??" tanya ale heran. Biasa nya si bibi jika belanja ke supermarket pasti pagi, mengingat sayur mayur di supermarket masih sangat fresh..


Si bibi hanya diam, menunduk, tidak berani menjawab..


"Bi...??" ale memegang bahu wanita itu, menuntut penjelasan


"I-tu non.. T-tadi nyonya meminta bibi membersihkan kamar nya dan kamar non vanya..."


"Loh, kenapa bibi mau ?? Kan aku sudah bilang, tugas bibi di sini hanya memasak, tidak lebih dari itu!!" Ale jadi emosi mendengar si bibi di suruh suruh tanpa izin nya..


"M-maaf, non.." Si bibi terus menunduk sambil menceritakan kejadian tadi pagi. Si bibi kira, membersihkan dua kamar itu hanya sebatas menyapu dan mengepel saja. Makannya bi asih tidak keberatan, toh nyonya sofi pun masih majikan nya juga. Apa salah nya membantu barang sedikit, begitu pikir si bibi..


Namun saat masuk ke dalam kamar nyonya sofi, betapa terkejutnya saat melihat ruangan itu sudah tidak jelas rupa bentukan nya. Seperti sengaja di buat sangat berantakan. Semua benda tergeletak di lantai, baju baju bertebaran di atas kasur. Belum lagi kamar mandi yang di buat sedemikian kotor. Dan begitu pula di kamar vanya, semua sama berantakan nya seperti kamar ibu nya..


"HAH ??" Ale terkejut bukan main. Ini pasti akal akalan ibu tiri nya untuk mengerjai bi asih. Ale menggelengkan kepalanya, tidak percaya, ibu tiri nya tega mengerjai wanita tua seperti bi asih.


Ale memejamkan mata beberapa detik, mengatur napasnya. Mencoba menenangkan diri nya sendiri. Tidak ingin tersulut emosi, nyata nya, sulit sekali..


Susah payah ale menjemput bi asih beberapa waktu lalu, kini si bibi malah di perlakukan tidak manusiawi..


"Sekarang di mana manusia manusia s*mpah itu ??" tanya ale dengan raut penuh kemarahan


"N-nyonya sofi pergi setelah tuan berangkat bekerja, non. Kalau non vanya, belum pulang sejak kemarin.." lagi, si bibi menjawab dengan terbata. Takut ?? Sudah pasti..


Tak banyak bicara lagi, ale segera melangkahkan kaki nya meninggalkan si bibi.


🌼


Setelah tiba di kamar, ale langsung menuju ke tempat favoritnya, balkon, salah satu tempat paling nyaman di ruangan pribadi nya...


Ale mengalihkan pandangan nya pada mentari di ujung barat, Sinarnya mulai meredup di antara gumpalan mega mega putih.


Ale mengambil ponsel nya yang berada di saku jaket yang masih melekat di tubuh nya. Berkali kali menghembuskan nafasnya dengan berat saat menatap layar ponsel nya yang sengaja dia matikan..


"Mungkin, hadirmu hanya untuk singgah. Mencari seseorang untuk sekedar di jadikan pelarian, dan kebetulan aku lah yang jadi sasaran.." ale membatin sambil terus menatap layar gawai nya yang gelap..


Seketika pandangan ale samar, karena sudah tertutup genangan.


Buliran kristal bening menerobos keluar begitu saja. Kerinduan akan hadirnya seseorang membuat dada nya terpukul hebat, sampai ale sedikit kesulitan bahkan hanya untuk menarik nafasnya sendiri. Sesak.


Atas langkah yang dia ambil hari ini, menjauh dan mengubur perasaan nya yang baru saja tumbuh, sungguh menyesakkan..

__ADS_1


"Ini luka yang ku sengaja. Aku tau akhirnya akan seperti apa, pada akhirnya aku yang kalah!!"


Setelah beberapa saat wanita itu membiarkan air mata tumpah untuk melepaskan sesak yang nyata nya masih bersarang di dada. Di khianati oleh sahabat sendiri, di permainkan oleh rasa yang baru bermula, semua itu terus membuat kenangan buruk di batin nya...


🌼


Sudah pukul tujuh malam, ale dan dad zack sudah berada di meja makan. Hidangan yang lengkap di masak oleh chef paling handal yang tidak lain adalah bi asih begitu menggugah selera...


"Terimakasih, bi.." ucap ale dengan mengulas senyum saat bi asih menuangkan segelas air putih pada ale dan daddy nya..


Bipp. Bipp.


Tiba tiba suara alrm mobil terdengar sampai ke ruang makan..


Ale tau, itu pasti bersumber dari kendaraan pribadi ibu tiri nya. Tanda nya wanita itu sudah pulang..


Ale sedikit melirik ke arah daddy nya, namun dad zack malah memulai makan malam dengan ekspresi datar. Ya, ale pun tak mau ambil pusing, wanita itu ikut memulai makan malam nya dengan sang daddy..


Terdengar suara langkah kaki dan sesekali di ikuti dengan tawa.


"Selamat malam, dad ??" sapa seseorang yang sudah dua hari tidak menampakkan diri nya di rumah utama..


Dad zack menoleh sekilas, namun sedetik kemudian kembali fokus melihat ke piring makan yang ada di hadapan nya..


"Zack, kenapa kalian makan duluan ?? Kenapa tidak menunggu kami pulang ??" pekik nyonya sofi dengan tatapan tidak suka pada tuan zack maupun putri tiri nya


"Dari pada kau marah marah, lebih baik sekarang kalian bersihkan diri. Aku tunggu 5 menit, ada yang ingin aku bicarakan dengan kalian semua..!!"


Deg.


Jantung wanita itu bergemuruh kencang, bukan rasa marah yang membuat nya berpacu, melainkan rasa yang dia sendiri pun tidak mengerti apa.


Mungkin saja perasaan takut. Takut kalau tuan zack sudah mengetahui semua yang terjadi di masa lalu..


"Kenapa kalian malah bengong, ayo cepat!!" Tuan zack kembali memberi perintah dengan tegas


Sontak nyonya sofi dan vanya pun segera melangkah menuju kamar masing masing..


"AHHHHHH..."


Tiba tiba terdengar suara teriakan kedua wanita beda generasi itu bersamaan..


Ale menyunggingkan senyumnya, puas. Seolah tidak ada yang terjadi, ale kembali melanjutkan makan nya dengan nikmat..


"ASIHHHH.... ASIHHH!! DIMANA KAU ??" Seperti orang kes*tanan nyonya sofi keluar dari kamar berteriak teriak memanggil nama bi asih..


"SOFI!!" Sentak tuan zack.. "Tidak bisakah kau pelankan suara mu itu, hah ??" tuan zack menatap tajam wanita yang masih berstatus istri nya itu


"Kau tau, zack?? Kamar ku berantakan sekali, aku bahkan tidak bisa masuk karena semua barang barang ku berserakan di lantai!!"


"I-iya, nyonya..??" bi asih datang dari dapur dengan wajah ketakutan. Dari kejauhan ale melihat seperti ada trauma di wajah bi asih. Entah apa saja yang di lakukan oleh wanita i*lis itu di masa lalu...

__ADS_1


"Kenapa kamar ku belum kau rapihkan, hah ?? Kenapa semua alat make up ku hancur semua ?? Kau pasti sengaja, kan ?? Kau ini memang tidak becus bekerja. Sudah benar aku memecat mu waktu itu!!" Nyonya sofi terus nyerocos tanpa memberikan bi asih kesempatan bicara..


Hiks..hiks..


Belum selesai drama nyonya sofi, kini putri nya Vanya berlari menuruni anak tangga dengan lelehan air mata yang sudah membanjiri wajah full make up nya...


"Kamu kenapa menangis, vanya ??" nyonya sofi berjalan menghampiri putri nya..


"Hiks..hiks.. Bu, kamar ku berantakan sekali.. Hiks.. Semua skincare ku pecah tak bersisa, bu.. huwaaa..." tangis vanya semakin hebat..


Prok.. Prok.. Prok


Di tengah kekacauan itu, terdengar suara tepuk tangan dari arah meja makan. Sontak nyonya sofi, vanya dan bi asih menoleh ke arah sumber suara...


"Aku rasa jika kalian masuk nominasi queen of drama, kalian berdua pasti akan menang.." Sarkas ale berucap dengan menopang dagu nya menatap dengan penuh ejekan pada ibu dan adik tiri nya


Nyonya sofi dan vanya belum mengerti arti ucapan alexandra, mereka hanya diam menatap ale dengan tajam


"Bi, kembali saja ke belakang!!" ale memberi perintah pada bi asih. Dan bi asih pun kembali masuk ke dapur..


"Tunggu!! Lalu siapa yang akan merapikan kembali kamar ku, bu ??" Vanya kembali membuka suara dengan sesenggukan. Bagaimana vanya tidak sesedih itu, skincare berbagai merk yang di miliki nya sudah hancur tanpa sisa. Bahkan sepaket alat make up yang di berikan kekasih nya yang seorang fotografer itu pun sudah tak berbentuk lagi. Padahal pria itu memberikan hadiah tersebut sebagai tanda anniversary hubungan mereka yang sudah berjalan satu tahun.


"Tentu saja ibu mu!! Karena dia lah yang membuat kamar mu berantakan seperti itu!!" Sahut ale yang kembali memasukan suap demi suap makanan ke mulut mungil nya..


Sementara tuan zack hanya diam, bukan tidak ingin terlibat dengan kehebohan yang terjadi. Namun tuan zack merasa nyonya sofi sudah mendapat lawan yang sebanding. Dulu wanita itu selalu berbuat sesuka hati di rumah milik nya, dan tuan zack selalu membiarkan karena tidak ingin banyak berurusan dengan istri nya itu, tapi sekarang jangan harap semua itu bisa terulang lagi.


"Bu.. Apa benar ucapan nya ?? Kenapa ibu setega itu padaku, bu ??" Vanya menggoyang goyangkan tubuh ibu nya cukup kuat dengan tangisan nya yang kembali pecah


"I-tu... I-ibu..." Nyonya sofi tergagap, membuat vanya semakin percaya bahwa ibu nya lah yang telah berbuat hal konyol tersebut


Vanya menatap nyonya sofi dengan sinis,


"Kenapa kamu menatap ibu seperti itu, hah ??" Nyonya sofi membentak vanya, "Ya, memang benar ibu yang sudah membuat kamar mu berantakan, tapi ini tidak menyentuh meja rias mu sama sekali!!"


Ale menahan tawanya melihat ibu dan anak itu berdebat seru.


"Ah, seru juga melihat kalian bertengkar seperti ini!!" Ale kembali membuka suara, membuat nyonya sofi langsung memberikan tatapan tajam saat tersadar bahwa ale lah satu satu nya orang yang mampu berbuat seperti itu...


"KAU!!" nyonya sofi berjalan cepat menghampiri alexandra dengan kilatan kemarahan di wajah nya..


BRAKK!!


"CUKUP!!" Tidak tahan juga, akhirnya tuan zack mengambil sikap. Pria tua itu menggebrak meja makan dan setengah memekik menghentikan nyonya sofi yang semakin kalap mendekati putri nya. Takut wanita itu nekat dan menyakiti alexandra..


"Aku sudah memberikan kalian waktu untuk membersihkan diri dan berganti baju. Tapi kalian menyianyiakan waktu yang sudah aku berikan!! Sekarang sebaik nya kalian cepat duduk!! Aku akan mengumumkan sesuatu yang penting!!"


🌼


🌼


__ADS_1




__ADS_2