Musim Bercinta

Musim Bercinta
Obat Marah


__ADS_3

Sandra mematut dirinya di depan cermin. Decak kurang puas terdengar dari sela bibirnya yang sudah dipulas sewarna ceri oleh mbak yang kerja di salon. Kulitnya yang tak secerah Nindya mengatakan kalau warna lipstik itu terlihat kurang natural untuk dirinya.


Dengan gusar Sandra minta diganti dengan yang tidak mencolok. Tak lama, dia tersenyum puas menatap hasilnya. Rambutnya baru saja perawatan hingga menimbulkan bau wangi yang lebih tajam daripada shampo yang biasa dipakai di kost.


Bukan hanya rambut, tapi seluruh tubuhnya memang belum lama selesai dari menggunakan voucher terakhir Elang untuk menikmati fasilitas gratis di sebuah klinik kecantikan.


Hari masih siang saat keluar dari klinik kecantikan, dan Sandra tidak punya kegiatan di hari Minggu. Dia menatap voucher penginapan di dompetnya dengan ekspresi tak berdaya. Bisa jadi voucher itu kadaluarsa tanpa sempat digunakan.


Harapan Sandra untuk bisa menginap dengan dosennya semakin menipis. Mas Danielnya terlalu menjaga jarak. Jangankan untuk tidur bersama, untuk mendapatkan ciuman aja Sandra masih harus berjuang lebih giat lagi.


Sambil menunggu bis kota lewat, Sandra mengirim pesan pada Elang.


[Aku butuh pemantik untuk membuat Mr. D hilang kepercayaan pada tunangannya.]


Sandra membeliak membaca pesan yang baru masuk. Hanya sebuah lokasi, hari dan waktu yang diberikan Elang dalam pesan balasannya. Setelah menghafal isi pesan Elang dia mengirim pesan lagi, mengingatkan Elang untuk menghapus chat mereka.


Belum lagi Sandra menyimpan ponselnya yang sudah bersih dari pesan Elang, satu pesan masuk masuk dari dosennya. Sandra berjingkrak saking senangnya, meski harus mengambil buku dan belajar materi terbaru di tempat yang lumayan jauh, tapi Sandra rela demi bertemu pria itu.


Bukan apa, Sandra sulit untuk mengatur jadwal ketemu diluar urusan akademik. Jadi saat bertemu harus bisa memanfaatkan situasi sebaik mungkin. Dia bernafas lega, hasil perawatan hari ini langsung bisa dipamerkan ke Daniel. Meski tak lebih cantik dari Nindya, setidaknya tampilannya hari ini berbeda dan cukup menggoda, tapi tidak terkesan seperti cabe-cabean.


Daniel baru saja ditinggalkan rekannya saat Sandra datang. Bekas kopi dan makan dibersihkan pelayan setelah Sandra memesan jus semangka dan camilan.


Tanpa basa basi, Daniel langsung menjelaskan beberapa poin penting dari berlembar-lembar kertas berisi gambar struktur batuan dan keterangan-keterangan yang sudah ditulisnya. Selanjutnya, dengan enteng dia meminta Sandra untuk membaca sendiri keseluruhan materi dan buku yang disodorkannya.


"Pak … besok Senin itu tanggal merah!" kata Sandra tertekan. Senyumnya hanya melengkung seperlunya untuk mengingatkan Daniel yang sedari tadi mengatakan 'ini materi untuk besok, besok tugasnya ini, besok itu … dan besok'.


Daniel menatap Sandra skeptis. "Oh, masa? Kamu serius?"


"Ih gimana sih Pak Daniel ini?" Sandra mengerucutkan bibirnya sebal tapi dengan ekspresi yang menggemaskan.


Dengan cengiran tak bersalah Daniel menjawab, "Namanya juga lupa, San! Ya udah kalau gitu pake materi itu untuk Rabu."


"Pak, ini tuh hari Minggu, waktunya saya santai … bukan mikirin kuliah. Pak Daniel juga nggak bisa kerja nggak kenal waktu begitu, inget kesehatan, Pak! Lagian belum juga ada anak istri tapi dah main kerja rodi aja!" pancing Sandra hati-hati. Mulutnya mulai menikmati camilan dan jus yang sudah dipesan dari tadi.

__ADS_1


Daniel melepas nafas berat, "Ada posisi yang ingin aku raih, San! Kalau nggak kerja keras mana bisa berhasil?"


Ya, sibuk selagi sendiri lebih baik daripada sibuk setelah berkeluarga. Dia sudah berjanji pada Nindya untuk mengurangi kesibukan setelah mereka bersama. Meskipun rasanya Daniel juga tidak yakin bisa. Dia terlalu mencintai pekerjaan dan kesibukannya.


Apa yang sudah diraih Daniel selalu saja kurang! Dan selama Nindya memberikan dukungan penuh padanya, bukan mustahil gelar profesor bisa diraih pada usia yang terbilang muda. Daniel masih mencita-citakan itu semua.


"Tapi nggak segitunya kali, Pak! Kalau nggak berbagi waktu dengan yang lain bisa panas itu isi kepala."


"Nggak ada waktu buat hal-hal yang nggak berguna, San!" Daniel menaikkan kacamata hingga menempel di atas ubun-ubun. Memijat pangkal hidung dan juga pertengahan alisnya. Ada rasa lelah dan tidak nyaman karena terlalu lama di depan laptop dan terus saja membahas hal berbau keilmuan dengan rekannya.


"Tuh kan pusing …!" Sandra tertawa kecil meledek dosennya sambil merapikan semua kertas dan buku. Memasukkannya ke dalam tas, pertanda kalau dia tidak mau diajak bahas materi kuliah lagi. "Kita jalan-jalan sebentar yuk, Pak!"


"Kemana?" tanya Daniel malas.


"Ya pokoknya keluar dari rutinitas, atau Pak Daniel suka berenang?" Sandra menawarkan alternatif olahraga pada dosennya, yah meskipun dia sebenarnya keberatan jika harus berenang karena baru saja perawatan kulit.


Daniel enggan menjawab, hanya menatap Sandra yang antusias berbicara tentang wisata dan kegiatan-kegiatan yang mungkin menarik minatnya.


"Jadi kita kemana, Pak? Dari sekian banyak lokasi yang saya bicarakan tadi yang mana yang paling menarik menurut Pak Daniel?" tanya Sandra setelah mereka ada di dalam mobil.


"Nggak ada yang menarik. Terserah kamu mau ngajak kemana," jawab Daniel datar.


Astaga! Sandra hampir saja memaki dosennya yang kaku dan keterlaluan itu. Dengan menahan gemeretak gigi, Sandra menyebut arah parangtritis sebagai tujuan. "Kita makan sambil lihat laut aja ya, Pak! Aku mau makan hiu bakar!"


"Hah?" Daniel langsung menoleh dengan wajah tak percaya.


"Hiunya cuma segini, Pak!" Sandra menunjukkan lengan bawahnya sebagai akurasi jawaban.


Daniel menyeringai setelah mengucap kata 'oh' dan bertanya beberapa jenis ikan yang dijual di pelelangan. Mobilnya mengarah ke jalan sesuai petunjuk Sandra dan parkir tidak begitu jauh dari area yang dimaksud Sandra.


"Pak … Sandra yang ini bukan bakul ikan, jadi mana tau jenis ikan apa aja yang dijual di pelelangan! Lagian selain ikan ada banyak pilihan lain, ada lobster, kepiting dan kawan-kawannya di sini!"


"Oh ya, kapan-kapan aku ajak Nindya makan di sini kayaknya seru juga, dia suka seafood!" kata Daniel antusias. Kalimat yang seketika membuat Sandra kesal setengah mati.

__ADS_1


"Pak Daniel ini nggak banget kalau diajak keluar, bukannya mikirin yang di sebelahnya malah mikirin yang lain!" Sandra melepas safety belt kasar dengan wajah tertekuk menahan jengkel.


Menyadari kesalahannya, Daniel langsung minta maaf. "Sorry, nggak ada maksud menyepelekan keberadaan kamu di sini, San! Itu tadi cuma spontanitas."


"Dah ah pulang aja, nggak ada mood lagi mau makan sambil liat laut! Tau gini tadi healing sendiri," ujar Sandra pura-pura merajuk. Wajahnya jutek saat Daniel berusaha mengajaknya bicara. "Pak Daniel udah tau tempatnya, kan? Ya udah besok makan di sini sama Bu Nindya aja!"


Daniel memegang tangan Sandra yang mau turun dari mobilnya. Mencegah agar Sandra tidak nekat pulang naik taxi karena tersinggung dengan ucapannya. "Jangan gitu dong, San! Ayo kita makan hiu sama kepiting. Maaf soal yang tadi ya!"


Melihat tangan dosennya mencengkeram lembut lengannya, sudut bibir Sandra berkedut bahagia. Namun, suaranya masih sedikit ketus saat bicara. "Nggak usah, Pak! Nggak jadi laper!"


"Kamu marah ya?" tanya Daniel tak enak hati. "Aku yang traktir kok, San!"


"Dih, saya juga ada uang kali pak kalau cuma buat makan!"


"Trus aku harus apa biar kamu nggak marah? Masa udah jauh-jauh kesini nggak jadi makan? Kamu juga kok ngomongnya nggak aku-aku lagi kayak biasanya sih? Kamu marah beneran ya?"


Sandra terkikik geli saat menunjuk pipinya, menatap dosennya sesaat baru menjawab, "Sun dulu di sini biar Sandra nggak marah, Pak!"


Daniel seketika gelagapan bingung mau menjawab apa. "Kok gitu, San?"


"Nggak mau ya udah nggak apa-apa kok, Pak! Sekalian aja saya pamit sekarang kalau nggak bisa lanjut jadi asisten Pak Daniel semester depan! Malu saya sama Pak Daniel, padahal cuma …."


Cup! Satu kecupan kilat dari Daniel di pipi menghentikan mulut Sandra yang sedang usil mencari alasan dan ancaman untuk diungkapkan.


"Udah, San. Kamu nggak marah lagi, kan?" tanya Daniel dengan suara pelan.


Sandra menjawab dengan cekikikan manja. Dia tidak mau menghentikan kekonyolan itu dengan pura-pura lugu. Sandra sengaja menantang dosennya yang menatapnya salah tingkah.


Dengan ekspresi meminta, Sandra berucap sambil menunjuk pipi sebelahnya. "Satunya belum, Pak!"


Ya ampun!


***

__ADS_1


__ADS_2