Mr. Antagonist

Mr. Antagonist
Dua puluh delapan ( dokumen? )


__ADS_3

...° Mr. Antagonist °...


Alma sampai didepan kantor perusahaan paman, begitu selesai membayar ongkos kepada taksi dia langsung masuk kedalam.


Orang orang yang melihatnya langsung menyapa dengan ramah dan menunduk sopan, Alma dibuat risih karena itu padahal tidak harus seperti itu juga.


Begitu naik ke lantai atas dimana hanya untuk ruangan yang di khususkan untuk para pengurus perusahaan, Alma disambut oleh seorang sekertaris.


" Selamat sore nona, ada yang bisa saya bantu?" Tanyanya ramah. Matanya menatap penampilan Alma yang terbilang seperti anak muda.


" Ah, aku ingin bertemu dengan tuan Samuel." Ucap alma. Sekertaris itu tersenyum sopan, " mohon maaf nona, beliau sedang mengadakan rapat dan tidak bisa di ganggu. Nona bisa datang lagi nanti, setelah mengatur jadwal." Ucapnya.


Alma membulatkan mulutnya dan mangut mangut. " Kalau begitu aku akan menunggunya di ruangannya." Putusnya.


" Eh, t- tapi nona-"


" Nona muda!" Beberapa pengawal datang kearahnya. Lalu ada Rendi -asisten pribadi samuel- berjalan tergesa kearah mereka.


" Oh hai om." Sapanya. Rendi mendekatinya, dia melirik sekertaris itu yang menunduk takut.


" Nona muda, sedang apa di sini?" Tanya nya. Mendengar itu, sang sekertaris ketakutan dia seperti telah membuat masalah.


"Aku ingin berbicara dengan paman, tetapi dia sedang rapat ya?"


Rendi mengangguk kecil, " sebentar lagi rapat selesai, nona bisa menunggunya di ruangan. Mari saya antar," Kata Rendi mengarahkan gadis itu menuju ruangan sang tuan.


Sebelum pergi, dia menoleh pada sekertaris yang baru dipekerjakannya. " Tolong di ingat itu. Dia adalah anak kesayangan tuan besar, jika kamu masih ingin bekerja disini jaga sikapmu." Peringat nya.


Sang sekertaris mengangguk takut, Rendi langsung menyusul sang nonanya itu.


Alma duduk di sofa yang tersedia disana. Matanya menyusuri seluruh ruangan luas itu. Semua perlengkapannya sangat lengkap, ruangannya sangat nyaman jika dipakai untuk bekerja.


" Tiba tiba jadi pengen kerja deh," gumamnya.


Alma membuka ponselnya melihat apakah ada yang mengiriminya pesan. Dan nama Sagaralah yang terus menerus mengirimkan pesan bahkan menelponnya berkali kali.


" Wah, dia bener bener gila. Sampe 36 panggilan? Berasa jadi anak perawan main malem malem terus diteror telpon sama bapaknya biar pulang." Alma cekikikan sendiri.


Sebuah panggilan masuk dari Sagara, repleks Alma langsung menekan tombol hijau.


" Anjir, kaget gue."


Alma mengelus dadanya pelan, mendekatkan ponsel ke telinganya.


" Ha-"


" Dimana?" Alma mencebikkan kala ucapannya dipotong.


" Lyora. Jawab!"


" Dikantor paman Samuel." Jawabnya malas.


" Ngapain? Kenapa gak bilang dulu pas mau pergi? Gue dari tadi nyariin Lo."


Alma berdecak kesal, " suka suka gue."


Tut


Dia memutuskan panggilannya, membantingkan ponsel itu sembarang sampai terdampar dilantai. Melihat itu dia langsung memungutnya dan mengusapnya pelan memastikan ponselnya tidak apa apa.


Rendi terkekeh melihat itu, dia seperti melihat adiknya yang sedang bertingkah. Entah apa pun yang dia lakukan selalu membuatnya tertawa.


" Loh? Om sejak kapan disana?" Alma menoleh pada Rendi. Yang ditatap menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal itu merasa canggung.


" Baru saja nona." Jawabnya.

__ADS_1


" Oh gitu, om bisa lanjutin kerjanya. Aku nunggu paman disini aja, gak papa kok."


" Apa tidak apa apa nona?" Tanya Rendi ragu.


" Iya, om. Um, tapi tolong sediain camilan saja ya om?" Alma tertawa renyah, dirinya benar benar tidak tahu malu. Namun tidak apa, dia sangat lapar kali ini.


" Baik Nona, saya siapkan camilannya." Rendi segera keluar.


" Eh, malah ngerepotin orang."


Tak lama Rendi datang dengan beberapa kresek ditangannya. Dia langsung menyerahkannya kepada alma yang disambut dengan baik.


" Makasih om. Tapi ini kebanyakan loh, ambil aja sebagian buat om." Ujar Alma.


" Tidak usah nona, itu untuk nona." Tolak Rendi dengan halus.


Alma memberinya satu kresek. " Kalo om gak mau, bisa kasih sama yang lainnya. Aku gak bakal bisa abisin soalnya, bisa gemuk nanti." Candanya.


Rendi tertawa kecil dia mengangguk dan mengusap kepalanya pelan.


" Yaudah makasih ya, nanti om bagiin sama yang lain." Alma tersenyum manis. " Siap om, om jangan sungkan ya sama aku. Biar aku juga nggak sungkan sama om, hehehe."


Keduanya tertawa, mungkin inilah sifat ramah Alma hingga membuat dia mudah akrab dengan orang lain.


" Sebentar lagi tuan sam selesai meeting, dia akan segera kesini. Nona tunggu saja sebentar ya? Om harus mengerjakan dulu pekerjaan yang tertunda." Rendi pamit undur diri. Alma mengangguk, dia langsung membuka kreseknya.


" Semangat om, cari cuan nya."


...***...


Alma hampir kebosanan, dia berjalan menuju kursi yang mungkin biasa digunakan oleh Samuel bekerja. Terbukti dengan menumpuknya dokumen dokumen disana, gadis itu mengelilingi tempat itu.


" Wah, dilihat dari sini orang orang pada kecil ya?" Gumamnya melihat jendela yang menampilkan keadaan di luar sana.


Alma berjalan kembali menuju sofa berniat rebahan, namun lengannya malah menyenggol beberapa dokumen hingga berjatuhan.


" Aduh!" Alma memegangi lengannya yang sedikit nyeri, dia langsung memunguti lembaran lembaran yang beterbangan.


Matanya tiba tiba terpaku pada salah satu dokumen yang berisikan tentang surat dari rumah sakit. Itu sebuah pernyataan DNA.


Alma membaca setiap kalimat yang tertulis disana. Dia tertegun dan syok begitu mendapatkan informasi yang begitu mengejutkan dari surat itu.


" I- ini??"


Ceklek


Alma langsung merapihkan dokumen tersebut seolah tidak terjadi apa apa. Dia melihat Sagara berjalan kearahnya, Alma menyimpan tumpukan dokumen yang terjatuh itu.


" Kenapa? Apa yang terjadi?" Tanya sagara.


" Oh ini, gue gak sengaja senggol jadi jatuh deh." Jawabnya. Alma segera menuju sofa dan mengambil tas miliknya. Tak lupa membersihkan bekas camilannya.


" Pulang yuk," ajaknya. Sagara yang baru tiba, menampilkan raut tidak terima.


" Pulang? Gue baru nyampe ke sini setelah nyari nyari Lo, dan Lo ngajak gue pulang!?" Sentak Sagara. Alma mengangguk acuh.


" Gue mau pulang, kalo Lo masih mau disini yaudah. Gue duluan, lagian gue juga gak nyuruh Lo nyari nyari gue tadi." Ujarnya singkat. Alma segera pergi dari sana meninggalkan Sagara yang menggeram kesal.


" Cewek ngeselin." Pria itu langsung menyusul Alma. Dia tidak ingin ditinggalkan, bisa saja Alma tidak pulang dan pergi ke tempat lain.


Selang beberapa lama, Samuel keluar dari ruang rapat. Dia buru buru ke ruangannya untuk bertemu dengan Alma. Tadi saat rapat dia mendapat kabar jika gadis itu mendatangi kantornya. Sayangnya dia tidak bisa menunda rapatnya ini, sehingga dia harus menyuruh Rendi agar gadis itu menunggunya.


Saat masuk dia tidak melihat siapa siapa. Samuel menyerngit heran, apa Alma sudah pulang?


Mungkin iya, mengingat dia harus menunggu dirinya terlalu lama. Helaan nafas panjang lolos dari mulutnya, pria berumur 42 tahun itu berjalan menuju mejanya dan duduk di kursinya.

__ADS_1


" Sayang sekali. Padahal saya ingin melihat wajah manisnya," gumamnya menatap lurus kedepan.


...****...


Alma menepuk punggung Sagara dua kali. Saat ini mereka berada diperjalanan pulang. Namun dia ingat persediaan camilannya sudah habis dirumah.


" Mampir dulu di indo Ap*il!" Ucapnya dengan keras.


" Apa?" Alma berdecak malas. Dia mengulangi perkataannya dengan sedikit keras. Setelah Sagara mengangguk dia kembali memundurkan sedikit agar membentuk jarak antara dirinya dan sagara.


Sebenarnya dia itu sedang kesal dengan pria itu, Sagara kembali bertingkah seperti biasanya. Kosa katanya pun berganti seperti dulu, padahal mengingat saat dirinya dikira mau bunuh diri Sagara begitu mengkhawatirkan dirinya.


Alma sekarang ingin menjaga jarak dari Sagara.


Pria itu memang menjanjikannya sebuah bukti.


Tetapi pengakuan juga dibutuhkan.


Setidaknya untuk memastikan bahwa pria itu memiliki perasaan yang sama dengannya.


Padahal Alma tahu Sagara itu peka, sayangnya terhalang dengan ego yang tinggi.


Karena itu lah dia ingin membangun benteng tinggi dengan Sagara.


Jika egois, dia juga bisa.


Begitu berhenti, Alma langsung turun membuka helm dan memberikannya kepada Sagara. Dia langsung masuk tanpa menunggu pria itu, sang empu hanya mampu menghela nafas mencoba sabar.


Sagara segera memarkirkan motornya dan masuk mencari isterinya. Dia mengambil troli belanjaan, dan mengikuti Alma dari belakang.


Alma berbalik menoleh kearahnya sebentar, kemudian kembali memilih apa yang dia butuhkan. Setelah itu dia memasukkannya ke dalam troli.


Kini mereka mendekat kearah dimana camilan berjajar rapih.


" Lo kan udah makan camilan banyak tadi." Tegur Sagara. Alma tidak menjawab, namun sibuk memilih.


" Yang ini enak nih." Alma memasukkannya kedalam troli lalu berlanjut melangkah lagi. Sagara mengambil makanan yang diambil Alma dan mengembalikannya ketempat semula.


" Gak sehat itu."


" Ih mau ini." Alma langsung mengambilnya dua dan menyimpannya ditroli tanpa melihat. Dia sibuk melihat makan ringan yang enak.


Sedangkan sagara mengembalikan kembali makanan itu ketempat semula. " Dibilang jangan jajan sembarangan." Gumamnya. Dia mengembalikannya.


Seorang pria berjalan sambil memandang Sagara aneh, yang di tatap pun merasa tidak nyaman.


" Lah si mas ini kenapa?" Sagara hanya mengangguk sopan, dia memegangi trolinya pelan karena maju hampir menabrak pria itu.


" Ini juga nih."


Alma berbalik menyimpannya di troli tetapi trolinya terlihat kosong. Alma menatap sagara yang tengah mengembalikan makanan yang dia pilih.


" Loh kok?"


" Eh sayang." Sagara menatap Alma yang tiba tiba menatapnya tajam, dia langsung mengalihkan pandangannya.


" Oh ini salah tempat." Ucapnya merapihkan kembali makanannya mencoba lari dari tatapan maut Alma.


Pria itu menggelengkan kepalanya, " dasar anak muda."


...Bersambung 🙏...


one more ya guys☺️


Jangan lupa like dan koment yaa 🙏☺️

__ADS_1


Suka deh kalau ada notif dari kalian:) makin semangat gitu😁


__ADS_2