
...° HAPPY ENDING °...
Siapa aku?
Dimana aku?
Bisakah Alma bicara seperti itu?
Lupakan. Yang harus ia tanyakan sekarang adalah kenapa dia terjebak dalam situasi ini?
Menghela nafas berat, itulah yang bisa ia lakukan sekarang. Kepalanya terasa pusing jika terus dipaksa berfikir.
" Kenapa?" Alma menoleh dengan senyum paksa. Dia menatap sagara yang memakai kemeja. Kini semuanya berubah total.
Maksudnya statusnya. kini Alma bukanlah pembantunya lagi, tetapi berubah menjadi seorang istri.
Catat ini. Dia sudah menjadi ISTRI Sagara sekarang.
Alma memijat kepalanya pusing, bersandar pada sofa set yang tersedia di kamar Sagara. Dua jam lalu akad pernikahan kilatnya diadakan.
Kemarin setelah diinterogasi oleh Samuel, Alma harus menjadi istri Sagara. Maksudnya, begini.
Samuel mendengar perkataan Sagara waktu didepan kamar Alma. Dia berfikir yang tidak tidak mengenai pembahasan itu. Dia berfikir hubungannya dengan Sagara sudah sejauh ini. Dan asih, dia juga berfikir seperti itu. Ibunya, sampai menangis sambil memeluknya erat.
Frustasi.
Stress.
Syok.
Itulah yang Alma rasakan. Banyak sekali pertanyaan yang muncul di pikirannya. Dan yang paling dia inginkan sebuah jawaban adalah kenapa Sagara melakukan hal ini? Apa motif dibalik semuanya?
Alma langsung membuka mata dan duduk dengan tegap. Dia berbalik pada Sagara yang tiduran dikasur sambil memainkan ponselnya.
" Gue mau nanya." Sagara berdehem tanpa menoleh.
" Lo ga gila kan?" Tanya Alma to the point. Sagara meliriknya sebentar lalu kembali menatap ponsel.
__ADS_1
" Mungkin." Jawabnya asal.
" Sagara! Plis serius, Lo kenapa sih?" Alma berdiri menatap Sagara lelah. Mendengar nada frustasi itu membuat Sagara kasihan. Dia duduk menatap Alma yang terlihat kacau, baju kebaya putih itu sudah tidak karuan.
" Lo ini aneh tau gak?! Tiba tiba ngomong kayak kemarin terus diem aja pas ngejelasin semuanya sama paman. Mau Lo itu apa?" Tanya alma sedikit emosi. Sagara hanya diam menatap Alma tanpa ekspresi.
" Gue mau Lo." Alma menghela nafas panjang. " Tolong serius, sagara." Lesu Alma.
Sagara berdehem kemudian menunduk sebentar sampai dia menatap mata Alma dengan teduh. " Udah gue bilang. Gue cuma mau Lo, dan sekarang Lo jadi istri gue." Ungkapnya.
Kini giliran Alma yang terdiam.
" Bukan gue yang mainin Lo. Tapi gue yang jadi mainan Lo." Gumam Alma.
...***...
Pagi hari ini berbeda dari biasanya. Kini dia menjadi seorang istri dari Sagara. Acara pernikahannya sangat tertutup, walau pernikahannya sah di mata negara dan agama. Karena hal itu lah membuat para pekerja lainnya memperlakukannya lain.
Semalam dia tertidur begitu saja disofa karena lelah, namun waktu bangun dia sudah berada di kasur. Untung bajunya masih utuh, jika tidak dia akan benar benar marah pada Sagara.
Mengingat kembali alur novel yang berantakan membuat Alma pusing. Karena itu dia memilih diam terlebih dahulu membiarkan semuanya berjalan sesuai berjalannya waktu.
Awalnya dia disuruh menempati semua rumah besar atau sebuah mansion, namun Alma menolak keras. Akhirnya, dengan keputusan bersama mereka tinggal di sebuah apertement milik Samuel. Tempatnya berdekatan dengan sekolah, dari mansion pun tidak terlalu jauh. Karena itu lah dia setuju.
Alma termenung menatap barang barang miliknya yang belum di rapi kan. Pikirannya masih berkelana ke sana kemari. Dia menatap sagara yang sibuk menata barang dengan beberapa pelayan yang sengaja datang untuk membantunya.
" Nak?"
Alma menoleh, Asih menepuk bahu nya dan mengusap punggung miliknya. " Mulai sekarang, kamu bukan lagi tanggung jawab ibu. Kamu sudah sepenuhnya menjadi tanggungan dia, kelak kamu harus menuruti perkataannya."
Mata Alma terasa perih mendengar perkataan Asih. Dia mengangkat kepalanya agar air matanya tidak jatuh, dia memeluk asih dari samping dan menyandarkan kepalanya pada asih. Meskipun dirinya hanyalah jiwa asing yang numpang ditubuh ini, namun rasa sayangnya pada orang di sekitarnya itu asli miliknya. Sekeras apapun pikirannya menolak, namun hati tidak bisa berbohong.
Dia menyayanginya.
" Meski begitu, ibu sayang kamu terlepas dari semuanya. Ibu harap, suatu saat nanti kamu tidak akan membenci ibu mau sepahit apapun kenyataan yang kamu terima." Alma memejamkan matanya merasakan elusan dari Asih. Wanita itu, sangat menyayangi dirinya. Itu yang Alma ketahui.
" Ama sayang ibu."
__ADS_1
Sagara berdehem pelan membuat keduanya tersadar. Asih tersenyum sopan membuat Sagara tidak enak. Dulu wanita itu adalah pembantu dirumahnya, sekarang sudah menjadi ibu mertuanya.
" Tuan muda, bibi titip anak bibi. Tolong jaga dia, dan sayangi dia sebagaimana tuan menyayangi keluarga anda. Dia satu satunya keluarga yang bibi punya. Walau dia melakukan kesalahan, tolong jangan terlalu keras padanya. Tuntun dia, dan ajak dia. Dia akan menuruti apa yang tuan muda inginkan." Ujar Asih. Sagara mengangguk, " Aku akan menjaganya, Bu. Dia adalah tanggung jawab saya mulai sekarang. Aku berterima kasih pada bibi karena telah menjaganya selama ini. Kini giliran aku yang akan menjaganya, membuatnya bahagia dan hidup."
Alma menelan ludah kering, tiba tiba saja percakapan dua orang itu terlihat serius. Dan itu membuatnya berdebar. Apalagi perkataan Sagara yang sukses membuat dirinya merasa dijadikan sosok spesial oleh pria itu.
" Baguslah, kalau begitu bibi dan yang lainnya pamit kembali ke mansion. Kalau kalian butuh sesuatu lagi beritahu kami." Ucap Asih diangguki keduanya. Asih mengusap pucuk kepala Alma.
" Ibu, pulang ya."
Kini tinggallah mereka berdua. Alma menjilat bibirnya yang kering. Sedangkan Sagara membawa tas tas miliknya kekamar.
" Tu- tunggu!" Cegah Alma. Sagara menatapnya dengan bertanya tanya. Dia kembali menurunkan tasnya, dan menatap Alma yang menghadang jalannya.
" Ada apa?"
Sagara bertanya dengan mengerutkan dahinya, " kita harus bicara." Seru Alma.
...****...
" Pernikahan kontrak?"
Alma mengangguk yakin menyodorkan kertas yang berisikan perjanjian yang ia buat. Dia menatap sagara dengan senyum menghiasi wajahnya. Sagara mengerutkan dahinya, membaca point point yang tertulis.
" 6 bulan. Hanya enam bulan saja." Jelas Alma.
" Pihak pertama adalah Sagara Caesar Smith dan Pihak kedua adalah Lyora Alma. Point kesatu, pihak pertama maupun pihak kedua dilarang mempublikasikan hubungan pernikahannya. Jika dilanggar akan ada hukuman. Point kedua, dilarang ikut campur dengan urusannya masing masing. Point ketiga, tidak ada kontak fisik dan memiliki kamar masing masing. Hanya itu, simple bukan?" Sambung Alma tertawa kering. Tetapi tatapan tajam itu membuat senyumnya luntur.
" Lo pikir ini lelucon?" Tanya Sagara dengan aura tidak enak. Alma menunduk takut, dia menggeleng kecil menjawab pertanyaan pria itu.
Srekk
Alma mendongkak menatap kertasnya yang mulai dirobek hingga menjadi potongan kecil. Hatinya mencelos melihat itu, dalam hati dia mencoba bersabar untuk tidak mengumpat.
" Lo, ga suka jadi istri gue?"
Tubuh Alma langsung tegak karena pertanyaan yang tiba tiba itu. Dia mengerjap pelan, tatapan yang menyorot itu membuatnya gugup.
__ADS_1
" Bu-bukan gitu. G-gue pikir Lo lakuin semua ini agar bisa terlepas dari perjodohan, j-jadi kita sama sama terpaksa kan? Mangkanya gue buat surat itu..." Cicit Alma. Keberaniannya menciut merasakan aura suram dari Sagara, suasana mencekam dan terasa menyesakkan.
"Sangat menyebalkan!"