
...° Mr. Antagonist °...
Suara notifikasi masuk secara berturut turut pada ponsel mereka. Jeano yang paling cepat membuka ponsel nya dan memeriksa.
Rahangnya mengeras melihat pesan yang di kirim oleh Alma di grup. Tanpa aba aba dia langsung mendorong tubuh Haikal hingga terjungkal.
" Haikal b4ngsat! Maksud lo apa ha??" Teriaknya marah. Tak segan memberikan pukulan sebagaimana Sagara.
Hati mana yang tidak sakit melihat orang yang ia sukai di lukai temannya sendiri.
Revano menahan Jeano yang membabi buta, dan menyuruh anak lain untuk membawa Haikal yang sudah tak sadarkan diri.
Jeano terkekeh sinis melepaskan cekalan Revano, " jadi selama ini dia lari? Anj1ng!" Umpatnya menendang meja hingga terbalik.
" Gak sudi gue punya temen b4jingan kayak dia. Gue! Jeano Kusuma keluar dari Ragaskar!" Ucapnya berteriak, kemudian berlalu meninggalkan mereka yang masih shock dengan apa yang terjadi.
Revano menghela nafas panjang, kenapa jadi seperti ini. Dia mengusap wajah kasar.
Tangannya merogoh saku mengambil ponsel dan menghubungi seseorang yang tak lain tunangannya sendiri.
" Di mana? Aku ke sana sekarang."
Di sisi lain, Jesslyn merenung di depan kamarnya. Beberapa menit yang lalu dia di hubungi oleh Alma dan mengatakan siapa pelakunya.
Pikirannya berkelana. Ternyata hidupnya begitu kacau sekarang. Jesslyn merasa tercekik dengan keadaan. Sangat tidak adil baginya.
Pintu kamarnya di ketuk, dan terbuka menampilkan sang mommy.
" Sayang." Panggilnya. Sebagai ibu, dia merasa sedih dan kecewa dengan apa yang menimpa sang putri.
Namun di sisi lain, dia juga harus tegas terhadap putrinya demi masa depannya.
" Kamu sudah tahu siapa pelakunya?" Tanya mengelus surai anaknya.
Jesslyn mengangguk dengan penuh keraguan. Mommynya tersenyum tipis, " Suruh dia ke sini dan berbicara pada kami untuk membicarakan pernikahan kalian."
Jesslyn menatap mommynya tak setuju. " Tapi aku ga cinta sama dia ma."
__ADS_1
" Sekarang itu bukan poin utamanya, Jesslyn." Mommynya berujar tegas.
" Sekarang kamu harus segera menikah, sebelum terjadi sesuatu padamu. Jika dia tidak mau, terpaksa Daddy mu membawa ini ke jalur hukum." Sambungnya dengan datar.
Jesslyn tersenyum miris, " baik ma, aku akan bicara padanya." Ucapnya di iringi anggukan setelah diam beberapa saat.
" Kamu harus siap menanggungnya sayang, bagaimanapun ini resiko dan akibat dari kelakukanmu. Nama keluarga kita ada di tangan kamu, sayang." Mommy menambahkan sebelum dia pergi.
Jesslyn menatap ibunya dengan sendu. Benar, dia tidak bisa melawan, karena saat ini keluarga nya telah di permalukan oleh dirinya.
Andai saja waktu itu dia tidak mabuk, penyesalan selalu datang di akhir. Jesslyn benar benar menyesal.
Berbanding balik dengan Alma dengan Sagara yang memilih saling diam sejak pulang ke apertement.
Sagara masih belum membuka mulut dan sibuk melamun dengan tertidur di pangkuan paha Alma. Gadis itu sendiri tidak akan bertanya terlebih dahulu.
Menunggu Sagara sendiri yang memulai bicara, dan tenang terlebih dahulu. Alma tidak akan membiarkan Sagara di liputi amarah juga emosi.
" Sayang." Panggil Sagara dengan parau pada akhirnya. Alma berdehem pelan sebagai jawaban.
" Aku lapar." Cicit pria itu membuat Alma terkekeh, tangannya yang sedari tadi mengelus rambut lembut Sagara kini terhenti.
Sagara membuka matanya, menatap wajah sang istri dari bawah dengan lekat.
" Berkat kamu, aku sudah lebih baik." Jawab nya jujur.
Lagi, Alma terkekeh. Dia segera menyingkirkan kepala Sagara dari kakinya.
" Baiklah, aku akan masak dulu."
Sagara memejamkan mata, rasa kecewa itu masih melekat dalam hati. Namun dia tidak bisa menunjukkan nya pada Alma, Sagara tidak ingin istrinya terlalu memikirkan hal ini.
Helaan nafas terdengar, Sagara bangkit menyusul Alma ke dapur. Selesai memasak makan makan sesuai keinginan Sagara-di ganggu waktu masak- Alma menyajikan makanannya.
Keduanya makan dengan khidmat, terkadang Sagara iseng mengerjai istrinya yang tak lain Alma.
Alma tiba tiba teringat sesuatu.
__ADS_1
" Ngomong ngomong, bagaimana keadaan Renjana?" Tanya nya penasaran. Mengingat dia mendapatkan informasi jika Renjana di rawat di rumah sakit.
Wajah Sagara berubah datar, " Untuk apa menanyakan kabar dia?"
" Apa tidak boleh?" Alma sedikit cemberut.
Padahal ia ingin tahu, sebanyak apa perubahan yang ia buat.
Apa novel nya sudah di tahap ending?
Lalu Daisy bagaimana?
Kini Sagara sudah menjadi suaminya, seharusnya dia membantu Daisy yang terpuruk.
Tunggu sebentar.
Seperti ada yang terlewatkan.
Mata Alma membulat. Seharusnya antagonis utamanya sudah datang.
Kenapa dia bisa lupa?
...----------------...
Revano dan Cessie menyambut kedatangan yang mereka tunggu tunggu di bandara.
" Kenapa lama sekali?" keluh Cessie. Revano hanya bergeming menatap jam tangannya.
Ini sudah lewat dua puluh menit sejak pesawat lepas landas. Namun dia masih belum menampakkan batang hidungnya.
" Kak!" pekikan seseorang membuat atensi keduanya beralih pada sosok yang berlari dengan menyeret sebuah koper.
" Vina!" Cessie yang pertama kali memanggil dengan antusias. Keduanya saling berpelukan menyalurkan rasa rindu setelah sekian lama tidak bertemu.
" Lelet." Ungkap Revano menatap sosok itu. Revina Aldebaran-Kembaran Revano yang beda beberapa menit saja- tersenyum lebar ke arah nya.
" Hai, my twin! lama tidak berjumpa."
__ADS_1
...Bersambung...
...mulai pendek pendek ya kan hahah...