Mr. Antagonist

Mr. Antagonist
Tiga puluh tiga ( pulang )


__ADS_3

...° Mr. Antagonist °...


Gadis cantik itu mengulurkan tangan, mengangkat pelan pelan beban yang menimpa perutnya. Memindahkannya dengan perlahan, takut-takut pria itu terbangun.


Gadis itu bahkan tak repot repot ingin melihat wajah Sagara. Dirinya sudah terlanjur gemetar ingin berteriak akan keadaan yang amat membagongkan ini.


Semalam, disisa mabuknya. Pria itu membuat dirinya tidak bisa berkutik. Mungkin saja, Sagara salah menyimpulkan perkataannya. Tapi, enggak gini juga dong.


Alma menahan ringisan kala bagian sensitifnya terasa sangat sakit. Dia memegangi selimut yang membungkus tubuh polosnya. Yah, mulai sekarang dia bukan lagi seorang gadis. Menyedihkan.


Baru saja hendak berdiri, tubuhnya harus terjatuh begitu sebelah lengan berotot, menarik pinggangnya, menyebabkan tubuh kecil itu kembali berbaring.


Bedanya, kini Alma dipeluk dari belakang. Nafas hangat menerpa tengkuknya kala hidung mancung pemuda itu, sengaja mendusel disana.


"Ra.." Suara serak khas bangun tidur menyapa indera pendengaran Alma.


Gadis itu membeku ditempatnya. Wajahnya terasa memanas. Pun, jantungnya memompa gila. Keringat mulai bermunculan di pelipisnya, sekitar sebesar jagung, memperkuat kegugupan yang menyatu dengan rasa malu.


Begitu belitan pada pinggangnya semakin erat, Alma buru buru meraih lengan pemuda itu.


" L-lepas." Suaranya tidak bisa menyembunyikan nada canggung. Ini tidak nyaman, sungguh!


Alma ingin sekali memukul kepalanya karena pria itu tidak menggubris perkataannya.


" Sagara, lepas." Alma mengulangi perkataannya.


Sagara membalikkan tubuhnya dengan mudah, beruntung Alma dengan sigap menahan tubuhnya, supaya tidak menempel dengan tubuh pria yang sama sama polos.


Pria itu menaikkan alisnya ketika matanya bertemu dengan manik Alma. Tak lama, dia tersenyum tipis melihat tatapan horor yang dilayangkan gadis itu kepadanya. Bukan, bukan gadis lagi. Tetapi wanitanya.


" Tidak akan ku lepaskan. Kamu milikku, selamanya. Hanya milik Sagara." Ungkapnya memeluk erat Alma hingga tubuhnya menempel dengan intim. Membenamkan wajahnya pada leher jenjang perempuan itu.

__ADS_1


Alma terperangah mendengarnya. Jangan lupakan wajahnya yang memerah malu. Tersadar, Alma langsung memberontak, memukul pria itu menggunakan kedua tangannya dan bergerak tidak nyaman agar dilepaskan.


" A- aku harus mandi." Dibalik bahu Alma, ada wajah Sagara yang menyeringai.


" Mandi bareng, mau?"


Alma menarik rambut pemuda itu hingga membuatnya memekik kesakitan. Tidak melewatkan kesempatan, Alma langsung bangkit dan berlari menuju kamar mandi dengan jalan yang sedikit berbeda.


Sagara tertawa melihatnya, itu adalah ulahnya. Dia membaringkan tubuhnya, menutup kepalanya menggunakan lengannya hingga menyisakan mulut dan hidung yang tersisa.


Senyuman yang lebar terlihat. Mulut itu menampilkan senyum yang begitu lebar. Tidak seperti biasanya yang hanya datar dan kaku.


" Lyora, milikku."


...***...


Jesslyn melangkahkan kakinya mengitari taman yang ada di sekitaran apertement. Dia menatap pelataran apertement yang dilalui oleh orang orang yang tengah beraktivitas.


Netra matanya tidak sengaja menangkap suatu objek yang menarik perhatian. Seorang perempuan tengah berjalan dengan seorang lelaki disampingnya. Mereka terlihat tertawa bahagia, namun yang menjadi eksistensinya adalah perut perempuan tersebut, yang terlihat membesar.


Tanpa sadar dia mengelus perutnya, apakah dia juga akan sama seperti wanita itu?


Jesslyn menggeleng perlahan, menjauhkan pikiran negatif yang hinggap dikepalanya. Mana mungkin kan? Apalagi dia hanya melakukannya sekali.


Tapi bagaimana jika itu terjadi? Bagaimana reaksi ibu dan ayahnya mengetahui kebenaran itu?


Drttt


Kebetulan sekali, ibunya langsung menelpon Jesslyn. Dengan keberanian yang secuil, dia mengangkat panggilan tersebut.


" Halo ma?"

__ADS_1


"..."


" Baik, Jessy sedang olahraga pagi."


"..."


" Entahlah, Jessy masih betah disini."


"..."


" Harus banget? Emang ada apa ma?"


"..."


Jesslyn terdiam. Memikirkan apa yang harus ia lakukan. Ibunya menyuruh dia pulang. Tak lama setelah ia berpikir Jesslyn mengangguk sekali.


Dia harus menghadapinya. Bukan malah lari seperti ini.


Ini saatnya dia untuk jujur kepada orang tuanya.


" Oke ma, sore ini aku pulang."


"..."


" Iya ma."


...Bersambung 🙏...


Kangen ga? Maaf ya engga up beberapa hari karena badannya ga enak beberapa hari ini.


Mau double up ga? Like dulu dong🤗

__ADS_1


__ADS_2