Mr. Antagonist

Mr. Antagonist
Dua puluh lima ( Jesslyn )


__ADS_3

...° Mr. Antagonist °...


Alma memindai apertementnya. Sekarang dia tengah bersiap membersihkan apertementnya secara keseluruhan. Ia juga berniat mendaur ulang tata letaknya, tahun baru suasana baru pikirnya begitu.


Beruntung Sagara izin untuk pergi, tidak tahu kemana yang pasti meninggalkan tempat ini.


Mulai dari memindahkan letak sofa set, awalnya dia kesusahan namun dengan seluruh tenaganya dia bisa memindahkannya. Lalu mengganti gorden dengan yang baru, karpet dan semua yang ada di apertement dibersihkan tanpa tertinggal. Bahkan kedua kamar tamu dia bersihkan.


Kini bagian menyapu dan mengepel, Alma sudah mencuci gorden tinggal di jemur saja. Ia terpikirkan sesuatu, melangkah ke kamar dan mengambil ponselnya.


" Kenapa gak kepikiran dari tadi ya?" Selorohnya.


Alma membuka aplikasi YouTube dan menghubungkannya dengan televisi. Dia mencari lagu kesukaannya, " gak mungkin, gak ada 'kan?" Gumamnya fokus mencari.


" Yess. Ketemu!"


Dia melompat kegirangan. Dia segera menyetelnya dan menaikan volume televisinya yang menampilkan kesukaannya, yaitu pria aktor Bollywood. Dia mulai menyapu sambil sesekali bergoyang.


Alma tersenyum kecil sambil bergoyang mengikuti irama. Sesekali tangannya ia angkat mengikuti gerakan yang ada di layar televisi.


Melompat kesana kesini sambil memegangi sapu, sambil tertawa bahagia. Sudah lama sekali dia tidak menikmati waktunya seperti ini. Biarkan Alma merasakannya lebih lama.


Lagu berganti membuat Alma menoleh. Dia menatap televisi dengan menunggu.


Matanya memekik kala tokoh favoritnya muncul. Alma menggigit jempolnya gemas dengan adegan yang mengharukan itu.


" Mas shakh ganteng banget astaga!!"


Alma meleyot melihat wajah tampan itu apalagi hidungnya yang mancung itu.


Usai itu Alma mengambil alat pel dan mulai bernyanyi layaknya sang idola.


Alma menepuk dadanya sambil dengan senyum manis mengikuti gerakan. Suaranya yang ngiringi video, meski tidak sebagus seperti yang ada di televisi.


Alma malah keseruan dengan lagunya itu. Berputar sana sini, melompat dan sesekali tertawa merasa puas.


Dirinya tidak tahu saja kelakuan konyolnya sedari tadi diperhatikan oleh Sagara yang baru saja masuk. Sagara menarik sudut bibirnya sambil bersandar melipat kedua tangannya. Tak menyangka akan istrinya yang memiliki tingkah random seperti ini.


Biasanya remaja masa kini akan menyukai para boyband dari negara gingseng. Tapi gadis didepannya berbeda, dia menyukai tarian yang seperti itu.


Jika dilihat lagi, Alma terlihat imut dan menggemaskan mengikuti gerakan dance aneh itu.


Alma melompat girang, ini adalah lagu yang paling ia sukai. Berlatarkan kapal yang berlayar, dengan gaya modern. Biasanya lagi bolywood selalu berkaitan dengan sari, tetapi ini sedikit lagi. Alma ikut dance didepan televisi mengikuti gerakannya.


Sagara sedikit tercengang melihat gerakannya yang sedikit erotis itu. Untungnya dia berada dibelakang jadi Alma tidak tahu dirinya sedang memperhatikannya.


Saat berbalik, mata Alma melotot melihat keberadaan orang lain selain dirinya di apertement. Badannya langsung kaku, dengan wajahnya yang tegang. Sagara ingin sekali tertawa melihatnya, dia berdehem menghilangkan rasa canggung.


" S-sejak kapan Lo disana?" Tanya Alma.


" Sejak tadi?" Sagara menjawab dengan ragu. Alma berbalik merapihkan bajunya dan mengambil alat pel.


Melihat Alma pergi membuat Sagara jadi terkekeh. " Cewek siapa sih? Lucu banget." Gemasnya.


...****...


Alma menyiapkan kue bolu buatannya untuk nenek. Setelah membereskan apertement, dia lanjut membuat kue bole untuk nenek sebagai buat tangan. Seingatnya nenek pernah bercerita dia menyukai kue kue, karena itu membuat berbagai macam kue.


" Siap!" Dia tersenyum puas akan hasil buatannya. Sekelibat kejadian tadi teringat membuat alma menggeleng.


" Udah, Alma! Kejadian yang memalukan tadi harus Lo lupain. Lagian dia juga gak bahas itu, mana dance gue bagus." Ujarnya optimis.


Drtt


Alma melihat ada panggilan masuk dari Jesslyn, sebelum mengangkat dia mencuci tangannya terlebih dahulu.


" Halo Jes, ada apa?"


" Al..."


Alma mendekatkan ponselnya lebih dekat dengan ponsel. Pasalnya dia mendengar suara serak Jesslyn dan terdengar bergetar seperti orang yang tengah menangis.


" Jess? Lo okey?"


" Hiks.. g- gue.."


Alma semakin khawatir mendengarnya.


" Hey, kenapa? Lo baik baik aja kan?"


" Lo dimana? Coba share lock, biar gue susul."


Alma dibuat panik mendengar tangisan Jesslyn yang tersedu sedu.

__ADS_1


" Jess! Lo denger gue kan!?"


" Jesslyn jangan bikin gue khawatir." Alma hampir berteriak memanggil temannya itu. Pasalnya gadis itu tidak meresponnya.


" K- kesini, Al..."


Tut


Alma lantas menyalakan ponselnya membuka aplikasi WhatsApp dan mencari kontak Jesslyn. Tiba tiba Jesslyn mengirimkannya sebuah lokasi.


Dia menyerngit kala sebuah hotel yang dikirimkan oleh Cessie. Hatinya langsung tidak enak dan menduga duga apa yang terjadi.


" Semalam kan mereka have fun, minum minum. Gak mungkin kah?" Alma menggeleng menghilang pikiran negatif yang ada di pikirannya.


Dia segera berbalik dan mengambil langkah dengan segera mencari sosok suaminya.


" Sagara!"


Melihat ruang tengah kosong, Alma bergegas masuk kekamar. Nampak lah Sagara yang tengah bersantai dikasur sambil memainkan ponselnya.


" Sagara, anterin gue ayok." Ucapnya dengan panik.


" Kemana? Tunggu, Lo ambil dulu nafas dalem dalem. Keluarin dengan perlahan, coba tenang dulu dan jelasin ada apa." Ujar Sagara. Alma mengikuti arahannya, dia menarik nafas dalam kemudian menghembuskannya perjalan.


Dirasa sudah tenang, Alma segera menceritakan semuanya kepada Sagara.


" Gue takut sesuatu yang buruk terjadi sama Jesslyn." Sagara menarik tangan Alma yang digigit, mungkin itu adalah kebiasaan buruk gadis tersebut.


" Udah Ra, tenang aja. Kita kesana sekarang!"


...****...


Sampai disalah satu hotel ternama keduanya bergegas masuk. Untungnya dia sudah bertanya kepada Jesslyn dimana letak kamarnya membuat mereka langsung naik tanpa bertanya ke resepsionis terlebih dahulu.


" 169 yang mana? Ini bukan. Ini..." Alma memeriksa satu persatu nomor yang tertera di setiap pintu kamar.


" Ra, disini!" Alma menoleh pada Sagara yang berada di ujung sana berlawanan dengan dirinya. Sontak dia berlari menuju ke arah sana, Sagara menekan tombol belnya.


Begitu terbuka, nampaklah Jesslyn yang berpenampilan kacau. Sagara sontak memalingkan wajahnya dan berbalik menghadap ke arah pintu yang lain.


" Eh?" Jesslyn nampak kaget, dia menutupi tubuhnya yang sedikit terekspos.


" Jess!" Melihat Alma, Jesslyn langsung menghamburkan pelukannya kepada gadis itu dan menangis.


Jesslyn benar benar kacau, mata Alma berair memikirkan itu. Dia memeluk erat menguatkan gadis itu.


Sagara sendiri diam diluar memberikan luang agar gadis itu bisa lebih bebas. Dia yakin keberadaan dirinya hanya akan membuat suasana yang canggung.


" Gue takut banget Al. Hik gue gak inget apa apa! P- pas bangun semuanya udah kayak gini. Hik g- gue sendirian disini, g-ue takut. Apalagi saat semua tubuh gue rasanya hancur... Gue-" Alma menutup mulut Jesslyn tidak membiarkan gadis itu membuka suara lagi.


" Udah Jess! Jangan diceritain kalo Lo gak sanggup, sekarang Lo yang tenang dulu." Alma tersenyum sendu. Dia mengusap kepala gadis itu dengan lembut.


" Gue yakin Lo pasti bisa."


Selepas menenangkan Jesslyn hingga tertidur, Alma mengambil air minum. Pikirannya berfikir tentang siapa orang yang paling berpotensi melakukan hal tersebut kepada Jesslyn.


" Jeano? Dia kan keliatan suka sama Jesslyn. Tapi setahu gue, dia gak minum semalam, karena dia itu islam. Atau mungkin Haikal? Bisa jadi pria itu, tapi gimana bisa coba?" Alma menghela nafas berat. Pikirannya berspekulasi banyak tentang itu.


" Yang paling gue curigai cuma satu, si Revano. Dia ikut minum, tingkahnya cuma suka diam diam namun sekalinya bertingkah bikin orang tercengang. Sekalipun sedikit kemungkinannya, gue hanya bisa jadiin dia tersangka utamanya. Bagaimana pun tokoh Revano bukanlah tokoh sembarang."


...****...


Setelah berbicara dengan Sagara, akhirnya diputuskan bahwa Jesslyn tinggal bersama dengan mereka untuk beberapa hari kedepan. Untuk orang tuanya, Alma sendiri yang meminta izin kepada mereka secara langsung lewat telpon.


Begitu diberi izin, Alma langsung mengajak Jesslyn untuk ke apart. Gadis itu berubah menjadi pendiam, banyak melamun membuat Alma cemas. Dia mencoba menguatkan gadis itu, namun responnya hanyalah senyuman tipis yang tidak sampai mata.


Jesslyn tinggal dikamar tamu, gadis itu tidak protes malah berterimakasih.


" Jess, kalo ada apa apa panggil aku ya?"


Jesslyn hanya mengangguk, dia menatap Alma yang tersenyum kepadanya.


" Makasih, gue masuk dulu ya?"


" Iya, jangan terlalu dipikiran ya. Semuanya bakal baik baik aja, kamu pasti bisa ngehadapinnya. Satu lagi, tolong jangan berpikiran pendek ya?" Ujar Alma menatap gadis itu dengan teduh.


Jesslyn terdiam.


Sejurus kemudian dia mengangguk dan masuk kekamar meninggalkan Alma yang terdiam ditempat sambil menghembuskan nafas panjang.


Alma tersentak begitu sebuah lengan merangkul bahunya. Dia menoleh mendapati Sagara yang memeluknya dari samping.


" Udah, jangan terlalu khawatir." Alma menghela nafas lagi, dia benar benar merasa cemas dan takut secara berlebihan. Bahkan, tadi sebelum Jesslyn masuk dia sudah mengambil benda benda yang menurutnya tajam.

__ADS_1


Bukannya apa, dia takut Jesslyn tidak terima dan menyakiti dirinya sendiri.


Jujur,


Dia takut kehilangan gadis itu.


Mau secerewet ataupun semenyebalkan apapun.


Dia sangat menyayangi gadis itu.


Jangan sampai terjadi sesuatua yang buruk terjadi padanya.


Mungkin dia rela jika harus mati demi menyelamatkan gadis itu.


Alma tidak melawan begitu tangan Sagara menyandarkan kepalanya pada dada pria itu.


" Gue tahu Lo sesayang itu sama dia, tapi Lo jangan berlebihan gini. Gak baik buat kesehatan Lo," Ucap Sagara mengelus pelan kepalanya.


Tenggorokannya terasa tercekat, air matanya tiba tiba terjatuh tanpa diminta. Tubuh Alma bergetar menahan tangis.


" G- gue takut kai. Gimana kalo dia sampe nyakitin dirinya sendiri? L- Lo liat keadaannya kan pas tadi? G- gue hancur banget liat itu. Gue gak bisa bayangin apa yang terjadi sama dia tadi malam. Gue-"


" Sttt udah!" Sagara menepuk kepala gadis itu. Alma langsung memeluk erat Sagara dan menyembunyikan wajahnya ditubuh pemuda tersebut. Mengeluarkan tangisnya yang sedari tadi ia tahan.


" Ngeliat orang aja Lo udah nangis, Ra. Gimana kalo ngalaminnya sendiri?" Batin Sagara bertanya-tanya.


...***...


" Gar! Pakabar bro? Dah lama Lo gak gabung nongkrong." Ujar salah satu dari mereka yang lagi lagi Sagara abaikan. Pria itu berjalan masuk kedalam dengan wajah dingin dan auranya yang dominan.


" Dimana anak inti?" Tanyanya.


" Jean sama Revan ada didalem, ga tau kalo Haikal. Gue gak liat dari tadi."


Kakinya berjalan masuk kedalam ruangan dimana hanya bisa di akses oleh orang orang tertentu saja. Sagara menatap dua orang tersebut.


" Kalian! Apa yang terjadi sama Jesslyn semalam!?" Tanyanya.


Jeano dan Revano yang tengah berbincang santai menoleh pada Sagara yang datang tiba tiba bertanya sarkas.


" Kenapa emang?" Tanya Jeano. Sagara langsung duduk dikursi single.


" Jawab aja, gak usah banyak bacot." Mendengar nada tidak ramah dari sang ketua membuat Jeano berkedip sabar.


" Dia semalem mabuk, dan dianter pulang sama Jeano."


Penjelasan Revano membuat pria itu menoleh sepenuhnya pada Jeano yang gugup karena ditatap begitu tajam.


" Apa Lo pastiin dengan baik dia masuk kerumah nya?" Tanya Sagara. Jeano yang ditanya mengusap tenguknya bingung.


" Ya enggak si! Semalem pas mau gue anter tuh cewek naik taxi, dia bilang sama gue untuk gak bawa dia pulang. Takut dimarahin bokapnya, terus pas gue tanya harus gimana dia bilang pesenin hotel aja katanya. Ya gue turutin aja, gue pesenin kamar dan bawa dia masuk." Jelas Jeano.


Brak


Revano dan Jeano terkaget kaget dibuatnya. " Lo apain dia!? Hah?!" Bentak Sagara.


" Breng*ek Lo!"


Sagara bangkit dan menghantamkan sebuah pukulan dan tendangan kepada Jeano.


Bugh


Dugh


" ****! Gue salah apa gar?!" Teriak Jeano tidak terima. Dia memukul Sagara balik, dia bangkit dengan wajahnya yang lembam dan memegangi perutnya yang terkena tendangan dari Sagara.


" LO!? Gue nggak nyangka Lo kayak gini. Padahal Lo sendiri yang sering bilang ke kita untuk gak main cewek." Sagara berucap kecewa.


" Lo ngomong apa sih, anjing! Yang jelas dong, jangan suka seenaknya gini!" Kesal Jeano.


Lihatlah, revano duduk dengan santainya menatap keduanya dengan malas.


" Udah ribut nya?" Tanya nya.


Sagara maupun Jeano saling membuang muka dan berdecih. " Lo tega banget perkosa anak orang, no! Gue bener bener gak nyangka Lo se bajing** ini!"


" Tunggu!" Jeano menatapnya bingung. Namun sosok sagara berbalik pergi meninggalkan mereka.


" Maksudnya apa?! Gue perkosa anak orang? Van! Tuh orang kenapa sih? Datang datang main tonjok orang gitu aja?" Kesal Jeano. Dia menekan perutnya yang linu.


" Mana sakit lagi, njing." Ringisnya.


...Bersambung 🙏...

__ADS_1


...maaf ya🙏 baru up lagi😁...


__ADS_2