
...° Mr. Antagonist °...
" Lyora."
Tubuhnya terasa mengapung tanpa adanya gravitasi bumi. Sekitaran yang gelap dan dia tidak merasakan apapun. Bahkan detak jantungnya tidak terdengar olehnya, dia seolah mati.
" Lyora Fatmawati. Keberuntungan yang bagus, tetapi kamu tidak bersyukur kepada-Nya."
Siapa itu?
Kenapa ada orang yang mengetahui namanya?
" Aku yang membawamu."
Apakah dia akan kembali?
Bagaimana dengan Sagara?
" Niatmu bagus dan baik. Tapi harus kamu ketahui didunia ini ataupun diduniamu semua ada sebab akibatnya. Aku tidak melarang mu untuk melakukan apapun yang kamu mau, yang perlu kamu ingat adalah ada bayaran setiap apa yang kamu minta." Alma mencerna apa yang dikatakan oleh sosok itu.
" Aku yang menciptakan dunia ini."
" Salahku memang, karena menarikmu kesini hingga membuat dunia ini kacau. Semua ini menjadi diluar kendaliku, dan kamu harus siap menanggung segalanya."
Alma mengangguk paham. " Aku mengerti."
" Hanya itu yang ku sampaikan. Ingat, jangan terlalu cepat menyimpulkan. Aku tahu kamu bukanlah tipe orang yang bertindak gegabah, dan jangan terlalu dalam dengan perasaanmu."
" Setiap pertemuan selalu ada perpisahan. Aku hanya ingin kau tahu itu. "
" Satu hal lagi, semakin kamu mencari tahu. Semakin banyak rahasia yang harus kamu pecahkan."
Alma meraup oksigen dengan kasar. Matanya terbuka lebar dengan nafas memburu, matanya berkeliaran melirik sekitarnya.
" Aku bermimpi?"
Alma bergumam kecil. Tangannya mengusap keringat didahinya, pikirannya menolak pernyataan yang baru keluar dari mulutnya sendiri. Dia mendengar dengan jelas apa yang sosok misterius itu katakan.
Satu yang pasti.
Sosok itu adalah penulisnya.
Alma bangkit dan membuka laci satu per satu mencari sebuah buku yang menjadi temannya selama tinggal di dunia ini. Buku itu lah yang menjadi tempatnya berkeluh kesah selama ini. Dan rahasia miliknya terdapat didala buku itu.
Tangan Alma meraih buku berwarna abu itu dan membuka mencari lahan kosong untuk dia isi. Mendudukkan tubuhnya dan mulai fokus menuliskan huruf abjad di buku tersebut menjadi sebuah kalimat.
Dia harus menyusun rencana untuk apa yang akan dia lakukan besok malam juga untuk kedepannya. Menyiapkan resiko paling terburuk yang akan terjadi.
Ceklek
Alma seketika menutup buku tersebut dan langsung memasukkannya kedalam laci. Memutar tubuhnya untuk melihat siapa yang masuk.
" Apa yang disembunyikan?" Sagara berjalan kearahnya dengan aura yang memesona. Ada yang lain dengannya. Pria itu menggunakan baju formal, dan itu menambah kadar ketampanannya.
" Bukan apa apa."
Alma mengerjap pelan. Pria itu berjalan kearah lemari dan mulai melepaskan bajunya dimulai dari membuka kancing kemejanya.
" Lo kerja?"
Alma bertanya yang diangguki oleh pemuda itu.
" Sejak kapan?" Alma melamun.
Seharusnya dalam novel Sagara belum bekerja. Dia akan bekerja setelah akhir semester berakhir, sedangkan ini masih ditengah semester.
" Kenapa? Meski belum cukup umur, perusahaan sudah bisa kukendalikan asal kamu tahu."
Alma gelalapan. " Bukan gitu. M- maksud gue..." Sagara kini berbalik menatapnya menunggu perkataan Alma selanjutnya.
" Ya gak papa. Kerja aja, gue mau mandi." Ujar Alma langsung melarikan diri kekamar mandi. Padahal dia sudah mandi tadi, Alma hanya beralasan saja agar dapat mengelak dari pertanyaan pria itu.
...***...
" Oh ya, untuk acara besok malam aku mengundang kenalanku." Alma membuka bicara saat makan malam berjalan.
Sagara mengangguk paham, dirinya masih sibuk makan terlebih dahulu. Sebab dirinya sangat kelaparan, setumpuk dokumen baru saja dia kerjakan menguras otak hingga membuat dia merasa lapar.
Alma tidak jadi memberi tahunya lagi. Biarlah pria itu tahu dengan sendirinya besok.
Yang ia maksud adalah Harley dan Hazel. Gadis manis itu memintanya untuk diajak, terpaksa dia mengiyakannya. Awalnya gadis itu yang mengajaknya untuk merayakan malam pergantian tahun, namun Alma menolak karena dia bilang akan ada acara. Akhirnya gadis itu merengek meminta ikut.
Tiba tiba Alma teringat sesuatu.
" Sagara." Panggilnya.
__ADS_1
Sagara berdehem pelan, " gue mau tanya soal Daisy, dia baik baik aja kan?" Tanyanya.
Tangan Sagara terhenti diudara. Diam sejenak mengalihkan matanya menuju Alma yang juga menatapnya. Dia menaruh kembali sendoknya dan mengambil minum menegaknya hingga habis.
" Kenapa? Setahu gue, Lo gak sedekat itu sama dia."
Alma menelan ludahnya kasar. Beberapa hari ini Sagara mulai lembut kepadanya, tetapi sekarang saat dia menyinggung soal Daisy Sagara nampak dingin kembali.
Apa pria itu masih mencintai gadis itu?
Hatinya terasa sesak secara tiba tiba.
Alma menggeleng kecil, " Kita emang gak sedekat itu. Gue cuma nanya doang, dan soal taruhan itu. Gak bener kan?"
Netra coklat itu menatapnya tajam. " Berhenti bahas soal itu lagi." Ucap Sagara datar.
Setelah itu, pemuda itu meninggalkan ruang makan. Bahkan makanan yang ada di piringnya tidak habis. Biasanya pria itu selalu menghabiskan makanannya.
Alma meredupkan matanya sambil tersenyum sendu.
" Sampai kapan?"
...***...
Malam yang dinanti semua orang kini telah tiba. Malam dimana tahun akan berganti, menyambut tahun yang baru dan berharap hari hari baik datang.
Alma menyiapkan minuman beserta makanan ringan bersama Jesslyn dan Cessie. Ketiga gadis itu memisahkan diri dari para pria yang memanggang. Berlatarkan taman aula yang ada di bangunan apertement, mereka semua mengadakan acara barbeque ajang malam tahun baru.
Awalnya Alma ini merayakan itu di rooftop bersama penghuni apartemen yang lainnya. Namun usulan itu ditolak mentah mentah oleh Samuel dan Sagara tidak berniat membantunya sama sekali
" Gue bener bener gak nyangka Jeano seperhatian itu." Curhat Jesslyn. Alma tertawa mendengarnya, dia tidak menyangka Jesslyn si penggemar Renjana bisa move on dan beralih pada temannya Sagara.
" Ciee yang udah punya gebetan." Goda Alma. Jesslyn cemberut mendengar, bibirnya menggerutu tidak suka.
" Cessie kapan nyusul?" Canda Alma. Cessie yang hanya mendengarkan sambil sibuk menata piring hanya tersenyum.
" Gue udah tunangan." Jawabnya membuat kedua gadis itu memekik tidak percaya.
" What?! Lo bener cess? Yaampun Lo ini diam diam menghanyutkan ya." Ujar Jesslyn heboh.
" Siapa namanya?" Alma kepo. Cessie hanya tersenyum tipis.
"Kalian bakal tahu nanti."
Jesslyn menggeplak bahu gadis itu dan merangkulnya.
" Pantangan Lo bukan lagi soal perasaan. Tapi tuhan Jess." Alma mengingatkan. " Gue tahu." Lesu Jesslyn.
Melihat suasana melow membuat Cessie tidak nyaman. " Udah. Mending kita minum." Sarannya.
Mereka bertiga bercanda tawa layaknya remaja seperti biasa. Itu yang Sagara lihat sedari tadi, Haikal berdecak melihatnya.
" Bantuin dong bos. Dia gak bakal hilang kemana mana."
Haikal menggerutu kecil sambil membalikkan daging tersebut agar cepat matang. Dia kesal karena Sagara hanya diam sedari tadi tanpa melakukan apapun.
Sagara menatapnya datar, Jeano dan Revano hanya menggeleng dan saling bertatapan, tidak ingin membuat singa marah.
" Bacot."
Haikal mengusap dadanya sabar. Tatapan Sagara kembali menatap para gadis, hingga tertuju pada Alma yang bangkit dari duduknya.
Sagara bangkit dan berjalan mendekat kearah sana meninggalkan ketiga pemuda yang ingin mengumpatinya.
" Dia ke mana?" Tanya Sagara.
Jesslyn menoleh, " Oh, Alma pamit kekamar kecil."
Sagara mengangguk.
Tak lama tiga pemuda itu datang membawakan hasil panggangannya.
" Wah! Gue mau!!" Pekik Jesslyn. Mereka berkumpul bersiap untuk makan. Sagara melirik ke dalam, dia mengerutkan dahinya. Kemudian pandangannya beralih pada jam tangan.
Sepuluh menit kemudian gadis itu datang dengan seorang bocah digendongannya beserta sosok pria dibelakangnya.
Jesslyn yang pertama kali sadar. " Alma sama siapa itu?"
Sagara mengalihkan pandangannya dan bertatap mata dengan Alma. Sontak Alma membuang muka, dia mengajak Hazel berbincang bincang.
" Wah, bawa simpenan. Hebat banget Alma dapet yang bening bening." Celetuk Jeano. Jesslyn mengangguk membenarkan.
" Hot banget gila! Cocok banget tadi sugar Daddy." Jeano repleks menatapnya dengan tatapan tidak percaya.
" Curiga bakal ada perang dunia ketiga." Timpal Haikal mengunyah jagung hasil panggangannya. Revano hanya diam menatap Sagara lewat ujung matanya.
__ADS_1
" Dia siapa Al?" Tanya Cessie mewakili semua orang yang ada disana. Alma tersenyum canggung.
" Hallo kakak kakak yang cantik dan ganteng. Perkenalkan nama aku Hazel, anak bunda yang paling imut sedunia."
Hazel memperkenalkan dirinya sendiri. Namun perkenalannya mematik pekikan syok dari Jesslyn dan Cessie.
" Anak?!"
Haikal dan jeanopun sama terkejutnya, bahkan Haikal sampai tersedak jagung.
" Uhuk! Anj**g gue keselek! Ehek, ehek,"
" Eh, g- gue bakal jelasin." Alma panik sendiri. Dia menatap Sagara yang menatapnya seolah siap menerkamnya saat itu juga.
Harley maju selangkah kedepan, " Kalian jangan salah paham. Anak saya menganggap Alma mirip dengan Bundanya, karena itu ia memanggilnys dengan sebutan bunda. Tolong dimaklumi, dia hanya anak kecil." Jelas Harley dengan sopan.
" Woah, omnya sangat sopan dan good attitude ya bund. Cocok dijadikan pasangan hidup," bisik Jesslyn pada Cessie. Sedangkan Cessie, dia hanya terkekeh kecil saja.
Sagara mendekat kearahnya dan langsung menariknya pergi dari sana.
" Eh, eh, ka- kalian duluan saja." Ucap Alma pada mereka.
" Ck ck ck. Bakalan ada drama rumah tangga dulu pasti,"
" Ya wajar lah. Gue juga bakalan cemburu kalau cewek gue sendiri bawa cowok lain dihadapan gue."
" Emang Lo punya cewek?"
" Kagak."
" Kasian. Mana masih muda."
Jeano menggeram kecil. Tangannya melempar botol cola kearah Haikal yang untungnya tertangkap dengan baik.
" Lo juga sama gobl**." Haikal menjulurkan lidahnya mengejek Jeano.
" Eh, kakak silahkan duduk." Ujar Jesslyn. Hazel merengek ingin menemui Alma, Cessie yang kasihan berinisiatif memberikan camilan pada Hazel.
" Hei, adek manis. Mau ini gak? Enak loh."
" Mau kak." Hazel memekik senang. Harley pun ikut duduk bersama mereka yang bercanda tawa sesekali bertengkar adu mulut. Namun matanya sesekali mengintai kearah dimana Alma dibawa pergi.
...***...
" Apa sih Sag? Lepasin!" Alma menyentak tangan Sagara dengan kuat. Dia berhenti membuat Sagara berbalik menatapnya.
" Apa?!" Sewot Alma kesal lantaran tiba tiba diseret.
" Bagus! Lo berani ngelawan suami Lo sendiri? Ini gara gara selingkuhan Lo itu kan?" Sagara berdecih menatap Alma tajam.
Mata Alma membulat. " Selingkuh!? Atas dasar apa Lo bilang gue selingkuh?" Tanya Alma setengah memekik.
Dia tidak terima dibilang selingkuh.
" Terus siapa? Lo bahkan gak izin dulu sama gue. Lo pikir harga diri gue semurah itu Lo injek?!" Alma menatapnya tidak percaya.
Pria itu ternyata memikirkan harga dirinya.
kenapa dia bisa berfikir Sagara cemburu terhadapnya?
" berhenti berharap Al!"
" Gue udah bilang tadi sama Lo." Ucapnya pelan. Sagara mengangguk namun wajahnya nampak sekali ketidakpercayaan nya.
" Oke terserah. Mau Lo anggap dia selingkuhan gue atau apa kek gue gak peduli." Ucap Alma berbalik pergi. Namun Sagara menahannya.
" Apa sih?! Bisa lepas gak?!" Alma mencoba memberontak namun Sagara menahannya tangannya dengan kuat. Matanya menatap Alma dengan tajam dengan tangannya mencengkram dagu Sagara.
" Dengar Lyora. Gue gak suka berbagi apapun yang gue miliki. Lo cuma milik gue, semua yang menghalagi atau menggangunya bakal hancur ditangan gue."
Deg
Mata Alma terpaku dengan manik Sagara yang tidak tahu sejak kapan berubah menjadi merah semerah darah. Jantungnya berpacu cepat merasakan ketakutan yang luar biasa akibat aura menekan dari Sagara.
" Bahkan pria tadi, bukan apa apa bagi gue." Lanjut Sagara dengan seringai diwajahnya.
...Bersambung 🙏...
...Edisi malam tahun baru nih☺️...
...seharusnya pas malam tahun baru aku pub cuma ada sedikit bagian yang harus direvisi dan aku nggak sempet mangkanya baru up sekarang🤣...
...mau double up gak nih? ...
...coba koment yang banyak👇 ...
__ADS_1
...nanti aku pertimbangkan☺️...