Mr. Antagonist

Mr. Antagonist
Delapan belas ( mencintaiku? )


__ADS_3

...° HAPPY ENDING °...


Alma memutar tubuhnya memastikan gaunnya terlihat bagus ditubuhnya. Gaun selutut berlengan pendek berwarna hijau muda yang memperlihatkan bagian punggungnya. Dia menghela nafas panjang, merasa tidak cocok dengan gaun hijau ini.


" Kenapa lagi?"


Alma menatap arah suara. Sagara bersandar dipintu dengan tangan yang dimasukan kedalam saku celananya. Alma memperlihatkan gaun yang dipakainya.


" Menurut Lo ini cocok gak?" Tanyanya meminta pendapat. Sagara memperhatikan Alma dari atas kebawah, gadis itu terlihat menunggu pendapatnya.


" Ini hanya pertemuan biasa. Gak usah berlebihan." Alma yang mendengar itu dia langsung puas. Dia mengerucut bibirnya dan kembali menatap bayangannya dicermin.


Alma berbalik menuju kasur yang sudah berantakan dengan beberapa gaun bertebaran dimana mana. Sagara menggeleng pelan melihat tingkahnya, dia memilih pergi dari sana.


Saat matahari sudah terbenam, Alma grasak grusuk bersiap merapihkan dirinya. Hampir satu jam dia berkutat dengan alat make up setelah memutuskan gaun mana yang harus dia pakai.


" Lyora. Ayo cepat!" Panggil Sagara dari ruang tengah. Remaja yang biasanya memakai pakaian santai kini terlihat rapih dengan kemeja hitam dan celana bahan berwarna silver.


Alma keluar dari kamar dengan tangan menenteng sepatu dan tas. Sagara memejamkan mata mencoba bersabar.


" Sagara! Tunggu sebentar, aku belum memakai sepatu." Panik Alma mendekat kearahnya. Sagara bangkit dan menarik alma agar duduk di sofa single.


" Sagara?" Alma bingung dengan apa yang dilakukan pemuda itu.


Sagara menatapnya tajam.


" Patuh!" Titahnya membuat Alma bungkam seketika.


Dia mengambil alih sepatunya dan berjongkok mulai memakaikan sepatu pada kaki jenjang milik alma.


" Eh?"


Reaksinya langsung kaget, Alma menjauhkan kakinya dari tangan Sagara. Namun Sagara mencekal pergelangan kakinya erat.


" Diam."


Alma melipat bibirnya tidak nyaman, seumur hidupnya baru pertama kali dia diperlakukan seperti ini.


" Lo gak usah gugup. Pertemuan ini hanya untuk memperkenalkan diri Lo sebagai menantu keluarga Smith. Lo gak usah khawatir, ada gue disini."


Hening.


Alma terdiam dengan pemikirannya. Memang benar apa yang dikatakan sagara. Tetapi bukan itu yang membuatnya panik dan gugup seperti ini. Bukankah wajar jika seorang gadis gugup kala diperkenalkan pada keluarga suaminya?


Bukan karena kekayaan dan kekuasaan. Namun dia takut dirinya tidak disukai oleh keluarga Sagara yang lainnya. Bagaimanapun pernikahannya itu terkesan mendadak dan dapat menimbulkan kesan negatif bagi dirinya.


Besar kemungkinan dia akan dituduh menggoda Sagara bukan?


Itulah yang ia takutkan.


Mangkanya dia berusaha sebaik mungkin berpenampilan baik dan sopan agar meninggalkan kesan baik saat pertama kali bertemu.


" Ayo."


Lamunannya buyar kala Sagara menarik tangannya. Dia menggenggam tangan Alma yang sudah dingin dengan erat seolah memberinya kekuatan.


Alma mengangkat kepalanya menatap wajah yang sempurna itu. Inilah alasan yang membuat dirinya jatuh cinta akan sosok Sagara dalam novel. Perhatian kecilnya namun berdampak besar bagi orang lain yang merasakannya termasuk dirinya.

__ADS_1


...***...


" Selamat datang, Alma."


Alma menampilkan senyum terbaiknya. Tangannya tanpa sadar mengerat pada gandengan Sagara. Samuel menyambutnya pertama kali, dan itu sedikit melegakan.


" Astaga, cucuku!" Nyonya Sheila Smith yang merupakan nenek Sagara berjalan mendekat kearahnya lalu memeluk tubuh tegap Sagara. Terpaksa Alma melepaskan pelukannya karena Sagara harus memeluk sang nenek.


" Aww! Sakit nek." Ringis Sagara saat mendapatkan jeweran dari neneknya. Nyonya besar Smith tersebut menatapnya marah.


" Dasar anak berandal! Baru nenek tinggal beberapa bulan sekarang sudah berulah. Aku merawatmu dengan baik dan beginilah yang aku dapatkan. Kamu membuat nenek kecewa dengan mempermainkan anak gadis." Ceramahnya. Samuel menahan ibunya yang mulai mengeluarkan siraman rohaninya.


" Sudah bu. Lebih baik kita kedalam dan menyapa cucu menantumu." Sheila berhenti memukul Sagara dan beralih menatap Alma yang tersenyum canggung.


" Selamat mal-" Sheila menyorobot mendekat pada Alma.


" Astaga! Kamu sangat cantik sekali. Sagara sangat pintar memilih istrinya. Ayo kita masuk kedalam, nenek ingin bicara dengan cucu menantuku." Ujar nyonya Sheila menuntunnya masuk kedalam meninggalkan Sagara dan Samuel di depan.


Alma mengerjap bingung sambil mengikuti langkah Sheila yang menurutnya tergesa tidak cocok untuk para orang tua.


" Suamiku! Lihat siapa yang aku bawa." Teriak Sheila mengejutkan Alma. Dalam hati Alma sedikit bersyukur karena tidak ada nenek jahat seperti dalam pemikirannya. Walau dia tebak, Sheila akan sedikit merepotkan dirinya dengan kecerewetannya.


" Siapa dia?" Tatapan Alma tertuju pada seorang pria yang tengah duduk dikursi. Pria itu terlihat masih muda, maksudnya masih terlihat seperti pria berumur 45 tahunan. Masih terlihat tampan meski bulu lebat diarea dagu dan kumis.


" Ini adalah cucu menantu kita. Sangat manis bukan?" Ujar Sheila menuntunnya agar duduk. " Siapa namamu nak?" Tanya pria yang Alma yakini adalah kakek Sagara.


" N-nama saya Lyora Alma, kek." Jawab Alma dengan tersenyum kikuk. Sheila menyentuh bahunya membuat atensi Alma beralih padanya.


" Kamu jangan sungkan nak. Kelak kita adalah keluarga," Ucapnya tersenyum lembut. Alma terpaku, sebelum akhirnya mengangguk paham dengan senyum tipis mulai muncul diwajahnya.


Alma dapat bernafas lega sekarang.


Alma mulai akrab dengan kakek dan nenek, lalu ada bibi Jenny yang merupakan adik dari ibu Sagara. Wanita itu sangat baik terhadapnya. Alma menghabiskan waktunya bersama mereka sampai lupa pada suaminya yang selalu memperhatikan dirinya.


" Sayang, izinkan nenek bertanya." Alma mengangguk. Kini mereka berdua ada dikamar nenek Sheila atas perintah beliau.


" Kalian sudah melakukannya?" Alma mengerut mendengarnya.


" Melakukan apa nek?" Bingung Alma tidak mengerti.


" Hubungan suami istri."


Perkataan Sheila hampir membuat Alma tersedak ludah. Dia menundukkan kepalanya malu, wanita itu terlalu blak blakan.


" Belum?" Tangan Sheila menggenggam Alma meyakinkan. Alma menatapnya ragu kemudian menggeleng kecil. Sheila menghembuskan nafas panjang.


" Dengar sayang. Nenek bukannya ingin membuat kamu ragu, tapi kamu belum paham. Sagara, anak itu sangat rumit. Nenek tidak bisa menebak apa yang dipikirannya, dia memisahkan dirinya dari kami setelah kepergian orang orang tuanya. Anak itu masih berlarut dengan masa lalunya yang rumit. Meskipun nenek dapat melihat ada sedikit perbedaan darinya."


Alma memilih bungkam mendengar penjelasan dari Nenek Sagara. Walau sebenarnya dia sudah tahu akan hal itu karena tertulis dalam buku novel.


" Nenek harap dengan kehadiran kamu dapat merubahnya sedikit demi sedikit. Bagi nenek, kebahagiaannya adalah kebahagiaan nenek juga." Sambung Sheila. Alma menampilkan senyum khasnya. Tangannya membalas genggaman sang nenek.


" Nenek percayakan sama Alma. Alma akan berusaha semaksimal mungkin untuk membuat Sagara berubah. Karena bagi Alma, Sagara adalah tujuan hidup Alma." Tekadnya.


...***...


Alma menggeliat tidak nyaman saat perutnya terasa sakit melilit. Matanya terbuka pelan, setelah beberapa saat dia baru sadar kalau dia ada di kamar. Sepertinya tadi dia tertidur dimobil, dan Sagara yang membawanya kemari.

__ADS_1


Tadi mereka berdua disuruh menginap, namun alma menolak dengan halus dengan bantuan Sagara tentunya. Alma melupakan rasa nyeri haidnya tadi, namun sekarang rasa sakit itu mulai terasa.


Alma menekan perutnya sakit, dia bangun terduduk dan tidur kembali dengan meringkuk memeluk perutnya. Keringat dingin mulai bercucuran dari seluruh tubuhnya.


Dia memejamkan matanya mencoba tidur kembali. Sayangnya dia malah merasakan sakit yang luar biasa. Meski sudah berulang kali tetap saja itu terasa menyakitkan.


Ceklek


Sagara masuk kekamar dengan sebuah nampan. Menyimpannya dinakas, dia naik ke kasur mendekati Alma.


" Ra?" Panggilnya. Alma membuka matanya, dia menekan perutnya sakit. Sagara dapat merasakan suhu tubuh Alma yang mulai mendingin. Dia membawa Alma agar tidur telentang, dia mengambil bantal dan meletakannya di bawah kaki.


" Sakit..." Lirih Alma mengerut dengan wajah pucat. Hal itu membuat Sagara tidak tega. Dia mengambil botol hangat yang sudah ia siapkan sesuai instruksi Jesslyn yang ia ingat.


Tangan Sagara menarik tangan Alma yang mencengkram erat perutnya. Dia mengelus perut itu dan menaruh botol hangatnya disana.


" Eungh... Sakit.." bisiknya mencengkram tangan Sagara melampiaskan rasa sakitnya. Alma ingin menangis sekeras mungkin, namun saat ini tubuhnya terasa sangat lemas. Dia hanya bisa melihat Sagara yang menatapnya dengan tatapan yang lain dari biasanya. Terasa lembut dan menenangkan.


Beberapa saat kemudian...


" Gue gak tahu ternyata datang bulan sesakit ini." Gumamnya sambil membersihkan keringat yang ada disekitar wajah Alma. Bahkan gadis itu belum sempat berganti baju.


Sagara menatap wajah damai milik Alma. " Gue pikir, gue mulai goyah." Gumamnya.


Tatapannya jatuh pada bibir mungil itu. Sagara memejamkan matanya sebentar.


" Hanya liat bibir Lo aja gue udah segila ini." Kekehnya.


" Emhh.." Melihat Alma bergerak tak nyaman membuat Sagara kembali mengelus perut rata milik alma. Setelah tenang Sagara kembali terdiam.


" Gue gak bisa deket deket sama dia. Pikiran kotor gue selalu kepancing." Keluhnya.


Saat hendak pergi tangan kecil itu menahannya. Sagara menunduk menatap ekspresi Alma yang mengerut.


" Jangan.." gumamnya.


Sagara menghela nafas. Pemuda itu menggenggam erat tangan Alma dan ikut berbaring dengan memeluk erat gadis itu. Sesekali tangannya bergerak mengelus perut rata itu.


" Gue gak bakal pergi." Bisiknya.


Keduanya terlelap menyelami alam mimpi mereka masing masing.


...***...


Alma membuka matanya perlahan, tidurnya terusik kala sesuatu memainkan pusarnya. Dan sekarang dia tahu siapa pelakunya.


" Hentikan.." suara Alma terdengar serak. Namun Sagara tak mengindahkan peringatannya. Tangan Alma mencegah tangan Sagara yang bermain main diperutnya.


" Hmm, mana upahku?" Bisik Sagara mengirup leher jenjangnya. Alma bergedik merasakan bulu romanya berdiri.


" Geli, Sagara.." kaki Alma yang diapit membuat dia tidak bisa berbalik. Karena posisinya Alma yang dipeluk dari belakang.


" Kamu lupa aku sedang datang bulan?" Tanya Alma membuat Sagara menghela nafas.


" Aku ingat kok."


Sagara mengelus wajahnya, " aku enggak bakal melakukanya tanpa izin, aku akan menunggumu siap." Ujarnya tersenyum. Alma mengangguk puas, dia membalikan tubuhnya menjadi berhadapan dengan Sagara.

__ADS_1


" Bukan aku yang harus ditunggu, kamu juga. Apa kamu sudah mencintaiku?"


Sagara bungkam dibuatnya.


__ADS_2