
Berada di pelukan Elang setelah bermain air bagai anak kecil, rasanya menenangkan. Nindya merasa dirinya begitu bebas berekspresi di depan Elang, tanpa perlu menutupi bagian dirinya yang mungkin terlihat memalukan.
Elang memberikan kenyamanan dalam bentuk apapun. Bahkan ketika Nindya bertingkah kekanakan, Elang justru melihat itu sebagai sesuatu yang menggemaskan.
"El, kamu nggak dingin?"
Elang meregangkan pelukan, "Kamu kedinginan ya?"
Nindya mengangguk, mendongak menatap wajah Elang yang terlihat samar dalam remang cahaya. "Anginnya kenceng banget."
"Kita pulang sekarang, nanti kamu masuk angin. Baju kamu kok bisa basah sampai atas gini sih?!"
"Kamu juga tuh!" Nindya menunjuk ke bagian celana elang, tapi sialnya matanya malah berhenti tepat di bagian tengah. Membayangkan yang tersembunyi di sana, dan Nindya meringis kegerahan.
Elang tertawa jahil melihat ekspresi Nindya, "Kenapa?"
"Eh, nggak apa-apa! Ayo kita pulang, udah lengket semua badan kena air asin sama pasir."
"Ayo!" Elang menggandeng Nindya meninggalkan area pantai.
Nindya memeluk tubuhnya sendiri untuk menahan dingin, "El … bisa ngebut dikit nggak? Biar cepat sampai rumah, udah nggak tahan pingin mandi!"
"Hm …." Elang membawa mobil keluar parkiran untuk masuk lagi ke parkiran sebuah penginapan yang hanya berjarak tiga ratus meter dari tempat semula.
"Ngapain kita kesini?" tanya Nindya curiga. Matanya menyoroti Elang yang sudah turun dan memutari mobil untuk membukakan pintu. "El?"
"Ayo turun, katanya mau mandi." Elang menarik tangan Nindya dengan paksa dan membawanya ke resepsionis. Di bawah tatapan Nindya yang penuh curiga, Elang memesan satu kamar untuk mereka. Bukan memesan, tapi lebih disebut meminta kamar terbaik yang sedang kosong dengan gaya seperti anak bos.
Elang juga mengajak Nindya ke butik kecil hotel yang berisi pakaian pantai dan pernak-pernik accessories. Memilihkan satu dress santai sepanjang lutut, bergambar pantai dengan burung-burung yang terbang di atasnya.
"El, kamu belum jawab pertanyaanku!"
"Ayo, kamu bisa mandi air hangat sekarang." Elang menarik tangan Nindya sampai kamar. Mendiamkan rasa ingin tau Nindya.
Wanita itu langsung bertanya menyelidik, "Kita nggak nginep, kan?"
"Nggak, abis mandi, makan trus pulang." Elang menarik jari Nindya, menciumnya sekilas. "Kamu mau tidur di sini sama aku?"
Tanpa berpikir, Nindya menjawab tegas. "Males, nggak aman tidur sama kamu!"
"Aku janji nggak nakal!"
"Males, El! Aku nggak percaya sama kamu. Aku mandi duluan deh!" ujar Nindya tak sabar.
__ADS_1
"Oke, aku mau pesan makanan, lapar!" Elang melanjutkan kalimatnya dengan bertanya, "Kamu nggak mau mandi bareng?"
"Aku mau berendam air hangat, sendirian!" Nindya menjawab tegas. "Dengar ya, sendirian!"
Mandi berdua dengan Elang tanpa sehelai benang? Bisa-bisa mereka kalap dan kembali mengulang kesalahan. Nindya membuang bayangan erotisme yang akan dia lakukan bersama Elang di bawah shower, di dalam bathtub dan di tiap sudut kamar mandi.
"Sendiri apa enaknya?" goda Elang nakal.
"El, aku ingin sendiri!" Nindya berusaha menguasai dirinya. Menolak keras ide Elang meski dia menginginkan.
"Ohya, aku bisa bantu menyabuni punggung, menggosoknya …."
Ya ampun, penekanan Elang pada kata terakhir membuat Nindya memerah dan salah tingkah. "Nggak perlu, aku bisa sendiri."
"Penakut!" ejek Elang terbahak.
Nindya sama sekali tak menggubris ledekan Elang. Dia langsung menghilang ke dalam ruangan dan mempersiapkan keperluan mandi. Nindya ingin memanjakan diri dengan berendam.
Setelah mengisi bathup dengan air hangat, membubuhkan minyak aromaterapi dan menuang cairan yang menghasilkan banyak busa, Nindya melepaskan seluruh pakaian dan masuk ke dalamnya. Tubuhnya yang dingin seketika terobati. Nindya memejamkan mata menikmati bau wangi menenangkan yang terhirup indra penciumannya.
Elang masuk ke dalam kamar mandi yang tak terkunci, Nindya yang lupa atau memang sengaja?
"Kamu mau dipesenin makan malam apa, Manis?" tanya Elang.
"Oh ya sudah!" Elang tidak keluar, tapi berjongkok di depan bathtub penuh busa. Matanya menatap nakal seolah bisa menembus tubuh tanpa baju yang tersembunyi di bawah gelembung-gelembung putih berbau semerbak itu. "Indah!"
"Kamu mengganggu acara mandiku, El!" Nindya mengeluarkan satu tangan, mengumpulkan busa agar menutupi keseluruhan tubuh, terutama bagian dadanya.
"Memangnya aku ngapain? Aku di sini cuma mau ngobrol!"
"Kita bisa ngobrol nanti setelah aku mandi, aku janji nggak lama."
"Bedanya apa dengan ngobrol sekarang?" Tangan Elang yang memegang pinggiran bathtub memainkan busa yang mengambang. Sesekali menuliskan nama Nindya di atasnya. Sesekali meniup busa-busa itu agar menyingkir ke tepi, dan Elang tertawa mendapati Nindya memaki kesal padanya.
"Ini nggak adil, El! Kita harus dalam posisi setara saat mengobrol. Biarkan aku menyelesaikan mandiku dan kita bisa bicara banyak sambil makan!"
"Apa maksudnya setara?"
"Ya setidaknya kita dalam posisi yang sama, sama-sama memakai baju!"
"Oh baiklah, aku sama sekali nggak keberatan mengobrol dengan posisi yang sama denganmu, kebetulan aku juga butuh mandi," tukas Elang menaikkan sebelah alisnya. Mendadak, dia berdiri dan melepas semua pakaiannya.
"El!" pekik Nindya dengan mata membelalak. "Stop!"
__ADS_1
Elang menulikan telinga, pakaiannya sudah lepas tanpa sisa dan dengan santai dia melangkah ke arah shower di bawah tatapan kesal Nindya. Elang mengguyur tubuhnya dengan air hangat sambil tertawa mengejek. "Apa kita sudah bisa mengobrol santai sekarang? Posisi kita sudah setara, sama-sama telan*ang."
Nindya tidak menjawab, dia menahan tawa dan juga rasa jengkel dalam satu waktu. Tapi sedikit diuntungkan dengan pemandangan di bawah shower, yaitu tubuh Elang. Tubuh atletis dengan postur jangkung menawan, kulit bersih dan tentu saja perut rata sempurna.
Tatapan Nindya jatuh ke bawah perut, dan seketika dia memalingkan wajahnya ke arah lain. "Kamu gila!"
Elang terkekeh-kekeh lalu bertanya jenaka, "Kamu nggak mau lihat?"
Pikiran liar Nindya kembali berkelana, rasanya dia sudah merinding duluan menyaksikan Elang yang demikian menggoda. Pikiran cabulnya yang selalu ingin melihat Elang tanpa pakaian baru saja terkabul. Tapi serasa tidak dalam waktu yang tepat. Nindya malu untuk memuaskan rasa penasarannya dengan menatap 'bagian itu' lebih lama.
"Kita tidak mungkin bisa mengobrol dalam situasi aneh seperti ini, El!" Nindya memijit pelipisnya, kegilaan apa lagi yang akan terjadi jika dia meladeni Elang?
"Oh baiklah, kamu merasa tidak nyaman karena posisi kita masih kurang setara? Aku juga berpikir demikian, kamu bisa melihatku secara utuh sementara aku tidak. Aku akan bergabung denganmu agar kita mendapatkan posisi yang adil dan situasi yang tepat untuk bicara! Deal?"
Elang menggosok tubuhnya dengan sabun secepat kilat, begitu juga dengan sampo yang dipakainya. Air masih menetes dari seluruh tubuh saat Elang melangkah mendekati Nindya yang ternganga melihat kelakuannya.
Wajah Nindya merah padam seketika. Bagaimana bisa Elang berjalan santai ke arahnya dengan 'itu' mengacung dan terlihat sangat keras menantang? Seolah mengajaknya untuk tidak hanya melihat, tapi juga merasakan!
"Ya Tuhan, kamu benar-benar pemuda mes*m yang kerjanya membuat orang sakit kepala!" gerutu Nindya salah tingkah. Dia berniat segera menyudahi acara berendamnya.
Elang masuk ke dalam bathtub, meluberkan air dan juga busa sabun yang ada di permukaan, yang sebelumnya menutupi tubuh indah Nindya. Elang tertawa ringan saat sudah menempati posisi di depan Nindya.
"Aku nggak akan nyentuh kamu, aku janji! Ini hanya mandi, tidak lebih," kata Elang meyakinkan. Tawanya tertahan, Nindya begitu menggemaskan saat menatapnya panik tapi penuh hasrat penasaran.
"Nggak percaya, kamu ahli mencari kesempatan!"
"Kesempatan? Ini namanya kesempitan, bathtubnya kurang besar!" Elang menggerakkan tubuhnya hingga Nindya bisa merasakan kulit kakinya bergesekan dengan Elang.
"El, bisa nggak kamu diam!" Air kembali meluber, membuang busa sabun yang menutupi dada Nindya. Tangannya seketika mengamankan aset kembar dari tatapan lapar mahasiswa nakalnya.
"Kenapa, apa yang salah? Aku cuma nunjukin kalo bathtub ini sedikit sempit, jadi kita harus berbagi tempat!" kata Elang nakal.
Bulu tengkuk Nindya seketika meremang, Elang benar-benar membuat darahnya mengalir ke otak dengan kecepatan tak terkira.
Nindya menjawab frustasi, "Otak kamu yang salah!"
Nindya pusing memikirkan mata gelap Elang yang serasa menelanjangi dan kelaparan, tangan Elang yang selalu menghantarkan getaran saat menyentuh. Bibir yang pandai merayu saat mengecup, dan suara manis menggoda yang selalu bisa meruntuhkan egonya.
"I love you, Bu Dosen!" Elang terkekeh geli melihat Nindya yang tak berdaya melawan keusilannya.
Nindya mulai yakin dia telah jatuh cinta dengan semua pesona pemuda di depannya. Hanya saja, dia tidak mau mengakuinya. Belum.
***
__ADS_1
...Part dedicated : Gita...