
...° Mr. Antagonist °...
Seorang gadis menatap pemandangan didepannya dengan tatapan menerawang. Rambut hitamnya berseliweran terterpa angin, netra biru itu menatap kosong didepannya.
" Gimana kabar Lo?" Raut wajah gadis itu berubah menjadi tidak suka, matanya menyorot benci dan dendam yang begitu besar.
" Segitunya Lo benci gue?" Kekeh pria dihadapannya.
" Jangan lupa, ini juga gara gara nyokap lo sendiri. Lo tinggal suruh dia berhenti." Daisy menatap lurus kedepan dengan wajah datar.
" Terkadang kehidupan gak selalu manis, Daisy."
...***...
Memilih makanan yang dia inginkan dan persediaan untuk malam tahun baru. Alma ingin mengadakan acara bakar bakaran bersama penghuni apartemen yang lain. Dengan dibantu para pengawal dia membeli semua yang dibutuhkannya.
" Mau bayar menggunakan uang cash atau kartu debit kak?" Tanya pegawai tersebut dengan sopan. Alma menyerahkan gold card nya. " Pakai ini kak."
Para pegawai itu nampak menghormatinya mungkin melihat banyaknya pengawal yang mengantarnya. Orang orang juga saling berbisik sambil curi curi pandang kearahnya.
" Paman! Tolong masukan belanjaan ini ke dalam mobil ya." Pinta Alma. " Baik Nona." Jawab mereka serentak.
Alma berjalan keluar dengan mencoba untuk abai akan sekelilingnya. Namun, kakinya sontak terhenti kala ada sesuatu yang menahan kakinya.
" Bunda!"
Alma merunduk mendapati seorang anak perempuan yang tersenyum lebar kearahnya sambil memeluk kakinya.
" Hazel?"
Matanya melirik kesana kemari mencari sosok ayah dari gadis tersebut.
" Bunda! Hazel kangen sama bunda~" rengekan dari anak manis itu. Tangan Alma langsung mengangkat tubuh gempal bocah 4 tahunan itu.
" Nona?" Alma menggeleng pada pengawal yang hendak menghampirinya.
" Tidak papa, aku mengenalnya."
Beralih pada Harley yang berjalan dari dalam menuju ke arahnya dengan sedikit tergesa. Pria itu sedikit lega kala melihat anaknya bersama orang yang dia kenali.
" Hazel," Panggilnya.
" Ayah! Lihat hazel bertemu bunda lagi, untung hazel langsung kejar bunda tadi. Hihihi,"
Anak itu berujar dengan raut yang gembira. Membuat Alma ingin sekali mencubit pipi gadis tersebut. Harley mendekat kearahnya.
" Lain kali jangan seperti itu. Ayah khawatir saat kamu tiba tiba menghilang." Peringatan Harley yang tegas membuat senyum gadis itu luntur. Hazel meredupkan matanya menatap sang ayah sedih.
" Maaf, ayah. Hazel salah,"
Alma nyaris tertawa melihat ini. Dia menepuk punggung bocah itu agar tidak sedih.
__ADS_1
" Sudah tidak perlu bersedih. Asal jangan diulangi saja, oke?" pintanya. Hazel menatapnya dengan binar dan memeluknya erat.
" Oke, bunda!"
Harley terkekeh geli. " Sudah, kamu turun dari bunda nya. Kasihan dia pasti keberatan," ujarnya.
Hazel langsung mendongkak menatap Alma. " Bunda, Hazel berat ya?" Tanyanya di gelengi oleh alma. Gadis itu menjulurkan lidahnya pada Harley.
" Ayah bohong. Kata bunda, Hazel engga berat." Ujarnya membuat Harley menepuk kepala anaknya dan mengacak-acak rambutnya gemas.
" Sebaiknya kita pergi mencari tempat yang lebih nyaman."
Alma mengangguk setuju, Harley mengambil alih Hazel ke gendongannya dan berjalan diikuti oleh Alma. Gadis itu melirik pengawal yang sedari tadi mengikutinya.
" Paman, kalian pulanglah lebih dulu. Aku akan pergi sebentar, kalian jangan khawatir soal paman Sam. Aku akan mengabarinya," Pengawal itu saling melirik. Alma menghela nafas, dia langsung berjalan meninggalkan pengawal yang kebingungan.
" T- tapi nona.."
" Jangan khawatir, kalian tidak akan dimarahi oleh paman. Aku yang akan menanggung nya." Lanjut Alma meyakinkan.
" Beberapa orang, ikuti Nona Muda dari kejauhan. Yang lainnya segera angkat barangnya." Titah salah satu dari mereka setelah kepergian Alma bersama Harley.
" Tuan. Nona Alma pergi bersama seorang pria dengan anak kecil, kami mengikutinya dari kejauhan." Tangannya menekan earphone di telinganya. Pengawal itu melapor kepada atasannya, Sagara.
"..."
" Baik tuan."
...***...
Alma menatapnya intens. Sagara menautkan alisnya melihat ke terdiaman sang istrinya. Tangannya bergerak menarik tubuh kecil itu agar duduk di pangkuannya.
" Kenapa?"
" Kenapa Lo suka banget panggil gue Lyora?" tanyanya. sejenak Sagara terdiam tanpa menjawab pertanyaan dari gadis itu.
" Sagara?" tanya Alma dengan nafas yang mulai teratur. Sagara memeluk tubuh hangat itu.
" Singkatnya, gue mau punya panggilan yang berbeda dari orang lain." Satu tangannya naik mengelus surai hitam yang lebat milik sang istri.
" Terus mau dipanggil nya apa? gara? saga? atau Caesar? cesar lebih bagus... emm,"
Sagara mengerutkan keningnya kala mendengar gumaman Alma yang tidak terdengar jelas. " Panggil gue Kai." bisiknya.
Drttt drttt drttt
Pemuda bersurai hitam itu menatap datar ponselnya yang bergetar. Dengan perlahan dia mengambil ponselnya dan mengangkat telpon dari sang paman.
"Sagara datanglah ke kantor sekarang."
" Oke."
__ADS_1
"Kamu harus mulai bekerja lagi, sudah lama sejak kamu menikah."
" Ya."
"Cepatlah datang, ada yang ingin paman sampaikan."
"Hm,"
Tut
Sagara menutup panggilan tersebut. Dia kembali menatap gadis yang ada di pangkuannya. " Aku pergi dulu." Pamitnya mengecup bibir mungil milik Alma. Ia bangun dengan Alma yang ada digendongnya ala ala koala kemudian membaringkannya dikasur. Sagara menarik selimut hingga menutupi tubuh Alma kemudian masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu.
...***...
" Hoamm!"
Alma merenggangkan tubuhnya. Dia berguling kesana kemari dengan nyaman hingga nyawanya terkumpul begitu bangun. Tatapan Alma menerawang ke atap kamar yang polos. Ingatannya mengingat kembali mengingat percakapannya dengan Harley di cafe tadi siang.
" Kudengar kamu hampir terjatuh dari rooftop apertement?"
Tangan Alma yang tengah sibuk menyuapi Hazel terhenti, dia menatap Harley yang juga menatapnya sambil menopang pipinya menggunakan tangan kirinya.
" Hanya kecelakaan kecil." Jawab Alma singkat. Dia kembali menyuapi Hazel yang tengah fokus menatap ponselnya.
" Ah, sayang sekali."
Nada kecewa dan helaan nafas panjang dari Harley menarik perhatian Alma. Gadis itu menatapnya tanda tanya.
Kira kira apa yang pria itu maksud?
Apa lelaki itu berharap dirinya bunuh diri?
" Kenapa? Apa kamu kecewa aku tidak terjatuh?"
Alma memusatkan perhatiannya penuh pada Harley. Melihat gelengan kecil dari pria itu menumbuhkan kerutan di dahinya.
" Maksudku, saya kecewa jika kamu benar benar sudah memiliki suami. Padahal saya belum memulai sesuatu, tapi ternyata aku kalah cepat ya?" Harley menampilkan senyum menawannya. Sayangnya Alma malah curiga dengan tingkah aneh pria tersebut.
" Maksudmu apa?" Tanya Alma curiga. Pria berusia 24 tahun itu menyugarkan rambutnya kebelakang sambil duduk bersandar. Banyak gadis gadis dari meja sebelah mencuri pandang kearah mereka. Bahkan ada yang dengan berani membicarakannya.
" Waktu itu saya memang berniat menjadikanmu seorang baby sitter. Tapi sikapmu yang menarik perhatian membuatku tertarik, sayang sekali jika sudah memiliki suami diusia semuda ini."
Alma tercengang mendengarnya.
" Tetapi jika kamu bosan dengan suami kamu, kamu bisa datangi saya. Saya bisa memuaskan kamu dan manfaatkan kekayaanku sepuas mu. Selama kamu bisa menerima hazel apa adanya," sambung Harley.
" Pria gila!" Umpatnya langsung bangun dengan wajah kesal. Dia berjalan menuju kamar mandi berdiri didepan cermin. Tangannya mengambil sikat gigi dan memulai aktivitasnya.
Gosok gigi dan cuci muka. Tak lupa mengganti gantinya dengan baju tidur, Alma beranjak kedapur mencari makan. Karena hari mulai malam, dia memasak untuk dirinya dan Sagara makan malam nanti.
" Ngomong ngomong, kemana pria itu?" Beonya. Alma mengangkat bahunya acuh. " bodo ah, mungkin sedang keluar."
__ADS_1
...Bersambung 🙏...