
...° Mr. Antagonist °...
Alma menatap mereka tanda tanya. Lalu beralih menatap permainan game yang baru ia mainkan. Dia langsung paham sesuatu.
" Oh kalian mau main ya? Silahkan silahkan. Gue udah selesai kok," ucapnya sambil tersenyum.
" Kita gak mau main kok." Ucap Zaidan. Alma menatapnya dengan mengerutkan keningnya.
" Kita liat Lo main." Sambung Karan dengan menebar senyumnya. Layaknya buaya yang menarik perhatiannya.
Alma memaksakan senyumnya, " gue udah selesai, kalo gitu duluan ya." Pamitnya buru buru meninggalkan tempat itu dan mereka yang sedikit terkejut dengan penolakan gadis itu.
" Wah, gadis itu ketakutan ngeliat Lo!" Ejek Argio. Xavier diam diam menyunggingkan bibirnya sedikit. Hanya sedikit sebelum dia menariknya kembali.
" Wah pesona gue jangan jangan turun?"
Xavier menggeplak kepalanya membuat dia memekik kaget sekaligus sakit. Dia berbalik menatap Zaidan dan mengangguk. Zaidan pun paham.
" Balik!" Ucapnya.
" Yah! Masa langsung baik sih?" Seru Karan tidak terima. Namun dorongan dari Argio membuat dia mau tak mau melangkahkan kakinya.
...***...
" Biarkan gue tanggung jawab." Ucap Jeano. Sagara menggeleng, " bukan Lo yang melakukannya, jadi Lo gak ada kewajiban untuk tanggungjawab." Ujarnya.
Namun Jeano hanya tersenyum tipis. " Mau gue ataupun orang lain, gue yang akan tanggung jawab."
" Lo berdua beda agama."
Sontak Jeano menatap Revano yang tiba tiba membuka suara. Dia jadi tersadar sesuatu, Jeano dan Jesslyn tidak bisa bersama karena hal itu.
Sagara mengangguk, " Itu salah satu alasannya. Dan kedua, Lo yakin mau tanggung jawab? Lo udah siap dengan resikonya?"
Jeano bungkam seketika. Memang benar apa yang dikatakan oleh temannya itu, dia tidak bisa bersama dengan gadis itu. Satu halangan terbesarnya adalah tuhan, dia tidak bisa apa apa sekarang.
" Tapi, gue pengen ngebantu dia." Lirihnya. Sagara yang memang berada didekatnya menepuk punggungnya beberapa kali.
" Bantu aja. Tapi Lo gak bakal bisa milikin dia."
Revano ikut mengangguk. Jeano pun hanya menghela nafas panjang, hatinya terasa berat dengan semua keadaan ini.
" Tumben tuh bocah gaada?" Heran Revano. Yang ia maksud adalah Haikal.
Jeano teringat sesuatu. Dia mengambil ponselnya dan menghubungi Haikal. Namun berkali kali panggilannya tidak diangkat.
" Dia gak keliatan sejak malam itu, kata anak yang lain dia pergi gak tahu kemana." Jeano memberitahukan apa yang dia tahu. Sagara memicing merasa heran dengan salah satu temannya itu.
" Gak biasanya dia hilang kontak kayak gini." Balasnya.
__ADS_1
" Mungkin ada masalah di rumahnya, atau gak dia memang lagi pergi cuma gak ngasih tau kita." Revano berpositif thinking saja.
Tetapi lain dengan Sagara, pria itu tengah memikirkan sesuatu.
Jeano yang tengah dilanda galau membuka ponselnya dan menyelami dunia sosial. Tangannya berhenti scroll ketika melihat postingan seseorang.
" Loh ini kan?" Jeano mendekatkan wajahnya pada ponsel agar bisa melihat dengan jelas.
" Gar! Ini alma bukan sih? Kok dia ada di postingan Si Kapir?" Tanya Jeano menunjukkan ponselnya.
Mendengar nama istrinya disebut, lantas Sagara langsung merebutnya. Matanya membulat kala melihat foto yang menampilkan Alma dirangkulan seorang pria di pinggir jalan.
Sontak rahangnya mengeras, dia mengeratkan genggamannya pada ponsel kemudian membantingnya kearah Jeano. Dia langsung bangkit dan mengambil jaket miliknya tak lupa dengan kunci motornya.
" Jean, cari tahu lokasinya dan kirim ke gue." Ucap Sagara dingin. Aura suram mengelilinginya, Jeano sendiri langsung bergedik ngeri mendengar nya.
Revano terkekeh, dia kembali menyesap alkohol. Namun setelah itu dia langsung bersiap pergi.
" Loh, mau kemana Van?"
Revano menoleh, " mau liat pertunjukan yang seru." Ujarnya.
Sedangkan itu, Alma dipinggir jalan tengah berpikir keras. Keempat pria itu menatapnya sembari menunggu dirinya berfikir.
Dirinya berencana untuk pulang, namun sejak tadi tidak ada kendaraan umum yang lewat. Dan ponselnya kehabisan baterai untuk menghubungi Sagara.
Mereka mengajaknya mengobrol, bahkan pria berkacamata itu turun dari motornya dengan sengaja dan mengajaknya mengobrol bahkan menawarinya diantar pulang.
Alma tak langsung menyetujuinya, lagipula dia tidak mempercayai mereka. Bagaimana kalau mereka malah membawanya ketempat asing ataupun menjualnya. Bisa jadi dirinya dijadikan seorang babu, oh tidak. Alma harus menghilangkan pikiran jelek itu.
Alma menggeleng kecil, " gak usah, kalau mau bantu gue cukup pinjemin ponsel Lo aja." Ujarnya.
Pria berkacamata itu tidak langsung meresponnya. Dia diam sebentar sambil menatap lekat. Alma tidak nyaman, dia mengedarkan pandangannya kearah jalanan.
" Gue gak maksa juga. Lebih baik kalian pergi aja." Sambung Alma. Gadis itu berharap ada sebuah taksi ataupun ojek lewat.
" Nih." Alma menoleh kala sebuah ponsel ada dihadapannya.
" Apa?" Tanya Alma bingung.
" Hanya lima menit." Tersadar, dia langsung mengambil ponsel pria itu.
" Thanks, bentar ya." Alma membuka panggilan, namun tiba tiba dia terhenti. Dia tidak ingat nomor siapa siapa, Alma menghela nafas. Menyodorkan kembali ponsel milik pria itu dengan sedikit kecewa.
" Gak jadi. Sorry," Ujar Alma mampu membuat pria itu -Xavier- menaikkan alisnya.
" Kenapa?" Xavier memberikan pertanyaan. Alma hanya menggeleng kecil dengan cengengesan.
" Gue nggak inget nomor siapapun." Kekehnya. Hal itu membangkitkan tawa kecil dan Xavier.
__ADS_1
" Bos ketawa!? Gue gak salah liat tuh?!" Heboh Karan yang berada di dalam motor gedenya.
Argio dan Zaidan juga sama sama terperangah. Baru kali ini melihat Xavier tertawa. Senyum aja jarang, lah ini udah ketawa?
" Gue anter mau? Kita gak bakal apa apa in Lo kok." Ujar Xavier.
Alma menatapnya ragu, ingin ikut tapi dia masuk sedikit takut. Pasalnya mereka baru saja ketemu.
" Yaudah deh, gue ikut kalian. Tapi jangan macem macem ya, soalnya cowok gue galak." Alma memperingati pria itu agar tidak macam macam.
" Yah, udah punya pacar ternyata." Argio sedikit menyayangkan itu. Padahal baru kali ini ada seorang gadis yang mampu membuat bosnya tertawa selain tawa jahat atau mengejek.
" Oh ya, nama gue Xavier Alva. Lo?" Xavier berinisiatif memperkenalkan dirinya.
" Nama gue Lyo-" baru ingin menjawab, sebuah klakson motor mengejutkannya.
Tin tin
Motor Kawasaki Ninja 250 SE ABS berwarna putih tiba tiba berhenti tepat disampingnya. Alma mengenali pengemudi tersebut, dia langsung tersenyum dan spontan melepaskan jabatan tangannya.
" Wah siapa tuh? Pacarnya kah?"
" Kayaknya gue kenal sama motor itu."
" Bakal ada drama nih. Siapin camilan ah,"
Alma berjalan maju kearah. Sagara menoleh kearahnya tanpa membuka helmnya.
" Pulang sekarang." Tekan Sagara. Kaki Alma berhenti seketika, matanya memandang pria itu kemudian beralih pada Xavier yang menatapnya penuh arti.
Dengan sedikit kaku dia menampilkan senyum, " g-gue pulangnya. Thanks and sorry."
Usai mengucapkan itu, dia buru buru naik tanpa mengindahkan tatapan tajam Sagara di balik helm full face nya. Dia itu melayangkan tatapan tajam pada pria yang memberikan senyuman remeh.
Disara alma sudah naik dan duduk dengan benar, Sagara langsung menarik tuas gas dan melajukan motornya dengan kecepatan diatas rata rata. Repleks Alma memeluk Sagara kaget, hampir saja dia terjengkang ke belakang akibat ulah Sagara.
" JANGAN KENCENG KENCENG! WOY! BISA BISA MATI MUDA GUE!!" Teriak Alma keras sambil memeluk Sagara erat.
Pria itu benar benar mengajaknya bertemu dengan malaikat maut. Jantung Alma hampir berhenti dibuatnya, dia sangat ketakutan.
" Lo harus dikasih hukuman."
...Bersambung 🙏...
Astaga.. Aku tadi salah publish😭 untung aku masih bangun dan lihat ini🥲 tadi di pub di novel sebelah buru buru aku hapus😭
Bener bener kaget dan panik sumpah 🙏
untungnya abis nonton aku liat dulu, jadi aku pub ulang disini.
__ADS_1