
Bimbingan Jum'at malam yang diminta Elang dituruti Nindya. Elang baru saja selesai lomba, dan tetap ngotot minta diperiksa laporan penelitiannya. Alasannya karena Sabtu pagi harus bertemu ketua jurusan. Sesuatu yang membuat Nindya bangga karena Elang penuh semangat untuk segera mengakhiri statusnya sebagai mahasiswa.
Sabtu pagi jam sepuluh, Elang sudah ada di ruang Pak Ronald membahas hasil kinerja lapangan dan seluruh data yang sudah dibuatnya bersama Nindya. Ketua jurusan hanya manggut-manggut tanpa banyak pertanyaan. Sesekali memberikan penjelasan dan langkah selanjutnya saat Elang di lapangan.
Tanda tangan persetujuan dibubuhkan Pak Ronald untuk mengakhiri bimbingan rutin Elang. Keluar ruangan kajur, waktu sudah menunjuk jam sebelas lewat dua puluh. Elang tau sebentar lagi Nindya naik ke lantai empat, lalu pulang. Sebelum itu pasti akan keluar bersama tunangannya untuk makan siang.
Elang tidak ingin mengganggu, dia memilih makan siang bersama Mayra, mengantarnya pulang lalu pergi menjenguk Sandra ke rumah sakit.
Elang menemui Mayra yang sudah menunggunya di depan gedung laboratorium. "Lama ya? Banyak yang dibahas tadi pas bimbingan."
"Aku juga baru keluar laborat kok, mau kemana kita?"
"Kamu mau makan apa, May?"
"Oh jadi ini traktiran?"
"Ayo, udah lapar ini." Elang berjalan lebih dulu ke arah parkiran. Mayra mengikuti dengan langkah cepat untuk menjajari Elang.
"Selamat ya, El! Sorry aku nggak bisa dateng kemarin, Dewa sibuk!" Mayra merasa tak enak hati, Elang sangat perhatian padanya sebagai teman. Rasanya tidak adil Mayra tidak melihat Elang lomba kemarin.
Elang berhenti sebentar untuk merangkul bahu Mayra saat berjalan. "Iya nggak apa-apa, kamu mau ditraktir makan apa hari ini?"
"Apa aja terserah kamu, lagian nggak menang lomba juga kamu selalu traktir aku, nggak ada bedanya!"
Elang meringis, "Beda dong! Tapi kali ini aku nggak bisa nemenin nonton, May! Aku mau ke rumah sakit abis makan, ada teman sakit. Kamu nonton sama Dewa ya, nanti sore biar dia jemput ke rumah kamu!"
"Kayak apa aja, udah ditraktir makan ya udah!"
"Biasanya kan plus nonton," sahut Elang. "Sama Dewa ya! Biar aku nggak punya hutang menang lomba kemarin."
Mayra menghembuskan nafas berat, "Terserah kamu!"
Makan siang diisi dengan obrolan ringan membahas rencana seminar Mayra dan gosip-gosip yang sedang panas di kampus.
"Gimana hubungan kamu sama Bu Nindya? Gosip kamu beli pakaian dalam sama beliau itu beneran ya?"
"Hm …," jawab Elang sambil mengunyah makanannya. Raut wajahnya menunjukkan keberatan untuk membahas lebih lanjut pertanyaan Mayra.
Melihat itu, Mayra paham. "Siapa yang sakit?"
"Sandra. Anak geologi yang tergabung tim proyek kampus."
__ADS_1
"Oh, yang item manis itu ya? Kamu berani ke rumah sakit sendiri? Mau aku temani?"
"Berani." Elang menjawab dengan ekspresi rumit. "Kasihan keluarganya jauh, belum ada yang datang katanya."
"Memang asli mana dia?"
"Cilacap kalau nggak salah."
"Jangan maksa pergi ke rumah sakit sendiri kalau takut, El!" Mayra berucap penuh perhatian.
Elang mengedikkan bahu, "Mungkin rasa takutku memang harus dilawan, May! Kamu udah selesai makannya? Mau bungkus buat mama kamu?"
Mayra menggeleng ringan, kalimat yang keluar dari bibirnya juga penuh dengan rasa pengertian. "Udah selesai! Mama keluar arisan kalau Sabtu, ayo pulang sekarang aja nggak apa-apa!"
Elang membayar makanan dan langsung meluncur ke rumah Mayra. Sebelum ke rumah sakit dia berencana pulang sebentar untuk menukar kendaraan. Motornya dibawa Dewa berhari-hari, itu sudah diluar kebiasaan. Dia mulai curiga kalau Dewa juga mulai menyukai naik motor, terbukti berani ikut kegiatan bakti sosial bersama anak club.
Di rumahnya, Elang tidak mau berlama-lama karena tidak ada orang tuanya. Hanya ada Dewa yang sedang main game karena tidak ada jadwal kuliah.
"Kemana semua orang?"
"Nggak tau, Mas. Aku bangun papa sama ibu udah nggak ada di rumah."
"Kalau ada waktu hari ini, ajak Mayra nonton ya, Wa!" kata Elang sebelum pamit.
Elang mendengus, "Kalau Mayra jatuh cinta sama kamu, aku lepasin! Tapi kalau kamu cuma memanfaatkan kesempatan …."
Dewa tergelak, mana berani dia berurusan dengan Elang soal Mayra. Seluruh keluarga sudah tau kalau wanita yang dijaga Elang itu adalah calon istrinya.
Tapi siapa yang tau masa depan? Cinta sejati kadang tidak memilih akan berlabuh dimana, dan jodoh bukanlah hal yang bisa diatur manusia.
Elang menyeringai, kalaupun akhirnya Dewa suka dengan Mayra dia nggak akan keberatan. Mereka sering bersama, dan dengan berjalannya waktu bukan mustahil Mayra akan menyukai orang yang selalu ada untuknya, yang setia mendengarkan keluh kesahnya dan menghiburnya di saat kesepian.
"Siap, Mas! Pokoknya ada uang jalan aku berangkat!"
Elang tidak menggubris jawaban Dewa, dia keluar rumah dengan motor, melaju cepat menuju rumah sakit tempat Sandra dirawat.
Sampai di rumah sakit, Elang sedikit terkejut. Sandra tidak sendirian seperti yang dia duga, Sandra ditunggui Daniel dengan wajah kakunya.
Melihat Elang datang dan mengangguk sopan padanya, Daniel keluar ruangan untuk mencari angin. Kepalanya cukup pusing setelah direpotkan asistennya yang mendadak sakit saat makan dengannya.
"Gimana ceritanya kamu bisa berakhir di sini, San?"
__ADS_1
Sandra cekikikan sebentar, lalu menyeringai menahan sakit. "Tadi aku bahas makalah dan materi di luar sama Mr. D. Aku sengaja pilih tempat makan ayam pedas level-levelan itu loh."
"Trus kamu sakit karena kebanyakan makan cabe?"
"Lambungku itu alergi pedas, El! Aku pesan yang level tertinggi buat nantangin plus lucu-lucuan sama Mr. D, setelah makan kamu tau akibatnya? Ini!"
Elang tidak mau membayangkan, Sandra pasti tersiksa dan mungkin saja sesak nafas atau pingsan setelahnya. Untuk beberapa orang yang alergi pedas, efek samping cabe bisa sangat mengerikan. "Kamu sengaja ya?"
"Kesempatan harus diciptakan, El! Terbukti toh aku berhasil berduaan di sini sama Mr. D walaupun dalam situasi yang nggak romantis. Maksudnya belum." Sandra menutup mulutnya yang kembali cekikikan dengan punggung tangan yang tidak diinfus.
"Trus keluargamu udah dihubungin? Kapan dateng?"
"Nggak! Aku udah bilang ke Mr. D kalau ibuku punya sakit jantung, ayah sedang ke luar pulau, aku nggak punya teman dekat selain kamu dan besok aku pasti sudah baikan."
"Daniel percaya?" tanya Elang skeptis. "Dia mau nemenin sampai besok?"
"Percaya dong! Orang biasa jujur itu kalau berbohong satu kali masih diampuni, El!" ejek Sandra menahan tawa. "Kamu jangan mau ya kalau disuruh nemenin aku, bilang mau kemana kek! Biar Mr. D nginap di sini malam ini hehehe!"
Elang menaikkan satu alisnya, memilih Sandra sebagai umpan ternyata tidak salah. Asdos itu ternyata juga cukup gila kalau ada maunya. "Totalitas kamu ngeri banget! Cara kamu buat dapat perhatian Daniel itu terlalu ekstrim, bahaya untuk kesehatan, San!"
Sandra mengerucutkan bibir, "Ssttt … jangan keras-keras! Trik jitunya cukup banyak mengeluh dan merengek manja buat taklukin orang dingin plus nggak peka kayak beliau."
Elang menyeringai, "Kamu gila!"
"Kamu duluan yang ngajak gila. Ohya El, pantau Mr. D sebentar sana di luar, dia pasti menghubungi Bu Nindya! Sabtu gini biasanya mereka makan siang, kencan sampai sore. Kamu udah tau kan soal itu? Moga-moga Bu Nindya dateng kesini, aku mau show something nanti," ujar Sandra sembari menaik turunkan kedua alisnya.
"Hm oke, aku panggil doi biar nemenin kamu disini ya?!" Elang keluar ruangan untuk menemui Daniel.
"Husss hussss …!" usir Sandra kurang ajar.
"Pak, Sandra perutnya sakit lagi!" Elang hampir tertawa saat bicara pada Daniel. Wajah tunangan Nindya terlihat tegang dan kikuk.
Tanpa menjawab, Daniel masuk ruangan, meninggalkan Elang di luar sendirian.
[Bu Nindya di rumah? Ada waktu nggak? Saya mau konsultasi hasil bimbingan hari ini.] Elang mengirim pesan basa-basi untuk mengetahui keberadaan Nindya.
[Aku lagi di jalan, El! Mau ke rumah sakit. Senin aja kalau mau bimbingan!]
[Baik, Bu!]
Elang terkekeh-kekeh menyimpan ponselnya. Dia duduk tenang menunggu kedatangan Nindya. Begitu wanita itu muncul, Elang berencana masuk ke ruangan, memberi kode pada Sandra untuk aksi berikutnya.
__ADS_1
***