Mr. Antagonist

Mr. Antagonist
Tiga belas ( mantan? )


__ADS_3

...° HAPPY ENDING °...


" Jan! Kamu ini kenapa sih?" Seorang gadis mengejar pemuda yang berjalan dengan cuek.


" Jana! Kamu kenapa terus diemin aku? Aku ada salah sama kamu? Aku minta maaf!" Daisy terus mengejar Renjana yang terlihat tidak ada keinginan untuk berhenti.


" Wah wah, lihat itu. Seperti biasa, Nona Louis mengejar si buruk rupa." Haikal berceletuk melihat drama yang setiap hari dia lihat. Jeano yang mendengarnya langsung memutar bola matanya malas.


" Kalo dia buruk rupa, artinya lo Upik Abu. Paham?!"


Mendengar itu, Haikal memegangi dadanya dramatis. " Jahat kamu, mas!" Jeano mengernyit jijik.


" Sagara udah dua hari gak masuk. Kalian tau dia ke mana?" Tanya Revano.


Jeano mengangkat bahu pertanda tidak tahu.


" Gue tahu!" Seru Haikal.


" Dia pasti lagi nyari pengganti Neneng Daisy. Di hotel bintang tujuh sambil nina ninu sama yang cantik." Kelakarnya.


Jeano maupun Revan saling melirik. Mereka berdua menggeleng maklum, Haikal memang sudah tidak dapat diselamatkan.


" Dih anjing. Pada gak percaya gitu. Lihat aja, tau tau dia udah punya isteri." Sombong Haikal.


" Bukan temen gue, Van." Jeano mengangkat kedua tangannya.


" Gue juga."


" Anak setan, Lo berdua."


...***...


"Bentar Jan. Aku mau ngomong dulu." Daisy menggapai tangan Renjana yang terus berjalan.


" Renjana." Renjana berhenti. Daisy berhenti tepat didepannya. Dia terlihat mengatur nafasnya sebentar.


" Tolong dengarkan aku bicara sebentar." Ucapnya memelas.


Renjana menatap jam yang melingkar dipergelangan tangannya. " Waktu gue gak banyak."


" Aku minta maaf."


Renjana terdiam, maniknya tertuju pada wajah yang menunduk itu.


" Maaf, kalau selama ini aku selalu ganggu kamu. Selalu bikin kamu risih dengan tingkah aku yang murahan."

__ADS_1


Daisy tersenyum kecut. Dia menelan ludahnya dengan susah, dia mendongkak menatap Renjana sambil tersenyum manis.


" Aku mau pamit sama kamu, aku bakal kangen sama kamu. Tolong jangan terlalu deket sama cewek lain ya? Soalnya aku cemburu. Hehe," Daisy memalingkan wajahnya saat air mata hendak mengalir.


" Maaf ganggu waktu berharga kamu. Kamu bisa lanjutin lagi." Usai berkata seperti itu Daisy berlari menuju mobil merah yang terparkir di parkiran khusus untuknya. Meninggalkan Renjana yang terdiam seribu bahasa tanpa bersuara.


" Lo selalu ngebuat gue gak bisa apa apa Daisy. Gue harus gimana?"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


" Apa?!"


Sagara tersedak mendengar pekikan Alma yang mengejutkannya. Pria itu langsung segera minum takut mati karena tersedak. Ditatapnya Alma yang berdiri dengan wajah syok nya. Gadis itu tadi izin menjawab telepon dari temannya, tapi kini sudah membuatnya terkejut.


" Yang bener Jess?!" Wajahnya memucat seolah mendapat kabar buruk.


" Gak mungkin." Gumam Alma.


" Kenapa?"


Alma hampir terjengkang karena kaget. Dia berbalik pada Sagara yang menatapnya tanda tanya.


" O- oh yaudah kalau gitu udah dulu ya. Bye."


Alma menyimpan ponselnya dan menatap Sagara sambil tersenyum.


" Kenapa?" Ulang Sagara.


" Bukan apa apa. Cuma gosip sekolah aja." Alma beralibi. Namun itu tidak sepenuhnya salah karena ini mengenai tokoh utamanya.


Sagara mengangguk, dia berjalan kearahnya dan duduk di sofa yang berada di sampingnya. Ngomong ngomong ini apertement sangatlah besar. Ada 1 kamar utama dengan 2 kamar tamu yang masing masing memiliki kamar mandinya. Ruang tengah yang berisikan sofa set dengan televisi besar, dapur besar sepaket dengan meja makan berisi 4 kursi dan satu ruang pribadi yang mungkin digunakan oleh Sagara.


Nuansa Eropa modern terlihat dimana mana. Alma jadi merasa kampungan sekali waktu pertama kali masuk. Wajar saja dulu dia tidak sekaya itu.


Ting tong


" Itu paman?" Tanya Alma berjalan menuju pintu. Saat membuka pintu, senyumnya turun melihat seseorang didepannya.


" Oh maygatt!! Apa nih?!" Pekikan seseorang membuat Alma mengalihkan pandangannya. Wajah Alma langsung kesal dan menutup pintu, sayang tindakannya dapat terbaca oleh pemuda itu. Kakinya sengaja menjulur menahan pintu agar tidak tertutup.


" Lo!" Alma jadi kesal sendiri.


" Kalian salah alamat!" Semburnya menendang tulang kering pria didepannya. Revano meringis memegangi kakinya yang sangat sakit.


" Kita gak salah kok. Lu kali yang salah." Haikal menyela.

__ADS_1


Alma memutar bola matanya malas sambil bersidekap dada.


" Lo tinggal bareng Sagara?"


Pertanyaan Jeano mampu membuat suasana hening. Entah Haikal maupun Revano menatap Alma yang kini mulai gugup.


" Iya, dia tinggal bareng gue." Suara datar menyeruak mengalihkan atensi mereka. Alma yang hendak berbalik tersentak kecil kala sebuah tangan menyelusup ke pinggangnya.


Alma mendongkak. Guna melihat wajah Sagara yang terlihat dingin seperti biasanya. Namun entah kenapa sesuatu terasa hangat menyelinap ke hatinya.


" Demi?! Kan kan gue bilang juga apa! Gue udah duga ini bakal terjadi." Seru Haikal heboh.


Revano menatap Sagara dengan intens, hal itu dapat dilihat dari sudut mata Alma. Tanpa sadar dia memeluk tubuh Sagara.


" Mereka temen kamu? Yaudah, ayok ajak masuk," ujar Alma.


" Gak nyangka gue, si Bos dah punya cewek. Udah gue duga sih dari awal juga. Tapi ngeliat langsung gue bener bener kaget setengah mati, Jen." Ujarnya duduk di sofa.


" Lo apa sih yang gak heboh?" Heran Jeano.


" Tidur, maybe." Timpal Revan.


Sagara ikut duduk namun Alma tidak.


" Kalian mau minum apa?" Tanya Alma. Sagara menatapnya dan menariknya agar duduk.


" Duduk. Kalau haus biarin bawa sendiri. Mereka punya tangan dan kaki sendiri," Ujar Sagara.


Haikal bertepuk tangan heboh, " Gila, si dingin udah mencair."


Jeano juga terlihat terkekeh, pria itu menatap Alma dari sudut matanya. Gadis itu menyadarinya, dia mengalihkan pandangannya.


" Udah, biar aku bawain. Kalian bicara aja." Alma berujar sambil tersenyum manis.


Namun itu hanya pura pura, setelah sampai dapur dia mengintip mereka mendengar mereka tertawa dan berbincang layaknya teman.


" Gila gila! Gue harus buat dia jauh jauh dari mereka. Pokoknya dia gak boleh deket deket sama mereka, apalagi sama Revano. Pokoknya gak boleh." Monolognya.


" Kenapa dengan gue?"


Alma memekik kaget. Dia berbalik menatap Revano yang menurutnya terlihat seperti malaikat maut. Dengan was was dia mundur perlahan.


" L- lo jauh jauh dari gue!" Usir Alma. Revano menyugarkan rambutnya kebelakang, wajahnya terlihat seperti para buaya yang menarik perhatian para wanita. Namun lain bagi Alma.


" Sejak kapan berubah?" Alma menaikkan alisnya tak mengerti arah pembicaraan. Revano malah terkekeh tidak jelas. Intinya itu menakutkan bagi Alma.

__ADS_1


" Oh, mungkin gue emang tidak tahu kalau mantan gue se menggemaskan ini."


__ADS_2