Mr. Antagonist

Mr. Antagonist
Empat belas ( baper! )


__ADS_3

...° HAPPY ENDING °...


" M- mantan?"


Alma tercengang.


" Apa yang kalian lakukan?"


Alma tersadar. Dia menatap Sagara yang ada diujung dapur menatapnya lurus ke arah mereka. Sontak saja dia mendorong pria yang mengaku menjadi mantan nya itu supaya menjauh. Jika dilihat dari sudut Sagara, bisa jadi dia terlihat seperti sedang melakukan hal yang tidak tidak. Terlebih dengan Revano yang terus memojokkannya seakan tengah mengunkungnya.


" Gue mau kekamar mandi." Jawab Revano berbalik menatap Sagara sambil memasukan tangannya disaku celananya. Sagara menunjuk kamar mandi menggunakan dagunya tanpa berucap apapun.


Revano berjalan menuju kamar mandi sambil tersenyum kecil. Saat melewati Sagara dia membisikkan sesuatu.


" Gue gak tau Lo ada hubungan sama salah satu mantan gue."


Diam diam kepalan tangan Sagara terlihat. Alma menahan nafas, dia langsung berbalik mencari gelas kala tatapan Sagara tertuju padanya. Tak lama tubuhnya dihadang oleh dua lengan kekar milik Sagara. Pria itu menunduk guna menyamakan tinggi tubuhnya dengan Alma.


" Nakal, hm?"


Sagara menghirup aroma dileher jenjang milik Alma dan mengendus endus diarea sana. Seketika seluruh tubuh Alma meremang.


" S-sagara... Jangan gini." Lirih Alma memegangi tangan Sagara. Namun Sagara tak menghiraukannya dan sibuk bermain main disana.


Revano bersandar didinding melihat itu, dia berdecak malas. " Gue pikir ada sesuatu yang menarik. Ck, membosankan." Gumamnya berlalu.


Tangan Sagara mulai naik, namun Alma menahannya. Dia menggeleng kecil. " Jangan! Gue belum siap."


Sagara menghela nafas. Dia mundur menjauh dari tubuh Alma dan pergi meninggalkan Alma yang melemas. Tangannya menahan tubuhnya yang seperti jelly, tubuhnya seakan tidak bertulang.


" Gue bisa gila..." Ujar Alma dengan tatapan kosong.


...***...


Alma menatap baju baju yang berjejer di lemari. Malam ini dia harus menemui keluarga besar Sagara seperti yang Samuel katakan. Namun tidak ada satupun pakaian yang menurutnya sopan untuk dipakai. Semuanya hanya pakaian yang biasa ia pakai saja seperti hoodie, kaos pendek, dan yang lainnya. Tidak ada satupun gaun membuat Alma menghela nafas.


Sagara sedang pergi keluar bersama teman temannya beberapa saat lalu. Mengingat insiden tadi di dapur, setelah menyajikan makanan dan minuman Alma langsung pamit kekamar.


" Terus gue harus gimana?" Kesal Alma menghempaskan tubuhnya pada kasur king size itu.


" Dulu, gue pengen banget nyelamatin tokoh Sagara. Gue pengen punya suami spek dia. Dan sekarang gue udah jadi istri sahnya. Tapi kenapa hati gue gak puas?" Alma teringat masa lalu.


Dulu saat dirinya masih remaja 15 tahun sebelum masuk novel pernah berandai andai mempunyai suami seperti Sagara. Dia rela mengurusnya meskipun Sagara dikatakan gila.


Sayang itu pikiran konyolnya saja.


" Yang terpenting sekarang adalah alur novel yang berubah. Di dalam novel Daisy tidak pernah disebutkan akan sekolah keluar negri? Kenapa jadi berubah begini?" Alma mencari ponselnya. Saat hendak menelpon Jesslyn, tatapannya tak sengaja melihat benda pipih milik Sagara.


Alma terdiam memikirkan sesuatu.

__ADS_1


Tangannya terulur mengambil ponsel hitam itu. Saat dibuka ternyata ponselnya memakai kata sandi. Namun tangannya menarik sudut kiri keatas hingga terbuka ke panggilan.


Dia mencari kontak seseorang.


Renjana.


Alma menemukan kontak orang itu. Dengan ragu, Alma mengambil ponselnya dan menulis nomor telpon tersebut.


" Ekhem!"


Alma terkejut, dan langsung menyimpan ponsel tersebut. Dia berbalik sambil tersenyum khasnya, Sagara menjulang tinggi menatapnya datar.


" Udah pulang?" Tanya Alma. Sagara berjalan kearahnya, dan mengambil ponsel miliknya. Alma mengalihkan pandangannya dengan acak takut dengan Sagara.


Tetapi, sebuah tangan menarik pipinya hingga menoleh. Matanya langsung terangkat. " Ap-"


"Lihat!" Alma terdiam kala tangan itu menahan kepalanya agar tidak menoleh. Matanya beralih pada ponsel yang ditunjukan oleh Sagara.


" 21 12 22. Tanggal pernikahan kita."


Blush


Mulut Alma terbuka lebar, dia tergagap malu sambil mengangguk beberapa kali. Dia langsung menurunkan tangan milik Sagara.


" Gue pergi dulu." Pamit Sagara. Sebelum pergi dia mengacak pucuk kepalanya terlebih dahulu sambil tersenyum tipis.


Sepeninggalan Sagara Alma berkedip beberapa kali dan memegangi dadanya. Dia menatap sekelilingnya dengan rona merah diseluruh wajahnya.


Bruk


...***...


" Jadi?"


Alma berdehem pelan menyelesaikan kunyahannya terlebih dahulu. Saat ini ia tengah menyantap makanan kesukaannya di kedai mang Udin bersama Jesslyn. Akhirnya Alma meminta Jesslyn untuk bertemu. Sampai dia lupa jika Jesslyn tengah sekolah hingga membuat gadis itu membolos.


" bantu gue beli gaun." Terang Alma menjelaskan tujuannya.


" Ok- APA?!" Alma memejamkan wajah malu, dia menatap sekelilingnya sambil mengangguk minta maaf.


" Lo lagi sakit Al? Astaghfirullah kita harus ke rumah sakit sekarang." Alma mencebik.


" Gue gak sakit. Dan lagi Lo itu Kristen." Koreksi Alma. Jesslyn cengengesan mendengarnya. Kedua gadis cantik itu seperti biasa menarik minat para pembeli yang lain terutama para remaja.


" Gue lagi darurat banget. Mangkanya gue telpon Lo tadi."


Jesslyn mangut mangut.


" Emang gaun yang kayak gimana yang Lo butuhin?"

__ADS_1


Alma menggaruk alisnya bingung. " Gue gak tahu. Asal sopan aja deh, Lo tahu kan gue gak ngerti soal yang begituan." Keluh Alma.


Sekali lagi Jesslyn mengangguk mengerti.


" Emang ada acara apa?" Tanya Jesslyn.


Alma sedikit ragu untuk menjawabnya. " Gue mau ketemu mertua."


" Oke. It- hah? Apa? Coba ulangi! Gue kayaknya lupa deh belum korek tai kuping gue." Jesslyn berhenti memakan kerupuk dan beralih menatap Alma yang tersenyum khasnya.


" Jangan bilang.." Jesslyn melotot kearah alma.


" Jangan teriak, ini masih tempat umum." Peringat Alma.


Hik


Jesslyn cegukan dengan wajah syok nya. Alma tidak tahu harus tertawa atau menangis. Dia hanya bisa tersenyum saja.


" Lo udah nikah?" Tanya Jesslyn dengan raut kosong.


" I- iya.."


Brukk


" Eh??" Alma menatap Jesslyn bingung dan panik kala gadis itu menempelkan kepalanya pada meja.


" Jess! Lo kenapa?!"


" Jess! Jangan bikin gue panik!"


Alma menghembuskan nafas lelah. Sedari tadi dia menghadapi Jesslyn yang cemberut dan marah kepadanya.


" Jess! Jangan marah ya? Gue minta maaf deh. Gue juga gak percaya karena itu semuanya berlangsung begitu aja. Please jangan marah gini ya?" Melas Alma. Namun Jesslyn masih memunggunginya.


" Hikss... Kenapa Lo gak bilang ke gue? Lo anggap gue selama ini apa? Hikss srottt... Lo bahkan gak bilang pas di telpon. Lo tega banget sama gue! Hwee!"


Alma kelabakan sendiri kala Jesslyn menangis histeris. Buru buru dia memeluk gadis itu, dan mengelus pundaknya pelan.


" Sorry ya, gue seharusnya bilang dulu sama Lo. Udah jangan nangis dong, cantiknya jadi hilang."


Jesslyn menangis sesenggukan, dia melepaskan pelukannya dan menatap Alma sambil mengusap air matanya, tak lupa dengan ingus nya. Alma mengernyit jijik, dia menyodorkan tissu.


" Jadi Lo dijodohin sama keluarga mana? Biar gue bilang sama bokap gue, siapa tau bisa bantu Lo lepasin dari pria Bangka tua itu!" Alma tertawa kering mendengarnya.


" I- itu Lo juga kenal kok sama dia." Jesslyn menatapnya bingung.


" Siapa?"


" Nanti juga tahu. Sekarang bantu gue nyari gaun ya."

__ADS_1


...Bersambung 🙏...


__ADS_2