
...°HAPPY ENDING°...
" Makan. Atau mau gue suapin?"
Alma tidak mengerti kenapa berakhir seperti ini. Ditatapnya bubur yang masih mengepul ditangannya kemudian beralih pada pemuda yang membawakannya makanan tersebut.
" Gak suka, atau Lo emang bener mau gue suapin?" Alma mencebik dan langsung menyuapkan satu suapan. Sagara memperhatikan dirinya makan, dan itu membuat bibirnya terasa nyangkut di tenggorokan.
Sangat risih.
" Hell, ngapain ke sini?" Tanya Alma to the point. Dia menyimpan mangkuk yang masih berisi setengahnya.
" Apa ada larangan buat gue ke sini?"
Sagara menatap geli Alma yang mendelik ke arahnya. " Gak usah sok manis, jelek!" Mata Alma semakin melotot mendengarnya.
" Cih, Lo pikir Lo ganteng?!" Sewot Alma.
" Dari lahir gue udah ganteng." Sagara melontarkan kata-kata itu dengan wajahnya yang sombong.
Alma menjatuhkan rahangnya, sebenarnya Sagara mau apa? Dan tingkah macam apa itu? Sama sekali bukan Sagara yang ada dinovel.
" Gue ngerasa dia suka sama Lo."
Alma terdiam sejenak, pikirannya mengingat kembali pertemuannya dengan Renjana.
Apa mungkin Sagara menyukainya?
Jika iya, maka itu tidak boleh terjadi.
Karena akan merusak alur!
Dan jika sampai alurnya berantak ia tidak akan tahu bagaimana kedepannya.
Sagara menyerngit mendapati Alma terdiam, apalagi wajahnya yang mengerut seperti tengah berfikir.
" Lo!" Sagara terkesiap mendengar pekikan Alma yang tiba tiba. Untung saja dia tidak terjerembab ke belakang.
" Suka sama gue?!"
" Hah?" Alma menatapnya dengan polos. " Iya kan. Lo suka sama gue kan?" Tunjuknya.
Hampir sama Sagara meledakkan tawanya, namun dia hanya terkekeh. Dia langsung bangkit dari kursi dan menunduk menatap Alma miris. Seakan menyayangkan sesuatu
" Gue rasa Lo lebih cocok masuk RSJ."
Alma mengerjap beberapakali. Ditatapnya Sagara yang sudah menghilang di balik pintu. Beberapa saat kemudian dia tersadar akan sesuatu.
__ADS_1
" Anj- maksud dia gue gila gitu?!"
Alma menendang kesal brangkar rumah sakit. Segala macam umpatan keluar dari mulutnya. " Dasar antagonis freak! Tokoh fiksi!"
Helaan nafas panjang terhembus dari mulutnya. Alma menatap sendu pintu putih itu.
" Yah, seenggaknya Lo bakal sadar untuk enggak ngelakuin hal bodoh!"
...****...
Tiga hari sakit dirumah sakit membuatnya tidak mengetahui apa apa. Saat pulang ke kediaman Smith suasana rumah itu terasa berbeda dari yang terakhir kali ia rasakan. Terasa sangat sunyi dan sepi. Sagara tidak terlihat dan paman Sam mungkin sedang bekerja.
Padahal kemarin dia ingat, Sagara meluangkan waktunya pulang sekolah untuk menjenguk dirinya di rumah sakit. Tetapi dia sepertinya sedang sibuk sekarang dan Alma juga seharusnya tidak kepo.
" Kamu sudah sembuh? Maaf kemarin paman tidak bisa menjenguk kamu." Alma membalikkan badannya mendapati Samuel yang berdiri dengan pakaian formalnya.
" Ah, iya paman tidak apa apa. Paman sudah pulang? Tumben jam segini sudah pulang?" Tanya Alma. Samuel berjalan kearahnya dan duduk dikursi makan.
" Hari ini jadwalnya kosong, jadi paman pulang lebih awal. Bagaimana keadaan kamu?"
Alma tersenyum kecil, " sudah lebih baik, paman." Samuel memberi isyarat kepadanya untuk mendekat.
" Kemarilah." Ditepuknya kursi disamping Samuel. Alma menurutinya, dia duduk dengan kaku. " Kamu sudah seperti anak bagi paman. Tolong jangan sungkan sama paman, ya?"
Alma tertegun kala merasakan usapan lembut dipuncak kepalanya. Teramat lembut hingga menyentuh dasar hati Alma yang dingin. Mengantarkan rasa hangat asing yang membuat Alma ingin menangis.
" Jika ingin, kamu bisa panggil saya ayah. Saya tidak keberatan selama kamu merasa nyaman."
Perasaan itu terasa tulus, Samuel yang menyayangi Alma. Gadis yang hanya memiliki sosok ibu tanpa diketahui asal usul ayahnya. Samuel sayang gadis itu, terlebih wajahnya mengingatkan dia akan seseorang.
Seseorang.
Seseorang yang ia kenali.
...***...
Kita mungkin belum menyadari bahwa terdapat sisi 'seorang anak' dalam diri kita. Disamping bahwa kita semua telah dewasa, entah itu umur maupun pikiran.
Sisi ini tidak sepenuhnya buruk, tapi jika kita tidak mengenali dan berdamai dengannya, maka bisa menimbulkan banyak permasalahan psikologis dikemudian hari.
Beban emosi yang kita bawa di masa lalu, urusan yang belum selesai dan beberapa kejadian traumatik yang belum kita lepaskan juga turut membentuk sisi 'anak kecil' yang ada pada diri kita saat ini.
Itulah yang terjadi pada Alma sekarang. Melihat rasa sayang Samuel padanya membuat pikirannya berkecamuk. Perasaannya bercampur aduk, tidak tahu karena reaksi tubuh Alma atau mungkin perasaan 'Dia' yang teringat masa lalunya.
Hampir satu tahun tinggal disini membuat dia mengenal Samuel dengan baik. Pria paruh baya itu kesepian. Tidak memiliki istri ataupun keluarga yang benar benar perduli kepadanya. Lalu keponakannya yang dingin dan minim ekspresi membuat keduanya jarang terjadi interaksi.
Karena itulah, Alma dekat dengan Samuel. Bermula dari dulu saat ia ingin menyeduh mie instan malam malam terciduk oleh pria paruh baya itu saat ingin membuat kopi. Alma ketakutan saat itu, takut dirinya dimarahi. Namun Samuel mengajaknya bicara dan menyuruhnya membuatkan kopi. Dari sanalah keduanya akrab, Alma sering bercerita tentang sekolahnya dan bertanya pada Samuel tentang bagaimana kehidupan diperkantoran.
__ADS_1
" Al? Lo lagi mikirin apa sih?"
Alma menoleh mengalihkan pandangannya dari luar jendela. Ditatapnya Jesslyn dengan malas, gadis itu sudah heboh sejak pagi karena dia mulai sekolah. Sampai temen sekelas mereka dibuat pengang telinganya karena suara melengking milik Jesslyn.
" Mikirin gimana caranya menikmati hidup tanpa susah dan sedih." Ucap Alma asal. Tetapi Jesslyn menganggapnya serius. Dia terlihat berfikir keras, sampai dia menggebrak meja kuat.
Alma saja dibuat terkejut.
" Cuma satu jawabannya. Hidup bersama Ayang Eja! Eaa." Pekik Jesslyn sambil tertawa garing.
Krikk krikk
Alma menatap Jesslyn malas. Seperti biasa dia akan termakan virus pesona tokoh utama. Bisa bisanya mereka berteman.
" Al!"
Kedua gadis dipojokan itu menatap gadis berambut pendek yang tiba tiba masuk kelas sambil berteriak kuat. Berhubung sekarang sedang jamkos karena gurunya rapat, alhasil mereka bebas melakukan apa yang mereka inginkan.
" Sebenarnya gue rasa ini bukan sembarang jamkos sih, karena pasti tokoh lagi pada main syuting."
Iyakan? Karena dari kebanyakan novel yang ia baca dan berlatarkan sekolah seperti ini. Pasti akan memanfaatkan jamkos seperti itu. Istilahnya author membuat sebuah kebetulan seperti untuk membuat adegan pada tokoh.
Atau contoh lainnya pada jam istirahat. Akan banyak kejadian yang terjadi dikantin untuk para tokoh, apalagi jika novelnya ada unsur unsur hal yang berbau geng.
Huh!
Alma tidak akan heran lagi.
" Ada apa Cin?" Bukan. Bukan Alma yang bertanya. Namun Jesslyn, selain karena dia malas Alma tahu akan bertanya karena tingkat keponya sangat tinggi.
" Ada yang nyariin Alma didepan." Ujar Cindy -gadis berambut pendek- membuat Alma menaikkan alisnya.
" Siapa?" Cindy mengangkat bahunya bertanda tidak tahu.
" Kakel kayaknya."
Alma dan Jesslyn saling pandang. Selama sekolah disini, mereka tidak memiliki kenalan kakak kelas. Hal itu menjadi tanda tanya bagi mereka berdua.
" Mending lo liat." Jesslyn bersuara mengusulkan. Alma mencebik, dengan malas dia berjalan keluar.
Saat keluar yang dia lihat adalah punggung seseorang yang memunggunginya. Alma berdehem keras mencoba menyadarkan, dan itu berhasil membuat pria itu berbalik kearahnya. Pemuda yang berkisar lebih tinggi dan memiliki wajah tampan. Yah, di dunia itu semuanya hampir tampan sih.
" Ada apa ya?" Tanyanya sambil senyum sopan.
" Lo yang namanya Lyora kan?" Alma tiba tiba merasa tidak enak melihat senyuman pria didepannya.
" Iya, kenapa?" Alma bertanya hati hati. " Ikut gue."
__ADS_1