Mr. Antagonist

Mr. Antagonist
Tiga puluh dua ( mabuk )


__ADS_3

...° Mr. Antagonist °...


Setelah puas bermain dengan hazel dan menemaninya serta membacakan dongeng sebelum tidur, kini Alma keluar hendak pulang. Tetapi sosok didepannya membuat menghentikan langkahnya, kaget sedikit karena begitu membuka pintu Harley sudah ada dihadapannya.


" Hazel sudah tidur?" Tanya Harley.


Alma mengangguk sekali. Dia menatap jam yang melingkar dipergelangan nya.


" aku mau pamit pulang. Ini sudah larut malam,"


Harley mengangguk. " Tunggu aku menyelesaikan pekerjaanku sebentar, aku akan mengantarmu setelahnya." Ujarnya berjalan turun pergi meninggalkan Alma yang bengong di depan pintu kamar Hazel.


Tersadar, Alma langsung mengikuti pria itu. Dia dapat melihat pria itu duduk dengan laptop didepannya dengan lembaran lembaran berkas ditangannya.


Dengan canggung dia mendudukkan tubuhnya di depan Harley. Jika dilihat seperti ini, Harley nampak begitu tampan jika sedang fokus begini. Apalagi dengan kacamata yang bertengger di hidungnya, kharismanya ini dapat menyembunyikan fakta bahwa dia punya anak satu.


" Jangan terus menatapku jika tidak ingin masuk ke dalam pesonaku." Ucapan Harley membuat dia tersentak. Dia langsung membuang pandangannya, pria itu sangat narsis sekali.


Matanya tertuju pada berkas yang menganggur diatas meja. Tangannya mengambil salah satu kertas, dia memang tidak mengerti dengan apa yang tertera di surat itu. Dia hanya memperhatikan logo yang berada diujung surat itu.


" Dv Corp." Gumamnya. Harley mengangkat pandangan menatap Alma dengan tanda tanya.


" Kamu bekerja disini?" Tanya Alma cepat. Dia menatap Harley dengan tidak sabaran.


" Ada apa? Kamu ingin bekerja disana?" Alma berdiri membuat dia sedikit terkejut. Apalagi gadis itu berjalan kearahnya dan duduk tepat disampingnya.


" Bisakah kamu membantuku? Kamu bekerja disana bukan?" Tanya Alma cepat. Harley berdehem kaget, jantungnya sedikit berdebar melihat wajah Alma yang terlalu dekat dengannya.


Pria itu merapihkan pekerjaannya dahulu. Setelah menyimpan laptopnya dia menyamping menatap Alma yang terlihat berbinar.


" Tuan, kamu mau kan menolongku?" Tanya Alma memelas.


" Apa yang harus kulakukan?"


Alma sedikit bernafas lega kala dia bisa melakukan sesuatu untuk membantu sahabatnya. Jelas dia ingat nama hotel yang dipesan oleh Jesslyn saat itu, namun mengingat hotel itu merupakan milik seseorang ternama membuat dia tidak bisa berkutik apa apa.


Alma menjelaskan masalahnya dan keinginannya untuk melihat cctv yang ada di ruangan kamar Jesslyn saat itu. Dia ingin tahu siapa pelakunya dan membuatnya menerima hukumannya.


Setelah tahu permasalahannya Harley diam menatap wajah Alma yang menunduk murung. Dalam hati dia bertanya-tanya kenapa gadis itu begitu mengkhawatirkan temannya dibandingkan dirinya sendiri pikirnya. Harley menghembuskan nafas kasar, hal itu membuat Alma berspekulasi bahwa Harley tidak bisa membantunya.


" Apa yang akan kudapatkan jika berhasil menemukan pelakunya? Kamu tahu perusahaan itu bukanlah perusahaan sembarangan."


Alma menatap netra biru itu, senyum tipis meningkatkan ketampanan pria didepannya. Sayangnya dia tidak tergoda sekali.


" Apa yang kamu inginkan?" Alma meneguk savilanya takut Harley meminta hal hal yang aneh. Namun pria itu terlihat menggodanya dengan senyuman mencurigakan.


" Kita lihat saja nanti."


Drttt


Deringan ponsel miliknya mengalihkan pandangannya kearah ponselnya yang ada diatas meja. Dia mengerut melihat Jeano menghubunginya, tidak biasanya pria itu menelponnya.


Alma melirik Harley sebentar kemudian dia segera mengangkat panggilan tersebut.


" Lo dimana?"


Alma sedikit menjauhkan ponselnya begitu suara ribut dari seberang.


" Kenapa?" Tanya Alma.


" Gue gak bisa denger lo karena disini berisik. Sebaiknya lo susulin nih suami lo yang udah tepar mabuk."

__ADS_1


" Sagara mabuk?"


Alma mengerjap bingung. Namun dia berdecak pendek.


" Lo urus aja temen lo itu! Lagian Sagara itu kuat minum, masa mabuk?" Heran Alma.


" Iya biasanya kalo minumnya cuma beberapa gelas, tapi dia bener bener gila. Lo apain dia sih? Dia ngabisin 12 botol asal Lo tau!"


" Apa!?" Alma bangkit karena kaget.


" Iya buruan kesini! Dari tadi dia manggil manggil nama Lo,"


Tut


Bibir alma berkedut menahan umpatan yang ingin sekali dia keluarkan. Dia menatap Harley yang menaikkan alisnya pertanda bertanya kepadanya.


Alma hanya bisa tersenyum terpaksa.


Sagara ini suka sekali berulah.


......................


Alma turun dari mobil Toyota Alphard itu menatap bangunan didepannya. Suasananya begitu ramai, remaja remaja tidak jarang ia lihat dengan penampilannya yang terbuka. Dia menatap Harley yang hendak keluar, dia segera memasukan kepalanya kedalam.


" Makasih ya udah nganterin. Sebaiknya om pulang ya, takutnya hazel bangun." Alma berdalih supaya Harley tidak mengikuti masuk. Bisa jadi masalah jika pria itu bertemu dengan Sagara.


" Baiklah, tolong berhati hati. Mereka yang ada disini bukanlah orang baik. Jika terjadi sesuatu hubungi saja aku." Ucap Harley mengusap kepalanya membuat dia memundurkan kepalanya. Namun yang ada tangan besar itu menahannya dan dia merasakan jika kepalanya terpentok dengan mobil namun tangan Harley menahannya.


" Baru saja aku bilang, tolong hati hati." Peringatnya. Alma tergagap, dia langsung berdiri dengan tegak.


" T- terima kasih."


" Fokus Alma. Sekarang dia harus mencari Sagara! Pria itu benar benar menyusahkan."


Dia mengedarkan pandangannya begitu memasuki ruangan yang gemerlap itu. Suara yang memekakkan telinga dan bersautan dengan teriakan heboh dari lautan orang orang yang tengah menari ditengah tengah itu.


Alma berjalan dengan sedikit demi sedikit karena tidak banyak orang yang hampir menabrak. Dia menutup hidungnya agar tidak mencium bau menyengat dari alkohol yang dikonsumsi oleh mereka.


Tangannya tiba tiba ditarik kuat membuatnya memekik kaget. Memang teriakannya terendam, dia segera memberontak namun melihat Jeano membuat dia menghentikan aksinya itu. Dia mengikuti pria itu dari belakang sampai mereka berjalan menuju ke arah sudut ruangan.


Disana ada seorang pria yang menunduk dengan sambil meracau tidak jelas. Alma tahu siapa pemilik tubuh itu, dia pastinya Sagara. Dia melirik meja yang penuh dengan botol botol alkohol yang kosong bekas minumnya.


" Lihat pria bodoh itu! Datang datang narik gue kesini dan mabuk gitu! Kayak yang gak dikasih jatah aja," cibir Jeano.


Alma meringis pelan mendengar, dia mendekati Sagara dan segera merebut botol yang hendak diminum oleh pria itu lagi.


" Siniin! Lo mau mati hah?" Sentak Sagara dengan wajah memerah tak lupa dengan kesadarannya yang samar samar menghilangkan. Pria itu berkedip beberapa kali untuk melihat dengan jelas.


" Mau sebanyak apa lagi? Nih! Habisin aja sampai mati sana!" Ketus Alma menaruh botolnya dengan keras.


"Hm? Kamu Lyora?" Sagara cegukan dengan tubuh yang tak stabil.


" Ini gue, menurut Lo siapa lagi?!" Sewot Alma kesal.


Sagara tiba tiba bangkit memeluknya erat, menghirup aroma khas Alma dengan rakus.


Gadis itu terpaku. Namun dorongan dari Sagara membuat dia tersadar. Jeano yang terkejut juga spontan menahan tubuhnya agar tidak terjatuh.


" Nggak nggak! Dia bukan Lyora! Dia pembohong! Hik" Sagara menunjuk dirinya dengan wajah marahnya.


" Beraninya Lo nyamar jadi Lyora. Sini Lo hah?" Sagara tiba tiba hampir menyerang dirinya jika saja Jeano tak menahan pria itu.

__ADS_1


Alma memejamkan matanya pusing dengan tingkah Sagara yang diluar dugaannya. Dia memberi isyarat pada Jeano agar membawanya pulang sebelum pria itu bertingkah.


Dengan segala gangguan yang terjadi akibat keadaan Sagara yang sudah mabuk, akhirnya mereka sampai di apartemennya. Jeano membaringkan tubuh pria itu yang beratnya begitu membebankan padanya.


Mengatur nafasnya merasa kelelahan. Alma jadi merasa bersalah, " sorry ya, jadi ngerepotin Lo." Ujarnya dengan tulus.


" Ha... Bagaimanapun dia tetep temen gue, sudah seharusnya gue lakuin ini." Balas Jeano.


" Mau minum? Gue buatin dulu ya."


" Eh gak usah, orang dirumah pasti nungguin gue. Gue pulang aja," Alma hanya pasrah saja begitu Jeano menolak.


" Sekali sorry ya, dan makasih juga udah telpon gue tadi." Jeano mengangguk, di pun akhirnya pergi dari kamar itu. Alma menatap sagara yang terlelap di kasur, dia menghela nafas.


Kakinya melangkah menuju kamar mandi, berniat untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu sebelum membantu pria itu.


Sagara mengerjap pelan merasakan pening dan berat dikepalanya. Begitu sadar dia melihat jika ia sudah berada dikamarnya. Pasti Jeano yang melakukannya, namun saat telinganya menangkap suara gemercik air dikamer mandi membuat dia langsung bangkit terduduk.


" Lyora?" Gumamnya.


Sagara menggelengkan kepalanya. Mana mungkin gadis itu pulang. Dia sendiri yang bilang jika dia tengah bersama selingkuhannya. Alma pasti marah karena ia tinggalkan di pinggir jalan.


Niat hati menghukum gadis itu, malah dia sendiri yang tersiksa.


Sagara tidak ingat apa yang terjadi tadi. Padahal dia bukan seseorang yang akan melupakan kejadian yang terjadi meskipun dia minum sekalipun.


Tetapi tadi dia benar benar kelewatan minum hanya karena memikirkan gadis itu yang mungkin sedang bersenang-senang dengan pria lain. Amarahnya menggebu, Sagara mengacak-acak rambutnya frustasi.


" Udah bangun?"


Sagara mendongkak begitu suara lembut mengalun indah di telinganya. Tatapannya terkunci pada satu titik dimana seorang gadis baru saja keluar dari kamar mandi.


" Gue pasti halusinasi."


Pria itu menunduk sambil memijit pelipisnya.


Alma menghela nafas, dia mengingat kejadian tadi dimana Sagara meracau sambil memanggil namanya dengan parau tidak ingin ditinggalkan.


Semua ingatannya tumpang tindih, Sagara yang selalu berada didekatnya. Mendukung apa yang ia lakukan dan membantunya dari belakang.


Lalu ucapan nenek Sagara terngiang dikepalanya.


"Nenek harap dengan kehadiran kamu dapat merubahnya sedikit demi sedikit. Bagi nenek, kebahagiaannya adalah kebahagiaan nenek juga."


Sagara juga sudah memperlihatkan perubahannya sedikit demi sedikit.


Mungkin memberikannya satu kesempatan lagi tidak masalah bukan?


Alma berjalan kearah pria itu, tanpa aba aba dia duduk dipangkuannya dan memeluk pria itu.


" Lyora?" Lirihnya. Sagara membalas pelukannya dan menyandarkan kepalanya dibahu Alma merasakan ketenangan.


Alma memeluk leher pria itu erat, " maaf, aku gak bakal lakuin hal kayak tadi lagi." Bisiknya pelan.


Alma melepaskan pelukan membuat sedikit jarak agar dia bisa melihat wajah Sagara. Tangannya masih bertengger di bahu Sagara.


" Jangan mabuk lagi, aku gak suka." Ungkap Alma.


Sagara menatap lekat gadis itu. Satu tangannya masih memeluk pinggang gadis itu dengan erat, sedangkan yang satunya lagi terangkat mengelus pucuk kepala Alma dan merapikan poni yang sedikit berantakan.


" Iya, maafin aku."

__ADS_1


__ADS_2