Mr. Antagonist

Mr. Antagonist
Sembilan


__ADS_3

...°HAPPY ENDING°...


Alma berjalan mengikuti pemuda didepannya dengan ragu. Sebenarnya dia akan dibawa kemana? Kenapa juga dia menuruti perintah pemuda itu?


" Sebenarnya kita mau kemana?"


Akhirnya Alma mengeluarkan suara membuat pemuda itu tiba tiba berhenti. " Pertanyaan bagus." Sahutnya.


Dalam satu detik pemuda itu tiba tiba berbalik dan ada dihadapannya. Alma terkesiap akan kecepatan pria itu. Apa pria itu vampir? Atau punya kekuatan magis dan hal hal lainnya. Kenapa cepat sekali?


" Tapi sebaiknya Lo diam dan ikuti saja. Karena gue gak suka banyak omong." Bisik pemuda itu tepat ditelinga Alma.


Alma menelan ludah kering, tubuhnya bergedik ngeri. Aura pemuda ini tidak main main meskipun masih dibawah Sagara. Apalah dia yang hanya seorang figuran dan yang menjengkelkan adalah dirinya seorang perempuan.


Mata Alma turun ke name tage pemuda tersebut. Dibacanya abjad yang tertera disana. Keningnya mengerut merasa nama itu tidak asing.


" Revano A. Kayak nya gue pernah denger dan gak asing deh." Batin Alma. Otaknya langsung bekerja dengan cepat. Matanya membulat mengingat sesuatu.


" Revano?!" Pemuda itu mundur beberapa langkah lantaran terkejut mendengar teriakan Alma yang tiba tiba.


" Lo tahu gue?"


Alma menatap horor pemuda itu. Dia beringsut menjauh dan hendak pergi. Melihat pergerakan yang dapat ditebak dari Alma, Revano langsung menahan lengan gadis itu.


" Mau kemana, Lo?" Alma memberontak minta dilepaskan. " Hwee! Lepasin gue. Tolong!!" Teriak alma yang begitu keras. Tak kehabisan akal dia menginjak kaki pemuda didepannya dan menendang tulang kering Revano.


...***...


Revano Aldebaran.


Dalam novel pria itu diceritakan sebagai teman antagonist alias Sagara. Tidak banyak perannya saat semuanya berlangsung, dia hanya menyemangati dan memberika dukungan pada Sagara. Selain itu sikapnya yang baik dan manis membuat para pembaca menyukainya.


Tapi di ending dan extra part bagian Sagara. Ternyata pria itulah yang menjadi dalam semuanya. Alma sangat menyesal pernah menyukainya, dia sangat membenci pria itu.


Pria yang licik dan manipulatif.

__ADS_1


Bahkan dirinya saja benar benar tidak menyangka bahkan pria itu akan melakukan hal sejahat itu. Revano bermain sangat rapih.


Alma mengambil nafas banyak banyak, pasokan oksigen dijantungnya terasa menipis akibat berlari dengan cepat. Bahkan tadi dia terjatuh saat berlari, namun yang terpenting adalah dia harus pergi dari pria licik itu.


" Sial! Kenapa hidup gue dikelilingi orang orang yang menyeramkan? Bisa bisa mati muda!" Alma menggerutu sambil menunduk dengan tangan menumpu di lutut.


" Cosplay jadi orang gila?" Alma mendongkak mendapati Sagara menjulang tinggi didepannya dengan gaya cool nya. Pria itu menahan Alma dengan tatapan kasihan," Perlu gue masukin ke RSJ."


Alma berdecak kesal, " Gue gak cosplay jadi orang gila! Tapi baru aja di kejar orang gila. Mana dia punya temen sama sama stress lagi!"


" Ck, ngapain Lo disini?" Sambung Alma dengan nada ngegas. Gadis itu tidak peduli dengan orang orang yang mulai menatap mereka. Berhenti dari kesibukannya dan beralih menonton keduanya yang bertengkar.


Sagara bergeming. Tanpa banyak kata gadis itu diseret pergi. Tentu sang empu memberontak, sayangnya dia tidak memiliki kekuatan sebesar Sagara.


" Lo ngapain bawa gue ke rooftop?!" Sewot Alma menjauhkan diri kala sampai di rooftop. Sagara duduk di sebuah sofa yang terlihat nyaman.


Rooftop memang tempat kosong, namun sekarang telah menjadi kepemilikan Sagara dan temannya. Karena itu tidak ada yang berani masuk kesana. Begitupun dengan Alma yang takut, bagaimanapun dia adalah seorang yang berimajinasi liar. Banyak pikiran pikiran kotor yang berdatangan ke otaknya.


" Duduk." Titah Sagara. Alma menggeleng, " Kenapa gue harus nurut? Seperti kata Lo dulu ini bukan rumah."


Netra hitam itu menatapnya tajam. Dapat membuat Alma terdiam ketakutan. Apalagi ekspresi wajah sagara yang kian mendingin.


" Gue hanya membalas budi karena Lo malam itu, Lo hanya pembantu."


Deg


Alma meremas ujung roknya, perkataan dingin itu sangat menusuk hatinya.


" Lalu apa?" Alma mengangkat dagunya tinggi seolah menantang Sagara. Dalam hati dia menguatkan keberaniannya yang hanya sebesar upil semut itu.


" Lo berpikir gue melewati batas karena sikap gue yang menurut Lo kurang ajar? Lo yang seenaknya nyeret gue kesini tanpa ngejelasin apa apa. Lo pikir Lo siapa?"


Alma membalikkan badannya dengan nafas memburu. " Terus terang aja, jika bukan karena paman Sam. Gue juga gak mau ngelakuin semua ini." Lanjutnya meninggalkan tempat itu.


Sagara mengeratkan kepalannya hingga buku-buku jarinya memutihkan. Matanya terus menatap nyalang punggung kecil yang mulai menghilang.

__ADS_1


...***...


Alma menahan isak tangisnya didalam toilet. Seandainya ada jalan untuk dirinya bisa pulang, secepat mungkin dia akan pulang. Dia sudah lelah terus berjuang hidup disini sendirian. Apalagi mendengar perkataan Sagara tadi sangat meremas ulu hatinya. Tangannya menekan kuat dadanya yang terasa sesak


" Sialan! Cowok itu awas aja! Huss srottt." Alma menyusut ingusnya yang keluar. Matanya sembab karena menangis lama ditoilet.


" Gue gak peduli lagi sama Lo mulai detik ini!" Tekad Alma mengepal kuat. Dia berdiri hendak keluar, tangannya meraih pintu akan dibuka. Namun mendengar ada orang yang bicara membuat dia berhenti.


Bukan karena takut.


Tapi, mereka menyebut namanya.


" Namanya Lyora kan?"


" Iya tapi sering dipanggil Alma."


" Cih dia pasti murahan banget," Alma terdiam mendengarnya. Tangannya turun secara perlahan.


" Gue juga berfikir kayak gitu, udah ngerasa si paling deh gara gara seket sama Sagara." Tak terasa air mata itu keluar lagi. Alma langsung duduk ditoilet duduk dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


" Tapi tadi gue liat dia dibawa sama Vano."


" Asli?!"


" Iya anjir! Jijik banget sama cewek murahan model kayak dia."


Alma menutup kedua telinganya dengan rapat. Tak ingin mendengar lebih dari itu. Bibirnya bergetar dengan tubuhnya yang mulai merosot kebawah.


" Kenapa?"


" Kenapa harus gue?!"


" Alma sialan!!"


Batinnya menjerit frustasi. Alma tidak tahan menahan semuanya sendirian. Rasa takut, lelah dan frustasi.

__ADS_1


Semuanya bercampur aduk.


" Hiks.. gue pengen pulang!"


__ADS_2