
...° HAPPY ENDING °...
" Ibu, ada apa?"
Alma yang baru saja membuka pintu kamarnya terkejut mendapati Asih yang terlihat tengah merapikan bajunya.
" Kamu sudah pulang?" Alma mendekati asih.
" Ada apa ini, Bu?" Tanyanya penasaran.
" Kamu mandi dulu. Setelah itu ibu akan jelaskan semuanya sama kamu." Ucap Asih tersenyum. Alma terdiam, ingin bertanya lebih namun merasa tidak enak. Akhirnya dia menurut saja.
Setelah selesai mandi dia berjalan kearah asih yang duduk dipinggir kasur sempitnya. Alma heran melihat banyak barang yang dirapikan.
" Ada apa ini Bu? Kenapa barang barang Ama diberesin gini?"
Asih memberi isyarat agar Alma duduk disampingnya. Setelah duduk asih menatapnya dengan tatapan yang sulit dimengerti olehnya.
" Nak, kita pindah ya? Sekarang kamu beresin barang barang kamu." Ucap Asih.
Alma terdiam.
Otaknya tengah berfikir apa yang sebenarnya terjadi.
" Pindah? Kemana ibu? Apa ibu.." ucapannya menggantung menduga duga apa yang sebenarnya terjadi.
" Ibu tidak dipecat, kamu tenang saja. ibu yang mengundurkan diri. Sebaiknya kamu menurut saja ya?" Sambungnya.
" Ta-" Asih langsung memotong protes Alma. " Ini semua demi kebaikan kamu." Ujarnya memegang tangan Alma seolah meyakinkan Alma bahwa itu adalah yang terbaik.
Sebenarnya apa yang terjadi?
Apa yang dia lewatkan?
Kenapa semuanya semakin rumit?
" Baiklah." Alma lebih baik mengalah. Asih mengusap pucuk kepalanya lembut. " Ada kalanya lebih baik tidak mengetahui apa apa. Kenyataan itu sangat pahit, nak."
Meski tidak mengerti maksud perkataan wanita paruh baya itu, Alma tetap mengangguk. Karena dia merasa perkataan Asih ada benarnya.
" Ya sudah, kamu siap siap ya." Asih pergi meninggalkan Alma yang terdiam.
" Apa mungkin ini adalah alur novel? Alma benar benar menghilang setelah saat itu."
Sekarang jalan hidupnya tidak bisa ia tebak.
Karena perannya sebagai figuran sudah selesai.
...***...
Niat hati ingin berpamitan dengan paman Samuel, Alma malah mengetahui sesuatu yang seharusnya ia ketahui. Mungkin perkataan ibunya memang benar, sekarang Alma terjebak dengan pemikirannya sendiri.
" Kenapa kamu sangat ingin memutuskan pertunangan itu?"
__ADS_1
Alma yang hendak masuk langsung berhenti, entah kenapa Alma merasa menjadi penguping pembicaraan orang.
" Sudah ku bilang aku memiliki seseorang."
Keningnya mengerut bingung. Siapa? Pikirnya. Kenapa dirinya tidak tahu? Kenapa di novel tidak dituliskan?
" Pacar? Bawa dia kesini. Biar paman melihatnya,"
" Paman sudah melihatnya."
Kerutan didahinya semakin dalam, banyak pertanyaan yang ada dipikirannya.
" Siapa dia? Berhenti bercanda Sagara!" Dapat Alma dengar suara paman yang mulai geram.
" Lyora Alma."
Deg
Mata Alma membulat dengan bibirnya membuka lebar. Tanpa sadar dia memundurkan langkahnya hingga menyenggol pot bunga yang ada disampingnya.
Pyarr
Alma menatap panik pot bunga itu, lalu dia merasa suara orang yang menghampirinya. Sudah pasti itu Samuel dan Sagara, panik dan gugup melanda Alma.
" Alma?"
Alma menunduk dalam tak berani mengangkat kepalanya. "Ma-maaf paman," cicitnya.
" A- aku.."
" A-ku mau pamit paman." Lirihnya menunduk. Samuel menghela nafas. Dia tahu kabar asih yang mengundurkan diri, bahkan dia sudah mencegah wanita itu. Sayangnya asih tetap pada pendiriannya.
" Pamit?" Sagara tiba tiba bertanya.
" Apa maksudnya?"
Samuel melirik Sagara melalui ekor matanya. " Alma akan pindah." Singkatnya. Samuel tidak tahu dirinya sudah membangkitkan amarah bagi Sagara.
Alma meliriknya menggunakan ekor matanya, tapi yang ada dia malah bersitegang dengan Sagara. " Kalo gitu, Alma pamit paman." undurnya.
Alma berbalik pergi meninggalkan kedua pria yang menatapnya dengan tatapan beragam. Sagara berdecak kesal, " Ini gara gara paman." semburnya.
Sagara berlalu menyusul Alma, Samuel mengusap pipinya bingung.
" Kenapa jadi saya?"
...****...
Tok tok
Alma yang tengah merapikan barang barangnya berhenti sejenak. Dia langsung berdiri membuka pintu. Alma terdiam tak menyangka sagara akan ada didepan pintunya menyusul dirinya.
" Kita harus bicara!" Sagara angkat bicara.
__ADS_1
Alma menaikkan alisnya, " kita gak sedekat itu untuk bicara." ujarnya.
Sagara melangkah maju membuat jarak keduanya menipis.
"Masih kurang deket?"
Alma mengerjap beberapakali mencoba mencerna apa yang dimaksud oleh Sagara. " M- maksud gue gak gitu!" Gagap Alma merasa bodoh. Dia menjadi gugup apalagi ditatap intens oleh Sagara.
" Yaudah ngomong aja." Putus Alma sedikit memundurkan tubuhnya. Sagara menunduk, dia menghela nafas.
" Lo mau pergi? Lo harus tanggung jawab." Ucap Sagara. Alma terkejut mendengar pernyataan ambigu yang keluar dari mulut Sagara. Begitu juga dengan asih yang sedari tadi menguping.
" L- Lo ngomong apa?! Ga usah ngaco!" Sewot Alma. Sagara memeluk Alma dan menyandarkan kepalanya dibahu Alma. Hal itu membuat Alma langsung memberontak.
" See? Lo ngelupain malam itu? Kita udah tidur bareng, bahkan Lo sendiri yang bilang gak mau jadi pembantu gue. But, sekarang Lo mau pergi ninggalin gue. Lo mainin gue?" Sagara merengek dengan nada yang datar. Alma langsung mendorong kasar pria itu. Dia sangat syok dan bingung.
" Lo ngomong apa sih?! L-" Alma tidak habis pikir dengan Sagara.
Kenapa Sagara bicara seperti itu?
" Sagaraaa!!!" Atensi keduanya langsung tertuju pada Samuel yang berada diujung lorong. Wajah Alma langsung pias melihat itu. Apalagi wajah marah Samuel begitu kentara dengan langkahnya yang lebar terkesan tergesa-gesa perjalan kearahnya.
Plakk
Bugh
Alma memekik kaget kala Sagara ditampar dan dipukul secara tiba tiba oleh Samuel. Remaja itu langsung terhuyung kebelakang dengan bibirnya terluka.
Samuel menarik kerah baju milik Sagara. Matanya memerah menatap marah Sagara.
" Ini yang kamu lakukan, ha?! Sialan!!" maki Samuel memberikan hadiah Bogeman berturut turut.
Tampaknya Sagara telah melakukan hal yang membuat sang paman marah besar. Alma mundur sedikit takut terkena pukulan, dia ingin menolong tapi itu semua diluar kendalinya.
Orang orang rumah mulai berkerumun mengintip keributan, bahkan para pengawal turut memisahkan keduanya. Sagara sudah babak belur di tangan Samuel, paruh baya itu mengambil nafas panjang setelah membuat Sagara terdiam. Dia menatap Alma yang menunduk takut dirangkulan asih.
" Kalian berdua, datang ke ruanganku." Mendengar nada dingin dengan aura tidak enak dari Samuel membangkitkan pikiran terburuk dalam hati Alma.
Alma mendekat kearah Sagara, tapi tangannya ditarik oleh asih. " Ayok, nak." Ajak Asih.
Sagara menatapnya dengan sayu, wajah babak belur dengan tak berdaya itu membuat Alma tidak tega. Namun tangannya tetap ditarik oleh ibunya.
...Bersambung 🙏...
...Hai semuanya 👋...
...lama banget aku gak buka apk ini dan sekarang aku memutuskan untuk melanjutkan cerita ini:v ...
...maaf jika ceritanya agak diluar pemikiran dan tidak nyambung 🙏 ...
...Karena aku masih lagi belajar🙏...
...tolong bantu ya semuanya, jangan lupa like jempolnya dan tinggalkan jejak ☺️...
__ADS_1