
...° HAPPY ENDING °...
Alma berjalan riang memasuki pelataran bangunan mewah itu. Dia tersenyum kala ada beberapa karyawan tempat itu menyapanya. Apertement ini sepertinya memang dikhususkan untuk orang konglomerat saja, terbukti dari beberapa orang yang bergaya elit berseliweran mungkin dia saja yang terlihat biasa saja. Sebelum naik keatas, mata Alma memandang sekitarnya.
" Oh ada pusat gym?" Gumamnya. Dia berjalan kearah lift dan menunggu bersama beberapa orang lainnya.
Setelah menunggu beberapa lama akhirnya pintu terbuka dan dia mulai masuk. Dia memilih di pojok saja setelah menekan angka paling atas.
Orang orang mulai keluar satu per satu meninggalkan beberapa orang.
" Loh, Lo alma kan?"
Alma yang sedari tadi memainkan sepatunya mendongkak. Seorang gadis dikepang satu menatapnya sambil tersenyum menampilkan sebuah lesung di pipi kirinya.
" Lo kenal gue?" Alma menunjuk dirinya sendiri.
" 11 IPA 3 right?" Alma mengangguk membenarkan.
Gadis itu menyodorkan tangannya. " Gue Cessie Atmaja, kelas 11 IPS 1."
Alma menerima jabatan itu dengan senyum mengembang.
" Salam kenal ya."
" gue baru liat Lo disini, baru ya?" Tanya Cessie.
Alma mengangguk pelan.
" Kemarin baru pindahan."
" Lo sendiri, udah lama?" Alma berbalik bertanya.
" Gue udah tinggal disini sejak masuk SMP." Jelas Cessie.
Alma membulatkan bibirnya. " Wah, hebat banget. Lo udah mandiri sejak kecil ya," kekeh Alma. Cessie ikut tertawa seakan tawa Alma menular padanya.
Ting
Keduanya menatap lift yang menunjukkan sudah berada di paling atas.
" Wah gue gak nyangka sekarang udah punya tetangga." Keduanya keluar secara bersamaan. " Kayaknya gue bakal betah deh." Ujar Alma.
" Moga betah ya, gue ada di ujung sana. Kalau Lo mau main tinggal ketok aja." Tunjuk Cessie.
Alma memberikan jempolnya. " Siap, kalau gue ada disana. Tapi sebaiknya Lo jangan kesana deh."
Cessie menaikkan alisnya. " Pawang gue suka yang manis manis." Canda Alma.
Cessie langsung tertawa mendengarnya. Alma tertegun, dia seperti familiar dengan senyum itu.
__ADS_1
" Gue kayak pernah liat Lo deh," gumam Alma.
" Yaudah, gue duluan ya. Pawangnya tolong iket yang bener ya, takutnya mampir ke apart gue." Alma cengengesan sendiri mendengarnya.
Matanya terus memandang Cessie yang mulai menghilang dari pandangannya.
" Gue lebih suka yang lucu lucu."
" Hwaa!" Alma berdenyit kaget. Dia menghembuskan nafas lega melihat Sagara ada dibelakangnya.
" Suka banget bikin gue kaget." Gumamnya mengelus dadanya pelan.
Pemuda itu menarik bahu Alma mengajaknya berjalan.
" Ayok iket gue yang bener." Alma benar benar ingin tersedak ludah mendengarnya.
" Gue cuma bercanda."
" Beneran juga gapapa." Alma mencubit pinggang Sagara kesal dan berjalan mendahului pria itu.
Sagara terkekeh sambil mengusap pinggangnya yang terasa sakit. Dia segera menyusul istri kecil nya. Yah, istrinya.
...***...
Kepulan asap berasal dari nasi yang baru saja matang, berada di tengah tengah meja dengan lauk pauk lainnya. Di atas bangku yang saling berhadapan, terdapat sepasang pengantin baru.
" Mau apa?"
Helaan nafas panjang keluar dari bibir mungil itu. Sedari tadi dia dihadapkan dengan Sagara yang bertingkah aneh.
Tanpa memperdulikan Sagara dia segera menyiapkan satu porsi untuk makan pemuda itu. Sagara berpangku dagu memperhatikan bagaimana sang istri menyiapkan makan untuknya.
" Nih."
Sagara berkedip kala netra itu menatapnya balik dengan tatapan polos. Senyuman terbit di wajah pemuda itu, dia menerima piring itu dan mulai melahap makanan yang terasa sangat enak.
Alma menyipitkan matanya heran, Sagara terlihat baru merasakan makanan enak. Padahal ini termasuk makanan yang umum, dia menggeleng kecil dan segera menyiapkan makan untuknya.
" Nanti berangkat jam berapa?" Tanya Alma yang sudah selesai makan dan bersiap membereskannya. Sagara menahannya, " biar gue." Alma membiarkan pria itu.
Pemuda itu mengambil alih semuanya. Alma terkekeh melihat wajah tegang dan kaku yang mulai mencuci piring.
" Bukan gitu. Tapi ini yang dipegang," ujarnya memberi instruksi.
Sepertinya Sagara kesusahan, Alma berinisiatif mendekat dan membantunya.
" Begini." Tangan Alma menuntunnya melakukan dengan benar. Sagara jadi salah fokus pada wajah gadis itu yang terlihat begitu cantik.
" Ngerti?" Alma menatap sagara yang terdiam menatapnya. Dia menyerngit heran.
__ADS_1
" Sagara?" Panggilnya.
" Hmm?" Sagara tersentak.
" Gimana?" Alma menghela nafas panjang. Dia menarik piringnya dari tangan Sagara.
" Biar gue aja. Mending lo duduk disana." Tunjuk Alma menggunakan dagunya.
Sagara menggeleng, " gue mau liat." Pintanya. Alma berdecak, " terserah." Ketus Alma.
Dia langsung sibuk mencuci piring, Sagara menatap wajah ayu itu. Tangannya terangkat merapikan anak rambut Alma yang sesekali terjatuh.
" Ayo bertaruh!"
Tiba tiba ingatannya melayang ke beberapa saat lalu. Sagara memejamkan matanya, dengan rahang yang mengetat.
" Buat istri Lo itu jatuh cinta sama Lo. Kalau Lo berhasil gue bakal berhenti ngusik dia. Tapi, kalau Lo gagal gue mau istri Lo."
" Sagara?"
Usapan di lengannya membuatnya membuka mata. " Lo tidur sambil berdiri?" Tanya Alma.
Sagara menghela nafas berat. Dia menubruk tubuh kecil itu membiarkan tubuhnya bersandar pada Alma. Sang empu tentunya terkejut hendak mendorong Sagara.
" give me five minutes."
Mendengar suara lelah itu, Alma menjadi kasihan dan membiarkan Sagara bersandar sebentar di bahunya. Tangannya terangkat mengelus dan menepuk nepuk punggung lebar itu.
Seharusnya yang tidur itu sagara, tapi Alma yang merasa mengantuk. Dia melirik jam yang menunjukan pukul 5 sore.
" Sagara." Panggilnya.
Sagara berdehem menjawabnya, " gue ngantuk." Alma tanpa sadar merengek dengan mata yang redup.
" Tidur, Ra." Inginnya Alma seperti itu.
" Tapi, nanti gimana?" gumamnya.
Sagara berdiri dengan tegak, tubuh Alma langsung limbung terjatuh jika sagara tidak menahannya.
Alma menyandarkan tubuhnya pada bidang Sagara.
" Ngantuk." Gumam Alma.
Sagara merunduk guna melihat wajah mengantuk tersebut. Dia menahan tenguk gadis itu dan mengangkat gadis itu ke gendongan nya. Alma bergerak mencari posisi yang nyaman, dia bahkan mengenduskan hidungnya pada dada bidang Sagara hingga tidak sengaja menyentuh sesuatu.
Sagara memejamkan matanya menahan sesuatu. Dia mengeratkan gendongannya dan berjalan menuju kamar. Ia harus melepaskan gadis itu sebelum suatu hal terjadi. Setelah membaringkan tubuh gadis itu, Sagara meliriknya dan mengusap Surai rambut milik alma.
" Lo membangkitkan sesuatu tapi Lo tidur dengan nyenyak." Gumamnya.
__ADS_1
Berikutnya hanya dia yang tahu apa yang terjadi padanya.