
...° Mr. Antagonist °...
Harley menatap layar komputer dengan serius. Seharusnya dia tidak berada dikantornya saat ini, namun demi permintaan seorang gadis, Harley rela bekerja dihari libur.
" Tuan, ini data yang anda minta." Rara, sekertaris menyerahkan amplop coklat dengan sedikit kasar. Dia sangat kesal pada bosnya satu itu.
Seharusnya ini adalah hari liburnya, namun dia ditempatkan di tempat kerja dengan tugas yang mendadak. Padahal hari ini dia sudah memiliki janji dengan pasangannya.
" Baiklah, kamu bisa pergi. Tenang saja, aku akan memberikanmu bonus untuk hari ini." Ujar Harley mematik binar dimata Rara.
" Baik, tuan." Ucapnya langsung pergi.
Harley membuka amplop itu, dia menatap kertas yang berisikan data mengenai seseorang yang tengah ia cari.
" Tuan muda Bachdim sangat nakal rupanya." Kekeh Harley begitu mendapat informasi yang dia dapatnya.
" Bagaimana jika orangtuamu mengetahuinya? Sepertinya sedikit seru,"
...***...
" Lo yakin Jean?" Revano kembali bertanya. Yang ditanya mengangguk pasti.
" Tapi kalian beda agama." Jeano mengepalkan tangannya erat.
Brak
Dia menggebrak meja dengan kuat, Revano sudah menduga hal itu, jadi dia menyiapkan jantungnya agar tidak terkejut.
" Terus gue harus gimana, Van?"
Revano hanya bisa menatapnya kasihan. " Mending lo cari pelakunya saja." Usulnya.
Jeano menggeleng. " Gimana kalau dia tanggung jawab?" Tanya dengan lemas.
__ADS_1
" Anj**g! Terus mau Lo gimana?!" Sentak Revano kesal dengan Jeano.
" Gue juga gak tahu.." lirih Jeano.
" Ck, dasar bego."
Ceklek
Begitu pintu terbuka nampaklah sosok yang sudah lama tidak menampakkan diri. Haikal, pria itu berjalan kearah mereka dengan senyum tengik seperti biasa.
" Halo guys. Kalian pasti nyari nyari gue kan? Secara gue itu ganteng." Haikal duduk disamping Jeano yang masih kebingungan.
" Loh loh. Kalian kenapa? Ga seneng ketemu gue?" Bingungnya.
" Lo kemana aja selama ini? Lo ketinggalan banyak asal Lo tahu," ujar Revano.
" Gue abis liburan bareng keluarga. Emangnya gue ketinggalan apa?"
" Lo tahu Jesslyn kan? Dia di perkos* orang."
" Terus dia kenapa?" Tanyanya heran.
Revano mengangkat bahunya tidak peduli, matanya melirik ponsel yang menampilkan sebuah pesan. Tak lama, dia langsung bangkit.
" Gue duluan, Lo jagain temen Lo noh. Gue ada urusan,"
Revano pamit meninggalkan Haikal yang terdiam dengan Jeano yang termenung.
...***...
Menatap wajah dengan intens dari cermin membuat Alma termenung. Sekarang dia sepenuhnya menjadi milik Sagara. Pria itu, memang sudah berubah sekarang. Tapi bagaimana jika dia kembali berubah?
Alma juga lupa dengan apa tujuannya datang kesini?
__ADS_1
Tokoh protagonis tengah mengalami badai pertengkaran. Alma tidak tahu apakah dia harus membantu atau tidak, mengingat Renjana pernah meminta bantuannya. Ditambah dia harus menemukan orang yang memperk*** temannya.
Lalu mengenai pamannya? Apa yang harus ia lakukan?
Tanpa sadar Alma menghela nafas berat. Masalahnya begitu menumpuk, Alma tidak tahu harus bagaimana, tidak ada pencerahan sedikitpun.
Tangannya menarik laci, dia mengambil sebuah botol obat. Itu adalah obat yang sering dikonsumsinya jika merasa stress seperti ini.
Mengambil beberapa beberapa butir, Alma mengambil minum dan memasukan obatnya kedalam mulutnya. Belum masuk kemulut, obat itu tiba tiba dirampas.
Alma tersentak kaget, dia menatap obatnya yang dirampas kemudian beralih pandang ke arah Sagara yang menatapnya marah.
" Apa ini?" Diam diam Alma menutup kegugupannya melihat wajah marah Sagara.
" I-itu hanya v-vitamin. Tolong kembalikan," Alibinya. Sagara menatap obat ditangannya dengan curiga. Dia sedikit tidak percaya mendengar perkataan istrinya.
" Kamu yakin?" Alma mengangguk, Sagara memilih tidak menanyakannya lebih lanjut. Dia melemparkan obat itu ketempat sampah, kemudian menatap Alma dengan teduh.
" Jika ada apa apa tolong beritahu aku, sekarang kamu adalah tanggung jawabku. Jangan melakukan hal yang berbahaya bagi kamu, mengerti?" Alma berkedip polos.
" O-oke." Alma menampilkan senyum tipis.
" Kuat berjalan?" Tanya pria itu. Alma menyerngit bingung, apa yang pria itu katakan?
" Jika masih sakit aku akan membelikan salep, semalam aku terlalu bersemangat membuatmu kesakitan."
Alma mendorong Sagara agar menjauh, topik ini sangat ia benci karena di sangatlah malu.
" A-aku tidak apa apa. Tolong jangan bahas itu lagi."
Alma berlari kabur dari kamar meninggalkan Sagara. Hal itu membuat tawa kecil keluar dari mulut pria itu.
" menggemaskan!"
__ADS_1
...Bersambung 🙏...
double nih! yakin gak mau like?🤗