
...° Mr. Antagonist °...
" Ra! Bangun."
Sagara menghela nafas pendek. Pria yang memiliki tinggi 178 cm itu berjalan menuju jendela dan membuka gorden hingga sinar matahari merambat masuk.
Alma melenguh pelan, terusik karena cahaya yang silau. Berbalik memunggungi cahaya dan kembali tertidur dengan pulas.
Sagara menggeleng heran. Istrinya ini bertingkah lain sejak semalam. Susah sekali untuk dibangunkan, padahal biasanya dia yang lebih dulu bangun dibanding dirinya.
Namun, setelah semalam mabuk dan bertingkah aneh sepanjang lorong apertement kemudian melakukan hal hal yang diluar nalar - berjalan dengan jongkok, mengajak dinding bicara, dan lebih parahnya masuk ke kulkas karena kepanasan- dan mengoceh tidak jelas dan mengumpatinya terang terang.
Padahal ini sudah hampir siang dan mereka sudah berencana untuk mengunjungi kediaman Smith karena Nenek yang memintanya. Namun Alma masih menyelami mimpinya dengan nyenyak.
" Sudahlah, biarkan saja. Aku akan menghubungi nenek untuk datang terlambat."
Sagara berjalan menuju dapur untuk membuat kopi, menunggu Alma bangun dengan menonton televisi sambil menikmati kopi sepertinya lebih baik.
...***...
Dalam sebuah ruangan, terdapat dua orang yang tengah berbincang. Salah satunya tengah duduk dikursi dengan angkuh dan menatap lurus pria didepannya.
" Perhatikan wajah yang ada didalam foto ini baik baik. Kedepannya kamu di tugaskan untuk mengawasinya dan melaporkan apa yang dia lakukan." Ucapnya. Pria didepannya memerhatikan foto yang berisikan seorang gadis dengan pakaian pelayan tersenyum.
" Dia siapa?"
" Dia salah satu pelayan di mansionnya yang merangkap jadi seorang nyonya. Licik sekali, dia menggoda tuan muda mereka untuk menjadi nyonya kecil di kediaman itu." Geramnya.
" Hanya seorang pelayan apakah harus di awasi? Bukankah sebaiknya kita singkirkan saja?" Pria itu bertanya pada tuannya.
Sang tuan hanya tersenyum menyeringai.
" Tepat sekali! Tetapi sebelum itu, kita harus mengetahui apakah dia lawan yang mudah disingkirkan atau tidak. Paham?" Pria itu mengangguk paham.
" Hm, pergilah. Lakukan tugasmu,"
__ADS_1
" Baik, Mister." Selepas kepergian bawahannya, sang tuan menyandarkan tubuhnya dikursi kebesarannya. Memutar kursi hingga menghadap langsung dengan kaca yang menampilkan seluruh kota dari atas sana.
" Sudah 15 tahun berlalu sejak kepergian mu, haruskah aku membalaskan semuanya kepada mereka?"
...***...
Akhirnya yang ditunggu pun membuka matanya. Alma menguap pelan sambil berjalan menuju kamar mandi. Badannya terasa lengket dan pegal seolah habis melakukan olahraga.
" Gue habis ngapain nih? Sakit banget!" Keluhnya.
Setelah melakukan ritual mandi yang memakan waktu setengah jam, ia memakai baju yang santai, keluar dari kamar mandi dan melanjutkannya dengan memakai skin care.
Hidup di dunia ini membuat dia harus memakai perawatan wajah. Semua orang disini rata rata berwajah mulus dan cantik, meskipun wajah Alma juga termasuk golongan cantik.
" Sudah bangun?"
Alma melirik Sagara yang berada dipintu lewat cermin. Dia tiba tiba teringat dengan perkataan cowok itu semalam. Mood Alma langsung turun mengingat itu, dia sungguh tidak terima dikatai selingkuh.
"Hmm," deheman kecil keluar dari mulutnya untuk menjawab pertanyaan Sagara. Pria itu menyandarkan tubuhnya memperhatikan Alma yang sibuk mengaplikasikan skincare ke wajahnya. Mendatarkan wajahnya, tanpa Alma tahu pria itu merasa kesal.
Alma berhenti, dia mengerutkan wajahnya mendengar nada suara yang marah bercampur kesal itu. Dia menolehkan wajahnya pada Sagara.
" Kenapa Lo harus marah?!"
Sagara membuang muka saat pertanyaan yang dilontarkannya. Pria itu berdiri dengan tegak tanpa ingin menatapnya.
" Sebaiknya Lo cepat selesaikan urusan Lo itu. Waktu sudah terbuang banyak gara gara Lo!"
Alma mendengus kasar begitu sosok Sagara hilang dari kamarnya. Dia menggerutu kesal sambil menyelesaikan acara skincare an nya itu.
" Memang gue udah ngebuang 5 jam gitu? Dasar pria bermulut jahat!" Gadis itu melirik jam yang menunjukkan pukul 12 siang kurang beberapa menit yang menggantung di dinding.
" Anj- jam 12!?"
Alma berdiri dengan panik, bahkan kakinya terbentur dengan meja rias. Dia berlari keluar kamar namun kembali lagi mengambil tas dan handphone.
__ADS_1
" Sagara!! Kenapa Lo gak bangunin gue sih?! Kita udah telat banget. Gimana dong!?"
Sagara meliriknya sekilas kemudian kembali menonton televisi yang menayangkan iklan.
" Gue udah bangunin Lo berkali kali. Lo nya aja yang kebo!" Ketus Sagara. Alma memelas mendengarnya, dia langsung duduk disamping Sagara.
" G- gue kan semalam habis mabuk, jadi kebablasan tadi." Ungkap Alma beralasan. Kini tatapan Sagara tertuju padanya.
" Siapa yang nyuruh lo mabuk?"
Alma tertunduk takut melihat tatapan tajam yang diarahkan oleh Sagara kepadanya. " Y- ya daripada harus godain orang 'kan mangkanya gue minum."
Sagara tiba tiba mendekat kearahnya kemudian mengangkat lagunya hingga tatapannya terangkat. Mata alamat terpaku dengan netra hitam itu, jantungnya berdebar dengan kencang.
" Lo bisa godain gue." Ucap Sagara pelan. Alma berkedip kaget dia sampai cegukan karenanya.
" O- o ya gak mau! Malu lah dilihatin orang," Seru Alma mendorong pria itu agar menjauh. Dia sedikit menggeser dirinya untuk tidak terlalu dekat dengan Sagara.
Sagara terkekeh geli, " kenapa mesti malu? kita 'kan pasangan suami istri." Ujarnya heran.
Alma menunduk pelan merasakan panas diarea wajahnya. Kata suami istri dari mulut Sagara membuat dia malu setengah mati. Dia masih belum terbiasa.
" Apasih anjir, bikin orang malu aja." Hatinya menggerutu.
" Kita ke rumah nenek nanti sore, gue udah bilang tadi." Ucap Sagara memberi tahu, alma mangut mangut.
Kruyukk
Suara mengemuruh berasal dari perut Alma membuat Sagara menatapnya geli. " Diatas meja makan ada makanan, tadi gue pesen online." Ucapnya sambil terkekeh.
" O- oke." Alma segera beranjak dari sana dengan wajah mencoba tetap tenang dan cool. Saat sudah di dapur dia rasanya ingin menangis sekeras mungkin.
" Malu banget astaghfirullah!!"
...Bersambung 🙏...
__ADS_1