Mr. Antagonist

Mr. Antagonist
Dua puluh ( insiden yang menggemparkan )


__ADS_3

...° Mr. Antagonist °...


" Gue gak punya rumah. Gue cuma mau kembali,"


" Meski jika diluar dia terlihat kuat dan cuek, dia itu sosok rapuh dan lemah. Dia selalu mengandalkan dirinya sendiri tanpa mau berbagi dengan orang lain. "


Kata kata itu terngiang dikepalanya tanpa diminta. Sagara menambah kecepatan kakinya menaiki tangga. Entah berapa lama dia berlari, yang pasti dia harus segera sampai.


" Sagara!!! Cepat!" Teriakan Cessie dari atas membuat sagara mendongkak.


Tinggal sedikit lagi.


Hanya sedikit.


Sagara berhenti untuk mengambil nafas. Ini bukanlah apa apa. Dia harus menyelamatkan istrinya. Gadis yang mulai masuk kehidupannya. Gadis yang mengusiknya.


" Ini saya, Alma."


" Saya membawakan obat untuk anda,"


" Saya letakkan disini,"


" Tolong jangan terpuruk seperti itu, dia tidak akan suka melihatnya. Jika anda tidak dapat memilikinya, setidaknya anda dapat membuatnya bahagia dengan anda juga bahagia."


Air matanya keluar mengingat itu. Dia ingat pertama kali gadis itu masuk saat dia terpuruk. Memberinya kata kata semangat. Menenangkannya dikala ketakutan.


Dan selalu ada kala dia membutuhkannya.


Gadis itu berhasil membuat dunia baru untuk Sagara.


Dia mencintai gadis itu.


Tidak ingin kehilangannya.


19 lantai saja dia rela menaiki tangga untuk gadis itu.


Bukan kah itu cintanya?


" Di- di mana? Hah.. dia.. hah.." Cessie menunjuk pintu rooftop. Matanya terpaku pada Sagara yang memerah padam dengan keringat membasahi seluruh tubuhnya. Jangan lupa penampilannya yang sangat berantakan.


Sagara berjalan kearah pintu dengan terhuyung. Kakinya mati rasa namun dengan memaksakannya dia menggedor pintu besi itu.


Dor dor dor dor


" Ra!! Buka pintunya!" Sagara dengan tenaga yang tersisa mendobrak pintu itu.


Brakk brakk brakk


" Lyora!!"


Dor dor dor


Sagara kesal meninju pintu itu. Kenapa dia lupa membawa kunci rooftop?


" Minggir!"


Cessie menurut menyingkir dari dekat sana. Sagara mengambil ancang-ancang dari jauh dan mulai mendobrak.


Brakk brakk


Pintunya terbuka dengan kunci yang rusak dengan nafas memburu mata Sagara memindai seluruh tempat yang ada disana. Dia menoleh pada Cessie yang ikut keluar.


" Lyora!!" Panggilnya kala melihat sosok yang dicarinya tengah berjongkok dipembatas rooftop.


" Alma?!" Pekik Cessie takut.


" Sagara?" Gadis itu mengerutkan dahinya bingung melihat dua orang itu memekik namanya.

__ADS_1


Alma berdiri membuat jantung Sagara berdebar tak karuan.


" Stop! Diam jangan berdiri, tolong jangan seperti ini, oke?"


Sagara mendekat kearahnya. Alma yang mendengar itu keheranan. Dia berjalan hendak melompat tapi burung yang ada ditangannya tiba tiba terbang membuat dia berbalik secara tiba tiba.


" Al!!"


Mata Sagara melebar melihatnya.


Alma terbelalak kala dirinya terpeleset. Matanya terpejam siap menerima rasa sakitnya.


Lagipula dia sudah tidak memiliki tujuan hidup.


" Maaf!" Gumamnya.


Grep


" Dapat!" Alma mendongkak menatap manik itu terlihat lega.


Seharusnya Sagara membiarkannya saja. Dia bisa terbang bebas.


" Lepas sagara." Titah Alma. Mencoba memberontak. Sagara mengangkat tubuh gadis itu dengan sedikit kesusahan akibat Alma yang banyak bergerak.


Begitu Alam sudah naik, Cessie mendekat dan mendekapnya. Sagara berbaring mengatur nafasnya yang tidak beraturan dengan memejamkan matanya.


Alma yang tidak mengerti apa apa hanya mengusap pelan bahu Cessie yang sesenggukan.


" Udah gausah nangis." Cessie mendorong dirinya kasar.


" Masih berani Lo bilang kayak gitu hah? Kita udah panik banget tadi, apalagi lo yang gak denger kita sama sekali. Lo pikir ini lucu ha?! Sagara sampai naik tangga dari lantai 1 sampai sini dan lo bilang kayak gitu?!" Marah Cessie.


Alma melirik Sagara yang masih mengatur nafasnya, dalam hati ia bertanya tanya benarkah apa yang Cessie katakan.


" Please, Al. Kalau ada masalah bicarakan. Jangan kayak tadi. Lo pikir hidup itu murah apa sampai mau bunuh diri kayak gitu?"


" Bunuh diri? Gue?" Tunjuknya pada diri sendiri.


" Terus siapa lagi?!"


Alma terdiam mencerna apa yang dikatakan Cessie. " Kalian salah paham deh, gue cuma nolong burung yang kesangkut tadi di-" Alma yang hendak bangkit menunjukkan tempatnya ditarik oleh sagara.


" Diam!" Bentak pria itu.


Kedua gadis itu terdiam, Cessie yang mengerti langsung undur diri. Alma menundukkan dirinya merasa bersalah.


" Ma-"


Grep


Alma terdiam begitu dipeluk sagara. " Kamu ga tau seberapa paniknya aku waktu dengar kamu kekunci di rooftop?" Suara sagara terdengar parau.


Punggung pria itu tergetar, dan alma dapat merasakan bahunya mulai basah.


" Aku takut, Ra." Tangan Alma mengusap punggung itu mencoba menenangkan.


" Aku ga tahu apa yang bakal aku lakukan kalau tadi aku gak berhasil." Sagara mengeratkan pelukannya.


" Janji sama aku, jangan lakuin hal bodoh seperti tadi." Sagara menatap Alma yang menatapnya polos.


" Tapi ta-" Sagara menyimpan telunjuknya dibibir Alma.


" Sttt janji dulu." Alma mengangguk.


" Aku janji."


Sagara menghela nafas lega.

__ADS_1


Dia kembali memeluk Alma dengan erat. " Kaki aku sakit Ra. Gak kerasa apa apa." Adunya sambil meringis. Wajah Alma langsung panik.


" B- beneran?! Kita turun yuk," ajak Alma. Sagara menatap Alma dengan sayu. Dia menarik Alma hingga terduduk di pangkuannya. Sagara membelit pinggangnya dan menarik tenguk alma.


Cessie menutup matanya dan telinganya melihat itu. " Mata gue gak suci lagi anjir!" Batinnya.


...***...


Akibat kejadian tadi. Apertement ini dipenuhi oleh mobil polisi dan damkar kebakaran. Samuel yang mengetahui apa yang terjadi pada Alma menyuruh pihak berwajib menutup rooftop. Paruh baya itu membiayai seluruh kerusakan dan kerugian yang terjadi di apartemen tersebut dengan syarat mereka harus menjaga menantunya dengan baik.


Pengawal berjajar di mana mana. Dan itu berlangsung selama berhari hari. Sagara sendiri dia harus dirawat, kakinya sedikit bermasalah akibat terlalu dipaksakan. Untungnya tidak berakibat patal, karena itu juga Sagara selamat dari amukan pamannya dan berlindung di ketiak sang menantu kesayangan pamannya. Dia juga bisa bermanja manja dengan Alma.


Bahkan kesibukannya beberapa hari ini membuat Alma melupakan inti permasalahannya. Dia lupa apa penyebab utama dari insiden kemarin. Ditambah orang orang bergiliran menjenguknya. Padahal dia tidak apa apa. Mungkin mereka ingin menjilat Samuel melewati dirinya.


Mata Alma terus membaca apa yang tertera di postingan netizen dan komentarnya. Keningnya mengerut mendapati satu komentar yang menurutnya aneh.


" Apa aku kelihatan gendut?" Gumamnya. Alma berlari kecil menuju kamar dan melihat bayangan dirinya di cermin full body.


Dia memutar tubuhnya dan menilik penampilannya. Dia memegangi perutnya. Kemudian beralih pada pipinya yang chubby. Tak sengaja matanya beradu dicermin dengan Sagara. Dia berbalik dan tersenyum kearah Sagara.


" Sagara lihat! Apa aku gendut?" Tanya Alma berputar kesana kesini. Tanpa berkedip Sagara menatapnya.


" Cantik."


Alma menghela nafas, " serius Sagara!" Kesalnya.


" Enggak, kamu gak gendut Ra." Jawab Sagara.


Alma menghela nafas pendek. Dia berjalan kearah Sagara dan ikut berbaring dengan wajah masam.


" Kenapa?" Tanya Sagara mengusap wajahnya.


Alma mencebik kesal kala komentar tersebut terus berseliweran di otaknya.


" Sagara? Menurut kamu, aku kelihatan kayak orang hamil?" Tanyanya.


Sagara tertawa mendengar pertanyaan random dari isterinya.


" Kamu mau hamil? Sini bilang ." Alma mencubit pria itu.


Alma berdecak kesal. " Jawab Sagara!" Sagara nampak menurut.


" Enggak kok. Siapa yang bilang kayak gitu?"


" Mereka nulisnya di komentar. Mereka bilang aku itu lagi anak kamu tanpa pernikahan. Terus ada yang bilang aku itu cuma manfa-"


Cup


Mata Alma terbuka.


Dia menatap kesal pada Sagara, " Sagara, ih."


Sagara membelai lembut wajah Alma. " Jangan hiraukan mereka. Cukup percaya sama aku, itu udah cukup. "


Alma membuang mukanya.


" Aku udah pernah kasih kamu kepercayaan. Tapi kamu sendiri yang rusak. Aku hanya melihat yang nyata dimata aku, bukan sesuatu yang kosong." Ujarnya.


Sagara mengangguk mendengarnya.


" Kamu tunggu saja. Aku akan membawa semuanya dengan bukti yang nyata. "


Alma mengangguk.


" Aku tunggu itu."


...Bersambung 🙏...

__ADS_1


__ADS_2