Mr. Antagonist

Mr. Antagonist
Tiga puluh tujuh ( Bubar )


__ADS_3

...° Mr Antagonist °...


" Sagara mana? Tumben nyuruh kita ngumpul gini?" Jeano bertanya pada Revano yang baru sampai di markas mereka.


Sang empu menggeleng, ikut mendudukkan diri bersama yang lainnya.


Sungguh mengherankan, tidak biasanya seorang Sagara mengeluarkan titah di grup resmi mereka untuk seluruh anggotanya berkumpul.


Biasanya hanya orang orang tertentu saja, itu pun anak inti yang memang di perlukan.


" Paling mau pamer bucin." Celetuk Haikal seraya tangannya sibuk menguyah makanan ringan.


Deru mesin motor yang terdengar tidak asing di telinga mereka mendekati markas. Sampai mereka semua akhirnya mendapati sosok Sagara masuk dengan aura yang tidak biasa.


Dalam setiap langkahnya, Sagara membuat mereka menutup mulut rapat rapat dan menghantarkan rasa takut yang tidak ada usainya.


Sagara melangkah dengan tatapan lurus, menatap satu titik di mana anak inti duduk dengan santai.


Sejenak, markas yang biasanya ramai seketika hening tak bersuara. Bahkan sebagian dari mereka menahan nafas karena aura dominan yang di keluarkan oleh pria itu.


Begitu Sagara sampai di depan mereka dia membalikkan tubuhnya menatap seluruh anggota yang ia ketuai.


" Gue mau umumkan sesuatu. Tapi sebelum itu, gue ingin dengar pengakuan dari seseorang." Ucap nya dengan suara yang keras. Matanya menatap tajam seluruh anggotanya termasuk anggota inti.


" Pengakuan apa?"


" Jangan jangan selama ini kita di pantau?"


" Gila! Berarti bos tau apa yang kita lakuin?"


Mereka saling berbisik satu sama lain dengan hati was was dan juga gelisah. Untuk mereka yang sadar akan kesalahan yang pernah ia lakukan tentunya takut.


Netra Sagara berhenti pada sosok Haikal yang menatapnya ragu. " Di mulai dari lo." Katanya membuat semuanya hening.


Haikal berkedip, mengerutkan dahinya seraya menunjuk dirinya sendiri.


" Gue? Lo mau pengakuan apa dari gue? Pengakuan cinta?" Kekehnya bercanda.

__ADS_1


Namun tatapan Sagara yang semakin menajam membuat Haikal tanpa sadar meneguk ludahnya merasa takut.


" Lo mau ngaku sendiri atau gue yang umumkan apa kesalahan lo?"


Revano yang merasa suasana semakin menegangkan karena temannya segera angkat bicara.


" Haikal bikin ulah, Gar?" Sagara melayangkan tatapan sinis padanya.


" Ya!" Jawabnya dengan lugas. " Bahkan dia malu malu in nama geng kita." Lanjutnya dengan berdesis.


Amarahnya mulai bangkit, Sagara mengepalkan tangannya menahan untuk tidak menghabisi Haikal kala itu juga.


Haikal menatapnya bingung, " Gue salah apa? Apa yang gue lakuin sampe bikin malu?"


Sagara muak melihat wajah tanpa bersalah itu, tanpa aba aba dia menubruk tubuh itu dan melayangkan pukulan bertubi tubi.


" Badjingan lo!" Umpat Sagara emosi.


Dia masih ingat keadaan Jessica kala itu, namun pelakunya bersantai ria seperti ini seolah tidak memiliki dosa apapun.


Sagara sangat emosi.


Revano beserta yang lainnya mencoba memisahkan Sagara dari Haikal. Pemuda itu di buat babak oleh oleh Sagara. Bahkan terlihat setengah sadar.


" Sagara udah! Lo mau bikin dia mati??" Sentak Revano menghempaskan tubuh Sagara kebelakang. Tak main main, Revano sampai mendapatkan hadiah karena mencoba menghentikan aksinya.


Sagara berdecih, menatap Haikal dengan nyalang.


" Itu ga sepadan dengan apa yang di rasakan Jessica. Dia harus ngerasain apa yang namanya hidup tak mau mati segan."


Jeano seketika menegang, menatap Sagara dengan terkejut. Dia bahkan melepaskan Haikal yang terkapar.


" Maksud lo apa?" Tanyanya tak sabar.


Sagara membuang muka, mendudukan tubuhnya di kursi.


" Sagara! Maksud perkataan lo tadi apa?? Lo jangan main main!" Jeano menghampiri Sagara dan menarik kerah pemuda itu.

__ADS_1


Tentu sang empu segera menepis tangan Jeano. Pria itu menatap sekelilingnya yang riuh.


" Dengar!"


Suara Sagara mengintrupsi mereka, memfokuskan seluruh atensi ke arahnya.


" Karna kelakuan bejatnya, di mulai hari ini. Geng ini sekarang bubar." Ucapnya keras.


" Apa?"


" Bubar?"


" Yang bener aja?"


" Haikal bikin ulah apa sih?"


Revano menatapnya tidak setuju. " Sagara! Lo jangan main main dong. Masalahnya masih bisa kita bicarain baik baik." Serunya.


" Bicarain baik baik? Sudah berapa hari sejak insiden hari itu? Apa dia ada ngejelasin sesuatu sama lo semua? Engga kan?" Kekeh Sagara dengan datar.


" Dia melarikan diri! Dia sendiri yang gak mau anggap kita lagi. So, gue mau bubarin geng ini. Gue udah gaada muka buat berhadapan sama orang luar." Ucap Sagara pada akhirnya bangkit dan berlalu dari semua kericuhan yang ia buat.


Ketika membuka pintu, hendak keluar, tubuhnya terhenti ketika netranya menemukan sosok yang terdiam di pintu.


" Lyora.." Lirihnya.


Alma menatapnya dengan diam, tangannya di rentangkan menyambut suaminya. Melihat itu, Sagara segera melemparkan tubuhnya dengan pelan ke dalam pelukan kecil itu.


Pemuda itu mendekapnya erat, menaruh kepalanya di pundak Alma. Mencari ketenangan yang sangat ia butuhkan saat ini.


" Maaf.." bisiknya di telinga gadis itu.


Alma hanya diam mengelus punggung Sagar guna menenangkan nya. Namun Sagara tidak tahu, pandangannya hanya terarah pada satu titik.


Mata tajam yang seolah siap menerkam mangsanya.


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


...WKWKWK ...


...JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK YA ...


__ADS_2